Chapter 68 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 68 : Mencintaimu Dalam Diam




Dengan gelisah Leni mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sesekali ia melirik kearah Aiza yang berada disampingnya. Memastikan bila wanita itu baik-baik saja.
Sesekali Aiza meringis. Menyalurkan rasa perih dan keram di perutnya melalui kepalan tangan diatas pahanya. Segala emosi, amarah, kesedihan dan kekecewaan bercampur menjadi satu didalam hatinya.
Mobil tiba didepan UGD Rumah sakit. Leni segera keluar untuk membantu Aiza yang sudah pucat dan tertatih hingga beberapa menit kemudian tim medis yang menyadari hal itu segera meraih kursi roda dan membawa Aiza untuk segera di periksakan.
Leni terlihat khawatir. Ketakutan dan cemas. Ia memang tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga nona mudanya itu. Tapi sesama perempuan Leni tidak bisa mengelak bahwa ia ikut merasakan apa yang Aiza rasakan.
Mereka sudah didalam UGD, salah satu dokter wanita menangani Aiza. Sesekali Leni membantu menjelaskan hal yang menimpa Aiza beberapa menit yang lalu.
"Ibu Aiza. Sebaiknya kita USG dulu ya untuk mengecek kondisi janinnya."
Aiza hanya mengangguk. Selagi menunggu ia akan di USG, Aiza memanggil Leni.
"Aunty.."
"Ya?"
"Bisa minta tolong?"
Leni mendekati Aiza. Duduk disamping brankar pasien lalu menggenggam punggung tangan Aiza.
"Apapun itu katakan saja Aiza. Aunty benar-benar mengkhawatirkanmu."
Aiza memaksakan senyumannya. "Terima kasih. Em.. tolong jangan hubungin siapapun termasuk Mas Vin ya."
"Kenapa Aiza? Dia suamimu dan dia berhak tau."
Aiza menggeleng. "Aku tau. Tapi aku sudah janji tidak ingin menganggunya."
"Tapi-"
"Tolong lakukan. Demi aku. Demi kondisiku. Aku sudah membuat bayiku terbeban oleh psikologisku."
Leni menatap Aiza dengan iba sampai akhirnya ia mengangguk bertepatan saat dokter spesialis kandungan akhirnya memeriksa Aiza dan segera melakukan USG.
"Bagaimana dok?"
"Alhamdulillah. Janin ibu baik-baik saja. Apakah ada sesuatu yang menganggu psikis ibu sehingga menyebabkan stress?"
Aiza terdiam. Ia bingung berkata iya atau tidak. Tapi untungnya saja dokter tersebut memaklumi Aiza yang kini kesulitan menjawab pertanyaannya.
"Ibu hanya kelelahan hebat. Alhamdulillah kondisi bayi ibu baik-baik saja. Jika ibu tidak cepat kemari bisa berakibat fatal. Nanti saya resepkan obat penguat kandungan ya Bu setelah itu ibu harus banyak-banyak istrirahat dan kelola stress dengan baik."
"Apakah saya akan rawat inap?"
"Tidak perlu." Dokter itu tersenyum ramah. "Cukup rawat jalan saja ya bu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selama tidak terjadi pendarahan yang banyak secara terus-menerus."
USG selesai dan Aiza bernapas lega. Dokter kandungan itu benar. Ia tidak boleh tertekan hal apapun lagi. Ia tidak boleh banyak memikirkan hal-hal yang membuat hatinya pedih sehingga membuatnya stress.
Selain ia sudah selesai seminar proposal skripsi beberapa jam yang lalu, setidaknya ia sedikit bernapas lega. Tinggal menunggu waktu pendadaran saja dan itu 4 bulan lagi. Aiza bersyukur itu adalah waktu yang sangat cepat apalagi jika di hitung-hitungan kehamilannya nanti berusia 8 bulan saat pendadaran.
Aiza meraih ponselnya hanya untuk mengecek jam. Tapi terhenti begitu saja saat menatap layar. Foto Arvino. Foto dirinya bersama Arvino saat akad nikah.
Aiza menatap sendu. Baru saja ia berjanji untuk tidak menganggu Arvino, tapi ia tidak bisa berbohong bahwa saat ini ia merindukan suaminya.
Lalu Aiza teringat pesan dari dokter tadi. Ia tidak boleh stress. Ia tidak boleh kepikiran suatu hal yang ujung-ujungnya akan membuatnya tertekan.
Dengan menguatkan hatinya Aiza membuka galeri, mencari sebuah foto Disney Princess kesukaannya lalu menjadikannya wallpaper pada layar ponselnya.
Segala sesuatu tentang Arvino Aiza berusaha payah untuk tidak memikirkannya. Di mulai dengan merubah kata sandi ponselnya yang sebelumnya tanggal lahir Arvino. Semua pesan singkat dan chattingannya bersama Arvino ia hapus semuanya.
Aiza berusaha untuk merubah posisi nya untuk duduk bersandar di head bead brankar selagi menunggu waktu pulang sambil menjalankan kegiatan kali ini.
Taknya itu saja, Aiza menguninstall aplikasi Instagram, Facebook, Twitter dan Line agar tidak menstalker Arvino hanya untuk mencari tau tentang kabar pria itu.
Aiza berusaha menahan air matanya dan itu gagal. Ia mengabaikan tetesan demi tetesan yang menjatuhi pipi dan punggung tangannya saat ini. Ia harus kuat. Semua demi bayinya. Semua demi psikis dan kehamilannya meskipun tidak bermaksud melupakan Arvino.
Aiza mematikan ponselnya lalu kembali berbaring menyamping. Ia butuh istirahat walaupun hanya beberapa menit. Aiza butuh menenangkan hatinya yang sesak dan harus berusaha. Aiza harus yakin dan kuat dalam menghadapi semuanya.
Aiza mengelus perutnya. Waktu memang terus berjalan sehingga sedikit demi sebuah ia mulai merasakan pergerakan bayi didalam diperutnya.
Aiza memaksakan senyumnya."Sehat terus nak. Allah bersama kita."
****

10 komentar:

  1. Kak kok cuma sampe capther 68. Ngak ada lanjutanya lg. Msih penesaran

    BalasHapus
  2. Lanjutan ceritanya gimana kak?
    Bgmn akhir hubungan Azis dan Arvian?
    Lagi seru serunya nih....

    BalasHapus
  3. Masa harus beli bukunya sih? Tanggung tinggal 1 chapter lagi padahal.. Duhh.. Mending kalau happy ending.. Kalau sad ending gondok kan

    BalasHapus
  4. lanjut disini aja ceritanya kak karena tidak semua orang mampu menbeli bukunya plisssss

    BalasHapus
  5. Belum ada lanjutan lagi ya kak

    BalasHapus
  6. Kak aku udah nanggung banget nih udah baca chapter 1-68 eh malah nanggung disini jadi penasaran aja nih ama Aiza dan Arvino gimana sih kelanjutannya???

    BalasHapus
  7. Kak, kok cuma chapter 68 gak ada kelanjutan ya

    BalasHapus
  8. Kak nanggung banget nih kelanjutannya ko ngga ada:((

    BalasHapus