Chapter 61 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 61 : Mencintaimu Dalam Diam



Hai Asalamualaikum. Terima kasih ya untuk kaliam para pembaca yang sudah mampir kemari demi Arvino dan Aiza yang bikin kita gemes hehehe. 

Oh iya, untuk para pembaca yang datang dari situs blog aku, kalian bisa membaca chapter 1-60 di akun 
wattpad liareza15 : 

https://www.wattpad.com/story/167419830-mencintaimu-dalam-diam-tamat-proses-penerbitan 




 serta di Platfrome Dreame, NovelToon, Joylada. NovelPlush, dan Storial dengan akun LiaRezaVahlefi 

Happy Reading ... 

***

Adila sudah melepas pakaian pernikahannya. Ia juga sudah menghapus sisa make up natural di wajahnya. Adila terdiam. Ia melamun. Berbagai macam segala pemikiran berkelebat di benaknya. Ia membutuhkan waktu sejenak di kamar mandi.
Adila mengenal napasnya. Diluar sana ada Devian yang sedang duduk santai atau mungkin sedang memainkan ponselnya sambil berselonjoran diatas tempat tidur.
Adila sedang berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menganggap semuanya baik-baik saja sementara hatinya sedang tidak baik-baik saja? Pernikahan atas dasar keinginan dari Ayah Bundanya tidak sesuai dari keinginannya hatinya saat ini.
Sebelum Devian menganggapnya menghindar, buru-buru Adila membereskan perlengkapan pembersih wajahnya kedalam tas make up berukuran kecil. Adila berniat keluar dan sudah memegang kenop pintu kamar mandi dan berhenti, seketika ia kembali meragu.
Adila menggelengkan kepala dengan cepat. Ia yakin mungkin semuanya akan baik-baik saja. Mau semarah apapun, mau seegois apapun, mau sekesal apapun, dia tetaplah istri yang harus berbakti pada Devian. Seorang suami yang tidak di cintainya.
Devian pun menoleh ke ambang pintu kamar mandi begitu terbuka. Ia menatap Adila yang terlihat memakai setelan baju tidur lengan panjang dan celana panjang berbahan satin berwarna merah. Ia mengerut dahinya karena apa yang ia harapkan sirna dan tidak sesuai kenyataan karena Adila masih memakai hijabnya meskipun hanya sebatas menutupi didepan dadanya.
Devian berharap bisa melihat Adila yang cantik dengan untaian rambutnya. Dengan senyumannya, dengan sikapnya dan ia sudah lancang berharap demikian. Seharusnya tidak. Ia harus ingat bila Adila terpaksa menerima pernikahan ini sejak awal.
Menutupi rasa kecewanya, Devian tersenyum. "Sudah malam. Sudah waktunya tidur. Kemarilah."

Promo Ebook Better With You Hanya Rp.250,- (Bersyarat) Klik Disini 
Adila meragu. Ia melihat Devian menepuk-nepuk tempat tidur kosong disebelahnya. Ini malam pertama mereka yang akan tidur dalam satu ranjang yang sama.
Devian mengerti tatapan keraguan yang berasal dari istrinya. Perlahan, ia turun dari tempat tidur dan berjalan kearah Adila hingga keduanya saling berhadapan.
"Kok diam gitu? Ini sudah malam. Kamu harus tidur." Devian menarik pergelangan tangan Adila dan wanita itu tidak bergerak sama sekali seolah-olah menolak ajakannya.
Devian menoleh kebelakang. "Aku cuma ingin kamu istirahat aja kok. Malam ini ada pertandingan bola di televisi. Sebelum bergadang, aku harus mastiin kamu tidur dengan nyenyak di kamar ini."
Dan Adila bernapas lega. Ia pikir Devian akan meminta haknya malam ini. Ia pun hanya menurut dan menuju tempat tidur. Dengan penuh kasih sayang Devian pun menyelimuti tubuhnya dan menyentuh pipi Adila dengan lembut.
"Kamu tidur duluan ya. Nanti aku akan menyusul."
Adila mengangguk. Sekali lagi, Devian tersenyum dan beranjak dari kamar mereka untuk menuju pintu. Adila menatap pintu yang sudah tertutup. Perasaanya pun campur aduk dan ia sendiri tidak mengerti ada apa dengan dirinya yang merasa bahwa Devian berusaha membuat situasi terlihat santai.
Tapi tidak dengan Devian sendiri begitu berada didepan pintu kamar mereka setelah menutupnya. Untungnya saja situasi saat ini sedang berada di kamar hotel berukuran royal suite dan memiliki ruang tamu. Hanya berdua dan tidak ada keluarga ataupun orang tua mereka.
Devian merasakan hatinya sesak. Ia berusaha mengabaikannya tapi rasanya sangat sulit. Ia khawatir bila kedepannya Adila akan merasa tertekan karena situasi yang terjadi di antara mereka. Devian pun memilih tidur di sofa besar ruang tamu dan mengabaikan niatnya yang sedang bad mood untuk menonton pertandingan sepakbola.
Untuk sesaat, Devian mengalami Dilema. Dilema antara ingin bersikap santai seperti biasanya tapi takut jika Adila akan ilfil dengannya atau bersikap cuek tidak peduli dengan istrinya tapi ia sendiri tidak sanggup untuk melakukan hal itu.
****
"Kamu bisa jaga rahasia ini kan?"
"Tapi aku takut."
Seorang pria yang saat ini sedang bersama Aiza adalah Afnan. Afnan menyentuh punggung tangan Aiza.
"Aku tau ini begitu mengejutkan. Dia pasti marah denganku begitu aku kembali hadir diantara kalian. Tapi-"
"Baiklah. Aku akan mencobanya."
Afnan mengangguk. "Sudah malam. Kamu harus pulang. Harus istrirahat. Jangan sampai dia kenapa-kenapa." Afnal menyentuh perut rata Aiza. Lalu tersenyum lagi. "Aku menyayangi  calon anak ini Aiza. Dan aku juga menyayangimu."
Aiza tersenyum tipis dan ia mengangguk. Ia merindukan senyuman Afnan yang tidak pernah terlihat selama beberapa tahun ini.
"Aku pergi. Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Aiza keluar dari mobil Afnan lalu mobil Afnan pun meninggalkan Aiza. Kepergian Afnan beberapa menit yang lalu seketika membuat Aiza terkejut. Ia menepuk jidatnya.
"Astagfirullah! Aku lupa izin sama mas Vin seharian ini."
Dengan cepat Aiza memasuki halaman rumahnya setelah satpam rumah mereka membuka pagarnya. Aiza membuka pintu rumahnya yang terkunci dan segera mencari keberadaan Arvino yang ternyata tidak ada.
Aiza mengecek jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam dan Aiza mengecek ponselnya lalu menemukan panggilan tak terjawab dari Arvino sebanyak 5 kali tadi siang. Aiza mencoba menghubungi Arvino berkali-kali tapi nomor ponsel suaminya itu tidak aktip.
Aiza merasa panik. Ia takut Arvino akan marah padanya mengingat sebelum meninggalkan rumah ia lupa meminta izin pada suaminya. Ah, penyakit lupa memang benar-benar sangat akut didalam dirinya. Jangankan meminta izin, meminum pil kontrasepsi saja ia lupa sehingga membuatnya kembali hamil begitu Afnan menemaninya ke dokter.
Aiza mencoba bertanya Leni dan hasilnya tetap sama. Arvino tidak bisa di hubungin. Aiza gelisah, rasa lelah didalam tubuhnya ia abaikan sehingga membuatnya memilih duduk di sofa.
"Nona muda."
Aiza menoleh kearah Leni. "Bagaimana?"
Leni menggeleng. "Tetap sama. Tidak ada jawaban. Maafkan saya."
Aiza lesu. Ia bersandar di sofa sambil menutup kedua matanya hingga ucapan Leni membuatnya kembali membuka matanya.
"Maaf Nona saya sedikit lancang. Anda sedang hamil. Tolong jaga kesehatan anda demi perkembangan janin anda dan istirahat. Saya akan berusaha mengubungi tuan Arvino."
"Tidak bisa aunty Leni."
"Tapi-"
"Aku baik-baik saja. Percayalah."
Aiza tidak bisa dibantah kali ini. Karena itu Leni hanya mengangguk dan segera pergi dari sana. Memberi waktu untuk nona mudanya yang sedang mengkhawatirkan suaminya.
****
Keesokan harinya.
Aiza kembali uring-uringan di trimester pertamanya. Efek Morning sickness yang begitu berlebihan membuatnya lelah berkepanjangan. Hanya ada sosok Leni yang selama ini menemani dan merawatnya.
Aiza tidak mau makan. Wajahnya terlihat pucat. Ia kepikiran Arvino yang tidak memberinya kabar hingga sekarang begitupun dengan kondisinya yang semakin melemah membuat Aiza terbaring di kamarnya sendiri.
Pintu terketuk sebentar, lalu terbuka yang ternyata adalah Leni. "Maaf Nona muda saya menganggu. Em, tuan-"
"Apakah mas Vin sudah datang?" potong Aiza lebih cepat.
Leni mengangguk. "Tuan muda sedang berada di ruang kerjanya."
Seketika rasa lemas ditubuh Aiza menghilang. Ia pun segera menyibak selimutnya lalu membuka laci meja rias untuk membawa sesuatu yang harus ia perlihatkan kedalam Arvino. Sebuah foto USG dan hanya menatapnya saat ini kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Leni melihat hal itu pun bernapas lega. Setidaknya nona mudanya itu sedikit membaik dengan kedatangan suaminya.
Aiza bersyukur. Aiza bahagia. Air mata mengalir di pipinya sambil menggenggam sebuah foto hasil USG di kehamilannya yang kedua berusia 3 Minggu.
Dengan cepat ia mendatangi Arvino yang berada diruang kerjanya dan sedang memunggunginya. Suara langkah Aiza begitu pelan dan tidak terdengar karena Arvino sedang melakukan panggilan diponselnya.
Aiza memilih menunggunya sejenak. Begitupun Arvino sudah memutuskan panggilannya, dengan perlahan Aiza memeluknya dari belakang dan membuat Arvino terdiam tanpa ekspresi. Raut wajahnya datar. Sejak tadi ia berusaha menahan amarah karena ada Aiza ada belakangnya secara tiba-tiba.
Dan Arvino sudah menyesal pulang kerumah.
"Alhamdulillah mas. Aku hamil. Ini.."
"Alhamdulillah Mas. Aku hamil. Ini.." Aiza menyerahkan selembar foto USG didepan Arvino. Pria itu terlihat tidak menunjukan reaksi apapun hingga senyuman yang sejak tadi terukir di wajah Aiza perlahan memudar.
"Mas-"
"Kemana saja kamu kemarin?"
"Aku.." Aiza terdiam. Ia sadar Arvino marah padanya. "Maafkan aku. Aku lupa meminta izin sama Mas keluar rumah. Aku pergi keminimarket."
Arvino tersenyum sinis. Arvino tidak mengubris Aiza. Ia berusaha menahan amarah agar tidak bertindak gegabah didepan istrinya. Ia pun memilih meninggalkan Aiza dan secepat itu Aiza kembali menghadang jalannya.
"Mas. Ada apa?"
"Tidak ada."
"Tapi-" Dan Arvino kembali mengabaikan Aiza. Aiza mencekal lengan Arvino. "Mas marah? Aku minta maaf-"
"Lepaskan aku."
"Mas-"
"Mas. A-aku.. aku hamil. Aku butuh Mas. Aku hamil anak kita." Aiza menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Arvino melepaskan cekalan tangan Aiza di lengannya.
"Iya."
Aiza terkejut. Apakah itu saja reaksi Arvino? Apakah Arvino tidak senang kabar bahagia ini? Arvino membuka kenop pintu ruangannya dan Aiza memeluknya dari belakang.
"Aku mohon jangan pergi. Aku.. aku butuh Mas. Aku lagi pusing, aku lagi mual. Aku butuh Mas di sampingku. Aku ingin Mas memelukku." lirih Aiza penuh permohonan.
"Sabar. Itu cobaan buatmu, Aku ingin pergi keluar karena ada perlu."
"Mas mau kemana?" Tanya Aiza lagi yang ntah kenapa Arvino memendam rasa marah. Arvino tetap diam seribu bahasa. Hatinya terasa panas karena menahan rasa cemburu namun tidak bisa mengungkapkannya pada Aiza karena ia takut tidak akan bisa menahan emosi dan ucapan amarah nantinya.
"Mas.."
Dan Arvino pergi membawa kekecewaan di hatinya. Meninggalkan Aiza yang memanggilnya. Mengabaikan Aiza yang saat ini kondisinya melemah karena syok akibat Arvino yang bersikap dingin.
****
Kalian kuat kan? 😭😭
Cuma mau bilang, next chapter sampai ending mungkin author gak akan kasih spoiler di snapgram lia_rezaa_vahlefii ya.
Alasannya simpel kok. Author gak mau bikin kalian nyesek duluan hanya karena melihat spoilernya. Jadi ya, kayaknya author langsung update aja nanti. Insya Allah gitu.
Tapi kalau kalian mau chat nanya kapan author updated dll, kalian bisa DM aja di snapgram author ya. Insya Allah nanti di balas kok misal gak sibuk.
Sehat selalu buat kalian. 
With love 
LiaRezaVahlefi

1 komentar:

  1. Hai ka salam kenal..trnyata tgl lhir qt sma y..ky reva sma afrah 😊

    BalasHapus