Chapter 66 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 18 Mei 2021

Chapter 66 : Mencintaimu Dalam Doa


 

4 Tahun kemudian..

Apartemen solo residence. Pukul 17.00 sore


Franklin baru saja memasuki lift. Kotak besi itu bergerak ke lantai atas tempat dimana ruang apartemennya berada. Rasa lelah pun sirna, begitu ia sudah keluar dari lift dan berada didepan pintu apartemennya. Franklin segera membuka pintunya menggunakan kode akses seperti biasanya.


"Assalamualaikum, Ayah!"


Franklin tersenyum tipis. Setiap sore, anak tercinta selalu menyambut kedatangannya seperti sekarang.


"Wa'alaikumussalam. Hm, apakah putri Ayah yang cantik ini sudah mandi?"


"Sudah dong! Kan, kata Ayah, kalau  sore, Syahlaa harus mandi biar bersih dan wangi. Wangi seperti Bunda."


Merasa gemas, Franklin pun menggendong putrinya yang baru berusia 4 tahun. Padahal ia lelah, namun lelahnya sudah hilang begitu melihat wajah ceria dan cantik Syahlaa. Ia juga melirik ke arah Misha, yang tengah duduk santai di sofa sembari menonton tayangan Lcd TV. Misha segera berdiri, tak lupa menyambut kedatangan Franklin lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Bagaimana pekerjaan, hari ini, Mas?"


"Alhamdulillah semua berjalan lancar. Hanya sedikit kendala."


"Kendala apa?" tanya Misha, seketika raut wajahnya berubah cemas. Franklin tersenyum, ia mencium dahi istrinya.


"Hanya masalah kecil. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


"Ayah, tadi Syahlaa belajar hapalan huruf Hijaiyah sama Bunda. Apakah Ayah mau dengar?"


"Benarkah?" Franklin merasa takjub. "Masya Allah, coba ucapkan sekarang, Ayah mau dengar."


Franklin segera beralih ke sofa dan duduk, sementara Syahlaa berada di atas pangkuan Ayahnya. Misha terdiam menatap interaksi keduanya dan hatinya serasa bahagia walaupun hanya sesederhana itu, seolah-olah lupa dengan kejadian masalalu yang kini masih menyedihkan bagi hatinya.


Ucapan Syahlaa yang terus membaca huruh Hijaiyah satu per satu masih terdengar. Syahlaa Hamilton, putri cantik yang memiliki iris kebiruan yang mewarisi iris mata almarhumah nenek buyutnya di London, kini, semakin hari semakin terlihat pintar hingga membuat Misha bersyukur.


"Alhamdulillah, putri Ayah sangat pintar dan hebat. Em, apakah putri Ayah yang cantik ingin hadiah?" tanya Franklin dengan raut wajah penuh senyuman, menatap Syahlaa seperti menatap wajahnya bagaikan pinang di belah dua. Hanya rambut yang keriting bergelombang saja, yang mewarisi dari gen Misha.


"Apakah boleh, Syahlaa minta sesuatu?"


"Tentu, sayang."


Franklin mencium pipi Syahlaa dengan gemas. Ia sangat mencintai putri satu-satunya, seperti apa yang ia impikan sejak dulu, memiliki anak perempuan.


"Syahlaa mau beli crayon baru sama buku gambar. Syahlaa mau menggambar Ayah, Bunda, Syahlaa, Kakek dan Nenek."


Misha terdiam, raut wajah senyuman yang sejak tadi terukir di wajahnya sirna. Sudah 4 tahun berlalu, namun Syahlaa tidak pernah sekalipun  bertemu dengan Kakek Neneknya. Menyadari hal itu, Franklin segera berdiri dan masih menggendong putrinya menuju dapur semata-mata agarbisa mengalihkan lebih lanjut pertanyaan Syahlaa mengenai Kakek dan Neneknya.


"Ah bagaimana kalau sekarang kita menikmati es cream? Bukankah es cream adalah makanan kesukaanmu, nak?"


"Asyik, es cream! Ayo kita makan bareng Bunda. Bunda, kok diam saja? Ayo kita ke dapur."


"Ha? Em, iya sayang, ayo."


Franklin menatap Misha sejenak, tentu saja ia memahami bagaimana perasaan Misha dan apa yang di pikiran istrinya itu saat ini.


****


"Ya Allah, dia putri yang sangat cantik. Kamu beruntung Franklin, memiliki anak perempuan yang pertama di keluarga kita."


"Terima kasih, Kak Aifa. Maaf, sudah membuat Kakak repot-repot kemari."


"Justru kami tidak merasa kerepotan." sahut Feby tiba-tiba. "Setidaknya kami harus tahu, bagaimana kelahiran dan kondisi keponakan kami. Apakah, Daddy dan Mommy sudah tahu?"


"Aku hanya mengabari, Mommy, tapi tidak dengan Daddy."


Seketika Aifa, Feby, Rex, dan Frankie terdiam. Mereka menatap raut wajah Franklin yang terlihat sendu, sementara Misha masih dalam keadaan tidur pulas setelah semalaman ia melalui proses panjang pembukaan demi pembukaan menuju lahiran secara normal. Saat ini, mereka berada di rumah sakit kota Solo. Hanya anak-anak dari keluarga besar Hamilton saja, yang datang menjenguk putri pertama Franklin.


"Ku harap kamu sabar, atas apa yang terjadi. Sayang sekali, biar bagaimanapun Daddy tetaplah orang tua dan seberusaha apapun kami memberi omongan baik-baik, Daddy tetaplah menganggap kami hanyalah anak kecil kemarin sore." ucap Frankie pelan.


"Tidak apa-apa. Aku ikhlas dengan semua ini. Daddy benar-benar tidak menganggapku lagi semenjak aku memutuskan bersama Misha dan kehamilannya."


"Kalau begitu, sekali lagi selamat atas kelahiran putri cantiknya." sela Aifa tiba-tiba. Semua terkejut menatap Aifa yang malah berlinangan air mata.


"Sayang, ada apa?" tanya Rex tidak menyangka.


"Aifa.. Aifa hanya sedih atas ujian yang kita hadapi. Termasuk apa yang di alami Franklin. Sejak dulu, Aifa dan Franklin sehati. Kalau dia sedih, tersakiti, maka Aifa akan ikut merasakannya juga."


Tidak ada yang bisa Rex lakukan, selain mengelus pelan pundak istrinya kemudian memeluknya. Sampai akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pulang dan kembali ke hotel saat itu juga, mengingat anak-anak mereka sedang berada di hotel bersama baby sitter mereka masing-masing.


Aifa, Rex, Frankie, dan Feby, sengaja membawa putra mereka ke luar kota dengan alasan liburan. Padahal sebenarnya mereka mendatangi dan melihat kondisi Franklin.


Mereka juga sepakat, tidak membawa anak-anak saat kerumah sakit, agar salah satu diantaranya tidak memberi tahu keadaan yang sesungguhnya kepada Kakek mereka. Akan menjadi masalah nantinya, bila Fandi mengetahui yang sebenarnya. Biar bagaimanapun, anak-anak tetaplah anak-anak yang kapan saja bisa berbicara jujur kepada yang lebih tua.


****


Surakarta, keesokan harinya..

"A, B, C, D, E, F, G. " suara nyanyian aljabar terdengar dari bibir mungil Syahlaa, sampai-sampai Franklin tersenyum geli mendengar semuanya. Ia menoleh ke samping, menatap putrinya yang duduk manis diatas pangkuan Misha.


"H, I, J, K, L, M, N."


"Alhamdulillah, semakin hari, Syahlaa semakin pintar." puji Misha pelan.


"Alhamdulillah. Aku bersyukur karenanya." sahut Franklin lagi. Ia pun membelokkan kemudi stirnya ke arah kanan.


"Ayah, kenapa kita belok? Bukankah toko buku ada di sebelah sini? Seharusnya Ayah kan, masuk sana." tunjuk Syahlaa kearah kiri yang ia maksud sejak tadi. Franklin sampai mengerutkan dahinya.


"Syahlaa tahu jalan?"


"Alhamdulillah Syahlaa tahu. Kan, Syahlaa suka melihat-lihat pinggir jalan kalau kita didalam mobil. Pokoknya Syahlaa mau Ayah kembali kesana. Syahlaa nggak mau lewat sini."


"Sayang, ada apa? Semuanya sama saja nak, nanti kita akan sampai kok. Malahan lewat sini tidak macet." bujuk Misha pelan.


"Tapi.." seketika Syahlaa terdiam, wajahnya mulai memerah. Tanda bahwa sebentar lagi ia akan menangis. Syahlaa memang seperti itu, jika hendak menangis, ia tidak pernah bersuara apalagi mengamuk. Hanya isakan pelan beserta air mata berlinang yang mengalir di pipinya.


"Baiklah, Ayah akan putar balik." Akhirnya, Franklin memutuskan menepi, melihat ke spion mobilnya untuk belok dan kembali ke arah sebelumnya.


"Pokoknya Syahlaa nggak mau lewat sini."


"Memangnya kenapa?" tanya Misha heran.


"Syahlaa pernah melihat kucing kecil berdarah di tengah jalan."


"Oh, ya? Kapan?" Mobil Franklin sudah berhasil kembali ke jalan semula.


"Waktu Syahlaa mau kunjungan rekreasi sama Bunda Novia dan teman-teman kelas. Bus nya lewat sini dan Syahlaa lihat kucing kecilnya. Kan kasihan.."


Misha terdiam. Ia tidak menyangka kalau Syahlaa memiliki ingatan yang kuat. Padahal kejadian tersebut dua bulan yang lalu saat putrinya itu mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh PAUD, tempat dimana Syahlaa mendapatkan pendidikan tambahan sesuai umurnya.


"Syahlaa sama sepertiku, memiliki ingatan yang kuat." sela Franklin lagi dengan senyuman puas, tak lupa ia mengusap sisa air mata yang menempel di pipi Syahlaa meskipun sudah tidak menangis lagi.


"Jangan sedih lagi, nanti Ayah belikan kucing peliharaan ya biar ada hiburan di apartemen buat Syahlaa. Jenis persian. Itu kucing yang sangat lucu. Teman kerja Ayah memelihara kucing jenis persian juga."


"Memangnya harganya berapa?" tanya Misha lagi.


"Tidak seberapa, hanya 77,8 juta."


"Ya Allah, Mas, itu mahal sekali!"


"Itu nggak mahal Bunda. Itu hanya angka doang kok, iya kan, Ayah?"


Franklin tertawa, sementara Misha hanya menghela napasnya. Buah memang tidak jauh dari pohonnya.


****


Wkwkwkw 🤣🤣🤣🤣

Masya Allah Alhamdulillah, akhirnya aku update lagi setelah sempat tertunda. 😘


Semoga selalu menikmati setiap alur Chapternya ya.. walaupun masalalu mereka belum berdamai dg Daddy Fandi 😥


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu yaaa💕


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar