Chapter 65 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 18 Mei 2021

Chapter 65 : Mencintaimu Dalam Doa


Kediaman Hamilton. Jakarta, pukul 16.00 sore..

Franklin menatap Daddynya yang kini sedang memunggunginya. Setelah kedatangannya dari rumah sakit, tanpa pikir panjang Franklin langsung menemui Daddynya. Fandi terlihat menahan amarah meskipun masih bisa mengendalikan emosinya.


"Pilihannya ada dua, Franklin. Daddy yakin kamu tidak pernah melupakan ucapan Daddy 6 bulan yang lalu."


"Itu pilihan yang sangat sulit."


"Kamu tidak mau kan, di cap sebagai anak durhaka?"


"Apakah yang menabrak Mommy waktu itu adalah Misha, semua sudah jelas kalau bukan dia pelakunya?"


"Mencoba melawan perkataan Daddymu ini? Orang tua yang sudah membesarkanmu dari kecil?"


Seketika Franklin terdiam. Ia menatap Daddynya dengan datar. Melawan orang tua bukanlah dirinya sejak kecil.


"Aku tidak bermaksud-"


"Ceraikan saja dia atau kamu tidak pernah aku anggap sebagai putraku lagi."


Franklin syok. Semudah itu kata cerai terucap? Dengan pandangan tidak suka, Fandi menoleh ke belakang menatap putranya.


"Memang bukan istrimu yang menabrak Mommy. Tapi wanita itu bersikap seolah-olah ingin merebut harta dan tahta darimu. Kamu pikir Daddy tidak tahu, kalau selama ini semua pekerjaanmu dia yang ambil alih?"


"Itu terjadi karena dia cemburu buta dan salah paham. Itu saja."


"Bagaimana dengan dompet yang ia curi di sakumu sewaktu kamu antri makan siang bersama Aldi beberapa bulan yang lalu sebelum kamu menikah? Tanyakan saja pada Aifa yang menemukannya didalam tas wanita itu. Jika bukan dia yang mencuri, mestinya dia mengembalikannya padamu. Bukan menyimpannya hingga berbulan-bulan. Itu sudah membuktikan kalau dia bukan wanita yang baik. Bahkan dia mantan narapidana akibat tertangkap basah membawa narkoba. Cinta benar-benar sudah membutakan dirimu. Bukankah Daddy pernah bilang carilah seorang istri yang baik dari keturunan yang baik?"


"Tapi-"


Suara vas bunga terjatuh kelantai terdengar. Fandi dan Franklin menoleh ke arah suara yang bisa di pastikan berasal dari luar ruang kerja.


"Pergi dari sini." ucap Fandi akhirnya. "Daddy ingin istirahat. Istrimu itu benar-benar wanita yang menyebalkan dan menyusahkan."


Franklin hanya diam. Hatinya terluka. Ini pertama kali dalam hidupnya ia mengalami masalah yang rumit dengan orang tuanya sendiri.


💘💘💘💘


Keesokan harinya.. pukul 08.00 pagi.


"Pilihannya ada dua, ceraikan saja dia atau kamu tidak aku anggap sebagai putraku lagi."


Misha terdiam. Ucapan kemarin sore tanpa sengaja ia dengar dari ruang kerja Daddy mertuanya. Ia tidak bermaksud menguping meskipun sejak awal ia berniat ingin mencari Franklin disana.


Misha menatap jam di dinding kamar. Kamar Franklin yang terlihat mewah baginya. Kamar Franklin memang besar, hartanya begitu berlimpah, barang-barang dan perabotan semuanya tidaklah murah. Namun semua itu hanyalah titipan di dunia. Apalah daya bergelimang harta namun pernikahan di penuhi kesedihan dan ketidakbahagiaan karena mertua.


Aifa bahagia dengan pernikahannya. Begitupun Feby. Rasa iri menyapa hatinya. Namun Misha mengusirnya karena sadar itu adalah ujian hati untuknya.


Misha menyentuh perutnya yang masih rata. Ia tersenyum sendu. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang hendak menetes di pipinya karena sudah lelah dengan yang namanya menangis.


"Tiba-tiba Bunda ngidam ingin jalan-jalan pagi. Ayo kita keluar. Maafin Bunda, ya, mulai sekarang Bunda akan berusaha fokus sama perkembanganmu di dalam sini."


Dengan perlahan akhirnya Misha turun dari atas tempat tidur. Tempat tidur yang semalaman begitu hampa karena Franklin tidak bersamanya sejak semalam. Misha memegang ponselnya, melihat pesan chatnya di WhatsApp pada Franklin yang sejak semalam masih centang satu.


Misha : " Mas, dimana?"
                                         ✓ 23:00


Misha : "Mas nggak pulang? Ini sudah malam?"
                                         ✓ 23:10


Misha : "Kok nomornya nggak aktip?"
                                         ✓ 00:00


Misha : "Mas?"
                                         ✓ 00:30


Misha : "Aku minta maaf, sudah membuat semuanya seperti ini. Jika aku mengetahuinya sejak awal, atau jika Mas menjelaskan semuanya padaku mengapa kita harus menunda kehamilan, maka aku akan berusaha mengerti. Maaf, tanpa sengaja aku mendengar obrolan Mas dengan Daddy. Sekarang aku tahu penyebabnya."
                                           ✓ 02:00


Misha tersenyum miris. Akhirnya ia pun mengechat Franklin kembali hanya untuk meminta izin keluar rumah sebentar semata-mata menghilangkan rasa penat dan pusing. Ia butuh udara segar.


"Maaf, Nona Misha, apakah anda mau pergi keluar rumah?"


Misha mengangguk. Ia menatap seorang wanita asisten rumah tangga yang berkisaran usia 30 tahun setelah ia sudah berada di depan teras luas halaman utama kediaman Hamilton.


"Kalau begitu saya panggilkan seseorang untuk menemani anda agar-"


"Maaf, saya ingin sendirian."


"Tapi, nona-"


"Insya Allah saya tidak apa-apa. Hanya jalan-jalan disekitar sini saja." potong Misha cepat, sesungguhnya ia memang ingin menyendiri tanpa di temani oleh siapapun.


Misha tidak menunggu respon asisten rumah tangga tersebut lebih lanjut, ia pun segera berjalan menuju pagar besar. Angin pagi yang masih menunjukkan pukul 08.00 pagi terasa sejuk. Khimar coklat muda yang ia kenakan melambai-lambai akibat tertiup angin. Tidak lupa Misha mengenakan masker hijab agar terhindar dari asap kendaraan yang berlalu-lalang setibanya di pinggir jalan kota.


"Bagaimana jika perceraian itu terjadi? Apakah aku sanggup menjadi single parents?"


"Bukankah perceraian bisa dilakukan setelah seorang istri melahirkan?"


"Ya Allah, bagaimana nasib anak kami nantinya? Mas Franklin mungkin bisa saja menikah lagi, tapi tidak mudah untukku melakukan hal yang sama. Hamba benar-benar mencintainya."


"Ya Allah, segitu beratnya kah ujian yang Allah berikan pada hamba?"


"Ya Allah, bagaimana jika-"


Citttttttt!!!!


"Mbak! Kalau mau nyebrang lihat-lihat jalan dong! Untung saya langsung ngerem dan nggak nabrak!"


Misha terkejut. Ia memegang degup jantungnya yang berdetak kencang. Setelah bergerumul dengan banyak ucapan didalam dirinya, tanpa sadar ia hampir saja menyebrang jalan meskipun salah satu pengendara motor nyaris menabraknya.


"Mbak kalau jalan di pinggir! Di trotoar noh, jangan sampai ke tengah! Gini-gini saya lagi buru-buru nih banyak bawaan!"


"Maaf.. maafkan saya, Bu, saya.." air mata menetes di pipi Misha. Sungguh ia merasa bersalah akibat kecerobohan yang ia lakukan. Seorang Ibu paruh baya yang sedang membawa banyak belanjaan tanpa malu memaki-maki dirinya. Beberapa pengendara lalu lalang terlihat menatapnya.


"Nona, Misha!"


Misha menoleh ke arah suara, rupanya seorang wanita asisten rumah tangga kediaman Hamilton yang sempat menegurnya di teras rumah tadi diam-diam mengikutinya dari belakang.


"Apakah anda baik-baik saja? Maafkan saya Nona, nyonya Ayesha memerintahkan saya untuk mengikuti anda. Ini lah yang beliau takutkan. Apakah anda baik-baik saja?"


Misha terlihat kebingungan. Peluh keringat mulai terlihat di dahinya. Misha memegang perutnya yang terasa nyeri pada bagian bawah.


"Aku.. aku.. aku mau kerumah sakit. Bagaimana jika, jika, calon bayiku kenapa-kenapa? Aku... Aku.."


"Nona, tenanglah, Nona mau saya antar kerumah sakit?"


Misha mengangguk. Ia terlihat panik dan syok. Tanpa banyak bicara lengan Misha langsung di gandeng oleh asisten rumah tangga tersebut untuk masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit.


"Tolong jangan katakan siapapun. Aku tidak ingin merepotkan keluarga di rumah." lirih Misha dengan tatapan memohon.


"Tapi, Nona-"


"Begitu semuanya baik-baik saja, aku janji akan segera meminta pulang pada Dokter."


💘💘💘💘


Flashback 6 bulan yang lalu..

"Daddy sudah menduga semua ini adalah ulah Kakakmu yang meminta Daddy dan Rex ke Korea. Ngidamnya saat itu semata-mata hanya alasan agar kamu bisa pulang ke Surakarta, iya, kan?"


"Maafkan aku, tapi, Misha sedang sakit. Vita yang memberitahu semuanya padaku. Bahkan dia tinggal di panti asuhan."


"Aku yang menyuruhnya tinggal disana. Pencuri itu tidak pantas berada di apartemenmu."


"Dia bukan pencuri-"


"Karena kamu sudah pulang ke Surakarta tanpa seizin Daddy, kamu harus tanggung akibatnya."


"Apa maksud Daddy?"


"Jangan pernah ada keturunan di antara kalian. Karena Daddy tidak pernah menganggapnya sebagai cucu."


"Tapi, Dad-"


"Pikirkan bagaimana nasib Mommy dan keponakanmu saat ini. Mereka nyaris kehilangan nyawanya akibat ulah Kakak iparmu itu! Beruntunglah Daddy tidak berbuat macam-macam terhadap Misha. Daddy bisa saja membuatnya menderita! Wanita pencuri itu tidak pantas-"


"Baiklah. Aku akan menuruti semua ucapan Daddy. Sekali lagi, aku minta maaf atas nama Hamdan dan istriku bukanlah pencuri. Aku sangat mencintainya dan membutuhkannya sehingga membuatku tidak bisa menahan lebih lama lagi berjauhan setelah akad nikah."


Setelah mengucapkan itu, Franklin segera keluar dari ruang tamu kamar hotel tempat dimana Daddynya menginap secara mendadak. Sesampainya di bassement parkiran hotel, Franklin terdiam, ia menatap wajah Misha di layar ponselnya sebagai wallpaper.


"Sesungguhnya aku ingin seperti Frankie dan Rex, menjadi seorang Ayah. Maaf harus melakukan semua ini padamu nantinya." lirih Franklin dalam dengan raut wajah sendu.


Dengan menguatkan hati, ia pun membuka galeri ponselnya. Ntah kenapa akhir-akhir ini ia sering mendownload foto-foto bayi di internet. Meskipun iseng, namun baginya sangat berarti. Detik berikutnya, ia pun menghapus semua foto-foto itu, mengubur harapan dan impiannya sebagai calon Ayah.


Franklin menatap Misha yang terlihat menundukkan wajahnya. Ia sadar, Misha terlihat gugup didepan matanya.  Semua terlihat jelas bagaimana ia mencengkram selimut pasien yang menutupi sebagian perut hingga ke ujung kakinya meskipun tidak ada jarum impus maupun peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.


Sekelebat ucapan Daddynya 6 bulan yang lalu kembali mengingatkan dirinya. Seberusaha apapun ia menurutinya, namun ia tidak bisa mengelak takdir Allah padanya.


"Kenapa kamu terlihat takut kepadaku?" tanya Franklin datar pada Misha.


"Aku nggak takut sama Mas." Misha masih menundukkan wajahnya, memainkan jari-jari tangannya pada cengkraman selimut. "Aku hanya takut Allah dan.. " air mata menetes di pipinya. "Dan perpisahan."


"Maaf sudah membuat Mas menjadi penuh masalah dengan Daddy. Mungkin aku bukanlah istri yang tepat buat Mas."


"Jika Mas menceraikanku, aku akan hancur secara perlahan. Tapi, Maaf, untuk menolak kehadiran calon bayi ini, aku tidak bisa. Aku akan mempertahankannya. Insya Allah aku siap, menjadi seorang Ibu untuk anak kita. Suatu saat kita bisa menjadi mantan, tapi untuk anak kita, tidak ada yang namanya mantan anak. Aku akan tetap mengizinkan Mas menemuinya sampai kapanpun."


Dengan pipi yang sudah basah oleh air mata bahkan hatinya yang rapuh, Misha mulai melepaskan cincin pernikahannya yang tersemat di jari manisnya dengan tangan gemetar kecil. Namun secepat itu, Franklin yang sejak tadi banyak diam akhirnya mencegah niat istrinya.


"Kalau kamu lepas cincin ini, saat itu juga aku ikut hancur."


"Bukankah kita akan bercerai?"


Franklin pun akhirnya duduk di pinggiran tepi brankar pasien. Ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Misha, dengan perlahan ia mencium kedua mata istrinya itu hingga terpejam pelan.


"Aku sudah meminta pada Allah di sepertiga malam jodoh yang terbaik. Aku sudah memperjuangkanmu begitu aku menyukaimu sebelum menikah. Lalu.. apakah semudah itu aku akan meninggalkanmu?" bisik Franklin pelan, tepat di wajah Misha yang sangat dekat dengannya.


Misha membuka kedua matanya secara perlahan. Ia menatap dalam kedua mata Franklin, raut wajahnya serius bahkan tatapannya yang begitu ia rindukan dalam beberapa jam terakhir.


"Tapi, kata.. kata Daddy-"


Franklin menyentuh bibir Misha menggunakan ujung jari telunjuknya. Dengan pelan ia menggeleng kepalanya.


"Selama aku tidak mendurhakai Daddy dan Mommy, tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Franklin tersenyum tipis. Ia menyelipkan helaian rambut Misha yang sedikit keluar dari dalam hijab khimarnya ke dalam hijabnya, seolah-olah tidak rela aurat istrinya akan di lihat oleh orang lain yang bukan mahramnya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai maut memisahkan kita. Tidak perduli seburuk apapun Hamdan, masalalu kamu, yang penting kita sama-sama saling memahami dan melengkapi. Sama seperti kamu memahami watakku, sifatku, dan prilakuku yang-"


"Tidak peka?" potong Misha cepat, sampai akhirnya keduanya pun sama-sama tertawa kecil.


"Hm, begitulah."


Franklin mencium kening Misha. Lalu tangannya pun berpindah ke arah perut Misha yang masih rata. Franklin mengusapnya dengan pelan, sampai akhirnya Misha menatap setetes air mata di punggung tangan suaminya. Dengan cepat Misha menatap wajah Franklin, ada air mata di pipi suaminya.


"Kenapa, Mas menangis?"


"Aku.. hanya terharu. Akhirnya impianku tercapai."


"Impian?"


"Hm." Franklin pun menarik kursi yang ada di belakangnya kemudian duduk sambil memeluk seputaran pinggul Misha. Ia menyenderkan pipinya pada perut Misha. "Impian menjadi seorang Ayah. Rasanya begitu  bahagia dan bersyukur."


Misha menatap Franklin, tanpa bisa di  cegah ia mengusap kepala Franklin. Ntah kenapa Franklin malah semakin manja.


"Apakah Mas menerima kehadirannya?"


"Tentu saja aku menerimanya sejak kamu dilarikan kerumah sakit oleh Kak Aifa dan Dokter memberi tahu kalau kamu hamil."


"Tapi, kenapa waktu itu Mas malah menghindariku?"


"Maaf, saat itu aku hanya bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Disaat yang sama, aku juga teringat ucapan Daddy, itu saja. Kalau kamu ingin menghukumku, aku akan terima dengan iklhas. Maafkan aku, yang banyak memiliki kekurangan."


"Aku tidak akan melakukannya."


Franklin mendongakkan wajahnya, menatap Misha dengan serius.


"Kenapa?"


"Aku juga tidak tahu. Saat ini aku hanya membutuhkan Mas berada di dekatku dan tidak menjauhiku. Tapi.."


Seketika Misha terdiam. Mendadak ia merasa tidak enak hati untuk mengatakannya.


"Tapi apa?"


"Apakah kita bisa kembali pulang ke apartemen?"


Franklin tersenyum tipis. Sungguh ia begitu mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini yang tidak nyaman tinggal bersama keluarganya terlebih sifat Daddy yang tidak menyukainya.


"Tentu, setelah kamu benar-benar sehat dan baik-baik saja. Kondisimu masih sangat rawan untuk kehamilan 4 Minggu."


Franklin pun akhirnya berdiri, ia merindukan kebersamaannya dengan Misha. Ia kembali duduk di tepi brankar pasien, menatap penuh cinta istrinya. Misha pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Franklin


"Aku begitu mencintaimu, Mimi. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, untuk kita, dan semuanya pada Allah."


Misha tersenyum tipis. Ia memejamkan matanya, sampai akhirnya, tanpa sadar ia tertidur pulas dalam dekapan Franklin. Franklin sadar, istrinya yang sedang hamil buah cintanya kali ini begitu membutuhkan dirinya.


Tentu saja Franklin tidak ingin menjauhi Misha, amanah dari Allah yang wajib ia berikan perhatian dan kasih sayang. Meskipun pada akhirnya, ia menerima dengan ikhlas kalau Daddynya tidak menganggapnya lagi.


💘💘💘💘


Alhamdulillah aku sudah up ya, maaf telat.


Chapter kali ini memang penuh campuran. Ada sedih, nyesek, lega, penuh haru, dan rasa kesal. Iya iya, yang kesal sama di Kakek Fandi.


Sabar ya...


Sesabar kalian yang menunggu aku up, semoga memaklumi karena urusan dunia nyata lebih di utamakan ketimbang menulis. Apalagi aku sudah berkeluarga, pasti paham deh maksudnya, hhe.


JazzakallahKhairan ukhti sudah baca. Sehat selalu ya...


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar