Chapter 65 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 65 : Mencintaimu Dalam Diam





Aiza meraba tempat tidur disampingnya dan ia merasa tidak ada tubuh Arvino disebelahnya. Aiza membuka matanya lalu merubah posisi dengan membangunkan tubuhnya.
"Kemana mas Vin?"
Aiza turun dari tempat tidurnya. Ia memilih mencari Arvino keseluruh ruangan rumah. Dan begitu mendapati Arvino tidak ada, hatinya terasa hampa.
Tubuh Aiza serasa lemas. Hatinya tak berdaya dan rasanya ia ingin menyerah saja.Padahal ia bisa melihat sendiri bagaimana kedua mata Arvino yang merindukannya, tatapan penuh cinta yang begitu mendambakannya. Ia yakin karena kedua mata Arvino tidak akan bisa berbohong dan ia melihat dengan jelas bahwa semuanya seperti itu.
Aiza meraih ponselnya, mengubungi Arvino meskipun ia tau bahwa Arvino tidak mungkin menerima panggilannya karena sudah di blokir. Tapi Aiza akan mencoba dan sama seperti sebelumnya. Tidak aktip.
Aiza terlihat berpikir dan mencoba menghubungi Arvino pakai nomor ponsel baru dan berharap pria itu menerima panggilannya.
"Halo?"
Aiza terkejut. Ia tidak menyangka Arvino menerima panggilannya.
"Halo? Siapa ini?"
Aiza tergagap lalu memegang gagang teleponnya dengan erat.
"Asalamualaikum m-mas."
"Wa'alaikumussalam. Apa?"
"M-mas aku-"
"Aku menyesal sudah mengangkat panggilan ini. Seharusnya aku mengabaikannya."
"Mas jangan marah." lirih Aiza. "Mas gak pulang?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Masih bertanya?"
"Tapi mas. Kita-"
"Kita apa? Daripada kamu merengek mending kamu belajar. Besok pagi adalah seminar proposal kamu."
"Aku.. aku gak bisa belajar. Aku.. aku sedang lapar. Bisa mas pulang? Aku sedang ngidam ingin makan masakan buatan mas supaya tidak lapar." ucap Aiza dengan pelan.
"Jangan cari alasan."
"A-aku serius Mas!" Aiza berusaha menahan amarahnya. Kedua matanya mulai memanas. Sebentar lagi air mata akan mengalir di pipinya yang kesekian kalinya. "Aku-"
"Aku apa?" potong Arvino dengan tidak mau kalah. "Jangan malas."
"Tapi-"
"Sudah cukup. Hentikan ini semua."
Klik.
Dan Arvino memutuskan panggilannya sepihak. Sebuah rengkuhan dengan lembut di pundaknya membuat Aiza menoleh dan mendapati Leni menatapnya iba. Buru-buru Aiza menghapus air matanya.
"Aunty.. maaf aku mengganggu Aunty malam ini. Apakah suaraku terdengar nyaring?"
Leni tidak banyak berkata. Ia hanya membawa Aiza menuju dapur lalu membantunya duduk di minibar
"Saya dengar Aiza lapar? Mau saya buatkan sesuatu?" tawar Leni
Aiza menggeleng. "Tidak usah aunty. Aku sudah kenyang."
"Tapi Aiza-"
"Aku baik-baik aja aunty." Aiza turun dari kursi minibar dengan hati-hati lalu pergi meninggalkan Leni dengan raut wajah muram.
***
Aiza memasuki ruang seminar proposal dengan rasa gugup yang mendera seakan jantungnya ingin lepas. Ini adalah pengalaman pertama kali Aiza sebagai mahasiswi universitas ternama untuk segera menjalani seminar proposal skripsinya. 
Saat ini sudah terlihat 2 Dosen pembimbing. Ada Arvino dan Pak Doni serta 2 Dosen penguji Bu Linda dan Pak Hadi.
Aiza menatap Arvino saat ini dan suaminya itu terlihat enggan menatapnya hingga membuat dirinya sedih.
Sepertinya harapan Aiza yang ingin mendapatkan support dari suami tercinta adalah hal yang mustahil. Aiza mengusap perutnya yang besok akan berusia 4 bulan dan mulai terlihat membuncit.
"Bismilah. Mama sayang kamu nak. Saat ini Mama sedang berjuang untuk masa depan. Kamu harus kuat didalam rahim Mama ini ya nak. Terutama dengan psikis Mama yang saat ini sedang tegang. Aamiin." ucap Aiza dalam hati.
Aiza sudah duduk dimeja khusus dan berada didepan ke empat Dosennya. Kegiatan seminar proposal ini sungguh membuat Aiza gelisah karena selain berhadapan dengan 4 Dosennya, Aiza juga ditonton oleh 10 mahasiswa teman-teman seangkatannya didalam ruangan itu.
"Silahkan Aiza." Ucap Dosen pembimbing bernama Pak Doni.
Aiza mengangguk. "Assalamu'alaikum Warohmatulahi Wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam Warohmatulahi Wabarokath." Jawab semua yang hadir diruangan tersebut.
"Nama saya Aiza Shakila. Mahasiswi dengan jurusan Ilmu Komunikasi dan kali ini saya ingin memaparkan proposal skripsi saya yang berjudul Sifat Pemberani Sang Pahlawan dalam film Pahlawan Borneo. Untuk teori saya menggunakan semiotika Roland Barnes yang menggunakan skema denotasi, konotasi, dan mitos."
"Film ini bercerita tentang tokoh pahlawan yang berasal dari Borneo yang bernama Syarif Hidayatullah. Beliau adalah tokoh utama didalam film tersebut. Syarif merupakan pahlawan yang gagah berani dalam menyatukan kekuatan penduduk dalam mengusir penjajah. 
Adapun penelitiannya, saya menggunakan pisau bedah semiotika film Roland Barnes dan saya akan meneliti tanda beserta simbol-simbol tokoh Syarif Hidayatullah didalam film yang menggambarkan bahwa beliau adalah tokoh yang memiliki sifat pemberani. Itulah pemaparan proposal skripsi saya selanjutnya saya persilahkan untuk dosen penguji untuk bertanya. Terima kasih."
Bu Linda pun kini menatap Aiza dengan serius. "Mengapa anda tertarik untuk melakukan penelitian pada film? Bukankah masih banyak hal lain yang bisa diteliti selain film?"
Pertanyaan yang tidak terlalu sulit bagi Aiza.
"Sebelumnya saya juga binggung ingin melakukan penelitian apa, sampai akhirnya saya TV lalu tayang lah film Pahlawan Borneo. Entah mengapa perasaan, saya begitu kagum dengan ketokohan Syarif Hidayatullah dari cara bergaulnya, akhlaknya, cara memimpinnya, dan akhirnya saya putuskan untuk melakukan penelitian terhadap film tersebut."
Arvino menatap Aiza tanpa berkedip. Ia tahu Aiza sedang gugup saat ini. Dan tanpa diduga ia melenceng dari yang tidak seharusnya.
"Skripsi bukan soal perasaan! " ucap Arvino lantang. "Skripsi adalah proses akademisi yang ilmiah tidak ada hubungannya dengan perasaan."
Pak Doni menyela. "Maaf Pak Arvino, anda sudah kelewatan dalam mencampuri urusan pribadi orang lain, kewenangan anda hanya bertanya tentang isi pada proposal skripsi tersebut dari segi teorinya dan latar belakangnya, untuk masalah Perasaan Aiza dalam memilih judul skripsi tersebut bukan kewenangan anda dalam mencampuri nya."
"Saya tau. Tapi saya kecewa dengan cara kerja dia Pak. Sudah berbulan-bulan saya membimbing dia." Arvino kembali menatap Aiza. "Tolong di kondisikan sebagai mahasiswi ya! Kalau kamu lagi ada masalah pribadi jangan dibawa-bawa kesini!"
Dan kasak-kusuk raut wajah khawatir pun terlihat oleh teman-teman angkatan Aiza yang melihat kejadian tersebut. Apalagi Aiza saat ini berusaha menahan gejolak perasaan takut. Bahkan perutnya terasa keram akibat psikisnya.
Bu Linda sebagai dosen penguji pun menyipitkan kedua matanya menatap Arvino dengan curiga. Apakah pasangan suami istri ini sedang dalam masalah? Itu yang ia pikirkan saat ini. Lalu ia pun berdeham.
"Pak Arvino. Apa yang di katakan Pak Doni benar. Ini hak saya untuk menguji Aiza. Bukan Anda."
Dengan wajah gusar, Arvino memilih diam dan langsung saja menulis dikertas revisi apa saja yang harus Aiza revisi pada proposalnya, 
Lalu aiza memberikan waktu kepada Pak Hadi untuk bertanya.
Pak Hadi membenarkan kaca matanya lalu menatap Aiza. "Jika saya menilai proposal skripsi mu saat ini semuanya sudah bagus, tapi saya ingin bertanya tanda seperti apa yang akan anda teliti untuk menunjukan tokoh seorang pemberani?"
"Baik Pak Terima kasih untuk pertanyaannya. Contoh tanda dari sikap pemberani adalah semisal ketika tokoh Syarif Hidayatullah berhadapan dengan penjajah dia mengenakan ikat kepala berwarna merah, dan dalam mitos warna merah melambangkan sikap pemberani, seperti itu salah satu contohnya pak."
Pak Hadi pun tersenyum tipis. "Oke Bagus. Hanya itu saja yang ingin saya tanyakan."
Dan Aiza bernapas lega. Ia pun bertanya pada Pak Doni dan Arvino "Pak Doni dan Mas Vin.." Aiza meralat omongannya. "Em maaf. Maksud saya Pak Arvino, apakah ada saran dan masukan untuk skripsi saya?"
"Tidak ada. Semua sudah bagus Aiza. Nanti kamu revisi dengan dosen penguji kamu saja."
Arvino pun akhirnya menjawab. 
"Mungkin dari EYD penulisan mu masih ada beberapa kata yang harusnya huruf kapital di awal. Disini kamu ketik huruf kecil. Jujur saja, itu menganggu pandangan saya untuk membaca. Dan juga tolong urusan pribadi jangan di bawa-bawa. Saya paling tidak suka melihat mahasiswi mental cetek seperti mu ketika menghadapi seminar proposal skrisi begini."
Aiza hanya mengangguk. Walaupun hatinya sedang sakit setidaknya ia bernapas lega karena sebentar lagi seminar proposalnya akan berakhir.
"Baik Pak Arvino. Terima kasih untuk sarannya. Baik saya tutup acara seminar proposal ini jika ada kekurangan dalam pemaparan saya, saya mohon maaf, sekian Wassalamu'alaikum Warahmatullahi'wabarokatuh."
Semuanya mengucap salam. Hingga akhirnya para dosen dan beberapa mahasiswa rekan-rekan Aiza pun satu per satu meninggalkan ruangan. Aiza hendak memanggil Arvino tapi pria itu malah pergi mengabaikannya.
Aiza terdiam. Ia menghela napasnya. Lalu memilih duduk sejenak di ruangan kosong sambil bersandar dan memejamkan kedua matanya. Dalam diamnya, tiba-tiba ia seperti merasakan sesuatu yang sangat kecil bergerak didalam perutnya.
Aiza terkejut. Naluri keibuannya menerka apakah janin kecil didalam rahimnya sudah mulai bergerak? Seketika Aiza menyunggingkan senyumnya. Kedua matanya berkaca-kaca. Rasa kesal bercampur aduk dan kesedihan yang menerpa dirinya sejak tadi hilang begitu saja.
Dengan penuh kasih sayang Aiza mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Sayang, maaf.. tadi mama sudah bikin kamu tegang ya didalam sini?" Aiza tersenyum kecil. "Maaf ya. Alhamdulillah seminar mama berjalan dengan lancar. Terima kasih.. telah hadir menemani mama didalam sini.. aku mencintaimu."
Aiza menghapus air mata yang ada di sudut matanya. "Dan mama juga mencintai papah kamu." ucap Aiza pelan sambil mengusap perutnya.
Aiza tidak ingin membuang waktu, ia segera membereskan semua perlengkapannya kedalam tas lalu keluar ruangan. Tubuhnya terasa lelah, Aiza ingin segera pulang kerumah karena ia tidak ingin kembali ke apartemen Arvino lagi.
Aiza sudah menuruni anak tangga dengan hati-hati, sesampainya dilantai bawah seseorang memanggilnya.
"Aiza!"
Aiza menghentikan langkahnya, dan menoleh kebelakang ketika Alex berlari kecil kearahnya sambil tersenyum ramah.
"Hai Aiza. Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Kak Alex?"
"Kamu bagaimana sekarang za? Sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat kak."
"Alhamdulillah deh. Gak nyangka kita ketemu lagi ya. Kebetulan istriku mahasiswi disini. Dan dia-"
Alex tidak melanjutkan ucapannya ketika Arvino hadir begitu saja diantara mereka.
"Maaf menganggu obrolan kalian. Kami tidak memiliki waktu yang banyak karena ada keperluan." ucap Arvino dingin dan datar.
Alex terlihat segan dan tatapan dingin Arvino. "Oh. Kalau gitu maaf ya. Saya permisi dulu."
Alex pun pergi dan Arvino pun segera menarik pergelangan tangan Aiza tanpa banyak bicara.
"Aku gak suka lihat kamu dekat-dekat sama dia!" ucap Arvino dengan dingin tapi tidak dengan jari jemari tangannya yang kini menggenggam erat tangan Aiza bahkan saat ini Aiza pun membalasnya dengan saling bertautan tangan.
Genggaman tangan yang selalu Aiza rindukan.
****
Lah, mereka mau kemana? 🙄
Arvino itu aneh. Sumpah aneh banget. Author si nganggapnya dia cemburu. Cemburu tanda sayang. Tapi ah, gak mau spekulasi ini itu kalau ujung-ujungnya dia masih bikin Aiza nangis 😖
Btw, kalau baca Aiza ngelus-ngelus perut sambil ngajak ngomong debaynya kok author jadi ingat mommy Ay di Just Friends sih 😭
Mereka benar-benar wanita kuat Ya, salut banget, luar biasa sabar! Kesel sama Arvino yang kayak batu. Lama-lama author bikin alur si Aiza meninggal pas lahiran aja biar dia tau rasa, eh jangan. Nanti author kalian demo 🤣 becanda deh bencanda wkwkw
Terimakasih sudah baca part ini. Kemarin mau udpate, tapi maaf, author ketiduran karena capek banget seharian nemenin suami ke RS antri berobat dengan BPJS, kalian tau sendiri lah gimana ngantrinya yang lama banget kalau sudah begitu 😣
Sehat selalu buat kalian.
With Love. 
LiaRezaVahlefi
Instagram ; lia_rezaa_vahlefii.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar