Chapter 67 ; Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 67 ; Mencintaimu Dalam Diam




"Dokter Devian?"
Devian yang sudah berada di luar rumah sakit pun menoleh ke belakangnya.
"Eh Dokter Rafi. Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Dokter sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah. Sehat. Lagi ada pelatihan ya di kota ini?"
"Iya nih dok. Sekalian kerumah sakit ini. Singgahin calon istri."
"Oh ya? Siapa?"
"Suster Risa."
"Oh suster Risa." Devian manggut-manggut.
"Dokter tinggal di daerah sini?"
Devian tersenyum. "Iya. Panggil nama aja gih, gak usah formal gitu."
Rafi yang merupakan adik tingkat Devian semasa kuliah kedokteran pun terlihat salah tingkah dan tersenyum canggung. Devian menatap Rafi dengan serius.
"Mumpung kita lagi ketemu. Boleh aku tanya sesuatu denganmu?"
"Boleh. Soal apa?"
"Kamu ingat kejadian kecelakaan adikku beberapa bulan yang lalu?"
"Ingat." ucap Rafi yang sama seriusnya. "Yang kecelakaannya sama seorang wanita. Statusnya karyawan di perusahaan siaran itu?"
"Iya. Kamu benar. Namanya Reva. Em.. kalau boleh tau, bagaimana perkembangannya saat ini?" 
Rafi memasang raut wajah sedih dan sedikit iba dengan kondisi pasien yang di maksud Devian.
"Dia sudah sadar sebulan yang lalu. Dia mengalami amnesia."
"Amnesia?"
"Hm." Rafi mengangguk. "Dia tidak ingat apapun. Semuanya. Kecelakaan waktu itu mengakibatkan benturan keras di kepalanya sehingga menyebabkan kehilangan ingatan. Kedua kakinya juga lumpuh meskipun saat dia sempat menjalankan terapi."
"Dia masih di rawat?"
"Dia sudah di pindahkan ke luar kota. Kabar yang aku dengar seseorang yang tidak bisa memiliki keturunan anak perempuan dengan sepenuh hati mengadopsinya sebagai anak."
"Di kota mana?"
"Wah sayangnya aku tidak tahu Dev. Memangnya dia orang penting dalam hidupmu? Em maaf ya aku tanya begini. Kelihatannya kamu khawatir sama dia."
"Aku bukannya khawatir." Jelas Devian lagi. "Adikku kecelakaan sama dia. Setidaknya aku tau bagaimana kabarnya saat ini. Ya memang sih, kematian adikku itu sudah menjadi takdir meskipun posisinya Reva yang selamat. Dia bukan siapa-siapa ku Raf, dia hanya salah satu mantan mahasiswi sahabatku di universitas sekaligus bawahan mendiang Devika saat di perusahaan."
"Mas Rafi?"
Suara seorang suster bernama Risa pun menghentikan obrolan mereka. Tanpa mau membuang waktu lagi, Devian memilih pamit untuk segera mendatangi Adila yang sudah menunggunya.
Setidaknya, saat ini ia sudah tahu bagaimana keadaan seorang wanita yang pernah kecelakaan bersama mending adik kembarnya beberapa bulan yang lalu.
****
"Mas masih marah?"
Arvino yang sejak tadi memunggungi Aiza pun menoleh kebelakang. Menatapnya dingin. "Kalau sudah tahu untuk apa bertanya lagi?"
"Aku hanya ingin memastikan. Maafkan hasil skripsiku jika masih ada kesalahan saat seminar tadi"
Arvino kembali menatap jendela luar dan memunggungi Aiza. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana kainnya. Pakaian yang ia kenakan setelah menghadiri seminar Proposal skripsi Aiza itu belum tergantikan sampai sekarang meskipun mereka sudah tiba di rumah satu jam yang lalu.
"Aku mau pergi. Sumpek dirumah"
Aiza mencegah. Lalu berdiri di samping Arvino. Menatapnya penuh permohonan. "Mas.. mas mau kemana lagi?"
"Ngopi di Cafe Devian."
"Untuk apa ngopi disana?" Aiza memegang lengan Arvino. "Biar aku saja yang membuatnya."
"Itu dulu. Lupakan saja."
Aiza menarik napasnya. Dadanya begitu sesak. Batinnya sedang sakit.
"Maafkan aku. Harus berapa kali aku jelasin kalau sudah meminta maaf sama Mas Vin?"
Air mata mengalir lagi di pipi Aiza.
"Semenjak kejadian kemarin Mas tetap bersikeras mendiamiku."
"Aku melihatnya dengan jelas Aiza. Bahkan dengan santainya saat itu kamu pergi begitu saja ke rumah sakit sama dia!"
"Mas-"
"Dan aku mencoba menghubungimu tapi kamu mengabaikannya?"
"Aku-"
"Bahkan untuk keluar rumah saja kamu tidak bilang dan meminta izin padaku." sinis Arvino tajam.
Aiza menggenggam tangan Arvino. Meremasnya dengan lembut.
"Sekarang aku harus apa supaya Mas tidak marah lagi?"
"Jangan berbicara padaku untuk sementara waktu sampai aku benar-benar memaafkanmu."
"Mas tolong jangan kekanakan. Aku sedang hamil, tolong pikirkan kondisiku."
"Semua berawal darimu Aiza."
"Tapi-"
Lalu Aiza terdiam begitu Arvino memperlihatkan layer ponselnya pada Aiza. Dengan ragu Aiza menerimanya dan air mata kembali meluruh dipipi Aiza.
Sebuah obrolan dalam bentuk grup dari jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Samarinda yang tanpa diduga sedang menggosipi dirinya bersama pria lain dimalam hari. Aiza syok. Arvino benar, sekarang dirinya menjadi sumber fitnah.
"Mas..." Lirih Aiza. "Aku-"
Aiza memejamkan kedua matanya. Dengan lemah, akhirnya ia pun mengembalikan ponsel Arvino di tangannya. Aiza merasa hancur. Kesabarannya habis. Hatinya terluka. Dan Aiza pun terduduk dilantai sambil memegang perutnya yang mulai membesar dan terasa keram akibat psikologisnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya." Isak Aiza.
"Kalau begitu simpel. Jangan pernah berbicara denganku lagi."
Arvino mengabaikan Aiza dan melangkahkan kedua kakinya menuju pintu luar, Aiza terkejut. Rasa ketakutannya menjadi-jadi. Dengan memaksakan tubuhnya yang lemah ia berdiri, lalu memeluk Arvino dari belakang.
"Jangan lakukan itu. Aku mohon." Arvino terdiam. Raut wajahnya masih datar.
"Jika Mas begitu kita akan menjadi orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Maaf jika omonganku tadi membuat Mas marah. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku.. aku.."
Aiza tidak bisa menahan diri lalu merubah posisi dengan memeluk Arvino dari depan. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Maafkan aku.. maaf. Aku.. aku hanya sedang sensitif dengan hormon kehamilanku. Tidak seharusnya sebagai istri aku berucap seperti tadi. Maafkan aku agar aku tidak durhaka sama Mas."
"Terserah."
"Dan aku mohon Mas jangan pergi. Seumur hidup hatiku kosong setelah kepergian Ayah dan ibu. Meskipun ada Naura tapi semuanya tidak akan pernah mengembalikan seperti semula."
"Aku ingin pergi Aiza, menyingkirlah"
"Sebentar.. sebentar.. jangan.. jangan pergi. Dengarkan aku. Aku.. aku butuh mengeluarkan semua ucapanku saat ini."
Aiza memejamkan matanya. Wajahnya sudah basah oleh air mata bahkan ia meringis karena sedang menahan perutnya yang kembali keram.
"Setelah menikah dengan Mas Vin, aku hanya berharap Mas bisa membimbingku menjadi istri yang baik. Keluarga kita menjadi keluarga yang Sakina Mawadah dan Warahmah. Mas adalah imam surgaku. Mas tempat aku bersandar. Mas tempat aku mencurahkan segala isi hatiku dikala aku sedang ada masalah dan Mas adalah pasangan sehidup semati yang aku cintai.."
Arvino merasa muak "Aiza!"
"Tolong peluk aku... Tolong balas pelukanku.. tolong bikin aku tenang sebelum Mas pergi lagi.."
"Aku tidak bisa."
"Lakukan Mas.. lakukan saja meskipun hal ini membuat Mas terpaksa. Aku.. aku hanya ingin menikmati sisa waktu sebelum Mas benar-benar tidak berbicara lagi denganku dan mendiamkan aku. Sesuai ucapan Mas aku janji, aku tidak akan mengganggu Mas lagi. Aku janji tidak akan membuat Mas marah padaku."
"Baguslah kalau kamu sadar."
"Tolong balas pelukanku. Aku butuh itu... " pinta Aiza dengan memelas yang kesekian kalinya.
Akhirnya, Arvino pun membalas pelukan Aiza. Aiza sudah lelah. Aiza sudah lelah dengan semuanya. Pintu hati Arvino sudah tertutup oleh emosi dan egoisnya sendiri. Aiza membuka kedua matanya karena merasa cairan hangat mengalir dikedua pahanya.
Aiza ketakutan tapi ia tidak berani berkata apapun lagi. Semua percuma. Semua tidak ada gunanya lagi. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena kebodohannya yang dulunya lupa hanya karena tidak meminta izin sebelum pergi sehingga membuat suaminya itu marah dan Arvino membalasnya dengan perasan yang menyakitkan akibat egonya..
Sudah kesekian kalinya Arvino tidak mau bahkan menolak mendengarkan semua penjelasannya. Bukannya menjawab, Aiza hanya menatap Arvino dengan sendu. Perlahan Aiza mengulurkan telapak tangannya untuk menyentuh bagian pipi Arvino yang di tumbuhi bulu-bulu halus jambangnya.
"Aku merindukan sosok Mas Vin yang dulunya menatapku penuh cinta." bisik Aiza pelan. "Bukan menatapku dengan amarah seperti sekarang."
Elusan telapak tangan Aiza turun bagian leher Arvino lalu menyentuh bagian dada bidangnya.
"Didalam sini. Ada jantung Mas. Ketika aku memeluk Mas pertama kalinya setelah akad nikah, aku bisa mendengar bagaimana debaran yang kencang Mas Vin karena aku."
Arvino terdiam. Tanpa ekspresi. Hatinya gemuruh sesak bercampur aduk menjadi satu.
"Hal yang paling aku sukai adalah ketika Mas mengajakku memelukku dari belakang saat tidur, sangat romantis. Maaf bila hal ini mengecewakan Mas. Tapi aku tidak bisa membendung perasaan rindu kebersamaan kita."
Lalu air mata Aiza luruh di pipinya. Aiza beralih mendongakkan wajahnya menatap Arvino. Keduanya pun saling bertatapan dalam diam. Dan Arvino tidak bisa mengelak bahwa Aiza semakin cantik saja bila disituasi sekarang.
"Tapi.. terima kasih." Aiza tersenyum tulus. "Walaupun hanya 5 menit. Aku bersyukur. Setidaknya, sedikit demi sedikit perasan rindu ini tersampaikan sebelum Mas menjauhiku lagi. Termasuk dengan hal ini.."
Dan Aiza mencium kening Arvino hingga tadinya hati Arvino yang sekeras batu itu pun luluh begitu saja. Ia harus ingat salah satu fakta yang tidak bisa di lupakan adalah bawah Aiza adalah candunya.
Aiza adalah penawar hatinya ketika terluka. Aiza adalah sosok istri penenang perasaanya. Dan.. Arvino malah menempelkan dahinya pada Aiza. Ia tidak bisa mengelak bahwa sesungguhnya di balik amarahnya ia juga merindukan Aiza
Lalu Aiza yakin bahwa Arvino masih menyimpan rasa cinta untuknya.. Dan Aiza.. akan sabar menunggu sampai Arvino benar-benar menyadari kesalahannya.
Aiza menangis. Air mata sudah meluruh dipipinya sejak tadi. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Arvino. Perutnya sudah terasa melilit hebat karena kesakitan dan yang bisa ia lakukan hanyalah memendamnya. Psikologis Aiza sangat terganggu dam membuat perut Aiza keram.
Arvino terkejut. Raut wajahnya yang sejak tadi mengeras perlahan hilang ntah kemana ketika tanpa diduga sebuah tendangan yang sangat kecil terasa di perutnya ketika perut hamil Aiza kini saling menempel erat dengan perutnya karena posisi mereka yang saling berpelukan
***
Author juga punya hati, saking mendalami banget perasaan Aiza, ngetik ginian air mata berkaca-kaca 😭
Tetap stay. Tetap tahan. Tetap ikutin alur ini sampai tamat. Dari sini kita bisa melihat bahwa perjuangan cinta itu tidak mudah. Apalagi setelah menikah. Kalau kita lihat disekitaran kita ada pasangan yang bahagia, akur, adem ayem, kita harus ingat, semua itu belum tentu terjadi begitu didalam rumah mereka. Hanya mereka dan Allah yang Tahu.
Sama halnya seperti Aiza dan Arvino. Orang-orang disekitar mereka apalagi bunda Ayu, Ayah Azka, Devian dll sampai sekarang gak tau kalau Aiza Arvino lagi problem. Bagi Aiza, masalah dia sama Arvino adalah aib rumah tangga. Cukup Allah dan mereka yang tahu.. serta kita yang membaca kisah mereka hingga ending.
Jangan khawatirkan apapun dan bertanya kapan Masalah mereka selesai?
Kita nikmatin aja kisah mereka sampai berakhir dengan senyuman di titik ending.
With Love 🖤
LiaRezaVahlefi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar