Chapter 70 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 11 Mei 2021

Chapter 70 : Mencintaimu Dalam Doa

 



"Apakah Daddy memaafkannya?"


"Kejadian di masalalu memang sulit untuk di lupakan. Kamu tahu? Setiap malam, Mommy mu harus merasakan efek samping di tubuhnya. Kondisi Mommy memang tidak seperti dulu, terutama bagian kakinya yang di amputasi."


"Aku berharap, Daddy memaafkan Misha. Biar bagaimanapun, dia menantu Daddy, sekaligus adik ipar ku. Bagian dari keluarga ini juga."


"Daddy ingin istirahat. Jangan bahas wanita itu lagi."


Misha terdiam, setelah mendengar percakapan Frankie dan Daddy mertuanya 30 menit yang lalu saat tanpa sengaja melewati ruang keluarga. Ia kira, kedatangannya kemari dengan adanya Syahlaa, maka semua kejadian masalalu termaafkan. Tapi sayangnya, apa yang ia pikirkan tidak sesuai harapan.


Dengan muram Misha segera keluar dari kamar. Ia berniat mencari Syahlaa dan menemukannya di ruang permainan anak-anak. Para cucu Hamilton pada berkumpul dan bermain disana.


"Syahlaa.."


Syahlaa menoleh, ia menatap Bundanya.

"Iya, Bunda?"


"Kemarilah."


Syahlaa pun segera menurut, ia turun dari prosotan hingga tubuhnya berakhir pada puluhan bola plastik warna-warni sebesar buah jeruk di bawahnya.


"Syahlaa, ayo tangkap bola ini." Rafa, putra kembar Aifa itu pun melempar bolanya ke arah Syahlaa. Syahlaa menghindar, namun kembali terpancing dengan membalas melempar bola ke arah sepupunya dan melesat. Rafa tertawa sambil memeletkan lidahnya.


"Huuuu, nggak kena."


"Biarin, kapan-kapan nanti kena kok." balas Syahlaa dengan sewot.


"Kan lemparnya sekarang, bukan kapan-kapan."


"Kalau Syahlaa maunya kapan-kapan gimana?"


"Pokoknya sekarang!" Rafa meraih beberapa bola kemudian segera melempar lagi kearah Syahlaa. Namun Syahlaa tetap santai dan memeletkan lidahnya.


"Mau sekarang atau kapan-kapan, apa bedanya? Syahlaa-"


"Sayang, Bunda memanggilmu dari tadi." tegur Misha dengan sabar, merasa sempat terabaikan.


Syahlaa pun langsung mendekati Bundanya, hingga akhirnya, Misha pun duduk menyamakan posisinya dengan Syahlaa.


"Ada apa, Bun?"


"Kita harus siap-siap ya."


"Loh, kita mau kemana?"


"Pulang." Misha memaksakan senyumnya. "Kan besok Syahlaa harus sekolah."


Syahlaa sedikit menjauh. "Syahlaa nggak mau pulang. Syahlaa mau disini."


"Tapi sayang, sekolah Syahlaa itu penting."


"Iya memang penting. Tapi begitu di rumah, Syahlaa kesepian Bunda. Kalau disini ramai. Ada Om, Tante, Kakak, Kakek, dan Nenek. Disini juga banyak mainan."


Misha merasa dilema. Di satu sisi, ia kasihan pada putrinya, disisi lain, ia merasa tidak nyaman hati dengan Daddy mertuanya.


"Em, nanti kita minta sama Ayah buat beli mainan yang banyak ya."


"Nggak mau." tolak Syahlaa telak. "Kalau mainan, Ayah bisa beli. Bahkan dengan jumlah yang banyak. Tapi kalau Syahlaa kesepian, Syahlaa sedih. Kesedihan Syahlaa nanti nggak bisa di ganti dengan banyaknya mainan Bunda."


"Kenapa kamu ingin pulang cepat?"


Tiba-tiba Franklin datang. Misha menoleh kebelakang. Franklin terlihat tidak setuju. Misha tak menjawab, yang ada ia memperlihatkan wajah sedih kemudian pergi berlalu dalam diam. Syahlaa melihat kepergian Bundanya.


"Apakah Ayah dan Bunda bertengkar?"


"Tidak." Franklin mendekati putrinya. Ia berjongkok dan mengusap kepala Syahlaa dengan sayang, mencoba mencari alasan agar putrinya tidak sedih. "Mungkin Bunda lagi lelah."


"Ayah sering bilang Bunda lelah. Kata di film-film, kalau para Bunda sering lelah, itu artinya Bunda lagi hamil. Apakah itu benar?"


"Belum tentu." Franklin tersenyum lagi. Lalu ia mengerutkan dahinya. "Memangnya Syahlaa sering menonton film seperti itu?"


"Tidak, kan Syahlaa suka kartun."


"Terus, tahu dari mana?"


"Dari Bunda Fatimah di sekolah. Bunda Fatimah pernah cerita tentang film sama Bunda-Bunda yang lain."


"Jadi, Syahlaa mau adek?"


"Apakah boleh?" tanya Syahlaa berbinar.


"Tentu. Kenapa tidak?"


"Syahlaa maunya dua. Wajahnya harus mirip. Kayak Rafa dan Rafi."


"Maksudnya kembar?"


"Iya, Ayah. Bisa kan? Supaya Syahlaa nggak kesepian dirumah."


Franklin tertawa. Ia pun berdiri. "Harus berdoa dulu, minta sama Allah."


"Terus?"


"Ya, gitu.."


"Gitu apa Ayah? Kapan adeknya ada? Syahlaa maunya sekarang."


"Nggak bisa. Harus proses."


"Prosesnya gimana, Yah? Susah nggak?"


Franklin menggaruk lehernya, merasa bingung mencari alasan yang tepat untuk Syahlaa yang suka banyak bertanya dan suka mencari tahu. Franklin pun mengusap lagi kepala Syahlaa.


"Kalau begitu, Syahlaa main dulu sama Kak Rafa ya. Ayah mau datangi Bunda."


"Ayah mau proses adek sama Bunda ya?"


"Syahlaa! Tangkap bolanya."


Dan lagi, Rafa melempar bola kearah Syahlaa. Secepat itu Syahlaa kembali mendatangi Rafa hingga akhirnya Franklin bernapas lega. Ia pun segera mendatangi Misha. Sesampainya di kamar, Misha terlihat merenung di balkon kamar.


"Syahlaa tidak mau pulang. Dia ingin disini." ucap Franklin pelan. Misha menoleh ke belakang.


"Tapi aku ingin pulang."


"Apa yang membuatmu seperti ini?"


"Daddy." Tanpa bisa di cegah, air mata menetes di pipi Misha.


"Tidak mudah buatku untuk tinggal disini jika situasinya begini."


"Cobalah untuk mengerti."


"Mengerti sejak dulu hingga sekarang?"


"Misha-"


"Maaf, Mas, stok kesabaranku sekarang sudah habis. Semua ini sudah terlalu lama. Dari Syahlaa belum ada hingga dia terlahir ke dunia ini. Tapi Daddy tidak mau memaafkanku hingga sekarang."


Franklin menatap istrinya dengan datar. Tadinya ia ingin mencoba sabar, namun sepertinya, tidak untuk sekarang.


"Mengalah lah untuk Syahlaa. Dia suka disini."


"Aku ingin pulang. Sampai kapanpun, Daddy tidak akan pernah memaafkanku sekalipun bukan aku yang salah. Apakah Mas tidak pernah memikirkan perasaanku selama disini? Tidak mudah bagi seorang menantu tinggal di tempat mertua yang tidak menyukainya."


Misha tak banyak berkata lagi. Detik berikutnya ia mengambil langkah melalui Franklin begitu saja dan menyiapkan koper untuk membereskan semua pakaiannya.


"Aku akan bertahan disini jika Daddy memaafkanku. Tapi sayangnya, itu tidak terjadi."


"Jangan keras hati dan emosi. Pikirkan tentang Syahlaa."


"Aku akan membawanya pulang sekarang juga."


"Jangan keras hati. Aku tidak suka."


"Jadi sekarang Mas menganggapku keras hati?"


"Bukan begitu."


"Lalu apa? Tolong mengerti suara hati istri."


Franklin mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ada yang bisa ia ucapkan lagi selain memilih mengalah dan pergi dari sana. Itu lebih baik, daripada ia terpancing emosi dan berkata yang tidak seharusnya ia katakan.


Misha tetap bersikeras untuk pulang saat ini juga. Ia pun akhirnya mendatangi Syahlaa yang masih sibuk bermain.


"Sayang, ayo,"


"Bunda sudah selesai proses adek buat Syahlaa?"


"Hah? Proses adek? Maksud Syahlaa apa?" tanya Misha bingung.


"Adek buat Syahlaa Bunda. Syahlaa mau adek."


"Jangan suka memaksa Syahlaa."


Tiba-tiba Franklin datang, ia menatap Misha dengan tatapan peringatan.


"Syahlaa nggak mau pulang. Nanti sampai rumah Syahlaa kesepian."


"Sayang, nanti nggak kesepian kok. Kan ada Bunda." bujuk Misha lagi.


"Kalau dua adek buat Syahlaa yang wajahnya sama juga ada Bun?"


"Hah?"


"Pokoknya Syahlaa nggak mau pulang. Harus ada dua adek yang wajahnya sama baru Syahlaa mau pulang!"


Detik berikutnya Syahlaa pun kembali sibuk bermain ke arena trompolin dan Misha menghela napasnya.


💛💛💛💛💛


Kemauan Syahlaa bener-bener greget ya 😆


Daddy Fandi juga gitu. Bikin kesel 😣


Masya Allah Alhamdulillah, Akhirnya aku update lagi malam ini. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kita semua ❤️


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii




Tidak ada komentar:

Posting Komentar