Chapter 61 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 21 Mei 2021

Chapter 61 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Sebulan kemudian..

Kediaman Hamilton, pukul 07.00 pagi. Jakarta


Misha menatap Feby dari kejauhan. Sudah sebulan ia disini bersama Franklin. Akhir-akhir ini Mommy Ayesha sering mengalami drop sehingga membuat Franklin harus berada didekat Mommynya.


Feby terlihat menimang bayi mungil yang baru saja di lahirakan seminggu yang lalu. Lagi-lagi cucu ke 7 keluarga Hamilton berjenis kelamin laki-laki.


Tiba-tiba Frankie datang, pria itu terlihat mencium pipi istrinya kemudian mencium kening putranya. Ketiganya pun akhirnya berjemur di bawah sinar matahari pagi yang masih hangat.


"Masya Allah, mereka terlihat bahagia." sela Misha dalam hati.


Hanya menatap Frankie dari jauh, seolah-olah ia seperti melihat Franklin sebagai seorang Ayah.


"Ya Allah, kapan hamba bisa seperti mereka?" ucap Misha lirih. Ia menunduk, melihat ke arah perutnya sendiri.


Sering kali Misha bertanya-tanya. Bagaimana rasanya menjadi ibu hamil? Bagaimana rasanya merasakan hadirnya calon janin di dalam rahim?
Dan bagaimana rasanya menjadi calon ibu?


"Misha?"


Seketika Misha tersadar, ia menatap ke arah Feby yang memanggilnya. Frankie sudah tidak ada disana. Dengan canggung ia berjalan mendatangi Feby.


"Apakah.. Kakak memanggilku?" tanya Misha ragu.


"Iya, aku memanggilmu."


Misha tersenyum canggung. Semenjak kedatangannya kemari, ia paling takut dan segan terhadap Feby. Sadar kalau Hamdan pernah menabrak putra wanita itu hingga nyaris kehilangan nyawanya.


"Sudah sarapan?" tanya Feby basa-basi.


"Belum. Em, Kakak sendiri?"


"Hanya minum susu saja." Feby tersenyum tipis. Ia menatap Misha yang terlihat sungkan dengannya. "Mau gendong?"


Misha terdiam. Tiba-tiba Feby menawarkan menggendong putranya. Apakah ia tidak salah dengar? Feby tak banyak berkata, ia malah mendekati Misha dan menyerahkan bayi mungilnya pada Misha. Hanya sebahagia itu, tanpa siapapun sadari rasanya Misha begitu terharu.


"Ternyata begini rasanya menimang bayi yang baru saja lahir." ucap Misha dalam hati. "Ya Allah, hamba benar-benar bahagia. Amanah Allah ini begitu lucu dan menggemaskan. Ya Allah, jadikanlah bayi ini kelak menjadi umat Nabi Muhammad Saw yang Soleh dan berbakati dengan kedua orang tuanya. Sehatkanlah dia dan panjangkan umurnya. Semoga dia senantiasa menjadi kaum Adam yang patuh pada perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Aamiin."


Misha tersenyum tipis, mendoakan bayi mungil itu seolah-olah merasa seperti putranya sendiri.


"Aku minta maaf setelah apa yang terjadi dalam beberapa bulan ini." sela Feby tiba-tiba.


Misha menatap Feby dengan tatapan tak percaya. "Kenapa.. Kakak minta maaf denganku? Kakak tidak salah."


"Justru kamu yang tidak salah. Yang salah hanya Kakakmu. Tidak seharusnya aku ikut membencimu sehingga membuatmu merasa kalau semuanya tidak adil. Ku harap kamu mau memaafkanku, Misha. Maklumi diriku yang sempat membencimu semata-mata karena sebagai seorang ibu, tentu saja aku sangat kecewa dan marah bila putraku terluka akibat orang yang tidak bertanggung jawab."


"Semua sudah berlalu, Kak. Justru aku yang ingin minta maaf sama Kakak atas nama Kak Hamdan."


"Bagaimana kabarnya saat ini?"


"Alhamdulillah dia baik." senyum Misha tipis, merasa lega karena akhirnya Feby, Aifa, dan Mommy Ayesha memaafkannya.


"Alhamdulillah. Semoga setelah bebas dari penjara, dia tidak mengulanginya kesalahannya."


"Aamiin."


Dari jarak jauh, Fandi menatap keduanya dengan pandangan datar. Disaat yang sama, salah satu asisten rumah tangga wanita paruh baya pun dengan sopan mendatanginya.


"Maaf Tuan mengganggu, sarapan pagi sudah siap."


"Baiklah. Ah sebentar."


Fandi terlihat menjaga ucapannya dan sedikit berbicara pelan. Kemudian asisten tersebut mengangguk lalu meninggalkan Tuannya untuk menjalankan tugasnya mendatangi Feby.


"Maaf Nona Feby?"


Feby dan Misha menoleh kearahnya. Asisten itu mendekati Feby dan terlihat berbisik, sementara Misha mencoba mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang ia timang.


"Maaf Nona, Tuan Fandi memberi tahu saya kalau anda tidak boleh menyerahkan cucunya pada Nona Misha. Beliau khawatir, kalau Nona Misha berbuat macam-macam pada putra Nona."


Seketika Feby terdiam. Dengan terpaksa ia mengangguk dan langsung mengambil alih bayinya pada Misha. Padahal sebenarnya ia tidak tega.


"Em, Misha ayo kita masuk. Sepertinya sarapan sudah siap. Sini, biar aku gendong." ucap Feby basa-basi.


Misha pun mengangguk. "Kakak duluan saja."


Setelah itu Feby dan asisten rumah tangga tadi pergi berlalu. Misha menatap kepergian Feby. Detik berikutnya air mata menetes di pipinya. Perkataan Asisten tadi tanpa sengaja didengarnya.


Merasa takut jika ketahuan menangis, akhirnya Misha pun pergi menuju kamar. Padahal ia merasa lapar, namun semua itu hilang akibat perasaannya yang terluka. Baru saja ia merasa lega karena orang-orang terdekat memaafkannya, kini luka itu kembali menghampirinya.


Sesampainya di kamar, Misha malah menyiapkan pakaiannya untuk di masukkan ke dalam koper. Sesabar apapun, tetaplah ia manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Tidak mudah baginya tinggal di tempat mertua yang tidak menyukainya bahkan membencinya. Lebih baik ia mengalah daripada bermasalah dengan Franklin. Pintu terbuka lebar, Franklin masuk setelah tiba dari ruang gym.


"Mas


"Ya?"


"Apakah.. aku boleh minta izin pulang ke Surakarta?"


"Kenapa pulang?"


"Aku.." Misha terdiam, mulai berpikir alasan yang tepat untuk suaminya. "Aku merindukan apartemen kita dan Fiyah di panti asuhan." ucap Misha akhirnya.


Franklin berjalan mendekat. Misha memilih menundukkan wajahnya, berusaha menahan air matanya. Jangan sampai Franklin tahu. Cukup ia dan Allah saja yang tahu dan sadar bagaimana posisinya saat ini.


Franklin menyentuh dagu Misha, Misha mendongakkan wajahnya. "Apakah Daddy berucap sesuatu yang menyakiti hatimu?"


"Enggak. Se.. semuanya baik. Aku hanya.. ingin pulang."


Franklin mencium kedua mata Misha hingga membuat istrinya itu terpejam. Semarah apapun dengan Franklin akibat perbuatan Jasmine, sesungguhnya ia mencintai pria itu bahkan merindukannya.


"Bagaimana bisa kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan menangis?"


Misha menyandarkan kepalanya pada dada bidang Franklin. Tak perduli meskipun pria itu masih mengenakan kaus singlet ketat setelah berolahraga. Aroma Franklin yang wangi tercium di hidung Misha.


"Aku.. aku nggak nangis kok. Aku-"


"Kamu nggak pandai berbohong. Akhir-akhir ini kamu menjauhiku, menghindariku, bahkan tidak mengizinkanku tidur sambil memelukmu. Sesungguhnya aku merindukanmu. Malam ini, apakah semua bantal-bantal diantara kita itu, boleh aku jauhkan?"


"Aku juga kangen, Mas. Tapi-"


Pintu terketuk pelan. Franklin pun segera membuka pintunya. Seorang asisten rumah tangga dengan sopan tersenyum ke arahnya.


"Maaf Tuan, Nyonya Ayesha memanggil anda dan nona Misha untuk sarapan bersama. Jika anda menolak, maka Nyonya tidak akan sarapan."


"Baiklah, aku akan segera turun."


Asisten itu hanya mengangguk kemudian pergi. Franklin menutup pintunya dan Misha sudah tidak ada didepan matanya.


"Mi?"


"Mas, duluan saja ke bawah. Aku, sedang tidak enak badan." teriak Misha dari arah kamar mandi.


"Kamu sakit apa?"


"Tiba-tiba, aku lemas."


Franklin mendatangi Misha. Ia melihat Misha yang tengah berdiri didepan wastafel. Kucuran air keran mengalir dengan deras.


"Aku akan menyuruh asisten rumah tangga untuk membawakan sarapan kemari."


"Aku nggak mau sarapan."


"Tapi-"


"Aku ingin istirahat."


"Setidaknya sarapan dulu walaupun sedikit."


Misha menoleh ke belakang. Air mata mengalir di pipinya.


"Kenapa memaksaku? Aku nggak suka di paksa!"


"Kenapa kamu jadi marah denganku?" Seketika raut wajah Franklin berubah menjadi datar. Nada suara Misha terdengar marah bahkan ketus.


"Aku hanya lelah dengan semua ini."


"Lelah bagaimana? Tapi-"


"Tolong tinggalkan aku sendiri."


"Mimi-"


"TINGGALKAN AKU SENDIRI!"


Detik berikutnya Misha meluruh di lantai. Ia terduduk dengan lemas. Franklin sampai terkejut, Misha membentaknya. Tidak seharusnya seorang istri bersikap seperti itu didepan suaminya. Misha merasa malu, sadar ia sudah berucap kasar. Hanya suara isak tangis yang kini terdengar. Ia menyesal, tidak bermaksud demikian. Franklin ingin mendekat, namun ia menjauh.


Ntah kenapa Misha merasa frustasi. Ia merasa lelah terhadap sikap Daddy mertuanya, merasa lelah dengan sosok Jasmine yang masih menjadi tanda tanya besar bahkan Franklin yang masih enggan untuk menjelaskan secara detail terhadap hubungannya dengan Jasmine. Apalagi rasa rindu yang sangat besar terhadap Franklin namun terhalang perasaan kecewa dengan pria itu.


Franklin tak banyak berkata, ia memutuskan untuk pergi keluar kamar mandi. Setelah pintu di tutup, tiba-tiba perasaan tidak nyaman terasa di perut Misha.. 


Misha segera berdiri ke arah wastafel. Perasaan bergejolak pada perutnya membuatnya berakhir dengan mual dan muntah tanpa mengeluarkan apapun. Hanya liur pahit serta kepala yang pusing.


"Ya Allah, kenapa tiba-tiba semuanya terasa sakit?"

****


Alhamdulillah aku sudah up ya... 😊


Part kali ini, sedikit nyesek, tapi sesungguhnya pasti kalian sudah mulai bertanya-tanya dan menebak kenapa dan ada apa dengan Misha sekarang? 😁


Tetap stay di cerita ini, ya. Harus sabar dengan author yang ngaret update dan sabar dengan sikap si Kakek Fandi 🙃😆


JazzakallahKhairan ukhti sudah baca. Sehat selalu yaa.. ❤️


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram ; lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar