Chapter 69 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 11 Mei 2021

Chapter 69 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Kediaman Hamilton, pukul 07.00 pagi..


Misha membuka kedua matanya secara perlahan. Sayup-sayup ia mencoba mengumpulkan kesadarannya dan membangunkan dirinya. Misha menoleh ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 07.00 pagi. Beberapa jam terakhir ini, Misha merasa kelelahan, sampai akhirnya ia sadar akan suatu hal.


"Astaghfirullah, Syahlaa ku."


Dengan cepat Misha menyibak selimutnya, namun semua itu tertunda saat sebuah tangan melingkari pinggulnya. Misha menoleh ke samping, di lihatnya Franklin masih terpejam pulas. Tak ingin menggangu, Misha menjauhkan tangan Franklin secara perlahan.


"Jangan terlalu panik, Syahlaa baik-baik saja." sela Franklin tiba-tiba, Misha menatap suaminya.


"Mas, nggak tidur?"


"Tidak, setelah sholat subuh tadi."


"Terus ngapain?"


"Mandangin wajahmu yang sedang tertidur, cantik."


"Mas, aku serius." protes Misha, meskipun ia merasa malu di puji suaminya.


"Bagaimana dengan Syahlaa?"


"Biarkan saja, semalam dia tidur sama Daddy dan Mommy."


Misha terkejut. "Apa? Serius?"


Franklin membuka kedua matanya, ia menatap Misha dengan tatapan yang mendalam. Bahkan mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya. Misha mulai panik.


"M..mas mau ngapain?"


"Kamu, sudah selesai haid?"


"Belum." Dengan perlahan Misha menyentuh pipi Franklin dan menjauhkan posisinya agar sedikit menjauh. "Aku harus mencari Syahlaa dan melihat keadaannya.

'

"Setelah kedatangan kita disini kemarin sore, kamu tertidur pulas dan bangun hanya ke toilet. Sepertinya kamu terlihat lelah."


"Jadi, sejak sore kemarin sampai malam hingga sekarang aku banyak tidur?"


"Hm, bahkan-"


Tok.. Tok.. Tok!


"Franklin! Buka pintunya! Ini penting!"


Suara gedoran pintu dari luar kamar membuat Franklin dan Misha sampai terkejut. Dengan cepat Franklin mencari atasan piyamanya. Itu suara Aifa yang memanggilnya.


"Carikan atasan piyamaku, cepat!" perintah Franklin pada Misha, akhirnya ia turun dari tempat tidur yang masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang piyama.


"Iya, iya, sebentar. Mas taruh dimana tadi malam?"


"Aku lupa."


"Franklin!" Tok! Tok! Tok! "Cepat! Ini darurat!" teriak Aifa dari luar.


"Sebentar, Kak!" sahut Franklin lagi. "Misha, apakah sudah ketemu?"


"Aku, nggak tahu." Misha merasa kebingungan. Akhirnya ia meraih asal piyama miliknya bergambar Hello Kitty. "Pakai saja milikku. Ini ukurannya besar."


"Apa?" Franklin tercengang. "Yang benar saja? Tidak, aku-"


"Cepat pakai! Aku nggak rela siapapun melihat dada bidang Mas ini!"


"Tapi, ini, ya Allah.. jangan aneh-aneh, Mi-"


Misha tak menggubris. Yang ada ia malah berdiri dengan cepat didepan Franklin kemudian memakaikan atasan piyama bergambar Hello Kitty lalu mengancingkannya satu per satu. Franklin berusaha mencegah, tapi Misha sudah selesai dan menarik pergelangan tangan Franklin ke arah pintu. Misha pun segera membuka pintunya, wajah Aifa sudah basah oleh air mata.


"Kalian, kalian harus ke kolam renang, Syahlaa.. dia dia.."


"Kakak, dia kenapa?" tanya Franklin, berusaha untuk berpikir semuanya baik-baik saja.


"Aifa, Aifa, kalian.. kalian lihat saja sendiri."


Franklin segera pergi menuju kolam renang, di sebelahnya ada Misha yang tiba-tiba juga merasa takut, khawatir, bahkan mulai berpikir yang tidak-tidak.


Aifa pun ikut menyusul di belakang. Sesampainya di kolam renang yang berfasilitas indoor, Franklin tercengang, Syahlaa, putrinya yang ia cintai itu terlihat mengambang di permukaan kolam renang bahkan posisinya berada di tengah-tengah.


"Syahlaa!"


Franklin histeris, tanpa banyak bicara ia malah berlari dan terjun ke kolam renang begitu saja. Semua keluarga juga ikutan panik. Franklin berenang hingga ke tengah sampai akhirnya ia berhasil membawa tubuh Syahlaa ke pinggir kolam renang. Tubuh Syahlaa sudah pucat.


"Apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai tidak melihat cucuku terjatuh dan tenggelam?!" teriak Fandi nyaring, membentak ke arah semua asisten rumah tangganya yang tertunduk karena merasa bersalah.


"Kalau sampai dia kenapa-kenapa, kalian semua aku pecat!"


"Fan, tenanglah, jangan membuat keadaan tambah runyam. Kita harus bawa Syahlaa ke rumah sakit!" bujuk Ayesha pelan, Ibu paruh baya itu sudah berlinangan air mata. Fandi mengusap wajahnya dengan frustasi, hatinya sangat ketakutan.


"Semua sudah terlambat, percuma saja." lirih Fandi.


"Syahlaa! Bangun, nak, Ya Allah, maafkan Bunda yang lalai menjagamu." Misha terduduk menangis sambil memeluk Syahlaa, ia sedikit bergeser ketika Franklin hendak memberi napas buatan.


"Syahlaa, Ayah mohon, bangunlah." ucap Franklin panik.


"Ayah sama Bunda kenapa?"


Tiba-tiba Syahlaa membuka kedua matanya. Dengan polosnya ia bangun begitu saja dan melihat semua keluarganya ada di sekitarnya.


"Kakek, Nenek, Ayah, Bunda, Om dan para Kakak sepupu mau lihat Syahlaa berenang, ya?"


Dan lagi, Syahlaa bertanya dengan lugunya. Semua orang khawatir, namun gadis kecil itu terlihat santai bahkan sedikit heran.


"Syahlaa, Ya Allah, putri Ayah. Kamu baik-baik saja, kan, nak?".


Franklin langsung memeluk putrinya dengan erat, tak hanya itu, ia juga meraba pelan kedua pipi, lengan, dan bagian tubuh Syahlaa, memastikan kalau semua ini nyata dan Syahlaa baik-baik saja.


"Ayah kenapa? Kok kayak orang takut?"


"Sayang, kamu baik-baik saja kan, nak?" sambung Misha lagi.


Syahlaa mengangguk. "Alhamdulillah Syahlaa baik, kan Syahlaa cuma berenang. Kata Om Franz, berenang itu olahraga yang sehat. Jadi, kalau mau tubuh sehat, Syahlaa harus berenang supaya baik-baik saja."


"Tapi, kenapa-" Misha tak sanggup meneruskan kata-katanya, yang ada ia malah meraih tubuh Syahlaa kemudian memeluknya.


"Syahlaa bisa berenang?" tanya Aifa tiba-tiba.


"Tentu saja bisa Tante. Bahkan Syahlaa bisa mengapung di atas air kolam seperti kapal. Syahlaa hebat, kan?"


Frankie merasa heran. Ia menatap Franz yang penampilannya hanya memakai baju renang. Putranya itu juga memakai tambahan bebek karet di pinggangnya.


"Kamu masih kecil Syahlaa, baru 4 tahun, sekecil itu sudah bisa berenang di kolam renang dewasa tanpa bebek karet dan bisa mengapung?" tanya Frankie takjub.


"Memangnya kenapa?"


"Syahlaa nggak takut tenggelam?"


"Kalau tenggelam ke bawah Paman, bukan ke atas. Begini nih, caranya biar nggak tenggelam.."


Tanpa diduga, dengan santainya Syahlaa menyeburkan diri ke kolam renang. Cucu Hamilton itu berenang dengan gaya kupu-kupu menuju tengah sampai akhirnya merubah posisi dengan mengambang di atas permukaan air. Semua keluarga sampai melongo dan di buat heran.


"Ayah, Bunda, ayo berenang!" teriak Syahlaa antusias.


Baik Franklin dan Misha, keduanya masih syok, meskipun secara perlahan mulai tenang bahwa semuanya baik-baik saja.


"Ayah, Bunda, kok bengong? Ayo Ayah, Bunda, cepat ganti pakaian renang. Ayah jangan pakai baju Hello Kitty. Itu kan baju perempuan. Kan Ayah, laki-laki. Masa tadi Ayah berenang pakai baju Hello Kitty?"


Detik berikutnya, semua orang yang ada disana langsung menoleh kearah Franklin yang memakai atasan piyama Hello Kitty. Raut wajah Franklin berubah menjadi datar, meskipun kejadian barusan sungguh memalukan. Harga dirinya jatuh.


Cekrek, cekrek, cekrek.


Tanpa diduga, Frankie memfoto saudara kembarnya sambil tertawa nyaring.

"Ah, kapan lagi melihat seorang pengusaha sukses yang berpakaian formal seperti Franklin tiba-tiba memakai pakaian wanita? Bukankah ini kejadian yang langka dan bersejarah? Bagaimana jika publik di luar sampai tahu?"


Franklin menyugar rambut ikalnya yang basah ke belakang. "Ini hanya pakaian, mau gambar apapun, yang penting tidak telanjang." ucap Franklin santai dengan tampangnya yang sok cool, sampai akhirnya ia memilih menceburkan diri dan berenang bersama Syahlaa seolah-olah ia tidak menggubris apapun disekitarnya. Salah satu cara mempertahankan harga dirinya yang terbilang santai.


"Keterlaluan kamu, Mimi, lihat saja nanti apa yang terjadi setelah ini." sela Franklin dalam hati, ia menatap Misha dengan senyuman smirk, sadar merasa terancam, yang ada Misha malah memilih pergi dari sana.


"Alhamdulillah, cucuku, Ya Allah, dia baik-baik saja. Bahkan sikapnya yang santai itu menurun dari Ayahnya." ucap Ayesha lega, ia menghapus air mata di pipinya.


"Hubungi jasa pembuatan wahana permainan kolam renang anak-anak, aku ingin membuat Waterboom di halaman belakang untuk cucu-cucuku." sela Fandi akhirnya, ke arah salah satu asisten rumah tangganya.


****


Masya Allah Alhamdulillah, lama nggak updated cerita ini setelah author lahiran... 🤗


Ya ini sudah memasuki 2 Minggu setelah lahiran, semoga aku, bs rutin di update lagi yaa..🙂


Jazzakallah Khairan sudah sabar menanti, untuk part ini, kita santai-santai dulu sebelum menuju ending hhe..  😁


Siapkaaaaaann hati kaliaaaaaann


Oh iya..


Jangan lupa, kalau perlu sama tisunya...


🤣🤣🤣🤣🤣


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar