Chapter 67 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 18 Mei 2021

Chapter 67 : Mencintaimu Dalam Doa



 

Jakarta, Indonesia.

Franz sedang duduk di kantin. Waktu yang memang terus berjalan hingga membuat putra pertama dari pasangan Frankie dan Feby itu, kini duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah kelas 8.


"Franz?"


Franz menoleh ke samping, ia melihat teman sebangkunya yang datang menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Temannya yang bernama Arka.


"Ya?"


"Tugas Pak Mahmud, sudah kamu kerjakan?"


"Hm, sudah. Bagaimana denganmu?"


"Alhamdulillah sudah. Aku-"


Ponsel Arka berbunyi, Arka pun menerima panggilan telepon sejenak. Sementara Franz memilih meminum es teh miliknya. Setelah panggilan berakhir, Arka meletakkan ponselnya tepat di samping tangan Franz yang berada di atas meja.


"Aku mau pesan nasi goreng. Mau titip?"


"Aku sudah makan." jawab Franz pelan, namun kedua matanya terfokus oleh salah satu aplikasi sosial media Instagram yang memperlihatkan foto bersama dalam suatu acara. Franz mengenal dengan jelas, kalau di foto tersebut ada Franklin, Misha, dan gadis kecil.


"Arka?"


"Ya?"


"Boleh pegang ponselmu? Aku, mau melihat foto ini."


"Oh itu," Arka kembali duduk di samping Franz, padahal niatnya tadi ingin mendatangi penjual kantin. "Memangnya kenapa?"


"Kamu kenal Om ini?" tanya Franz sambil menunjuk ke arah wajah Franklin.


"Tidak kenal. Tapi itu rekan bisnis Papaku. Seminggu yang lalu kami sekeluarga ke kota solo dan mendatangi acara pernikahan. Memangnya kenapa?"


Seketika Franz terdiam. Ia yakin, Om Franklinnya sudah memiliki anak. Sudah lama sekali ia tidak mendengar kabar Om nya itu. Bahkan setiap ada acara keluarga, Om Franklinnya sendiri tidak pernah hadir hingga sekarang.


"Aku mau pesan nasi goreng dulu, ya, keburu bel jam masuk kelas berbunyi. Ah, aku titip ponselku sebentar. Tolong jagain."


Franz mengangguk. Sepeninggalan Arka, Franz segera mengeluarkan ponselnya sendiri dan memfoto layar ponsel Arka sebelum benar-benar mati dan terkunci sandi. Setelah itu, Franz kembali terdiam. Ia menatap foto gadis kecil yang ada di antara Om dan Tantenya. Ia yakin, kalau gadis kecil itu adalah sepupunya yang cantik. Gadis kecil imut yang menggemaskan.


****


Surakarta, Pukul 10.00 siang.

Hari Minggu menjadi hari kesukaan bagi Syahlaa. Apalagi ketika bertemu dengan Fiyah, tentu saja Syahlaa tidak ingin membuang kesempatan untuk bermain di taman permainan dekat panti asuhan.


"Kak Fiyah, apakah kita harus mencampurkan saus disini?" tanya Syahlaa sambil memegang sepiring kentang goreng.


"Apakah Syahlaa tahan pedas?"


"Pedas? Tahan, kok!"


"Ih, jangan bohong. Nanti kamu nangis aku nggak tanggung jawab, loh."


"Kan, yang nangis Syahlaa. Bukan Kak Fiyah. Kenapa Kak Fiyah jadi repot?"


Fiyah terbungkam. Sesimpel itu jawaban Syahlaa. Ia pun akhirnya menggelengkan kepalanya dan mengalah. Mereka menikmati piknik dengan ceria di bawah pohon yang rindang, meskipun sebelumnya Misha memasak buat keperluan piknik kecil-kecilan Syahlaa dengan Fiyah.


"Boleh aku bergabung?


Suara anak laki-laki tiba-tiba terdengar. Fiyah dan Syahlaa langsung menoleh ke arah anak laki-laki tersebut. Syahlaa menatap heran ke arahnya.


"Kok wajahnya mirip Ayah? Kan, Syahlaa anak satu-satunya Ayah. Syahlaa nggak punya Kakak dan adik, kok." jawab Syahlaa polos.


Franz tersenyum kecil. Tanpa menunggu izin, ia malah duduk di atas tikar piknik kemudian meminum jus apel yang ada didepan matanya.


"Itu punya ku. Kok kamu nggak sopan banget sih?!" protes Fiyah.


"Maaf, aku haus. Baru datang dari Bandara langsung kemari. Nanti aku ganti, berapa sih harganya?"


"Tapi, kan-"


Dengan santainya Franz memanggil seorang pria yang berpakaian bodyguard. Pria tersebut langsung menghampiri Tuan mudanya kemudian bersimpuh sambil meletakkan salah satu lututnya di tanah rumput.


"Ya, Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?"


"Pesankan Jus apel di restoran sekarang juga. Take away 3 jus."


"Baik, ada lagi?"


"Nanti sampai disana, sekalian reservasikan restoran seperti yang sering di lakukan Daddy dan Kakek. Aku ingin mengajak makan-makan sepupu dan Om Tanteku. Ah satu lagi, sekalian pesan catering buat anak-anak panti asuhan disini sebanyak 100 kotak. Pastikan makanannya higienis, enak, dan terjamin. Cari restorannya yang berkualitas dan enak, ya. Jangan sampai salah. Kalau salah, tahu sendiri kan, akibatnya?"


"Baik, Tuan, siap."


Bodyguard Franz pun akhirnya pergi, menjalankan perintah Tuannya. Sementara Syahlaa dan Fiya sampai melongo. Tiba-tiba Syahlaa segera berdiri dan berlari begitu saja menuju arah panti.


"Loh, Syahlaa, kamu mau kemana?"


"Aku mau ketemu Bunda. Aku mau bilang kalau disini ada anak laki-laki mirip Ayah."


"Tapi-" Fiyah pun akhirnya ikut berdiri.


"Eh, kamu mau kemana? Bukankah kita sedang piknik?"


"Tapi aku nggak mau piknik sama kamu. Dasar anak aneh!"


Fiya pun pergi. Gadis 10 tahun itu merasa kesal dengan Franz yang menganggu kegiatan pikniknya. Padahal ia baru bisa bertemu dengan Syahlaa seminggu sekali.


Franz merasa kesal. Ia menatap kepergian Fiya dengan tatapan mengejek. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Nama Mommy terpampang di layarnya.


"Halo, Assalamualaikum, Mom?"


"Wa'alaikumussalam. Sayang, ini Mommy sudah dirumah. Mommy baru pulang dari undangan. Kok kamu nggak ada di kamar?"


"Aku lagi main Mom."


"Main? Main dimana? Tempat teman kamu?"


"Bukan. Tempat adik."


"Adik? Kan adik-adik kamu lagi di ruang bermain. Kamu jangan bohong deh, nak, nggak boleh."


"Ini adik spesial, Mom. Dia cantik. Aku benar-benar gemes sama dia. Kok Mommy dan keluarga yang lain nggak pernah cerita sih, kalau aku punya adik sepupu perempuan?"


Hening sesaat, suara Feby, Mommy Franz tiba-tiba tidak terdengar. Franz sampai mengerutkan keningnya.


"Halo, Mom?"


"Mommy tanya sama kamu, sekarang kamu lagi dimana?"


"Aku lagi di Surakarta, Mom. Kan sekarang aku punya pesawat pribadi pemberian Kakek, tidak masalah kan, aku bepergian keluar kota apalagi ketemu keluarga? Ah, aku juga sudah menghubungi salah satu paman di kediaman Kakek untuk menyambut kedatangan adik sepupu. Semua pasti akan bahagia melihat dia. Percayalah, Mom, dia cantik sekali. Kakek dan Nenek, pasti suka dengan kehadirannya. Tapi, kenapa Mommy dan Daddy tidak pernah cerita selama ini ke aku kalau aku punya adik sepupu perempuan?"


Detik berikutnya, di seberang panggilan, Feby langsung menutup panggilannya. Ia tidak menyangka putranya pergi ke Surakarta semudah itu hanya untuk bertemu dengan Syahlaa seolah-olah kepergiannya seperti ke tempat tetangga sebelah rumah.


"Dari mana dia tahu, kalau dia punya adik sepupu perempuan selama ini?" gumam Feby dengan sendirinya dan merasa penasaran sekaligus bingung.


****


Alhamdulillah, sudah up yaaaaaa 😘


Syahlaa, Franz, Fiya, Chapter kali ini tentang pertemuan perdana mereka hhe. Gimana ya, reaksi Franklin dan Misha setelah ini?


Ah atau, bagaimana reaksi Kakek Fandi nantinya? Wkwkwk.. siapkan hati kaliaaaan yaaa 😆


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar