Chaptet 64 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 21 Mei 2021

Chaptet 64 : Mencintaimu Dalam Doa



Aifa menatap semua keluarganya yang kini berkumpul untuk sarapan bersama. Seketika ia mengerutkan dahinya bertepatan ketika salah satu asisten kediaman Hamilton menyajikan menu masakan di hadapannya.


"Mbak, tolong panggilkan Franklin ya, di kamarnya."


"Maaf, nona, Tuan Franklin dan Nona Misha tidak ada dirumah sejak semalam."


"Loh, memangnya mereka kemana?"


"Mereka di hotel sejak semalam." sahut Feby tiba-tiba, ia meraih sendok sayur untuk di sajikan ke piring Frankie. "Aku tahu dari snapgram Misha."


"Ke hotel? Ngapain sih?"


"Tentu saja mereka mau mencari suasana baru, Kak." jawab Frankie enteng, ia tersenyum santai. "Adikku itu diam-diam menghanyutkan."


Aifa hanya melongo, sementara Daddy Fandi hanya diam mendengarkan obrolan putra putrinya tanpa berminat untuk menyahuti. Tapi tidak dengan Mommy Ayesha yang terlihat tersenyum tipis.


"Biarkan saja, pengantin baru memang begitu. Suka berduaan tanpa di ganggu." ucap Ayesha lagi.


"Assalamualaikum,"


Suara salam dari arah pintu luar terdengar. Franklin datang di saat yang tepat dan baru saja di bicarakan. Di sebelahnya ada Misha yang memeluk lengan Franklin.


"Wa'alaikumussalam, nak, ayo langsung sarapan." ajak Ayesha lagi sembari memperhatikan keduanya yang tampak bahagia.


Franklin hanya mengangguk meskipun sebenarnya ia sudah kenyang. Akhirnya ia pun duduk bersebelahan dengan Misha.


"Adek Misha tadi malam pinjam motor Aifa, ya?" tanya Aifa pada Misha.


"Em, iya, Kak. Maaf, aku lupa bilang."


"Ya nggak apa-apa sih, oh iya, motornya buat Misha saja, Aifa kasih. Nanti biar orang kepercayaan Rex yang akan kirim motornya ke Surakarta. Itu motor baru sebulan loh, Aifa baru dua kali pakai."


Misha melongo tak percaya. Semudah itu Aifa memberinya barang mewah. Aifa tertawa geli, melihat wajah Misha yang terheran-heran.


"Santai saja, Dek, lagian di bassement apartemen Franklin tidak ada motor milik Franklin, kan? Sesekali deh, kalian jalan-jalan pakai motor."


"Terima kasih, Kak." jawab Misha canggung


Aifa hanya mengangguk, lalu semuanya pun akhirnya mulai menyantap sarapan masing-masing. Misha mengunyah sarapannya yang begitu lezat. Namun ntah kenapa saat ia menelannya, rasa mual menghampiri perutnya.


Misha menggeleng kepalanya dengan cepat. Ia memejamkan kedua matanya sambil memaksa mengunyah makanan di dalam mulutnya. Jangan sampai ia mual ataupun muntah didepan keluarganya yang sedang menikmati sarapan.


Wajah Misha mulai berpeluh, keringat dingin menghampirinya. Tak hanya itu, raut wajahnya sudah pucat. Merasa hendak muntah, tiba-tiba Misha pun berdiri dari duduknya dan berlalu menuju toilet tanpa sepatah katapun.


Semuanya menyadari kepergian Misha, namun tidak dengan Franklin yang tetap santai menikmati sarapannya tanpa terusik sedikitpun.


"Franklin?" tegur Ayesha tiba-tiba.


"Hm?"


"Misha ke toilet. Coba kamu cek."


"Aku sedang makan."


"Tapi, Nak, coba di lihat dulu."


"Mungkin dia sedang mual. Itu sudah terjadi selama seminggu terakhir setiap sarapan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Suara decitan kursi yang bergeser pun, tiba-tiba terdengar. Aifa berdiri dengan raut wajah kesal menatap Franklin.


"Dasar adek nggak peka! Yaudah biar Aifa saja yang ngecek. Santuy nya kebangetan!"


Franklin tetap menikmati sarapannya. Ia sudah terbiasa dengan dumelan Aifa sejak dulu. Ia kembali menikmati sarapannya bertepatan saat Daddy Fandi menyudahi makannya.


"Mau kemana, Fan? Kopinya belum di minum." tegur istrinya.


"Tiba-tiba moodku hilang untuk menikmati kopi."


"Kenapa wajahmu terlihat tidak menyukai suatu hal?"


Bukannya menjawab, Fandi hanya diam seribu bahasa dan berlalu menuju ruang kerjanya.


"ASTAGHFIRULLAH, MISHA!"


Suara teriakan dari Aifa membuat semuanya terkejut. Aifa keluar dengan raut wajah panik.


"Misha pingsan di toilet. Wajahnya pucat!"


Franklin terkejut, ia langsung berdiri dan menuju toilet. Bahkan melupakan niatnya yang hendak minum air. Semua ikutan panik, Franklin pun mendapati Misha terkulai lemas, tubuhnya sangat dingin dengan raut wajah pucat.


"Mimi! Sadarlah, apa yang terjadi?!"


Franklin menepuk pelan pipi Misha. Semua keluarga menatapnya dengan tatapan khawatir. Sementara Aifa menyentuh pergelangan tangan Misha.


"Denyut nadinya melemah. Kita harus kerumah sakit sekarang!"


Franklin mencium pipi dan kening Misha. Rasa takut menghampirinya. Dengan cepat ia pun segera berdiri dan menggendong tubuh istrinya.


"Aku mencintaimu, Mimi, jangan membuatku khawatir."


Semuanya terdiam mendengar ucapan Franklin. Nada suaranya terlihat ketakutan. Namun tidak dengan Fandi yang menatap kejadian tersebut, ia hanya melihat dengan pandangan datar bahkan tidak suka.


💘💘💘💘




Misha membuka kedua matanya secara perlahan. Aroma obat-obatan yang begitu menusuk membuat Kisha segera bangun dari tidurnya secara perlahan.


"Aku, di UGD? Kok bisa?"


Seorang suster datang menghampirinya dengan senyuman ramah sambil membawa peralatan medis berupa tensi.


"Permisi, ya, Ibu Misha. Tekanannya saya periksa dulu."


Misha hanya mengangguk. "Em, Sus, maaf saya mau tanya. Kenapa kepala saya pusing banget ya? Kepala juga terasa berat."


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Bu." Suster itu pun tersenyum tipis. Pusing itu di sebabkan oleh kehamilan pada trimester pertama. Apakah tadi pagi ada mual?"


Misha terdiam. Sementara suster tersebut sibuk mentensi tekanan darah Misha.


"A.. apa? Saya.. saya hamil?"


"Iya, Bu, Alhamdulillah baru 4 Minggu. Oh iya, tekanannya rendah ya, 90/60. Sebentar lagi dokter kandungan akan kemari mengecek kondisi Ibu lebih lanjut. Permisi."


Di saat yang sama, Franklin masuk setelah suster tadi pergi berlalu di hadapan Misha. Misha terlihat kebingungan sementara Franklin menatap Misha dengan tatapan datar.


"Mas?"


"Hm."


"Apakah benar, aku.. aku hamil? Aku masih tidak percaya kalau selama ini.." Misha meraba perutnya yang masih rata, didalam sana sedang berkembang calon janin yang ia tunggu selama ini. "Kalau selama ini, aku hamil."


"Jadi, kamu nggak minum pil kontrasepsinya? Bukankah aku menyuruhmu rutin meminumnya?"


Misha terdiam, ntah kenapa ucapan Franklin barusan menyakiti hatinya. Bukannya pria itu merespon dengan kata-kata bahagia dan bersyukur, tetapi malah sebaliknya.


Misha jadi enggan menatap Franklin, ia memilih menatap punggung tangannya yang kini berada di atas paha yang tertutupi selimut pasien, menatap cincin pernikahannya yang tersemat namun rasa luka di saat yang sama.


"Diluar sana banyak pasangan yang sudah menikah menanti momongan. Di luar sana banyak juga perempuan yang ingin cepat hamil setelah menikah agar merasa diri nya merasa sempurna menjadi seorang ibu dan di luar sana.. " air mata menetes di pipi Misha. "Termasuk aku, banyak sekali seorang istri yang ingin hamil dengan kebahagiaan yang di rasakan suaminya juga. Semudah itu, Mas masih keberatan dengan pemberian amanah dari Allah saat ini?"


"Aku tanya apakah kamu meminum pil kontrasepsi nya atau tidak. Kenapa lain di tanya malah lain yang di jawab?"


"Tidak!" Akhirnya Misha menatap Franklin dengan emosi. "Aku tidak pernah meminumnya lagi setelah Mas membawaku secara dadakan ke Jakarta bulan kemarin. Aku lupa membawanya. Apakah sudah puas dengan ucapanku? Apakah pantas, kita menolak rezeki Allah? Mau sampai kapan menunda lagi?"


"Alhamdulillah! Ya Allah, adek yang ku sayangi akhirnya hamil!"


Suara Aifa yang bahagia tiba-tiba mencegah perselisihan keduanya. Aifa memeluk Misha dengan erat.


"Selamat, ya, Misha. Akhirnya, Allah memberi kalian rezeki. Tapi, kok wajahmu sedih? Ah ini pasti air mata kebahagiaankan?" Aifa menghapus air mata di pipi Misha. Dengan terpaksa, Misha pun mengangguk, padahal sebenarnya hatinya terluka karena Franklin lagi-lagi masih keberatan dengan adanya kehamilan.


Mommy Ayesha juga datang bersama Feby dan Frankie, tanpa adanya Daddy Fandi. Franklin menatap semua keluarganya, kehamilan calon cucu keluarga Hamilton membuat semua wajah terlihat bahagia.


"Selamat, ya, sayang, putri Mommy harus banyak istirahat, makan yang sehat, minum vitamin, dan jangan stress ya." ucap Ayesha dengan raut wajah bahagia.


Misha menatap Mommy mertuanya. Lalu melepaskan pelukannya pada Aifa. "Bolehkah, aku memeluk Mommy?"


Ayesha mendekati Misha. Ia pun memeluk putri menantunya. Detik berikutnya Misha pun menangis, melampiaskan rasa sakit hati, kecewa, dan bahagia di saat bersamaan. Ia sudah menganggap Ayesha adalah sosok ibu kandungnya setelah puluhan tahun almarhumah Ibunya sendiri pergi menghadap Allah.


"Mom, lihat, bahagia banget si Misha sampai nangis terharu." ucap Feby sambil tersenyum bahagia.


Ayesha hanya tersenyum tipis. Sementara Franklin tak banyak berkata, ia hanya pergi berlalu dengan raut wajah datarnya. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Daddynya.


💘💘💘💘


Dia mikirin Daddy, tapi nggak mikirin kesayangan kita si Mimi 😭😭


Alhamdulillah, sudah up ya, jazzakallah Khairan sudah menunggu dengan sabar. Sehat selalu buat kalian, doakan Insya Allah cerita ini bs tamat dg tuntas sebelum author lahiran ya, hhe 😘


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii




Tidak ada komentar:

Posting Komentar