Final Chapter : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 10 Mei 2021

Final Chapter : Mencintaimu Dalam Diam



Beberapa menit kemudian.

Helikopter sudah terbang mengudara beberapa menit yang lalu. Cahaya langit yang kemerahan membuat Misha terdiam. Seketika ia merindukan Syahlaa yang saat ini ntah sedang apa dirumah Kakeknya. Begitu juga rasa rindunya terhadap Franklin.

"Mas, maafkan aku, rasanya aku menyesal sekali sudah meminta banyak hal sama kamu." sela Misha dalam hati.

"Apakah masih lama? Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Misha pada salah satu pilot wanita di sebelahnya. Ia tidak mengenalinya.

"Nanti nona akan tahu."

Misha menghela napasnya, ia memejamkan kedua matanya. Waktu yang terus berjalan membuatnya semakin merindukan keluarga kecilnya.

"Nona, tolong buka matanya sekarang?"

"Apa?"

"Lihat kebawah."

Misha tertegun. Ada taman berukuran luas dengan rerumputan hijau dibawah sana. Tak hanya itu, terdapat berbagai macam jenis tanaman bunga berwarna-warni yang di bentuk huruf bertuliskan I LOVE YOU MIMI

Misha menoleh ke samping, "Siapa yang membuat ini semua? Semuanya benar-benar indah."

"Tentu saja suami Nona."

Misha menoleh ke bawah lagi, ia tidak percaya kalau Franklin bisa seromantis itu. Helikopter pun terbang berubah arah. Dan lagi, ada tanaman bunga yang di bentuk sebuah kata I MISS YOU di bawah sana.

"Ya Allah, cantik sekali." puji Misha. "Bisa kita turun sekarang? Aku ingin bertemu dengan suamiku."

"Baik."

Maka helikopter pun perlahan turun dan mendarat tepat di landasan taman luas. Peralatan seperti headphone yang terpasang di kedua telinga Misha pun akhirnya terlepas. Misha segera turun dari helikopter secara perlahan.

Misha mengedarkan pandangan di sekitarnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Franklin. Namun detik berikutnya, suara helikopter kembali terdengar dari atas. Perlahan-lahan, heli tersebut turun kebawah lalu berhenti meskipun hampir menyentuh landasan.

"Kenapa nggak mendarat sekalian sampai bawah? Tanggung sekali jaraknya?"

Tanpa diduga, sebuah tali pengaman menjuntai turun ke bawah. Misha syok, Syahlaa turun dari helikopter menggunakan tali. Sekarang ia sadar, kenapa posisinya tidak mendarat seutuhnya. Rupanya Syahlaa turun dengan lancarnya seperti latihan pasroping prajurit sambil membawa sebuket bunga.

"Ya Allah, Syahlaa?"

Misha mendekati putrinya. Sungguh, ia begitu takut karena biasanya apa yang ia lihat saat ini tentu saja di lakukan oleh para ahli yang sudah dewasa.

"Om, cepat bukain! Syahlaa nggak bisa." teriak Syahlaa nyaring.

Tanpa di perintah pun, memang sudah waktunya dua orang pria bergegas mendekati Syahlaa lalu membuka beberapa safety yang terpasang di tubuh Syahlaa. Syahlaa menoleh ke atas.

"Ayah nggak asyik. Masa turunin Syahlaa jaraknya nggak tinggi? Syahlaa lihat di film-film, kalau turun dari helikopter biasanya harus tinggi dari atas." teriak Syahlaa nyaring.

"Mari nona muda. Kita harus menjauh. Biar Ayah mendarat."

Baik Misha dan Syahlaa, akhinya keduanya pun di ajak menepi agar helikopter yang di terbangkan Franklin bisa mendarat dengan tepat. Misha masih diam. Ia masih tidak menyangka dengan apa yang ia lihat semuanya.

"Bunda, selamat ulang tahun."

"Ha?"

"Kok Bunda bengong. Ini bunganya tidak di ambil?"

Misha seperti orang kebingungan. Akhirnya ia pun berjongkok, memposisikan dirinya sama dengan Syahlaa. Ia menerima buket bunga yang dibawa Syahlaa semenjak turun dari helikopter tadi dengan perasaan haru campur aduk. Di buket tersebut, ada susunan bunga mawar yang di rangkai angka 30. Setetes air mata, mengalir di pipi Misha.

"Kok Bunda nangis? Apakah Syahlaa salah?"

"Bunda hanya terharu. Terima kasih, nak, bahkan Bunda lupa kalau hari ini Bunda ulang tahun. Bunda pikir, kamu hilang di culik orang. Nyatanya kamu malah seberani itu pergi kerumah Kakek tanpa izin."

"Bunda kan, belum tua seperti Kakek dan Nenek, kok bisa lupa kalau hari ini ulang tahun? Apa jangan-jangan Bunda pikun? Lagian, ini kan kejutan, masa Syahlaa mau bilang-bilang sama Bunda? Kalau Syahlaa minta izin ke rumah Kakek, nanti nggak jadi kejutan dong?"

Misha tertawa geli. Ia memeluk putrinya. Dari jarak beberapa meter, Franklin menatap keduanya. Hatinya sangat bahagia. Misha menyadari keberadaan Franklinnya, tanpa bisa di cegah lagi, ia mempercepat langkahnya kemudian memeluk Franklin.

"Maafkan aku Mas. Istrimu ini benar-benar keterlaluan. Sungguh, aku begitu menyesal telah berlagak seperti bos meminta banyak hal."

Franklin terdiam, dengan perlahan ia membalas pelukan istrinya. "Tidak masalah, sesekali ngerasain jadi sultan tidak masalah." senyum Franklin geli.

Sementara itu, Syahlaa sibuk memfoto keduanya tanpa Ayah dan Bundanya sadari kemudian mengirimkannya di grup keluarga.

Syahlaa : "Ayah dan Bunda sudah ketemu. Yey! Berhasil."

Franz : "Alhamdulillah deh, yes, nggak sabar mau traktiran nanti malam. Otw kerumah Kakek sekarang."

Rex : "Syahlaa waktu turun dari helikopter, lancar aja kan? Paman begitu khawatir dengan caramu setelah menonton film perang di lcd rumah Kakek. Paman mau ganti filmnya, tapi Syahlaa malah nangis."

Syahlaa : Syahlaa cuma mau lihat cara turun dari helikopter. Itu aja kok Paman Rex. Setelah itu, Syahlaa ganti nonton film kartun."

Feby : "Kenapa Bunda begitu lama sekali, Syahlaa? Kami sekeluarga sampai kelamaan menunggu di taman. Alhasil piknik outdor tadi di batalkan."

Aifa : "Piknik yang batal tadi karena kelamaan nunggu Misha kan? Bukan karena nggak mau makan masakan Aifa?"

Rex : "Masakanmu yang paling enak didunia sayang, tentu saja piknik kita batal bukan karena itu."

Franklin terdiam, ponselnya sejak tadi banyak berdering notip dan bergetar. Misha pun melepaskan pelukannya.

"Maaf, sudah membuat orang-orang Mas jadi repot. Sesungguhnya aku tidak bermaksud demikian."

Franklin mengerutkan keningnya. "Repot? Maksudnya apa?"

"Tentang kegiatanku satu jam yang lalu. Pergi ke mall dan-"

"Tunggu," potong Franklin cepat. "Apakah tadi kamu ada ngemall?"

"Loh, Mas ini gimana sih? Kan aku memang mau ngemall untuk shopping. Mas nggak tahu ya, tadi aku keluar dan nunggu di lobby hotel?"

"Sungguh, aku tidak tahu. Aku pikir kamu tidur tidak jadi dan tidur di kamar. Bahkan aku nongkrong sejenak di kafe hotel setelah kamu menutup pintu kamar dan tidak mengizinkan aku masuk. Aku menghubungi orang-orangku ketika mempersiapkan penerbangan helikopter untuk kejutan untukmu, Itu saja."

Franklin menatap Misha dengan penasaran. "Kira-kira seperti apa ciri-ciri orang yang menemanimu selama kegiatanmu?"

"Dia seorang pria. Namanya Siwon. Tapi kami tidak berdua karena dia membawa dua asisten wanita. Jadi, kami berempat didalam mobil."

Drrt.. drtt.. suara notifikasi kembali terdengar dari ponsel Franklin. Misha menatap ke arah saku celana suaminya.

"Siapa sih, dari tadi yang chat Mas? Sepertinya banyak banget notifikasinya."

Franklin segera mengeluarkan ponselnya. "Oh, chat dari grup WhatsApp keluarga kita." Franklin pun akhirnya mulai membaca satu persatu, namun, ia terfokus oleh isi chat yang hanya sekali di kirimkan oleh Daddynya. Franklin syok.

Daddy : "Tentu saja kalian pulang dan batal piknik. Rencana pertama gagal. Sehingga membuat Daddy menjalankan rencana kedua, bahkan dengan seenaknya dia langsung menyuruh Daddy begitu tiba di lobby hotel tanpa memberi waktu untuk menjelaskan. Dasar putriku itu, nggak ada akhlaq!"

Putriku,

Putriku,

Putriku,

Franklin yakin, ia tidak salah baca. Detik berikutnya, kedua matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Mishanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat secara langsung kalau Daddynya itu menyebut Misha dengan kata 'Putriku'

"Sayang, sekarang aku tahu, siapa sosok pria yang menemanimu selama shopping tadi."

"Mas ada apa? Kok tiba-tiba Mas kayak mau menangis gitu."

"Daddy, Mimi, Daddy.."

"Daddy? Daddy kenapa?" tanya Misha heran.

Suara adzan magrib akhinya berkumandang. Franklin pun segera melepaskan pelukannya.

"Nanti kamu akan tahu. Ayo kita kerumah Daddy sekarang setelah cek out dari hotel." Franklin menoleh ke arah Syahlaa. "Sayang, ayo pulang, sudah magrib."

Syahlaa menghela napasnya. Sejak tadi ia duduk berjongkok sambil memainkan tanah di rumput hijau menggunakan ranting pohon.

"Ayah sama Bunda, lama banget berduaannya. Syahlaa sampai capek jadi obat nyamuk."

Franklin dan Misha tertawa geli. Apalagi Syahlaa sudah berdiri dan berjalan duluan meninggalkan Ayah Bundanya sambil menutup kedua matanya.

"Lanjut saja, Syahlaa nggak mau ganggu. Itu kan, urusan orang dewasa. Syahlaa masih kecil."

****


"Apa yang di inginkan Syahlaa, Fan?"


"Dia mau aku menjemput Bundanya di hotel lalu membawanya ke taman. Katanya dia ingin merayakan ultah Bundanya di taman sambil piknik sekeluarga."


"Kalau begitu, lakukan lah."


"Aku masih bingung."


"Bingung kenapa? Kamu tinggal pergi ke hotel dan-"


"Kamu lupa Ay, kalau aku dan Misha tidak akur sejak dulu? Bahkan aku membencinya."


Ayesha tersenyum tipis. "Cobalah untuk berpikir dan buka hatimu. Kejadian di masalalu, semua ulah Hamdan. Dia yang menabrak diriku. Kamu pernah di tipu bisnis online oleh Hamdan dan Aifa pernah di tipu juga oleh Hamdan karena belanja online. Lalu ketika dompet Franklin hilang saat jam makan siang? Tentu saja Hamdan yang mencopetnya Fan."


"Jika Hamdan yang mencopetnya, kenapa dompet Franklin ada sama Misha? Sejak saat itu aku mulai berpikir kalau Misha sudah lancang mencuri harta putraku. Bagaimana jika dia mencuri semua aset harta dan tahta kita? Jangan mudah percaya dengan siapapun termasuk wanita itu."


"Itulah penyakitmu, Fan."


"Penyakit?"


"Hm, seudzon duluan dengan Misha. Padahal dia tidak seperti yang kamu pikirkan." Ayesha menghela napasnya. "Sudah beberapa tahun berlalu, sesungguhnya aku lelah menghadapi sifatmu yang keras kepala seperti ini. Keegoisan menutup pintu hatimu. Kemana Fandi yang dulunya baik dan penyayang?"


"Ay..."


"Kemana Fandi yang dulunya mudah memaafkan dan tidak suka memperpanjang masalah?"


Detik berikutnya, air mata meluruh di pipi Ayesha. Ia membalikkan badannya dan memunggungi suaminya.


"Aku hanya takut, Syaitan semakin besar memperdaya dirimu. Ketika kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu bawa selain amal ibadah? Demi kebaikan bersama, cobalah untuk memaafkan masalalu agar senantiasa dirimu tidak terbelenggu oleh dosa dan kedzaliman. Apakah kamu sadar, bahwa selama ini kamu sudah mendzalimi putra kamu sendiri? Hidup cuma sekali Fan, berbuatlah kebaikan dan milikilah rasa sabar untuk mudah memaafkan siapapun. Termasuk diriku, Franklin, Misha, dan semuanya."


Fandi terdiam. Ucapan Ayesha benar-benar menyentil hatinya. Bagaimana mungkin ia sampai lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dan apa yang ia bawa untuk menghadap Allah nantinya selain amal ibadah? Jangan sampai semua amal ibadahnya berkurang hanya karena prasangka buruknya dan keegoisan hatinya. Nauzubillah min dzalik.


Fandi menghela napasnya. Akhirnya ia sadar, bahwa selama ini ia sudah salah sampai akhirnya ia pun menuruti permintaan Syahlaa dengan baik meskipun melalui penyamaran terlebih dahulu. Tidak mudah baginya datang menemui Misha secara tiba-tiba dan dadakan tanpa persiapan apapun. Sesungguhnya, ia masih merasa malu untuk meminta maaf duluan.


"Ya Allah, Pak, ini banyak sekali. 500rb?"


Seorang pria kisaran usia 40tahun baru saja selesai menyelesaikan tugasnya. Yaitu mengurut Fandi yang encok dan keseleo. Pikiran Fandi yang sejak tadi berputar di benak, akhirnya pun teralihkan.


"Tidak masalah. Terima saja Pak. Saya kebanyakan uang di brankas, daripada nggak muat dan tercecer, jadi saya beri uang ini ke Bapak."


"Tapi-"


"Rezeki dari Allah, jangan di tolak." potong Fandi cepat. Akhirnya tukang urut itupun hanya pasrah dan menurut. Setelah itu, jasa tukang urut panggilan itupun pamit pulang dengan sopan.


Setelah kepergiannya, tatapan Fandi beralih ke arah topeng wajah 3D yang di buat oleh salah satu asistennya. Sebuah topeng berbahan kulit yang ketika di pakai benar-benar realistis berwajah manusia. Sekarang topeng itu sudah tidak berguna lagi.


Fandi segera keluar dari kamar dan menuju ruang tamu yang sudah ramai oleh para keluarga besar dan juga sahabatnya yang bernama Farhan.


"Kenapa Daddy keluar? Bukankah Daddy harus istirahat?" tegur Aifa tiba-tiba. Fandi hanya menghedikkan bahunya.


"Bosan di kamar. Lagian, Daddy tidak apa-apa."


"Ih, Daddy bau minyak urut!" protes Aifa sambil menutup mulutnya. Bahkan ia pun ingin mual rasanya sambil mengusap perutnya yang buncit di usia kehamilan memasuki 8 bulan.


Dari jarak beberapa meter, Misha menelan ludahnya dengan gugup. Sesungguhnya ia merasa takut dan tidak enak hati. Apalagi dengan seenaknya menyuruh Siwon alias Daddy mertuanya sendiri saat kegiatan shoppingnya.


"Lanjutkan saja makan-makan kalian, Daddy mau ke dalam dulu."


"Sayang, mari aku antar." tawar Ayesha lagi.


"Tidak, kamu temani anak-anak."


Fandi pun memilih berlalu dengan langkah pelan. Misha menatap kepergian Daddynya. Tanpa bisa di cegah, Misha pun akhirnya menyusul Fandi hingga semua mata menatap ke arahnya.


"Biarkan saja, beri mereka waktu sejenak." ucap Ayesha.


"Tapi, Mom." Frankie menatap Mommynya dengan tatapan tidak yakin. "Apakah semuanya sudah membaik?"


"Insya Allah, nak, semua sudah berlalu."


Maka semua pun akhirnya hanya bisa diam dan menurut lalu kembali menyantap sajian makanan di atas meja. Berbeda dengan Misha yang mengikuti Fandi dari belakang.


"Kenapa kamu mengikutiku?"


Seketika Misha menghentikan langkahnya. Wajahnya sudah pucat. Hatinya gugup.


"Maaf, aku, aku... hanya ingin berbicara dengan Daddy sebentar."


Fandi terdiam. Ia pun akhirnya menoleh kebelakang. Dilihatnya Misha menundukkan wajahnya.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?"


"Aku.."


Jeda sejenak, perasaan campur aduk dan khawatir membuat Misha sampai terbata-bata.


"Aku, hanya ingin meminta maaf atas semua kesalahan dan ketidaknyamanan selama ini terhadap Daddy. Terutama soal Mommy. Ku harap, Daddy mau menerima keberadaanku dengan ikhlas. Aku tidak akan pernah berhenti untuk mengucapkan kata maaf. Baik di saat sekarang maupun di masa depan."


Detik berikutnya, suara langkah kaki terdengar sampai akhirnya, Misha menatap kaki Daddynya sejajar dengan kakinya sendiri. Tanpa diduga, Fandi memeluk Misha hingga membuat Misha terkejut. Seluruh tubuhnya diam dan kaku.


"Seharusnya Daddy yang meminta maaf atas semua keegoisanku selama ini. Karena amarah yang melekat di hati, membuat Daddy lupa kalau Daddy sudah jahat denganmu dan Franklin. Daddy ikhlas, dengan semua takdir yang di berikan Allah. Termasuk kecelakaan yang menimpa Mommy di masalalu. Apakah, putri Daddy memaafkan Daddy?"


Tidak ada yang bisa Misha ucapkan selain mengangguk dan membalas pelukan Daddynya. Franklin terlihat menggendong Syahlaa dan Ayesha pun menyaksikan semuanya dari jarak kejauhan sampai akhirnya ketiganya pun mendekati mereka.


Tanpa bisa di cegah, Ayesha pun memeluk Fandi dan Misha secara bersamaan. Ia menangis penuh haru. Ia merasa hatinya lega dan bersyukur. Apa yang ia nantikan selama beberapa tahun ini, akhirnya terjadi dan permasalahan selesai.


"Alhamdulillah, ini yang aku mau. Ya Allah, terima kasih."


"Mom," Franklin pun akhirnya memeluk Mommynya. Syahlaa menatap situasi dalam diam dan kebingungan.


Ayesha menghapus air mata yang terlihat di sudut mata putranya. "Berbahagialah kalian. Mommy bersyukur, di usia Mommy yang senja ini, kebahagiaan Mommy sudah lengkap. Putra-putri Mommy sudah berkeluarga. Mommy juga senang, akhirnya bisa merasakan punya cucu perempuan yang cantik."


Franklin tersenyum tipis. Namun senyum itu hilang ketika tanpa di duga, Ayesha pingsan di tempat. Dan mengeluarkan darah di kedua hidungnya.


"Ya Allah, Mom!" panik Franklin dan semuanya.


****


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi, Allah berkehendak lain. Ibu Ayesha mengalami Komplikasi berat akibat diabetes dan jantung koroner yang di deritanya."


Kata-kata Dokter tadi malam masih terngiang-ngiang di pikiran seluruh keluarga. Aifa lah yang paling terpukul kali ini. Ia tidak berhenti menangis tepat di pusara yang telah di penuhi bunga mawar di atasnya.


Tidak perduli meskipun ia dianggap seperti anak-anak yang sedang menangis karena baginya, Mommy Ayesha adalah sosok yang paling ia cintai. Seorang Ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.


Fandi menatap batu nisan didepan matanya. Nama Ayesha terukir rapi disana. Sekelebat masalalu kembali terbayang di pikirannya. Saat dimana ia pertama kali bertemu wanita itu, di usia sekolah menengah pertama ketika membeli permen gulali kapas. Lalu seiring berjalannya waktu, ia dan Ayesha bersahabat hingga rasa cinta tumbuh di hatinya. Terlalu banyak kenangan suka dan duka serta hadirnya Aifa untuk pertama kalinya yang tidak ingin ia lupakan.


Tak hanya itu, ada Luna, mertua Aifa yang dulunya bersahabat dengan almarhumah Ayesha. Tentu saja ia tahu secara detail, bagaimana tentang sahabatnya itu. Ia juga merasa kehilangan.


"Sekarang kamu sudah tenang, Ay, kamu sudah nggak sakit lagi. Meskipun kamu pergi duluan, tapi kata sahabat akan selalu ada untuk kita." sela Luna dalam hati.


Dan untuk kedua kalinya, Farhan melihat sahabatnya yang bernama Fandi itu benar-benar terpukul dan kehilangan. Dulu yang pertama, Farhan mengingat jelas bagaimana Fandi pernah sedih ketika tidak bisa bersama Ayesha setelah tahu kalau wanita itu ternyata hamil putri pertama mereka bernama Aifa. Lalu yang kedua, disinilah sekarang, Fandi merasa terpukul setelah kehilangan belahan jiwanya.


"Semua makhluk hidup di dunia ini. Pasti akan kembali pada Allah. Tinggal kita saja, yang mempersiapkan diri." ucap Aisyah, istri Farhan, secara pelan.


****


Keesokan harinya..


Frankie membuka pintu kamar Daddynya. Sesungguhnya, ia begitu khawatir dengan kondisi Daddynya yang tidak keluar kamar.


Frankie merasa lega. Rupanya Daddynya itu tidak melakukan hal-hal buruk. Ia melihat Daddynya yang sedang berdiri sambil menatap deretan foto-foto lama. Foto yang di pajang di dinding khusus, foto jaman muda Fandi dan Ayesha dalam beberapa tahun silam.


"Dad?"


Fandi menoleh kebelakang. Ia tersenyum sendu. Frankie pun akhirnya mendekati Daddynya.


"Aku, begitu mengkhawatirkan Daddy."


"Daddy baik-baik saja."


Frankie terdiam. Ia pun akhirnya menatap bingkai foto Mommynya yang tersenyum tipis sambil membawa segelas cangkir kopi ditangannya. Terlihat jelas saat itu dalam situasi bekerja di perusahaan.


"Mommy sangat cantik. Mirip Kakak kalau tersenyum."


"Bahkan kalau melihat Aifa, Daddy merasa Mommy ada disini." ucap Fandi pelan. "Itu foto waktu Mommy kalian bekerja di perusahaan Om Farhan. Dia sedikit keras kepala. Padahal Daddy sudah melarangnya jangan minum kopi, tapi dia tetap minum kopi. Saat itu, kami masih bersahabat. Belum ada rasa suka."


"Kita semua kehilangannya. Dia istri sekaligus Mommy yang begitu sabar. Terutama ketika Daddy menghadapi anak-anak Daddy yang bermasalah."


"Kami akan berusaha sebisa mungkin tidak mencari masalah." sela Franklin tiba-tiba, masuk begitu saja ke dalam kamar Daddynya.


Fandi menatap Frankie dan Franklin sscara bergantian. Waktu memang begitu cepat berlalu sampai akhirnya buah hati yang ia cintai tumbuh begitu cepat dan berkeluarga.


"Sayangi keluarga kecil kalian. Karena waktu sangat berharga untuk orang-orang yang kita cintai. Dan Daddy.."


Fandi menghentikan ucapannya sejenak. Ia begitu rapuh untuk bisa melanjutkan ucapannya.


"Sekarang Daddy sendirian..."


"Daddy tidak sendirian, kok." Aifa masuk dan langsung memeluk Daddynya.


"Aifa punya rencana. Aifa mau pindah disini dan tinggal disini."


Fandi tersenyum tipis. Ia memeluk putrinya yang manja itu. "Jangan Aifa. Kamu sudah berkeluarga. Lebih baik memiliki rumah sendiri."


"Aifa tahu. Tapi orang tua Aifa tinggal Daddy. Aifa ingin bersama Daddy, menemani hari-hari Daddy dan bahagiain Daddy."


"Aku setuju." sela Frankie lagi. "Aku dan Kak Aifa akan tinggal disini. Kami akan mewariskan rumah kami untuk anak-anak kami nantinya."


"Aku juga ingin tinggal disini. Karena aku ingin bahagiakan sosok Ayah yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan karena Ayah sudah meninggal waktu usiaku masih kecil." sahut Misha. Franklin menoleh kebelakang. Istrinya masuk bersama Syahlaa. Misha menatap Franklin.


"Mas, aku siap LDR sama Mas."


"Nggak, aku nggak siap."


"Tapi-"


"Aku Bos. Tentu saja aku memiliki tangan kanan dan CEO kepercayaan untuk di tempatkan di Solo."


"Jadi?"


"Kita akan berkumpul semua disini. Sama seperti yang lain." ucap Franklin akhirnya.


"Mas serius?"


"Tentu saja aku serius." Franklin pun mendekati istrinya. Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan Misha dan mencium punggung tangannya.
Syahlaa yang menyadari hal itu, langsung menutup kedua matanya.


"Satu detik saja, aku bakal rindu kalau tidak bersamamu. Bagaimana dengan waktu berhari-hari dan berjam-jam, Mimi?"


Fandi tersenyum tipis. Ia melihat Franklin yang begitu tulus mencintai Misha. Mengingatkannya di masalalu ketika ia tidak bisa berjauhan dengan Ayesha. Aifa dan Frankie juga bersyukur dengan kebahagiaan saudara kandungnya.


Misha pun memeluk Franklin. "Terima kasih, karena sudah jatuh cinta denganku dan memperjuangkanku melalui Doa."


"Karena tanpa Allah, kita tidak mungkin bisa bersama hingga sekarang. Termasuk calon janin kembar yang ada di dalam sini." ucap Franklin sambil mengusap perut Misha.


Detik berikutnya, hanya suara riang gembira Syahlaa, yang begitu bahagia kalau akhirnya ia akan menjadi calon Kakak nantinya.


Mencintaimu Dalam Doa berakhir di sini..


TAMAT


~~~~~


Masya Allah Alhamdulillah, lega banget akhirnya Franklin dan Misha tamat. Ada pertemuan, ada perpisahan. Begitu akhir dari kisah mereka. 😍


Jazzakallah Khairan sudah mengikuti kisah ini dari awal hingga akhir. 🤗


Jazzakallah yang sudah menjadi pembaca terlama aku dari jaman Stay With Me hingga sekarang. 😘


Semoga kita semua senantiasa di beri kesehatan dan umur yang panjang. Supaya kalian, Insya Allah bs membaca ceritaku kedepannya di waktu senggang. Dan aku, Insya Allah bisa membagi waktu dengan menulis cerita-cerita novel lainnya untuk kalian. Aamiin ya rabbal Alamin 😊


Perasaan kalian selama mengikuti kisah ini..? Komentar nya ya


Pesan buat aku sebagai author... Komentarnya ya..


Dari 1-100, nilai berapa yang cocok buat cerita Mencintaimu Dalam Doa ini?


Jangan lupa komentarnya ya..
With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Samarinda, 10 November 2019 - 21 Januari 2021.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar