Chapter 68 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 18 Mei 2021

Chapter 68 : Mencintaimu Dalam Doa

 


"kamu jangan menuduhku yang tidak-tidak, mi."


"tapi, kata syahlaa, dia melihat anak laki-laki mirip denganmu. jangan bilang itu anak simpanan mas dan-"


"anak simpanan itu, apa, bun? kan anak itu manusia, bukan benda." sahut syahlaa tiba-tiba. misha sampai terkejut, padahal ia sudah berbicara pelan pada franklin, bahkan nyaris berbisik. namun siapa sangka kalau sang putri mendengarnya.


"maksud bunda bukan begitu, nak."


"pokoknya dia tadi mirip sama ayah."


syahlaa sudah menarik pergelangan tangan bundanya untuk segera keluar dari panti. padahal ia dan franklin sedang bersilaturahim dengan ibu panti. dan disinilah mereka sekarang, berada di restoran kota solo menikmati makan siang bersama.


di meja tersebut sudah ada franklin dan misha yang saling bersebelahan. sedangkan syahlaa dan franz berada di hadapan mereka.


"kakek itu selain kaya, dia juga baik, loh. pokoknya, apapun yang syahlaa minta, kakek akan membelikannya. ah apalagi tante aifa. selain cantik, dia juga baik hati. "


"sungguh?"


"iya. sekarang syahlaa mau hadiah apa?"


"syahlaa sudah bosan dengan hadiah. syahlaa mau ketemu kakek dan nenek. katanya kakek dan nenek ada di tempat yang jauh. apakah bisa ketemu sekarang?"


"tentu tuan putri." franz mengusap pelan kepala syahlaa dengan penuh kasih sayang. "kakek dan nenek pasti senang melihatmu. iya, kan, om?" timpal franz lagi, tatapannya beralih ke arah franklin.


franklin menatap keponakannya dengan kesal. ia sendiri tidak menyangka, kalau franz tiba-tiba datang mengunjunginya sejauh ini.


"mainan mu terlalu jauh hingga kemari."


"apa masalahnya? aku sudah remaja. tidak masalah buatku. yang masalah adalah, kenapa om tidak pernah ke tempat kakek lagi?"


"karena ayah sibuk bekerja. kan ayah orang sukses. kata bunda di kelas, orang sukses pasti sibuk. apakah kak franz bukan orang sukses makanya nggak terlihat sibuk seperti ayah?"


seketika franz terdiam begitu syahlaa membela ayahnya. ia pun meraih tisu didepan matanya kemudian mengelap sudut bibirnya.


"kakak masih sekolah. insya allah, suatu saat kakak calon orang sukses. tapi, gini-gini kakak sudah punya pesawat pribadi. syahlaa mau? nanti kakak belikan, tapi tunggu beberapa tahun ke depan ketika kakak sukses."


"kelamaan." sahut syahlaa cuek. "kalau begitu, syahlaa mau ketemu kakek." tiba-tiba syahlaa turun dari kursi makannya. wajahnya terlihat semangat. misha mulai panik.


"em, sayang, jangan sekarang, ya."


"kenapa? ini kan, hari libur."


franklin pun akhirnya berjongkok tepat di samping putrinya.


"syahlaa, pergi kesana nggak semudah itu. bukankah semuanya harus banyak di persiapkan?"


"tapi, ayah-"


"katanya syahlaa mau berenang sama ayah di kolam renang? ah bagaimana kalau kita berenang bersama hari ini?" bujuk misha lagi.


"kok ayah dan bunda kayak mau menghalangi syahlaa, sih? kakek dan nenek bukan orang jahat, kan?"


"tidak bukan begitu." franklin menggeleng cepat. "maksud ayah-"


"ini kan hari libur, bukankah orang sukses seperti ayah juga libur bekerja? syahlaa saja libur sekolah. masa ayah nggak libur bekerja? kak franz bukan orang sukses, tapi dia bisa kemari. masa ayah kalah sama kak franz? kan ayah orang sukses."


"mungkin, ayah syahlaa lagi nggak punya uang buat pergi ke jakarta. makanya, ayo kita kerumah kakek, kita bisa meminta banyak uang sama kakek. ah kalau perlu jatah uang jajan kepada semua kakak sepupu syahlaa disana. syahlaa punya banyak kakak disana." sahut franz tiba-tiba. franklin sampai mendelik tajam kearahnya, rupanya keponakannya itu hanya sebelas dua belas saja dengan daddynya.


"bunda, ayo kita kerumah kakek dan nenek. syahlaa mau ketemu sama kakek dan nenek syahlaa. izinin syahlaa, kalau nggak di izinkan, syahlaa takut bunda nggak ridho dan berdosa sama bunda."


misha tak sampai hati. seumur hidupnya, syahlaa memang tidak pernah melihat keluarga besar ayahnya.


"yasudah, syahlaa nggak maksa. kata bunda di kelas, jangan pernah memaksa keinginan seseorang kalau tidak menginginkannya. syahlaa nggak mau, di anggap tukang pemaksa."


semua terdiam, termasuk franz. ia menatap om dan tantenya dengan curiga. sebenarnya hal apa yang sedang terjadi sampai-sampai om dan tantenya itu tidak pernah ke jakarta lagi?


"aku akan menghubungi kakek." ucap franz santai, ia mengeluarkan ponselnya. "dan mencari tahu hal yang sebenarnya terjadi-"


"oke, kita berangkat sekarang." potong franklin cepat. dengan santai ia pun berdiri dan menggendong tubuh syahlaa. ia hanya tidak ingin, aib dan permasalahan orang dewasa di ketahui oleh anak seusia franz.


"yey! asyik! alhamdulillah, akhirnya kita ke tempat kakek dan nenek."


syahlaa terlihat gembira. wajahnya sangat ceria, begitpun franklin yang ikut tersenyum namun hatinya tidak tenang. ia beralih menatap mishanya. misha hanya memaksakan senyumnya. setelah dilihat franz sudah menjauh, franklin menggenggam hangat tangan misha.


"jangan takut, ada aku bersamamu. positif thinking saja, mungkin ini sudah waktunya."


****


kediaman hamilton, pukul 17.00 sore.


misha melongo, melihat banyaknya tumpukan hadiah yang terlihat hampir menggunung di ruang tamu kediaman hamilton. bagi franklin, itu hal yang biasa. ia sudah bisa menebak, kedatangannya akan membuat semua keluarganya heboh.

hadiah didepan matanya itu, semua berasal dari para keponakannya.


"sayang, ini, hadiah buatmu. dari kakak rafa dan rafi." aifa tersenyum sambil mengecup pipi syahlaa. baru pertama kali pertemuannya dengan aifa, namun secepat itu, syahlaa langsung merasa akrab dengan tantenya.


"kak rafa dan rafi, yang mana tante?" tanya syahlaa polos.


"itu, yang lagi duduk di sofa sana." tunjuk aifa kearah putra kembarnya.


"oh yang itu." syahlaa manggut-manggut. "tante, ini kuncinya mirip seperti punya ayah dirumah. kalau ayah kerja dan bepergian, ayah selalu bawa ini di saku celananya."


"tentu saja mirip. ini kan kunci mobil. hadiah buah syahlaa dari kak rafa dan rafi. karena syahlaa masih kecil, mobilnya boleh di pakai sama ayah atau bunda buat ajak syahlaa jalan-jalan."


"nah, kalau ini hadiah dari om."


tiba-tiba frankie datang. tanpa menunggu waktu, ia langsung menggendong syahlaa bahkan mencium pipinya dengan gemas. sudah lama sekali, ia menginginkan anak perempuan meskipun selama ini amanah yang allah berikan pada istrinya anak laki-laki.


"kok kertas kosong, om?" tanya syahlaa polos.


"ini bukan kertas biasa. tapi kertas yang bisa di tulis dengan angka rupiah."


"angka rupiah?"


"hm." frankie mengangguk. "nanti suruh ayah isi berapa nominal uang yang di inginkan buat syahlaa liburan ke disneyland hongkong. bukankah syahlaa suka boneka dan badut yang lucu-lucu? disana pasti banyak."


"kalau syahlaa yang isi sendiri boleh?"


"boleh. nanti di temani ayah atau bunda ya."


"nanti syahlaa isi pakai crayon. kan syahlaa cuma punya crayon didalam tas."


semuanya pun tertawa. apalagi saat ini, gendongan syahlaa beralih ke feby. sejenak, misha dan franklin terharu menatap situasi. keduanya bersyukur betapa bahagia dan senangnya mereka atas kehadiran syahlaa.


"assalamualaikum, dimana cucuku?"


"wa'alaikumussalam." jawab semuanya.


tiba-tiba suara salam terdengar. semuanya menoleh kearah pintu. ayesha dan fandi baru saja tiba dari bepergian luar negeri. ayesha duduk di kursi roda, sementara fandi ada di belakangnya mendorong kursi roda istrinya, terlihat sehat seperti biasanya. begitu mengetahui kabar bahwa cucu perempuan satu-satunya hamilton tiba di rumahnya, saat itu juga ayesha bersikeras agar bisa pulang ke rumah.


"sayang, itu nenek dan kakek." bisik feby pelan. ia pun langsung menurunkan gendongannya pada syahlaa.


"assalamualaikum, nenek!"


syahlaa langsung berlari ke arah ayesha. ntah kenapa saat itu juga ayesha meneteskan air matanya. 4 tahun berlalu, hanya sekali, ia melihat foto wajah syahlaa ketika baru di lahirkan setelah aifa yang mengirimkan fotonya. setelah itu, tidak lagi, akibat keegoisan fandi.


"wa'alaikumussalam, sayangku, cucuku." ayesha memeluk erat syahlaa.


"kok, nenek menangis? syahlaa kan nggak nakal."


ayesha tersenyum di sela-sela isak tangisnya. "tidak, nak, syahlaa anak pintar dan solehah. syahlaa tidak nakal. syahlaa cucu nenek yang cantik." ayesha pun menyentuh pipi syahlaa. "dan syahlaa sangat mirip dengan daddynya."


"daddy? syahlaa panggil ayah, bukan daddy."


ayesha hanya tersenyum tipis. ia kembali memeluk erat cucunya, seperti enggan berpisah lagi. menyadari hal itu, aifa pun memberi kode pada keluarga yang ada disekitarnya sembari berbicara pelan.


"ayo kita ke ruang tengah. berikan mereka waktu."


"tapi, kak," misha merasa cemas. "bagaimana jika daddy-"


"jangan khawatirkan apapun. daddy akan menyayangi syahlaa. aifa tahu persis bagaimana sifat daddy."


misha masih saja cemas. dan lagi, franklin menggenggam tangan istrinya, menatapnya dalam.


"mimi, ayo, kak aifa benar. kamu pasti lelah kan? kita ke kamar."


"tapi, mas-"


"percaya sama aku."


dan misha pun akhirnya mengalah. setelah kepergian semuanya, fandi masih tak percaya dengan apa yang ia lihat didepan matanya. seorang cucu perempuan cantik, yang pertama di dalam garis keturunan hamilton.


"assalamualaikum, kakek?"


fandi menatap syahlaa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. tiba-tiba syahlaa memeluknya yang masih berdiri dengan perasaan tidak menentu. ia mengepalkan salah satu tangannya kedalam saku celananya, teringat masalalu kelamnya dan kejadian bencinya pada misha.


"wa'alaikumussalam."


"kakek, apa kabar? maafkan syahlaa baru kesini. ayah sibuk. kan ayah orang sukses. tapi, syahlaa bawa hadiah buat kakek dan nenek."


dengan polosnya, syahlaa membuka tas ransel kecil di punggungnya. ia mengeluarkan sesuatu disana. dua buah tasbih yang ia ronce selama 2 jam di perjalanan pesawat.


"syahlaa belajar di kelas sama bunda paud, meronce manik-manik. tapi ini bisa di buat tasbih setelah sholat kok. semoga kakek dan nenek suka."


detik berikutnya, kepalan tangan yang ada di saku celananya perlahan terbuka. ntah perasaan apa yang saat ini terjadi, tiba-tiba, dengan perlahan fandi merunduk dan ikut menyamakan posisinya pada syahlaa. tangan mungil syahlaa langsung membuka telapak tangan fandi. ini pertama kalinya, satu-satunya cucu yang memberinya hadiah sesederhana itu dan menyentuh hati. tidak seperti cucunya yang lain, yang biasanya memberi hadiah barang-barang mewah.


"apakah kakek suka?"


fandi masih terdiam. ia menatap wajah syahlaa dengan seksama. sangat mirip dengan franklin. bedanya, syahlaa memiliki dua iris mata berwarna biru, sama seperti almarhumah nenek buyutnya yang telah meninggal beberapa tahun silam.


hijab pink muda dan gamis bermotif bunga-bunga pun semakin membuat syahlaa terlihat cantik dan menggemaskan. tanpa diduga, tangan fandi terulur untuk mengusap pipi syahlaa.


"cantik."


syahlaa tersenyum ceria. ia hanyalah anak kecil yang sebenarnya tidak mengerti situasi yang sebenarnya. tanpa diduga, syahlaa langsung memeluk fandi.


"syahlaa sayang kakek."


dan pertahanan fandi pun runtuh, kedua matanya berkaca-kaca. keegoisan hatinya yang keras, kebencian, serta amarah yang ia rasakan selama ini, tiba-tiba sirna begitu syahlaa ada didepan matanya dan memeluknya.


"cucuku, aku menyayangimu." ucap fandi akhirnya, ayesha tak kuasa menahan diri, ia sedikit memajukan kursi rodanya dan memeluk keduanya.


"fan, cucu kita perempuan, dia sangat cantik. aku mau dia tinggal disini. jangan pisahkan aku dengan syahlaa." isak ayesha pelan, dengan keharuan hatinya.


*****


alhamdulillah, sudah up, ya.. 😘


chapter kali ini, menyentuh hati aku banget waktu nulis. semoga semuanya akan baik-baik saja kedepannya ya, termasuk hubungan mereka dg franklin misha 😊


jazzakallah khairan sudah baca. jangan lupa komentar dan votenya 🤗


with love 💋 liarezavahlefi


akun instagram : lia_rezaa_vahlefii


akun wattpad khusus fiksi remaja lia_reza_vahlefi


Next Chapter 69

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-69-mencintaimu-dalam-doa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar