Chapter 67 ; Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 67 ; Mencintaimu Dalam Diam




 

 Aiza meraba tempat tidur disampingnya dan ia merasa tidak ada tubuh Arvino disebelahnya. Aiza membuka matanya lalu merubah posisi dengan membangunkan tubuhnya. 

 

"Kemana mas Vin?" 

 

Aiza turun dari tempat tidurnya. Ia memilih mencari Arvino keseluruh ruangan rumah. Dan begitu mendapati Arvino tidak ada, hatinya terasa hampa.

 

Tubuh Aiza serasa lemas. Hatinya tak berdaya dan rasanya ia ingin menyerah saja.Padahal ia bisa melihat sendiri bagaimana kedua mata Arvino yang merindukannya, tatapan penuh cinta yang begitu mendambakannya. Ia yakin karena kedua mata Arvino tidak akan bisa berbohong dan ia melihat dengan jelas bahwa semuanya seperti itu.

 

Aiza meraih ponselnya, mengubungi Arvino meskipun ia tau bahwa Arvino tidak mungkin menerima panggilannya karena sudah di blokir. Tapi Aiza akan mencoba dan sama seperti sebelumnya. Tidak aktip.

 

Aiza terlihat berpikir dan mencoba menghubungi Arvino pakai nomor ponsel baru dan berharap pria itu menerima panggilannya.

 

"Halo?" 

 

Aiza terkejut. Ia tidak menyangka Arvino menerima panggilannya. 

 

"Halo? Siapa ini?"

 

Aiza tergagap lalu memegang gagang teleponnya dengan erat. 

 

"Asalamualaikum m-mas."

 

"Wa'alaikumussalam. Apa?"

 

"M-mas aku-"

 

"Aku menyesal sudah mengangkat panggilan ini. Seharusnya aku mengabaikannya."

 

"Mas jangan marah." lirih Aiza. "Mas gak pulang?"

 

"Tidak."

 

"Kenapa?"

 

"Masih bertanya?"

 

"Tapi mas. Kita-"

 

"Kita apa? Daripada kamu merengek mending kamu belajar. Besok pagi adalah seminar proposal kamu."

 

"Aku.. aku gak bisa belajar. Aku.. aku sedang lapar. Bisa mas pulang? Aku sedang ngidam ingin makan masakan buatan mas supaya tidak lapar." ucap Aiza dengan pelan. 

 

"Jangan cari alasan."

 

"A-aku serius Mas!" Aiza berusaha menahan amarahnya. Kedua matanya mulai memanas. Sebentar lagi air mata akan mengalir di pipinya yang kesekian kalinya. "Aku-"

 

"Aku apa?" potong Arvino dengan tidak mau kalah. "Jangan malas."

 

"Tapi-"

 

"Sudah cukup. Hentikan ini semua." 

 

Klik. 

 

Dan Arvino memutuskan panggilannya sepihak. Sebuah rengkuhan dengan lembut di pundaknya membuat Aiza menoleh dan mendapati Leni menatapnya iba. Buru-buru Aiza menghapus air matanya. 

 

"Aunty.. maaf aku mengganggu Aunty malam ini. Apakah suaraku terdengar nyaring?"

 

Leni tidak banyak berkata. Ia hanya membawa Aiza menuju dapur lalu membantunya duduk di minibar

 

"Saya dengar Aiza lapar? Mau saya buatkan sesuatu?" tawar Leni 

 

Aiza menggeleng. "Tidak usah aunty. Aku sudah kenyang."

 

"Tapi Aiza-"

 

"Aku baik-baik aja aunty." Aiza turun dari kursi minibar dengan hati-hati lalu pergi meninggalkan Leni dengan raut wajah muram. 

 

πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€

 

Devian terlihat santai pagi ini. Hari ini ia sedang libur bekerja dan menikmati waktu luangnya dengan duduk disofa empuk sambil menonton siaran Lcdnya. 

 

Tidak lama kemudian, Adila menuruni anak tangga dengan raut wajah lelah dan pucat. Mendapati hal itu, Devian tersenyum lalu menepuk-nepuk sofa empuk yang ada disebelahnya.

 

"Sayang kenapa? Sini.." 

 

Adila hanya menurut. Dengan langkah gontai ia melangkahkan kakinya dan duduk disamping Devian. Dengan manja ia memeluk tubuh suaminya. 

 

"Mas.."

 

"Hm?"

 

"Mas lagi sehat kan?"

 

"Alhamdulillah sehat. Ada apa? Kamu baik-baik aja kan?" 

 

Adila menggeleng. Ia semakin memeluk erat tubuh suaminya. 

 

"Hanya lelah akhir-akhir ini." 

 

"Lelah?" 

 

"Iya mas."

 

Devian mematikan Lcd nya. Ia pun membalas pelukan Adila sama eratnya. Mencium puncak kepalanya dan mengelus pipinya. 

 

"Sejak kapan?"

 

"Semingguan ini."

 

"Ada pusing?"

 

"Ada." 

 

Tiba-tiba Adila melepaskan pelukannya. Lalu menatap Devian dengan tajam. 

 

"Ada apa?" tanya Devian bingung.

 

"Mas kok bau sih?" Adila menutup hidungnya. "Aku jadi malas deket-deket sama mas!"

 

Devian mengerutkan dahinya. "Masa sih?" lalu Devian pun menghirup aroma bagian ketiak, bajunya dan tubuhnya. "Gak kok. Malahan aku wangi. Tampan pula." 

 

"Tapi mas-"

 

"Tadi malam minta dipeluk. Sekarang malah di usir." Devian memasang raut wajah smirknya. Dan dia kembali dengan sikapnya yang terdahulu yaitu suka menggombal receh dan songong didepan Adila. 

 

"Mas! Aku serius.. ini- argh sudah lah!" 

 

Adila beranjak dari duduknya. Tiba-tiba ia merasa kesal tanpa sebab. Namun sebelum pergi menjauh, Devian mencekal lengannya. 

 

"Mas. Lepasin, Aku lelah mau tidur." protes Adila.

 

Devian mengabaikan Adila dan malah membawanya kembali ke sofa. 

 

"Mas!"

 

"Sebentar.." Devian terlihat serius. Ia memegang kening Adila yang nyatanya tidak ada demam. 

 

"Sejak kapan kamu mulai lemas?"

 

"Sudah hampir seminggu." 

 

Devian menangkup pipi Adila. "Ada mual di pagi hari?"

 

Adila mengangguk.

 

"Sensitif terhadap bau?" 

 

"Aku tidak tahu. Yang jelas aku gak suka sama aroma tubuh mas Dev." 

 

Tiba-tiba hati Devian bahagia. Tapi ia tidak ingin merasakan seperti itu dulu sebelum memastikan semuanya. Barang kali ini semua hanya baru dugaan sehingga sedikit banyaknya tidak akan membuatnya kecewa 

 

"Kapan terakhir kamu haid?" 

 

"Aku lupa. Aku gak pernah hitung siklus haid aku tapi seharusnya Minggu kemarin aku haid. Sekarang sudah lewat." 

 

Dengan semangat Devian berdiri lalu menggendong tubuh Adila secara bridestyle

 

"Mas!"

 

"Kita siap-siap sekarang. Kita harus kerumah sakit."

 

"Tapi-" 

 

"Insya Allah kamu lagi hamil dari semua kondisi yang kamu ucapkan tadi. Tapi lebih tepatnya kita harus ke dokter kandungan dulu dirumah sakit apalagi-"

 

Dan Adila sudah tidak mendengarkan semua ucapan Devian. Yang ia lakukan saat ini hanyalah memeluk erat leher Devian dengan kedua matanya yang berkaca-kaca karena bahagia. Semoga saja kali ini kenyataan bahwa dirinya memang sedang hamil.

 

πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€

 

Aiza memasuki ruang seminar proposal dengan rasa gugup yang mendera seakan jantungnya ingin lepas. Ini adalah pengalaman pertama kali Aiza sebagai mahasiswi universitas ternama untuk segera menjalani seminar proposal skripsinya. 

 

Saat ini sudah terlihat 2 Dosen pembimbing. Ada Arvino dan Pak Doni serta 2 Dosen penguji Bu Linda dan Pak Hadi.

 

Aiza menatap Arvino saat ini dan suaminya itu terlihat enggan menatapnya hingga membuat dirinya sedih.

 

Sepertinya harapan Aiza yang ingin mendapatkan support dari suami tercinta adalah hal yang mustahil. Aiza mengusap perutnya yang besok akan berusia 4 bulan dan mulai terlihat membuncit.

 

"Bismilah. Mama sayang kamu nak. Saat ini Mama sedang berjuang untuk masa depan. Kamu harus kuat didalam rahim Mama ini ya nak. Terutama dengan psikis Mama yang saat ini sedang tegang. Aamiin." ucap Aiza dalam hati.

 

Aiza sudah duduk dimeja khusus dan berada didepan ke empat Dosennya. Kegiatan seminar proposal ini sungguh membuat Aiza gelisah karena selain berhadapan dengan 4 Dosennya, Aiza juga ditonton oleh 10 mahasiswa teman-teman seangkatannya didalam ruangan itu. 

 

"Silahkan Aiza." Ucap Dosen pembimbing bernama Pak Doni.

 

Aiza mengangguk. "Assalamu'alaikum Warohmatulahi Wabarakatuh."

 

"Wa'alaikumussalam Warohmatulahi Wabarokath." Jawab semua yang hadir diruangan tersebut.

 

"Nama saya Aiza Shakila. Mahasiswi dengan jurusan Ilmu Komunikasi dan kali ini saya ingin memaparkan proposal skripsi saya yang berjudul Sifat Pemberani Sang Pahlawan dalam film Pahlawan Borneo. Untuk teori saya menggunakan semiotika Roland Barnes yang menggunakan skema denotasi, konotasi, dan mitos."

 

"Film ini bercerita tentang tokoh pahlawan yang berasal dari Borneo yang bernama Syarif Hidayatullah. Beliau adalah tokoh utama didalam film tersebut. Syarif merupakan pahlawan yang gagah berani dalam menyatukan kekuatan penduduk dalam mengusir penjajah. Adapun penelitiannya, saya menggunakan pisau bedah semiotika film Roland Barnes dan saya akan meneliti tanda beserta simbol-simbol tokoh Syarif Hidayatullah didalam film yang menggambarkan bahwa beliau adalah tokoh yang memiliki sifat pemberani. Itulah pemaparan proposal skripsi saya selanjutnya saya persilahkan untuk dosen penguji untuk bertanya. Terima kasih."

 

Bu Linda pun kini menatap Aiza dengan serius. "Mengapa anda tertarik untuk melakukan penelitian pada film? Bukankah masih banyak hal lain yang bisa diteliti selain film?"

 

Pertanyaan yang tidak terlalu sulit bagi Aiza. 

 

"Sebelumnya saya juga binggung ingin melakukan penelitian apa, sampai akhirnya saya TV lalu tayang lah film Pahlawan Borneo. Entah mengapa perasaan, saya begitu kagum dengan ketokohan Syarif Hidayatullah dari cara bergaulnya, akhlaknya, cara memimpinnya, dan akhirnya saya putuskan untuk melakukan penelitian terhadap film tersebut."

 

Arvino menatap Aiza tanpa berkedip. Ia tahu Aiza sedang gugup saat ini. Dan tanpa diduga ia melenceng dari yang tidak seharusnya.

 

"Skripsi bukan soal perasaan! " ucap Arvino lantang. "Skripsi adalah proses akademisi yang ilmiah tidak ada hubungannya dengan perasaan."

 

Pak Doni menyela. "Maaf Pak Arvino, anda sudah kelewatan dalam mencampuri urusan pribadi orang lain, kewenangan anda hanya bertanya tentang isi pada proposal skripsi tersebut dari segi teorinya dan latar belakangnya, untuk masalah Perasaan Aiza dalam memilih judul skripsi tersebut bukan kewenangan anda dalam mencampuri nya."

 

"Saya tau. Tapi saya kecewa dengan cara kerja dia Pak. Sudah berbulan-bulan saya membimbing dia." Arvino kembali menatap Aiza. "Tolong di kondisikan sebagai mahasiswi ya! Kalau kamu lagi ada masalah pribadi jangan dibawa-bawa kesini!"

 

Dan kasak-kusuk raut wajah khawatir pun terlihat oleh teman-teman angkatan Aiza yang melihat kejadian tersebut. Apalagi Aiza saat ini berusaha menahan gejolak perasaan takut. Bahkan perutnya terasa keram akibat psikisnya.

 

Bu Linda sebagai dosen penguji pun menyipitkan kedua matanya menatap Arvino dengan curiga. Apakah pasangan suami istri ini sedang dalam masalah? Itu yang ia pikirkan saat ini. Lalu ia pun berdeham. 

 

"Pak Arvino. Apa yang di katakan Pak Doni benar. Ini hak saya untuk menguji Aiza. Bukan Anda." 

 

Dengan wajah gusar, Arvino memilih diam dan langsung saja menulis dikertas revisi apa saja yang harus Aiza revisi pada proposalnya,
Lalu aiza memberikan waktu kepada Pak Hadi untuk bertanya. 

 

Pak Hadi membenarkan kaca matanya lalu menatap Aiza. "Jika saya menilai proposal skripsi mu saat ini semuanya sudah bagus, tapi saya ingin bertanya tanda seperti apa yang akan anda teliti untuk menunjukan tokoh seorang pemberani?"

 

"Baik Pak Terima kasih untuk pertanyaannya. Contoh tanda dari sikap pemberani adalah semisal ketika tokoh Syarif Hidayatullah berhadapan dengan penjajah dia mengenakan ikat kepala berwarna merah, dan dalam mitos warna merah melambangkan sikap pemberani, seperti itu salah satu contohnya pak."

 

Pak Hadi pun tersenyum tipis. "Oke Bagus. Hanya itu saja yang ingin saya tanyakan."

 

Dan Aiza bernapas lega. Ia pun bertanya pada Pak Doni dan Arvino "Pak Doni dan Mas Vin.." Aiza meralat omongannya. "Em maaf. Maksud saya Pak Arvino, apakah ada saran dan masukan untuk skripsi saya?"

 

"Tidak ada. Semua sudah bagus Aiza. Nanti kamu revisi dengan dosen penguji kamu saja."

 

Arvino pun akhirnya menjawab.
"Mungkin dari EYD penulisan mu masih ada beberapa kata yang harusnya huruf kapital di awal. Disini kamu ketik huruf kecil. Jujur saja, itu menganggu pandangan saya untuk membaca. Dan juga tolong urusan pribadi jangan di bawa-bawa. Saya paling tidak suka melihat mahasiswi mental cetek seperti mu ketika menghadapi seminar proposal skrisi begini."

 

Aiza hanya mengangguk. Walaupun hatinya sedang sakit setidaknya ia bernapas lega karena sebentar lagi seminar proposalnya akan berakhir. 

 

"Baik Pak Arvino. Terima kasih untuk sarannya. Baik saya tutup acara seminar proposal ini jika ada kekurangan dalam pemaparan saya, saya mohon maaf, sekian Wassalamu'alaikum Warahmatullahi'wabarokatuh."

 

Semuanya mengucap salam. Hingga akhirnya para dosen dan beberapa mahasiswa rekan-rekan Aiza pun satu per satu meninggalkan ruangan. Aiza hendak memanggil Arvino tapi pria itu malah pergi mengabaikannya. 

 

Aiza terdiam. Ia menghela napasnya. Lalu memilih duduk sejenak di ruangan kosong sambil bersandar dan memejamkan kedua matanya. Dalam diamnya, tiba-tiba ia seperti merasakan sesuatu yang sangat kecil bergerak didalam perutnya. 

 

Aiza terkejut. Naluri keibuannya menerka apakah janin kecil didalam rahimnya sudah mulai bergerak? Seketika Aiza menyunggingkan senyumnya. Kedua matanya berkaca-kaca. Rasa kesal bercampur aduk dan kesedihan yang menerpa dirinya sejak tadi hilang begitu saja.

 

Dengan penuh kasih sayang Aiza mengelus perutnya yang mulai membesar. 

 

"Sayang, maaf.. tadi mama sudah bikin kamu tegang ya didalam sini?" Aiza tersenyum kecil. "Maaf ya. Alhamdulillah seminar mama berjalan dengan lancar. Terima kasih.. telah hadir menemani mama didalam sini.. aku mencintaimu." 

 

Aiza menghapus air mata yang ada di sudut matanya. "Dan mama juga mencintai papah kamu." ucap Aiza pelan sambil mengusap perutnya.

 

Aiza tidak ingin membuang waktu, ia segera membereskan semua perlengkapannya kedalam tas lalu keluar ruangan. Tubuhnya terasa lelah, Aiza ingin segera pulang kerumah karena ia tidak ingin kembali ke apartemen Arvino lagi. 

 

Aiza sudah menuruni anak tangga dengan hati-hati, sesampainya dilantai bawah seseorang memanggilnya. 

 

"Aiza!"

 

Aiza menghentikan langkahnya, dan menoleh kebelakang ketika Alex berlari kecil kearahnya sambil tersenyum ramah.

 

"Hai Aiza. Asalamualaikum." 

 

"Wa'alaikumussalam. Kak Alex?"

 

"Kamu bagaimana sekarang za? Sehat kan?"

 

"Alhamdulillah sehat kak."

 

"Alhamdulillah deh. Gak nyangka kita ketemu lagi ya. Kebetulan istriku mahasiswi disini. Dan dia-"

 

Alex tidak melanjutkan ucapannya ketika Arvino hadir begitu saja diantara mereka. 

 

"Maaf menganggu obrolan kalian. Kami tidak memiliki waktu yang banyak karena ada keperluan." ucap Arvino dingin dan datar.

 

Alex terlihat segan dan tatapan dingin Arvino. "Oh. Kalau gitu maaf ya. Saya permisi dulu."

 

Alex pun pergi dan Arvino pun segera menarik pergelangan tangan Aiza tanpa banyak bicara.

 

"Aku gak suka lihat kamu dekat-dekat sama dia!" ucap Arvino dengan dingin tapi tidak dengan jari jemari tangannya yang kini menggenggam erat tangan Aiza bahkan saat ini Aiza pun membalasnya dengan saling bertautan tangan.

 

Genggaman tangan yang selalu Aiza rindukan. 

 

πŸ–€πŸ–€πŸ–€πŸ–€

 

Lah, mereka mau kemana? πŸ™„

 

Arvino itu aneh. Sumpah aneh banget. Author si nganggapnya dia cemburu. Cemburu tanda sayang. Tapi ah, gak mau spekulasi ini itu kalau ujung-ujungnya dia masih bikin Aiza nangis πŸ˜–

 

Btw, kalau baca Aiza ngelus-ngelus perut sambil ngajak ngomong debaynya kok author jadi ingat mommy Ay di Just Friends sih 😭

 

Mereka benar-benar wanita kuat Ya, salut banget, luar biasa sabar! Kesel sama Arvino yang kayak batu. Lama-lama author bikin alur si Aiza meninggal pas lahiran aja biar dia tau rasa, eh jangan. Nanti author kalian demo 🀣 becanda deh bencanda wkwkw

 

Terimakasih sudah baca part ini. Kemarin mau udpate, tapi maaf, author ketiduran karena capek banget seharian nemenin suami ke RS antri berobat dengan BPJS, kalian tau sendiri lah gimana ngantrinya yang lama banget kalau sudah begitu 😣

 

Sehat selalu buat kalian.
With Love.
LiaRezaVahlefi

 

NEXT CHAPTER 68 KLIK LINK DIBAWAH INI :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/01/chapter-69-mencintaimu-dalam-diam.html 



2 komentar:

  1. aku baca lagi doong🀣🀣 di WP udah pernah baca sampe tamat... tapi kangeeenn😍😍

    BalasHapus
  2. kenapa g dilanjut ... bikin penasaran , up donk kak

    BalasHapus