Ending : Bagian 1 - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 10 Mei 2021

Ending : Bagian 1


 

Flashback, beberapa jam sebelumnya..


"Syahlaa?"


Seketika Syahlaa terkejut. Padahal ia baru saja menutup pintu luar kamar hotel. Namun siapa sangka, tiba-tiba Aldi datang begitu saja.


"Kakek?"


Aldi menghela napas. "Panggil saja Om, Om belum setua itu. Syahlaa mau kemana?"


Syahlaa hanya bisa diam, memikirkan ucapan yang tepat. Padahal niatnya ingin pergi diam-diam. Sementara Aldi, menatapnya curiga, apalagi putri atasannya itu membawa tas ransel kecil di punggungnya.


"Syahlaa mau.."


"Mau kemana?"


"Emmm..."


"Yaudah, Om hubungi Ayah-"


"Jangan Kakek!"


"Kenapa?" Aldi semakin yakin kalau Syahlaa mau pergi tanpa izin "Jangan kemana-mana. Nanti-"


"Baiklah, baiklah, Om Aldi." ucap Syahlaa akhirnya. Ia bersedekap. "Syahlaa mau kerumah Kakek dan Nenek. Jangan bilang siapa-siapa apalagi Ayah dan Bunda."


"Tapi, nak-"


"Turutin saja kemauan Syahlaa. Kalau nggak, nanti Syahlaa pecat!"


Aldi melongo. Dengan santai Syahlaa berjalan menuju lift. Aldi pun akhirnya mengejarnya.


"Syahlaa, tunggu. Jangan terburu-buru. Kenapa pergi kesana tidak bersama Ayah dan Bunda?"


"Jangan kepo Kakek-"


"Om, Om Aldi." sela Aldi penuh percaya diri.


"Pokoknya turutin kemauan Syahlaa. Om nggak mau kan, Syahlaa pecat?"


"Yang bisa memecat Om itu, Ayahmu."


"Tapi tempat kerja Ayah itu suatu saat  buat Syahlaa kalau Syahlaa sudah dewasa. Ayah dan Bunda pernah berbicara seperti itu sama Syahlaa. Jadi, mulai sekarang Syahlaa sudah bisa di bilang Bos." ucap Syahlaa dengan nada sombong. Aldi sampai menggelengkan kepalanya. "Tolong tekan tombol lift menuju lantai paling bawah, Syahlaa nggak sampai." tunjuk Syahlaa ke arah tombol-tombol lift di atas kepalanya.


Akhirnya Aldi hanya menurut saja. Beberapa detik kemudian, Syahlaa pun memasuki lift dengan santai. Syahlaa menatap Aldi.


"Kakek! Lihat kebelakang, ada Ayah!"


"Hah?"


Ting! Pintu lift tertutup. Aldi sampai panik bahkan menggedor-gedor pintu lift yang sudah tertutup rapat. Rupanya gadis kecil itu malah mengerjainya. Aldi pun menggerutu


"Dasar anak bos!"


****


Kediaman Hamilton, pukul 15:00 sore.  Jakarta.


"Apa yang kamu pikirkan, Ay?"


"Tidak ada."


Fandi menghela napasnya. Ia pun mendekati istrinya yang duduk di pinggiran ranjang.


"Aku tahu, Ayeshaku saat ini sedang berbohong." ucap Fandi pelan. Ia pun duduk di samping istrinya. "Apakah kamu merindukan Syahlaa?"


Ay menatap suaminya. Sorotan matanya begitu sedih. "Kapan kamu memaafkan Bundanya? Aku merasa, mereka pergi akibat sikapmu."


"Mereka pergi karena urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal begitu lama. Kamu tahu, bagaimana sibuknya Franklin, dia-"


"Bukan karena sikapmu yang membenci keberadaan Misha sehingga akhirnya menantu kita itu memilih pulang akibat tidak tahan tinggal disini?"


Seketika Fandi terdiam. Kenapa sejak dulu Ayesha selalu benar ketika mengetahui apa yang ia maksudkan dan apa yang ia sembunyikan? Tidak bisa di elak, batin istri memang peka terhadap suaminya.


"Sudah 5 tahun berlalu, Fan. Waktu memang begitu cepat berlalu sampai akhirnya Syahlaa tumbuh begitu cepat. Aku yakin, kamu juga menyayangi Syahlaa kan?"


Fandi tak menjawab, yang ada ia berdiri berjalan ke arah jendela sambil bersedekap. Tatapan dan raut wajahnya sulit di mengerti oleh Ayesha saat ini.


"Jangan pernah membenci Misha. Percayalah, aku sudah baik-baik saja. Dengan adanya kaki palsu sekarang ini sudah menjadi bukti, bahwa takdir mengatakan kalau aku pernah memiliki satu kaki akibat kecelakaan. Lagian, kalau kamu begini terus, sampai kapanpun Misha akan merasa tidak nyaman ketika kesini dan kita tidak bisa berlama-lama dengan Syahlaa."


Tok.. Tok.. Tok..


Ayesha dan Fandi segera menoleh ke arah pintu. Fandi tak banyak berkata, ia pun menuju arah pintu dan membukanya. Seorang pria yang menjadi asisten rumah tangga pun datang dengan raut wajah cemas.


"Ada apa?"


"Maaf Tuan, menganggu. Nona muda Syahlaa ada diluar."


Ayesha yang mendengarnya tak banyak berkata. Ia pun segera keluar kamar melalui suaminya dan asisten rumah tangganya begitu saja. Sesampainya di ruang tamu, Ayesha terdiam. Tidak ada tanda-tanda Franklin ataupun Misha, yang ada posisi Syahlaa yang kini berada di ruang permainan anak-anak.


"Syahlaa?"


"Nenek?"


"Sayang, mana Ayah dan Bunda?"


"Ayah dan Bunda ya? Bunda di hotel, lagi tidur. Kalau Ayah, Syahlaa nggak tahu."


"Apa?" Ayesha terkejut. "Loh, jadi kesini sama siapa?"


"Naik taksi. Syahlaa kan sudah besar. Jadi, Syahlaa harus belajar mandiri kalau bepergian menggunakan terasi."


"Terasi?" Ayesha mengerutkan dahinya. "Maksudnya transportasi?"


"Iya, Nenek."


Ayesha sibuk memperhatikan Syahlaa dan menyentuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan kalau cucunya baik-baik saja. Tidak ada luka apalagi sampai hal-hal yang buruk.


"Kakek!"


Ayesha menoleh kebelakang, Fandi datang dengan raut wajah tenang. Ia pun berjongkok untuk bisa memeluk putrinya kemudian menggendongnya.


"Lain kali kalau kesini, jangan lupa izin sama Ayah dan Bunda."


"Syahlaa nggak bisa izin."


"Kenapa?"


"Sini, Syahlaa bisikin."


Tiba-tiba Fandi mendekatkan telinganya pada Syahlaa. Cucu kesayangannya itu sedang berbicara sesuatu yang sangat pelan. Fandi terdiam, sebuah permintaan yang sulit untuk di tolak hingga membuat Ayesha penasaran.


"Kakek bisa, kan, ayolah."


"Apakah tidak ada ide yang lain?"


"Tidak." Syahlaa menggeleng. "Pokoknya mau yang begitu."


"Tapi, nak-"


"Sudah lah, Fan, turutin saja. Lagian, ini pertama kalinya kan, dia meminta keinginan sama kita?" sela Ayesha tiba-tiba. Padahal ia belum mengetahui apa yang di katakan Syahlaa.


"Om Franz pernah bilang, katanya apapun yang Syahlaa minta, Kakek bisa menuruti permintaan Syahlaa, apapun itu. Om Franz nggak mungkin bohong, ah atau Kakek yang memang nggak bisa?"


Fandi menggeleng kepalanya. Kenapa Syahlaa begitu menggemaskan saat banyak bicara? Mengingatkan ia tentang Aifa sewaktu kecil saat di masalalu.


"Oke, oke, baiklah."


"Yey! Hore!"


Dengan girang Syahlaa memeluk Kakeknya. Bahkan mencium pipinya. Ayesha sampai tersenyum sendiri melihatnya. Sesederhana itu, rasa bahagia meliputi dirinya. Seolah-olah, rasa sakit ditubuhnya sudah tidak terasa lagi.


"Assalamualaikum, Tuan, Nyonya,"


Ketiganya menoleh ke arah pintu. Aldi berdiri dengan seragam lengkap seorang supir taksi sedan. Aldi pun melepaskan masker dan topi serta kaca mata hitamnya. Syahlaa melongo.


"Ya ampun, jadi waktu di hotel, Om supirnya ternyata Kakek Aldi?"


Aldi menghela napasnya. Jika saja tidak sedang berada didepan Fandi dan Ayesha, tentu saja ia akan protes kalau Syahlaa memanggilnya Kakek. Aldi hanya menghela napasnya.


"Hm, iya, Kakek yang nyupirin Syahlaa sampai kesini."


"Kakek Aldi sudah pindah kerja ya? Kan, Syahlaa nggak serius mau pecat Kakek. Kok sudah jadi supir taksi sih?" tanya Syahlaa polos.


Detik berikutnya, Aldi hanya menepuk jidatnya. Ia hanya mencoba sabar, untung saja yang ia hadapi saat ini hanyalah anak kecil. Dan yang paling penting saat ini adalah, ia harus menjelaskan semuanya pada Fandi dan Ayesha bagaimana Syahlaa bisa pergi tanpa seizin orang tuanya sampai-sampai ia rela menyamar menjadi supir taksi yang kebetulan berada di hotel demi melindungi  putri atasannya itu.


****


Kira-kira rencana apa ya, yang bakal di lakuin Syahlaa nantinya? Wkwkwk.😆


Part ending emang panjang, makanya di bagi. Ini bagian 1, Insya Allah di tunggu bagian 2 nya ya..


Jazzakallah Khairan sudah pada baca.
Sehat selalu buat kalian dirumah 🤗


WithLove LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi


Akun Instagram :
lia_rezaa_vahlefii


Next Ending bagian 2

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/ending-bagian-2.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar