Chapter 62 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 21 Mei 2021

Chapter 62 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Kediaman Hamilton, pukul 10.00 pagi. Jakarta


Misha duduk dengan kepala yang pusing. Sudah beberapa hari berlalu, namun rasa pusing yang begitu berat membuat Misha merasa uring-uringan.


Tiba-tiba ponsel Franklin berdering di atas meja. Misha menoleh ke samping untuk segera meraih ponsel tersebut. Sebuah notip pesan singkat.


Jasmine : "Franklin, kamu sibuk nggak? Aku main kerumah Mommy, ya. Aku ada di Jakarta."


Misha menghela napas dengan kesal. "Kenapa lagi sih, ni perempuan? Dasar pelakor! Sok akrab banget  manggil Mommy segala. Mertua juga bukan." Misha pun membalasnya.


Franklin : "Nggak boleh. Harus izin dulu sama istriku."


Jasmine : "Wah, malahan aku sudah diruang tamu sama Mommy."


"Apa?!" Seketika kedua mata Misha terbelalak. Merasa tidak percaya akhirnya ia pun keluar kamar dan segera menuju lift untuk ke lantai ruang tamu.


Ting! Pintu lift terbuka. Padahal ia bisa saja menuruni anak tangga satu per satu. Namun ntah kenapa kali ini bagian perutnya sedikit sakit bila banyak bergerak.


Sesampainya di rumah tamu, kekesalan Misha semakin bertambah setelah melihat Jasmine seakrab itu dengan Daddy Fandi. Ia sebagai  menantu saja tidak pernah di perlakukan seperti itu. Rasa iri hati menyapa Misha, namun sebisa mungkin ia menepisnya.


"Alhamdulillah, sudah berapa bulan, nak?" tanya Fandi sambil menatap Jasmine dengan senyum ramah.


"Alhamdulillah sudah 7 bulan, Dad. Masa Daddy lupa? Kan aku menantu Daddy juga."


Fandi tertawa kecil. Baginya ucapan Jasmine ada-ada saja.


"Wah, sama seperti Aifa ya." timpal Ayesha. "Sudah USG? Jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan?"


"Sebenarnya aku mau USG Mom, tapi.." tanpa sengaja Jasmine melihat kedatangan Misha. Ia pun tersenyum puas. "Tapi Mas Franklin menyarankan tidak perlu. Biar jadi kejutan."


Fandi dan Ayesha saling berpandangan bingung. Namun akhirnya mereka kembali bersikap santai.


"Ah begitu." ucap Ayesha. "Semoga lancar sampai lahiran ya, nak."


"Aamiin, makasih Mom. Oh iya, dimana Franklin?"


"Tadi dia keluar sebentar. Sepertinya ada perlu."


"Mungkin membeli buah alpukat buat aku, Mom. Kebetulan tadi aku ngidam buah alpukat. Franklin memang pria yang baik, ya."


Misha mengepalkan kedua tangannya. Tanpa bisa mencegah diri lagi, ia pun berjalan cepat mendekati mereka dan bersedekap.


"Mbak, jadi perempuan tolong jaga perasaan sesama deh!" sela Misha tiba-tiba. Fandi dan Ayesha langsung menoleh kebelakang, keduanya terkejut dengan kedatangan Misha dan secepat itu, raut wajah Fandi terlihat datar.


"Misha.." Ayesha tersenyum tipis. "Sayang, kamu kan lagi sakit. Kok keluar kamar?"


"Aku lagi marah sama dia Mom." tunjuk Misha ke arah Jasmine.


"Marah? Marah kenapa? Apakah Jasmine memiliki kesalahan padamu?"


"Iya, dia sudah menjadi orang ke tiga diantara aku dan Mas-"


"Assalamualaikum."


Suara salam dari seorang pria tiba-tiba mencegah protesan Misha saat itu juga. Semuanya pun menoleh ke arah pintu. Masuklah seorang Pria tampan dengan kemeja abu-abu muda sambil menyampirkan jas formal di lengannya. Dengan sopan pria itu langsung mendekati Daddy Fandi dan mencium punggung tangannya kemudian menangkupkan kedua tangannya didepan dada begitu berhadapan dengan Mommy Ayesha.


"Wa'alaikumussalam, Nak Ahmad. Apa kabar?" tanya Ayesha ramah.


"Alhamdulillah baik, Mom. Bagaimana kabar Mommy dan Daddy?"


"Alhamdulillah kami baik." jawab Fandi ramah. "Mau jemput istri kamu sekarang?"


Seketika Misha syok. "Apa? Istri? Maksudnya siapa?" tanya Misha dalam hati.


"Iya, Dad. Kebetulan saya baru balik dari Bandara. Pekerjaan di luar negeri selama seminggu membuat saya begitu cepat merindukan Jasmine. Apalagi calon buah hati kami."


"Ya Allah, Mas, jadi malu deh. Aku juga kangen, Mas." timpal Jasmine malu-malu.


Detik berikutnya Jasmine segera berdiri lalu mencium punggung tangan Ahmad, seorang suami yang selama ini ia cintai setelah pernikahannya yang sah 6 bulan yang lalu. Jasmine pun menatap Misha sambil mengamit lengan suaminya. Misha terlihat kebingungan, syok, tidak percaya bahkan melongo. Dalam hati, Jasmine merasa puas sudah mempermalukan wanita sebodoh Misha yang paling mudah di pengaruhi dan di bohongi dengan segala rencana.


"Jadi.. jadi.. " ucap Misha akhirnya terbata-bata. "Jadi, Mbak Jasmine sudah menikah?"


"Iya, dia sudah menikah. Misha kamu kenapa? Kok seperti terkejut?" tanya Ayesha heran.


"Tapi, Mom, dia-"


"Makanya, jadi perempuan jangan suka salah paham dan cemburuan. Itu tidak baik. Untung saja putraku memiliki kesabaran banyak terhadap istri sepertimu."


"Fandi.." tegur Ayesha dengan tatapan peringatan, merasa tidak enak dengan adanya Ahmad dan Jasmine yang notabenenya bukan keluarga. "Mungkin Misha tidak bermaksud seperti itu."


"Em, Mas, ayo kita pulang." sela Jasmine tiba-tiba, sadar kalau sudah waktunya ia pergi sebelum Misha membantahnya lagi.


"Dad, Mom, kami izin pulang dulu, ya. Insya Allah kapan-kapan kami akan kemari lagi. Sekali lagi terima kasih sudah baik kepada kami. Termasuk kepada Jasmine. Apalagi selama ini Franklin sudah bekerjasama dengan baik di perusahaan istri saya."


"Sama-sama, Nak." jawab Fandi ramah. "Semoga usaha dan kinerja perusahaanmu juga lancar ya."


"Aamiin, makasih Dad." jawab Jasmanie antusias. Ia pun menatap Misha dengan tatapan sinis.


"Ck, rasain tuh! Memangnya enak selama ini di kerjain dan di panas-panas in macam kompor?! Itu akibatnya kalau kamu pernah merebut Franklin dariku. Tapi biarin deh, untungnya saja sekarang aku sudah mendapatkan penggantinya yang lebih baik dan yang terpenting lebih peka!" sela Jasmine dalam hati.


Setelah itu mereka pun pamit pulang. Misha merasa kebingungan. Masih tidak percaya kalau selama ini Jasmine sudah menikah dengan pria lain. Merasa bodoh dan salah paham kalau ternyata Franklin dan Jasmine tidak memiliki hubungan apa-apa.


Fandi beralih menatap Misha. Ia hanya tersenyum sinis. Baginya menantunya itu selain pembawa masalah, tetapi juga kekanakan dan cemburuan tidak jelas.


Misha merasa tidak nyaman hati, akhirnya ia pun memilih pergi dari sana. Bahkan tanpa siapapun sadari, Franklin malah menatap kejadian tersebut sambil menghela napasnya dari kejauhan.


💘💘💘💘


Malam harinya, pukul 21.00 malam.


Franklin menatap Misha yang terlihat melamun dengan sendirinya didepan cermin rias. Ia bersedekap di dekat pintu kamar, memperhatikan istrinya yang sedikit berubah semenjak kejadian tadi siang.


Misha terlihat murung. Dalam hati Franklin berharap kalau istrinya itu meminta maaf padanya setelah selama ini salah paham dengannya.


Franklin menghela napasnya. Merasa kalau Misha mungkin masih syok dengan apa yang terjadi. Dengan santai ia memakai jaket hitam yang ada di walk in closet kemudian meraih kunci mobil untuk segera keluar. Misha menatap kepergian Franklin setelah pintu kamar di tutup. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Ia mengerutkan keningnya.


"Kemana Mas malam-malam begini? Kok cuma diam dan nggak izin sama aku?"


Merasa was-was, Misha pun segera berganti pakaian kemudian memakai Khimar untuk mengikuti jejak Franklin.


"Suami pergi malam-malam harus diketahui dengan jelas." ucap Misha dengan sendirinya. Ia pun segera keluar kamar dan menuju lantai bawah. Sebelum tiba di garasi parkiran kendaraan, Misha terdiam sejenak, menatap deretan kunci kendaraan yang tergantung rapi di dinding.


Diantaranya ada kunci 10 unit mobil mewah pribadi dan 15 unit kunci motor matik dengan merek dan plat masing-masing.


"Ya Allah, bingung mau pakai yang mana."


Akhirnya Misha memutuskan meraih kunci motor matik dengan plat nomor    41 FA. Kemudian segera mengendarainya sambil mengecek dimana lokasi Franklin setelah memasang alat pelacak pada ponsel pria itu.


"Harus cepat. Jangan sampai telat."


Misha mengikuti Franklin. Setelah 10 menit kemudian, Misha tercengang. Mobil Franklin memasuki parkiran halaman hotel yang besar.


"Apa? Hotel? Ngapain malam-malam begini ke hotel? Urusan pekerjaan atau-"


Lagi-lagi Misha tercengang. Ia membuka kaca helmnya sambil menyipitkan kedua matanya. Dengan jelas ia melihat Franklin keluar dari mobil dan berbicara dengan seorang wanita cantik disana. Tak lama kemudian keduanya memasuki hotel bersama. Misha membuka helmnya dengan kesal. Bahkan meletakkan ke atas dudukan motor secara kasar.


"Ih, nyebelin! Ini nggak bisa di biarkan. Semua sudah jelas kalau Jasmine bukan orang ke tiga di antara kami. Lalu wanita itu siapa lagi?!"


Tanpa membuang waktu lagi, Misha memilih masuk dengan segala persiapan dan ancang-ancang untuk menangkap basah seorang Franklin yang baginya suami penuh teka-teki dan pertanyaan.


💘💘💘💘


Wkwkwkw 🤣🤣🤣


Franklin itu memang keterlaluan ya. Kira-kira ada apa lagi sih setelah ini? Memang kok ya, author nih suka bikin kalian penasaran dan gregetan..maaf deh 😂


Btw, sudah lega kan, soal Jasmine? 😆


Tetap stay di chapter selanjutnya yaaa 😘


JazzakallahKhairan sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga 🖤


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar