Chapter 60 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 22 Mei 2021

Chapter 60 : Mencintaimu Dalam Doa



Flashback, seminggu yang lalu..


"Kamu yakin dengan cara seperti ini?"


"Tentu saja aku yakin." Jasmine tersenyum licik, "Bahkan aku nggak perduli dengan perasaan Misha saat ini. Bahkan.."


Jasmine berjalan ke arah sofa. Dengan santai ia duduk sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Bahkan wanita itu tidak hamil-hamil sampai sekarang."


"Tapi itu sangat beresiko." Pria muda yang ternyata orang kepercayaannya sejak dulu itu pun, terlihat tidak setuju. "Rumah tangga mereka bisa bermasalah dan-"


"Sudah aku transfer ya." potong Jasmine santai. Ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu. "Kalau kurang, silahkan bilang. Nanti aku transfer lagi."


Pria muda itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Jasmine dengan pandangan datar kemudian segera menjalankan tugasnya untuk membuka laptop. Kedua jari-jarinya mulai mengetik sesuatu disana.


Jasmine pun akhirnya pergi. Apa yang ia rencanakan pasti akan berhasil. Dan hanya tinggal menunggu air mata Misha, adalah kepuasan sendiri baginya.


****


Rumah sakit Kota Jakarta, pukul 19.00 malam

Ayesha menatap Franklin yang sudah ia rindukan sejak lama. Ia menggenggam punggung tangan putranya yang kini menatapnya cemas.


"Insya Allah Mommy akan baik-baik saja. Dokter menyuruh Mommy di rawat 2 sampai 3 hari disini. Gula darah Mommy lagi tinggi, badan juga lemas."


"Mommy harus banyak istirahat. Semoga Mommy cepat sembuh." ucap Franklin khawatir.


"Aamiin." Ayesha tersenyum, lalu kedua matanya menatap Misha yang berdiri dibelakang Franklin dengan canggung. Tanpa sengaja ia juga menatap kearah perut Misha yang masih rata, menandakan kalau menantunya itu ternyata belum hamil hingga sekarang.


"Sayang, kemarilah."


Misha segera mendekat dan Franklin sedikit memberi jarak. Padahal sudah 6 bulan berlalu, namun Misha masih secanggung itu dengan mertuanya.


"Mommy senang akhirnya kita bertemu lagi. Kamu mau kan, nginap di rumah Mommy selama seminggu?"


Misha terdiam, hubungannya dengan Daddy mertuanya saja masih bermasalah. Bagaimana jika tinggal satu atap dalam 7 hari kedepan?


"Kamu jangan takut sama Daddy." Ayesha tersenyum, menyadari ketakutan menantunya. "Em, Mommy harap kamu harus sabar ya. Ini hanya masalah waktu kok. Mommy yakin, suatu saat Daddy bisa memaafkan semuanya."


"Aamiin. Aku harap, Daddy bisa menerima diriku, Mom." lirih Misha pelan.


Ayesha menyentuh pipi Misha. "Putri Mommy jangan sedih ya, atau pangeran tampan nanti akan bersedih. Dia sudah tampan bahkan semenjak menikah saja, dia terlihat gemuk."


Franklin hanya tersenyum miris. Sepertinya ia harus mulai rutin nge-gym besok pagi agar berat badannya tetap ideal meskipun sebenarnya ia juga merasa semenjak menikah dengan Misha, bawaannya pengen makan masakan istrinya.


Pintu terbuka, Aifa masuk dengan penampilan yang berbeda. Pipinya semakin chubby karena usia kehamilan yang sudah berjalan 7 bulan.


"Assalamualaikum semua!"


"Wa'alaikumussalam." kompak  semuanya menjawab salam dari Aifa. Dengan rasa bahagia, Aifa segera memeluk Franklin.


"Kakak kangen sama Adek. Akhirnya pulang. Ih, kok Franklin tambah gemukan sih?"


"Alhamdulillah."


"Tapi Franklin tambah tampan kok."


"Terima kasih."


"Nggak ada pertanyaan gitu, buat Aifa?"


"Semoga Kakak sehat selalu."


Aifa mendengkus kesal. Franklin tetaplah Franklin yang irit bicara sejak dulu. Ia pun beralih menatap Misha yang terlihat tidak nyaman terhadap situasi. Aifa tersenyum ramah dengan raut wajah bersalah dan melepaskan pelukannya pada Franklin.


"Misha, Aifa minta maaf ya atas kejadian 6 bulan yang lalu. Aifa salah, seharusnya Aifa tidak menyalahkan Misha sepenuhnya. Kan Aifa sayang Misha. Apalagi dari dulu Aifa suka adik perempuan."


"Ya Allah, Kakak.." jawab Misha dengan perasaan haru. "Sejujurnya aku sudah maafin Kakak kok."


"Beneran?"


"Iya, Kak." Dan Misha pun akhirnya memeluk Aifa. Aifa membalas pelukan adik iparnya. Disaat yang sama, pintu lagi-lagi terbuka. Fandi masuk dengan santai namun terlihat enggan menatap Misha.


"Assalamualaikum, Dad." sapa Franklin sambil mencium punggung tangan Daddynya.


"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, putra kebanggaanku akhirnya datang."


Misha langsung mencium punggung tangan Fandi, mau tidak mau Fandi menerimanya meskipun akhirnya malah menatap ke lain.


"Bagaimana kabarmu, nak?" tanya Fandi pada Franklin.


"Alhamdulillah, baik, Dad. Apakah Daddy sehat?"


"Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah sehat. Tapi sebenarnya sedang sedih."


"Daddy sedih kenapa?" sela Aifa tiba-tiba.


"Sedih karena Mommy kamu sakit. Baru saja dia bisa berjalan berkat bantuan kaki palsunya. Namun Allah memberi ujian kesabaran buat kita. Mommy hanya belum terbiasa memakai kaki palsu sehingga saat di kamar mandi jatuh terpeleset dan pingsan."


"Ya Allah, Mommy.." ucap Aifa Sedih.


Ayesha tersenyum dengan raut wajah pucat. "Mommy baik-baik saja nak, jangan khawatir."


"Biar bagaimanapun kami semua mengkhawatirkanmu. Kalau bukan akibat insiden kecelakaan 6 bulan yang lalu dan membuatmu kehilangan satu kaki, maka kondisimu tidak separah ini, Ay."


Franklin terdiam. Ucapan Daddynya tadi adalah sindiran buat istrinya. Tentu saja ia memahami hal itu. Dengan cepat Franklin menggenggam pergelangan tangan Misha.


"Em, Mom, Dad, apakah aku boleh izin pulang duluan? Aku lelah setelah penerbangan tadi sore."


"Pulanglah dan segera istirahat. Jangan lupa makan malam dulu. Pokoknya semua anak Mommy harus tinggal dirumah Mommy untuk sementara waktu. Mommy ingin berkumpul sama kalian setelah selesai di rawat disini."


"Baik, Mom." sela Aifa yakin di ikuti dengan anggukan Franklin. Setelah itu Franklin pamit pulang dan keluar ruangan. Setelah sepeninggalan mereka, Aifa pun duduk di samping Mommynya.


"Mom, perut Misha masih rata ya?"


"Terus?"


"Berarti Aifa belum ada calon keponakan dong? Aifa kira, Misha sudah hamil."


"Doakan saja, Aifa. Kehamilan itu bukan siapa cepat dia dapat, tapi rezeki yang datangnya dari Allah. Kalau Misha belum hamil, berarti Allah belum memberinya rezeki."


"Iya juga sih. Oh iya, tadi pagi Aifa USG. Alhamdulillah insya Allah baby nya cowok lagi."


Ayesha tertawa kecil. Ia pun menarik sedikit tubuh putrinya agar lebih mendekat kearahnya kemudian mencium pipinya.


"Alhamdulillah, itu berarti jagoan cilik dirumah kita nanti semakin bertambah."


Fandi hanya tersenyum melihat dua wanita yang ia sayangi. Sungguh ia begitu bahagia. Disaat yang sama, ia juga teringat ucapan Aifa yang bertanya-tanya mengapa Misha belum hamil hingga sekarang.


"Ck, baguslah kalau wanita itu tidak hamil. Rupanya Franklin sudah menepati janjinya padaku 6 bulan yang lalu." sela Fandi dalam hati. Tanpa siapapun sadari, ia tersenyum puas.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Sabar ya sabar, kudu tahan emosi sama di Kakek Fandi yang dendam kesumat sama Misha πŸ˜πŸ˜‚


JazzakallahKhairan sudah dengan senang hati menanti aku up dan sesabar itu mengikuti kisah iniπŸ–€


Sehat selalu buat kalian semua ya.. 😘


With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii






Tidak ada komentar:

Posting Komentar