Ending : Bagian 2 - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 10 Mei 2021

Ending : Bagian 2


Disisi lain, tempat dimana keberadaan Franklin dan Misha di hotel.


"Sampai kapan kamu diamin aku?" tanya Franklin pelan, tepat didepan pintu kamarnya.


"Nggak tahu."


"Mimi-"


"Berisik, aku mau tidur!"


Franklin menghela napasnya. Kalau Misha ngambek, membujuknya harus benar-benar butuh waktu. Padahal ia hanya tidak sengaja berkata nyaring didepan istrinya beberapa jam yang lalu.


"Dasar istri baperan, begitu saja marah. Aku-"


Brak, pintu kamar terbuka lebar. Misha memasang raut wajah kesal. Ia bersedekap.

"Kalau mau dapat maaf dariku, Mas harus menuruti semua permintaanku."


"Semuanya? Apakah salah satunya ada tidur bersama-"


Misha menyentuh bibir Franklin dengan ujung telunjuknya. Ia menatap Franklin dengan kesal.


"Tidak ada jatah. Aku lelah karena sibuk mencari Syahlaa. Bahkan saat ini aku merindukannya."


"Syahlaa aman dirumah Daddy. Beberapa jam yang lalu Aldi yang melaporkan semuanya padaku."


Misha pun akhirnya diam. Ya, dia memang sudah tenang kalau Syahlaa ternyata baik-baik saja meskipun tidak menyangka kalau putrinya seberani itu keluar rumah tanpa pendamping.


Tanpa bisa di cegah, Misha menutup mulutnya untuk menguap. Tiba-tiba rasa ngantuk membuatnya ingin segera mengakhiri dramanya pada Franklin. Akhirnya ia pun memilih menutup pintunya dan secepat itu Franklin mencegahnya.


"Ada apa?" tanya Misha malas.


"Kok ada apa? Aku mau masuk."


"Ngapain?"


Franklin mengerutkan keningnya. "Ya mau tidur sama kamu lah, kan aku suamimu. Lagian-"


"Tidak ada tidur bersama terkecuali aku sudah memaafkanmu."


"Ya sudah, kamu maunya minta apa, supaya aku dapat maaf?"


"Oh iya, tadi aku mau semua permintaanku di turutin ya? Hampir saja aku lupa." Misha menepuk jidatnya. Sementara Franklin mendengkus kesal.


"Nyesel ngingetin. Coba tahu aku nggak bilang." sela Franklin dalam hati.


"Nggak banyak kok. Aku cuma mau di belikan pakaian muslimah yang branded beserta tas, sepatu, sandal, flatshoes, dompet-"


"Itu nggak sedikit, Mimi."


"Jadi Mas protes?" Misha menatap Franklin dengan sinis. "Okelah, karena protes, kekesalanku sama Mas malah bertambah-"


"Oke, oke, fine! Apa lagi yang kamu minta?"


"Aku mau paket lengkap kosmetik, skincare-"


"Tunggu sebentar," potong Franklin cepat. "Kamu mau pakai kosmetik untuk berdandan? Nggak, nggak boleh. Kamu hanya boleh berpoles make up untuk aku, didepan aku dan-"


"Kok Mas malah seudzon sih? Kan memang aku dandan cuma didepan Mas dan dirumah. Ih, tambah kesal kan, jadinya. Baiklah karena tambah kesal, aku mau di belikan mobil karena sesekali aku ingin pakai mobil daripada motor."


"Terus?"


"Aku mau di belikan pulau,"


Franklin melongo."Pulau? Yang benar saja Mi, aku-"


"Dilarang protes!" potong Misha lagi. "Karena protes, aku mau di pulau itu di bangun Villa yang mewah. Villa untuk masa depan kita dan para anak-anak ketika berkumpul."


Franklin mengacak-acak rambutnya dengan gemas sekaligus hatinya yang kali ini harus ekstra sabar.


"Sudah lah, nggak perlu pakai melas gitu. Mas itu anak Sultan, secara tidak langsung juga banyak harta. Itu semua sih, nggak masalah kalau Mas menuruti apa yang aku minta. Lagian, selama 5 tahun kita menikah, aku nggak pernah minta apa-apa sama Mas."


"Hm."


"Aku juga mau dibuatkan minimarket dan agen grosiran pakaian muslimah. Aku mau belajar jadi bos dan pengusaha."


"Hm."


"Sekalian, salon kecantikan khusus wanita"


"Hm."


"Ah satu lagi, aku mau di buatkan panti asuhan serta rumah Tafidz Qur'an. Dan semua yang aku minta tadi di bangun di kota Solo dengan waktu 6 bulan dari sekarang."


"Hm,"


"Kok hm terus sih? Nggak niat nih ya? Aku serius loh Mas."


"Diam salah, protes salah-"


"Eits, jangan banyak ngeluh!" sela Misha cepat. Franklin sampai menatap Misha dengan datar.


"Karena Mas sudah protes, aku mau shopping sekarang juga sebelum kembali kerumah Daddy. Rasa ngantukku hilang. Tolong siapkan para asisten untuk membawa semua belanjaanku dan supir pribadi untuk menemani kami nantinya."


Tanpa diduga, Misha beralih posisi ke belakang Franklin dan meraih dompet kulit miliknya.


"Kamu mau ngapain?"


"Mau cari ini." Misha mengeluarkan ATM Franklin hingga membuat Franklin panik."Mimi, itu-"


"Sudahlah, Mas, ngalah saja sama aku. Uang suami, uang istri juga kan?"


"Iya, Mi, tapi kan-"


"Kalau mau dapat maaf dari istri, maka suami harus ngalah. Bukankah begitu?"


Detik berikutnya Misha melenggang memasuki pintu kamarnya. Franklin yang ingin mencegah tiba-tiba tanpa sengaja keningnya kejedot pintu. Franklin mengusap keningnya dengan pelan. Ia hanya bisa pasrah dan menghela napasnya

.

"Positif thinking saja. Semua hartaku bukanlah segalanya. Daripada nggak bisa tidur sama istri?"


****


30 menit kemudian.


Seorang pria baru saja keluar dari mobilnya. Ia pun melepaskan kaca mata hitamnya dan melihat Misha yang sedang berdiri didepan lobby hotel. Ia meneguk ludahnya dengan gugup. Namun sebisa mungkin bersikap tenang.


"Assalamualaikum, Misha?"


"Wa'alaikumussalam." Misha menatap seorang pria didepan matanya. Ia mengerutkan keningnya. "Kamu yang akan temani saya shopping kan?"


"Ha?" Pria tersebut terlihat kebingungan. "Shopping?"


"Kamu yang di suruh Franklin temani saya ke Mall kan?" Misha memperhatikan jam di pergelangan tangannya. "Saya nggak suka berbasa-basi. Mana para asisten wanitanya? Mereka yang akan membawa semua belajaan saya nantinya."


"Tapi-"


"Jangan banyak tanya! Kamu mau ikut-ikutan protes dan menolak kayak bos kamu?"


Pria itu terdiam. Ia tidak menyangka kalau Misha bisa sekasar itu. Ia pun akhirnya mengalah.


"Oke, saya akan hubungi mereka." ucap pria itu akhirnya.


Misha mendengkus kesal. "Yasudah, saya tunggu. Nggak pakai lama."


Pria itu hanya mengangguk. Sementara ia menghubungi dua orang asisten wanita. Misha mencoba sabar, ia mendinginkan wajahnya menggunakan kipas angin mini portabel di tangannya.


"Hm, sebenarnya sejak tadi aku nggak tega. Kalau begini, seperti bukan diriku yang sebenarnya. Tapi, nggak masalah deh. Sesekali ah, ngerasa jadi bos besar. Bisa perintah banyak orang. Lagian, sejak awal Mas yang salah. Ini sih, nggak sebanding dengan rasa sedih dan kecewa ku selama ini. Jadi ya, nikmati saja." sela Misha dalam hati.


"Misha, em, maksud saya nona Misha?"


Misha menoleh ke arah pria tadi. Ia melihat dua orang asisten wanita yang baru saja tiba. Dengan santai Misha pun memasuki mobil didepan matanya.


"Cari jalan yang nggak macet. Saya nggak suka terjebak macet pakai lama."


"Tapi, nona-"


"Sebodo amatlah. Saya bos disini, jadi, ikutin saja kemauan saya. Nama kamu siapa sih?"


"Saya?"


"Iya lah, masa setan?"


"Saya.. em, nama saya.."


"Saya Siwon."


"Siwon? Kok sama seperti dengan boyband-"


"Apakah nama saya menjadi masalah buat anda, nona Misha?"


Misha terdiam. Ia menatap sinis pria bernama Siwon didepan matanya.
Detik berikutnya, pria itu juga hanya bisa diam. Dan Misha tersenyum puas. Merasa senang, ternyata seenak itu menjadi bos untuk pertama kalinya dengan menggunakan fasilitas dan orang-orang suaminya.


****


Satu jam kemudian.


Misha menatap semua isi belanjaannya. Ada 3 godybag di tangan kanan asisten wanita pertama dan 2 godybag di tangan kirinya. Lalu ada 4 godybag di tangan kanan asisten wanita kedua.


Misha juga menatap Siwon didepan matanya. Ia mendengkus kesal. "Kamu itu laki-laki bertubuh tinggi besar. Berotot juga. Masa iya lambat banget jalannya."


"Maaf nona." Siwon terlihat lesu. "Saya hanya lelah."


"Lelah? Ih, lemah banget sih. Baru keliling Mall dari lantai 1 sampai 5 sebanyak 3 kali saja lelah." ucap Misha sewot.


Rahang Siwon mengeras. Bahkan urat lehernya terlihat jelas. Raut wajahnya memerah. Naik turun sebanyak 3 kali dari lantai 1 hingga ke lantai 5 dikata tidak lelah? Rasanya Siwon ingin mengamuk didepan Misha saat ini juga. Namun ia berusaha untuk sabar.


"Saya ingin ke lantai 5 sekarang juga."


"Apa?" Siwon terkejut. "Kita baru saja-"


"Kita? Loe aja kali."


Siwon terdiam. "Maaf. Maksud saya, sekarang anda dan saya baru saja tiba di lantai 1 yang ke tiga kalinya. Sekarang Nona mau kelantai 5 lagi?"


"Masalah? Santai lah, anggap saja olahraga. Ada pakaian yang lupa saya beli."


"Tapi-"


"Nurut atau saya hubungi bos kamu supaya mecat kamu."


Detik berikutnya, semuanya pun mengalah. Siwon dan dua asisten wanita yang lain juga hanya bisa pasrah. Mereka pun kembali mengikuti Misha dari belakang. Di mulai naik eskalator lantai 1,2,3,4, dan sampai ke lantai 5.


"Maaf nona kenapa kita tidak memakai lift saja?" tanya salah satu asisten wanita di sebelah Misha.


"Lagi pengen naik eskalator. Lagian saya nggak mau dempet-dempet sama orang banyak."


"Tapi nona-"


"Ayo kita pulang."


"APA? kita baru saja sampai di sini." kesal Siwon. Apalagi sejak tadi Misha suka memotong ucapan seseorang seenaknya.


"Tiba-tiba saya ingin ke salon dan mau perawatan dari ujung kaki hingga ujung rambut."


"Sesungguhnya kami semua lelah."


"Jangan banyak protes. Situ pria beneran, kan?"


Siwon menggeram marah. "Anda mencoba merendahkan saya?"


"Tinggal jawab, susah banget sih. Masa begitu saja lelah? Pria berbadan kekar seperti kamu harus kuat."


Misha pun melenggang pergi dan kembali menuruni eskalator menuju lantai 4. Siwon hanya bisa menghela napas di balik wajahnya yang pucat. Bahkan tubuhnya serasa encok semua.


***


Sore harinya, pukul 17.30 petang.


Siwon mendengkus kesal. Bahkan raut wajahnya sudah masam. Tak hanya itu, hal yang paling menyebalkan lagi adalah dua asisten wanita sebelumnya malah di ajak nyalon juga. Benar-benar bonus yang menguntungkan.


"Alhamdulillah segar banget." ucap Misha ketika ia sudah diluar dan tiba di parkiran salon. Sore sudah berlalu, bahkan senja tiba. Langit di angkasa mulai memerah.


"Nona Misha, terima kasih, ya."


"Iya, kami bersyukur sekali. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan Nona. Aamiin."


Misha tersenyum tipis. Dua asisten wanitanya berucap terima kasih padanya.


"Aamiin, terima kasih ya. Ayo kita pulang."


Siwon menghela napasnya. Ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Misha dan mereka pun akhirnya pulang.


"Loh, bukannya hotelnya lewat sana?" tunjuk Misha ke arah salah satu jalan


"Kita nggak ke hotel."


"Loh? Jadi kemana?"


"Bandara."


"Apa?!" Misha terkejut. "Kok kesana? Saya-"


"Mau setuju atau tidak, anda harus ikut sama saya Nona."


Misha mengeluarkan ponselnya. "Jangan macam-macam ya! Atau saya hubungi bos kamu."


"Silahkan."


Misha pun akhirnya menghubungi Franklin. Namun tidak aktip. Ia sibuk menghubungi siapapun agar menerima bantuan jika terjadi apapun, namun akhirnya, malahan mobil yang di kemudikan Siwon sudah memasuki bandara. Mesin mobil pun berhenti.


"Silahkan keluar Nona."


"Saya tidak mau."


"Helikopter sebentar lagi akan bersiap untuk terbang."


"Heli? Ini sebenarnya mau kemana sih? Pokoknya saya mau balik ke hotel."


"Anda harus mau, ini perintah. Ah atau Nona takut mabuk udara? Tenang saja, saya bawa kresek."


"Jaga ucapan kamu ya pria lemah! Saya-"


"Ini jaminannya." Siwon mengeluarkan senjata api di balik punggungnya bahkan memasang amuisinya. "Sudah saya pasangkan pelurunya. Kalau saya berkhianat, anda bisa menembak saya."


"Tidak!" Misha bergidik ngeri. "Simpan saja. Itu benda yang menakutkan. Baiklah, saya keluar. Awas macam-macam!"


Misha pun mengalah. Ia keluar dari mobil sambil mendengkus kesal. Dua orang pria berbadan tinggi sudah siap didekat helikopter, Misha pun segera menaikinya. Ia menoleh ke arah Siwon yang malah berdiri sambil melambaikan tangan ke arahnya bersama dengan dua asisten wanitanya.


"Ini sebenarnya, ada apa sih? Bikin penasaran saja."


****


Alhamdulillah sudah up.
Setelah ini, Insya Allah bagian final Chapternya, ya. Segala perjalanan kisah dari Stay With Me series akan berakhir 😭


Siap-siap berpisah sama mereka🖤


Jazzakallah Khairan sudah pada baca. Sehat selalu buat kalian ya dirumah.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar