Chapter 71 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 10 Mei 2021

Chapter 71 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Beberapa jam kemudian, Jakarta pukul 14.00 siang..


Misha membuka kedua matanya. Sayup-sayup ia mengumpulkan kesadarannya karena baru bangun dengan tubuh yang masih lelah. Perjalanan menuju ke Solo akhirnya tertunda setelah beberapa jam yang lalu seorang klien tiba-tiba menghubungi Franklin dan mengajaknya bertemu.


"Ini urusan bisnis, uang, dan pekerjaan, Misha. Ku harap kamu mengerti dan tidak kecewa."


"Tapi aku nggak mau kembali kerumah Daddy."


"Hanya sehari saja. Aku janji. Setelah itu, kita pulang."


"Aku nggak yakin sehari. Bagaimana jika sampai lebih dari satu hari? Tidak mudah bagiku tinggal di rumah mertua dengan kondisi yang begitu Mas. Apalagi-"


"Oke, oke, fine." potong Franklin cepat. "Kita akan nginap di hotel sementara waktu. Kamu tunggu di kamar, aku urus pekerjaan."


Dan akhirnya Misha pun setuju. Disinilah ia sekarang, berjalan menuju ruang tamu hotel berfasilitas presiden suite. Lengkap dengan semua fasilitas yang ada. Ia menatap Syahlaa yang terlihat murung. Misha tentu paham, bagaimana perasaan putrinya.


"Syahlaa.."


Syahlaa hanya menoleh kebelakang, dia berwajah sendu. "Syahlaa lagi sedih."


"Kan disini sudah banyak mainan."


Baik Syahlaa maupun Misha, keduanya memperhatikan di sekitarnya, terdapat banyak mainan yang baru saja di belikan secara langsung oleh Franklin.


"Mau banyak sampai tinggi kayak pohon, Syahlaa mau kerumah Kakek. Disana ada Kak Franz dan lainnya."


"Tapi sayang, sudah waktunya kita pulang. Syahlaa nggak kangen rumah?"


"Nggak. Syahlaa kangennya Kakek dan Nenek."


"Syahlaa-"


"Tadi pagi Ayah bilang, katanya Syahlaa mau adek atau nggak. Syahlaa mau punya adek Bunda. Maunya sekarang. Supaya Syahlaa punya teman bermain dirumah."


Misha berusaha sabar. Dalam hati ia tak habis pikir, bagaimana dengan entengnya Franklin menawarkan calon adik buat Syahlaa sedangkan permasalahan yang ada saja belum selesai?


"Kok Bunda diam? Bunda jawab.."


"Ha?"


"Adek buat Syahlaa bisa sekarang atau nggak? Syahlaa maunya dua. Yang wajahnya mirip. Kata Ayah, namanya adek kembar."


Syahlaa terus merengek sambil mengusap kedua matanya. Dia juga menguap. Detik berikutnya Misha langsung tanggap dan menggendong putrinya.


"Ayo bobok sama Bunda. Syahlaa pasti mengantuk dan lelah."


Syahlaa tak banyak berkata. Ia pun hanya pasrah ketika Misha menggendongnya menuju kamar dan merebahkannya di atas tidur. Misha berbaring di samping Syahlaa. Selang beberapa menit kemudian, dengkuran halus terdengar. Suara yang nyatanya terdengar dari Misha, bukan Syahlaa.


Dengan perlahan, Syahlaa membuka kedua matanya. Ia menoleh ke samping, dilihatnya sang Bunda sudah tertidur lelap. Syahlaa pun terdiam, sesuatu teringat di benaknya. Sebuah kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya di malam hari.


"Kak Rafi ngapain?"


Rafi pun terkejut. Dengan cepat ia menutup kulkas. Disekitaran bibirnya masih ada sisa es cream.


"Syahlaa sendiri ngapain, nggak tidur?"


"Nggak. Syahlaa belum ngantuk. Ih makan es cream, nggak bagi-bagi."


"Ssssshhhh.."


"Kenapa?"


"Jangan ribut, nanti Mommy bisa bangun. Baiklah, ayo kita makan sama-sama."


"Bagaimana caranya Kak Rafi bisa makan es cream di malam hari? Apakah tidak di marahi?"


"Aku pura-pura tidur. Lalu berjalan kemari dengan pelan-pelan."


"Oh begitu, ya?"


Hanya dengan mengingat percakapan singkat itu, seketika Syahlaa langsung turun dari tempat tidur secara perlahan. Tak lupa ia berjalan mengendap-endap keluar kamar.


****


Jakarta, pukul 15:00 sore.

Pekerjaan yang Franklin lakukan akhirnya selesai. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali ke hotel dengan cepat. Sesampainya disana, Franklin mengerutkan dahinya ketika ia tiba di depan pintu.


"Kenapa pintunya terbuka?"


Franklin memasuki kamar hotelnya. Semua terlihat baik-baik saja. Namun ntah kenapa perasaannya tidak enak.


"Assalamualaikum, Misha?"


Tidak ada jawaban. Suasana hening. Namun tetap saja, Franklin merasa was-was. Ia pun berjalan ke arah kamar dan mendapati Misha tertidur lelap. Franklin segera membangunkan istrinya.


"Mimi.."


Misha terbangun. Sayup-sayup ia membuka matanya kemudian duduk.


"Iya, Mas?"


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam." Misha memilih berdiri dan mencium punggung tangan suaminya.


"Kenapa pintu depan terbuka? Mana Syahlaa?"


"Syahlaa ada kok. Dia di-" Misha menghentikan ucapannya ketika menoleh ke belakang. Hawa ngantuk yang masih terasa tiba-tiba menghilang dalam sekejap.


"Dimana dia?" tanya Franklin dengan rasa was-was.


"Di.. dia tadi ada disini, bersamaku."


Franklin tak lagi bertanya, yang ada ia langsung menuju kamar mandi. Area balkon hingga menelusuri ruang tamu. Dengan cemas ia kembali mendatangi Misha. Wajah Misha sudah basah oleh air mata.


"Dimana Syahlaa.. dimana putri kita?" tanya Franklin.


"Demi Allah, tadi dia bersamaku dan tidur dalam pelukanku."


"Tapi dia tidak ada, Mimi. Apakah Syahlaa tiba-tiba hilang?"


"Nggak.. nggak mungkin Syahlaa hilang." Misha pun ketakutan. Ia pun menuju ruang tamu dan memanggil nama Syahlaa, lalu kembali ke toilet dan area balkon.


"Mas.."


Franklin yang baru saja menghubungi seseorang kini menatap Misha dengan pandangan kecewa.


"Bagaimana mungkin kamu lalai menjaga Syahlaa?"


"Aku, tidak lalai. Aku-"


"Aku menghubungi salah satu pekerja hotel. Dia baru saja mengecek cctv. Seorang pria terlihat bersama Syahlaa."


"A..apa? Tidak.. tidak mungkin. Tadi Syahlaa, dia.. dia tidur bersamaku.. dia."


Dengan cepat Misha keluar kamar. Bahkan berjalan cepat. Franklin segera mencegahnya dengan memegang pergelangan tangan istrinya.


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus cari Syahlaa. Aku harus cari dia. Dia.. dia nggak boleh sampai kenapa-kenapa."


"Dengan penampilan seperti ini? Bahkan tanpa sadar kamu tidak memakai hijab mu."


"Maaf, aku lupa." lirih Misha pelan.


"Termasuk menjaga Syahlaa sampai-sampai sebagai Ibu saja, kamu lalai dan lupa menjaganya?"


Dengan kecewa Franklin melepaskan tangan Misha. Ia menatap Misha dengan datar. Seketika hati Misha terluka.


"Jadi, Mas menyalahkanku?"


"Iya, kamu seorang Ibu yang teledor, mementingkan keinginan diri sendiri, tidak menuruti ucapanku, dan-"


"Iya! Terus saja salahin aku! Mas dan Daddy sama saja. Tahunya nyalahin aku terus."


"Syahlaa nggak mungkin keluar bebas bila kamu menjaganya. Sejak awal ini semua adalah kesalahanmu, jika saja kamu menuruti ucapanku untuk tidak pulang sesuai kemauanmu, maka semua ini tidak akan terjadi."


"Tapi, Mas-"


"AKU KECEWA PADAMU MISHA!"


Tidak ada yang bisa Misha lakukan selain diam tanpa banyak kata ketika Franklin berucap nyaring didepan wajahnya. Bahkan nada suaranya meninggi.


Franklin pun akhirnya terbungkam dengan ucapannya sendiri. Kedua matanya menatap air mata yang akhirnya luruh di pipi Misha. Merasa tidak sanggup melihat kesedihan istrinya, detik berikutnya, Franklin pergi meninggalkan Misha. Hatinya bergemuruh sesak.


"Maafkan aku Mimi, maaf sudah kasar denganmu. Aku khilaf." ucap Franklin dalam hati


***


Masya Allah Alhamdulillah, akhirnya aku kembali up yaa..


Bersyukur juga, Insya Allah sebentar lagi pergantian tahun..
Tetap stay kembali menunggu kelanjutan Franklin dan Misha ya..


Insya Allah tinggal dikit lagi, kita akan berpisah dengan mereka. Berpisah dalam keadaan happy ending, atau..
Sad ending.. hhe


Doakan moga Fandi bisa luluh hatinya wkwkwk 😁


Samarinda, 31 Desember 2020
22:04


Next, Ending bagian 1

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/ending-bagian-1.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar