Chapter 63 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 21 Mei 2021

Chapter 63 : Mencintaimu Dalam Doa



Jasmine duduk dengan santai sembari membaca laporan keuangan hasil saham yang di terima oleh perusahaan Franklin. Franklin sendiri duduk di hadapannya dan sibuk mengetik sesuatu di laptop, disebelahnya juga ada Aldi.


"Aku ingin ke toilet sebentar."


"Silahkan." jawab Franklin santai, tanpa menatap ke arah Jasmine.


Jasmine pun pergi berlalu menuju toilet. Setelah semuanya selesai, tak lupa ia mencuci tangan di wastafel namun setelah itu Jasmine terdiam menatap godybag yang berisi celana kain hitam teronggok di samping wastafel. Dengan licik ia pun menyunggingkan senyumnya.


Jasmine mengeluarkan sebotol parfum kecil didalam saku pakaian yang selalu ia bawa kemanapun kemudian memasukkannya ke dalam celana kain milik Franklin.


"Mau di sadari Franklin atau nggak, itu urusan belakangan. Setidaknya seorang istri pasti akan menemukannya ketika mencuci celana ini."


Jasmine pun tertawa puas ketika mengingat kejadian sebulan yang lalu. Ntah berhasil atau tidaknya, bisa di pastikan kalau saat ini Misha terbakar cemburu jika menemukan parfum miliknya.


"Apakah sekarang kamu sudah puas, Jas?" tegur seorang wanita yang merupakan sepupu Jasmine.


Jasmine tersenyum. "Tentu saja. Bahkan dia sempat mendengar obrolanku dengan Franklin ketika membicarakan soal kehamilanku."


"Kok bisa?"


"Salah satu pekerja Franklin bekerja sama denganku. Dia memberitahu kedatangan Misha. Jadi, drama dimulai. Bisa di pastikan kalau aku dan Franklin memiliki hubungan khusus."


"Kamu ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya bikin wanita lain cemburu buta."


"Itu akibatnya kalau dia merebut apa yang aku inginkan selama ini. Ah, aku juga menyuruh rekanku meretas ponsel Franklin bahkan dengan mudahnya dia mengganti namaku dengan tambahan love di ponselnya."


Sepupu Jasmine hanya melongo tak percaya. Ia bersedekap, merasa kalau perbuatan Jasmine sudah keterlaluan.


"Sebaiknya hentikan. Tidak baik merusak hubungan rumah tangga seseorang. Lagian, kamu sudah menikah dan mulai mencintai Ahmad. Franklin juga sudah bahagia dengan istrinya, dan kamu lagi hamil. Kamu harus ingat itu, Jas."


"Aku sudah tidak melakukan hal itu. Tenang saja, aku sudah move on. Yang penting rasa kekesalanku pada Misha sudah terlampiaskan. Jadi kamu nggak perlu khawatir lagi."


Sepupu Jasmine hanya menghela napasnya. Ia bersyukur, untung saja Misha tidak berlaku yang tidak-tidak pada Jasmine.

****




Jakarta, pukul 21.30 malam.

Misha berjalan mengikuti Franklin dari belakang tanpa diketahui pria itu. Rupanya Franklin menuju salah satu cafe hotel yang terletak di lantai paling atas.


Dalam jarak beberapa meter, Misha menatap Franklin dari belakang. Pria itu memilih duduk di samping kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Seorang pelayan juga terlihat menghampiri suaminya itu.


"Kok, Mas sendirian? Perempuan tadi mana?"


Pelayan tadi pun akhirnya pergi sambil membawa buku menu. Sembari memantau Franklin dari belakang, Misha juga ikut memesan minuman pada salah satu pelayan semata-mata agar terlihat sebagai pengunjung cafe.


Tiba-tiba ia terpikir untuk menghubungi Franklin. Tanpa membuang waktu lagi, Misha mengeluarkan ponselnya.


"Halo, Assalamualaikum?" jawab Franklin santai setelah panggilan tersebut tersambung.


"Wa'alaikumussalam. Mas?"


"Hm?"


"Lagi dimana?"


"Kenapa tanya?"


"Memangnya nggak boleh?"


"Lebih baik kamu tidur. Sudah malam."


"Tapi-"


Tut.. Tut.. Tut.. panggilan terputus begitu saja. Misha mendengkus kesal.


"Nyebelin banget sih! Ketahuan banget kalau nggak mau di ganggu."


Misha fokus dengan pesanannya. Namun tiba-tiba seorang pelayan pun datang membawakan pesanan untuknya. Misha mengerutkan dahinya ketika menatap air mineral di depan matanya.


"Saya pesan hot cappucino. Kok yang datang air mineral?" tanya Misha sewot, mood nya semakin rusak. Bahkan ia enggan menatap si pelayan.


"Pokoknya saya nggak mau tahu. Ganti sekarang juga!"


"Aku melarangmu meminum cafein di malam hari."


Dengan cepat Misha menoleh ke arah si pelayan. Ia terkejut, tidak menyangka kalau Franklin lah yang mengantarkan pesanan untuknya.


"M.. mas?"


Bukannya menjawab, Franklin malah mengabaikan Misha. Ia pun kembali ke tempat semula yang sebelumnya ia duduki di samping jendela besar. Akhirnya Misha mengalah, dengan gemas ia duduk di samping Franklin.


"Kok Mas tahu aku kemari? Jangan-jangan Mas pantauin aku ya dari tadi?"


"Siapa disini yang lebih tepatnya tukang pantau?"


"Itu-" seketika Misha terdiam. Tenggorokannya tercekat. Perasaan malu sekaligus gugup menghampirinya. Misha bersedekap, ia memasang raut wajah gengsinya. "Siapa suruh pergi nggak bilang-bilang? Kan, aku jadi curiga."


"Kamu menstalker dan meretas semua aktivitas ponselku. Mestinya kamu tahu kemana aku pergi."


"Termasuk dengan wanita yang di temui di parkiran tadi?"


Franklin menoleh ke samping. Ia menatap Misha yang terlihat cemberut. Cantik, itu yang ia pikirkan sekarang. Namun bukanlah situasi yang tepat saat ini. Franklin kembali menoleh ke samping jendela.


"Itu hanya kebetulan."


"Tapi, kan-"


"Wanita yang kamu lihat tadi adalah teman Kak Feby. Jangan salah paham sebagaimana kamu melakukannya terhadap Jasmine."


"Siapa suruh nggak jelasin semuanya? Pokoknya-"


"Bukankah sudah berulang kali aku bilang, kalau aku dan Jasmine tidak memiliki hubungan apa-apa dan hanya rekan bisnis?"


"Iya, tapi-"


"Dia temanku sejak masa sekolah menengah atas. Sifatnya memang begitu. Suka memprovokasi pikiran seseorang sehingga seringkali membuat orang itu geram. Termasuk dirimu. Dia juga usil dan cara bicaranya memang tidak pernah di pikirkan terlebih dahulu. Dia hanya ingin membuatmu cemburu buta, itu saja. Bahkan setelah beberapa hari ini, aku baru sadar ponselku pernah di retasnya dan dia memfitnahku seolah-olah memiliki hubungan dengannya."


Seketika Misha terdiam. Ia menatap Franklin dari samping. Franklin pun akhirnya menatap Misha dan Misha sadar, tidak ada kebohongan apapun disana. Semua terlihat jelas dari tatapan Franklin yang begitu mendalam.


"Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianatimu sedangkan aku menundukkan pandanganku kepada yang bukan mahramku? Bukankah aku sudah sering bilang hanya Mommy, Kak Aifa, dan dirimu yang bisa leluasa aku tatap ketimbang wanita lain apalagi Jasmine?"


Misha menundukkan wajahnya. Merasa bersalah karena Franklin berbicara jujur apa adanya. Franklin kembali menatap ke samping sambil bersedekap.


"Bahkan setiap malam aku meminta hak ku padamu meskipun kamu menolaknya karena selama ini salah paham denganku. Bersyukurlah aku sabar dan ridho, bagaimana jika tidak? Malaikat bisa melaknatmu sampai pagi karena kamu tidak menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri. Apakah kamu masih tidak percaya kalau aku tidak mengkhianatimu di luar sana apalagi memiliki hubungan spesial dengan wanita lain?"


"Aku.. aku.. aku minta maaf."


Detik berikutnya Misha pun memeluk lengan Franklin, ia menyenderkan dagunya pada pundak pria itu.


"Selama ini aku sudah salah paham. Lagian, istri mana yang nggak kesal kalau suaminya banyak diam?"


Dengan gemas Franklin malah merubah posisi, ia memeluk leher Misha bahkan mencubit pipinya.


"Harus berapa kali aku jelaskan kalau aku dan wanita manapun tidak memiliki hubungan apa-apa? Hm?"


Misha tersenyum kecil. Kedua matanya berkaca-kaca, merasa lega akhirnya Franklin tetap setia padanya. Disaat yang sama, seorang pelayan lagi-lagi datang menghampirinya dan membawakan pesanan menu capcay dan air mineral. Kemudian pelayan tersebut pergi.


"Mas, pesan capcay?"


"Itu buatmu."


"Buatku?"


Franklin meraih sendok. Tanpa di minta, dengan perlahan ia menyuapkan sesendok capcay kearah Misha. Awalnya Misha ragu, namun akhirnya membuka mulutnya.


"Sudah beberapa hari ini kamu menginginkan makanan ini. Bahkan merengek."


"Tiba-tiba aku pengen, Mas."


Dengan telaten suapan demi suapan ia lakukan pada Misha. Sembari menatap Misha yang sedang mengunyah sambil memegang ponsel, Franklin merasa heran


"Kenapa istriku ini pipinya tambah chubby ya? Apakah efek dia sering marah dan cemburuan?"


Franklin kembali terdiam. Ia kembali berbicara dalam hati.


"Positif thinking saja, mungkin efek bahagia."


****


Alhamdulillah sudah up, maaf kalau update malam mulu. Soalnya kalau pagi sibuk, hhe 😊


Dan barusan, lagi-lagi Franklin dengan segala pemikirannya yang simpel dari dulu 😁


Nah, udah lega ya. Malam ini kita saling tenang-tenang dulu melihat mereka. Tapi nggak tahu ya, next part🤣


JazzakallahKhairan ukhti sudah baca. Sehat selalu, ya, 😘


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar