Chapter 59 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 22 Mei 2021

Chapter 59 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Jakarta, Pukul 18.00 petang.


Sayup-sayup Franklin membuka kedua matanya. Di sebelahnya ada Misha yang tidur dengan pulas. Tak hanya itu, tanpa diduga istrinya itu malah memberi batas dua tumpukan bantal diantara mereka.


Franklin menatap wajah Misha yang sangat natural cantik ketika tertidur. Ia tersenyum kecil, disaat yang sama, ia juga merindukan Mishanya yang lembut sekaligus pikirannya yang mulai kotor untuk menyentuh Misha saat ini juga. Tapi tidak, saat ini Misha bagaikan singa betina yang buas untuknya.


Franklin mengecek jam di pergelangan tangannya, pukul 18.00 petang. Apakah pesawat yang ia naiki sudah mendarat di Jakarta? Untuk memastikan, Franklin segera turun dari tempat tidur dan melihat kearah jendela. Rupanya pesawatnya sudah mendarat dengan baik.


Franklin berjalan kearah meja kecil samping tempat tidurnya, mencari Dompet dan ponselnya namun tidak menemukannya sama sekali.


"Mas cari ini?"


Tiba-tiba Misha menegurnya. Rambut istrinya terlihat sedikit berantakan, sama seperti ketika istrinya itu berada di bawahnya, dan Franklin rasanya ingin memukul kepalanya saat ini juga karena pikiran yang tidak-tidak.


"Aku butuh dua benda itu."


"Mulai sekarang, semua komunikasi ponsel Mas, aku yang ambil alih."


"Lalu?"


"Semua isi dompet, uang, kartu ATM, aku juga yang pegang."


"Oke."


"Aku ingin mengecek semua transaksi Mas, kemana saja uangnya, beli apa dan buat apa? Ya, siapa tahu uangnya di gunakan untuk membeli barang-barang wanita yang tidak pernah sampai ke aku, em, contohnya Parfum seperti ini?" sindir Misha sambil memperlihatkan parfum kecil yang ia temukan di saku celana Franklin tadi pagi.


Franklin hanya diam, tidak bereaksi apapun. Ia pun membalikkan badannya dan menuju pintu luar. Sebentar lagi adzan magrib akan segera tiba. Ia harus segera mencari mushola di bandara sebelum menuju rumah sakit menjenguk Mommynya. Akhirnya Misha merasa gemas.


"Cuma begitu saja? Nggak nanya kenapa aku begini?"


"Tidak perlu."


"Kok begitu? Mas, tunggu!


Franklin sudah memegang kenop pintunya, hendak keluar namun Misha malah mencegah lengannya.


"Setidaknya tanya, kenapa aku melakukannya. Janganlah suka mengabaikan suatu hal apalagi ucapan dariku."


Franklin bersedekap, dengan senang hati ia melihat istrinya yang mulai mengomel. Tanpa sengaja matanya terfokus pada bibir Misha.


"Mas, kalau aku ngomong perhatiin aku, jangan kesini." tunjuk Misha ke arah bibirnya.


"Maaf,"


"Pokoknya-"


"Kalau bicara sama aku langsung ke intinya, seorang suami tidak perlu di beri kode-kode sehingga harus membuatnya peka. Kita sudah menikah, bukan anak muda atau remaja jaman sekarang."


"Tapi, kan-"


"Setidaknya setelah mendengar ucapan istri, seorang suami nantinya akan berpikir menggunakan akal dan logika. Bukan pakai perasaan seperti seorang wanita pada umumnya."


Seketika Misha terdiam. Ucapan Franklin ada benarnya. Namun karena ia merasa tidak puas, Misha malah memajukan langkahnya sehingga membuat Franklin mundur.

Misha mengerutkan dahinya.


"Kenapa mundur?"


"Sebentar lagi mau Adzan Magrib, sekali kamu mendekat, aku akan tergoda."


"Mas pikirannya ngeres mulu sih.."


"Karena aku pria normal."


Tiba-tiba Franklin mencium dahinya dalam sekali kecupan. Sesungguhnya ia sangatlah mencintai Mishanya. Setelah itu, ia pun pergi dan bersiap-siap untuk keluar dari pesawat.


"Tadi aku menghubungi Aldi."


Franklin menghentikan langkahnya dan tidak jadi membuka pintu kamar. Ia terdiam sejenak sambil memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya.


"Aku bertanya padanya tentang urusan pekerjaan, termasuk urusan bisnis Mas dengan si wanita penggoda itu." ucap Misha sewot. "Bahkan aku-"


"Kamu menghubungi Aldi tanpa sepengetahuanku?"


"Bagaimana dengan Mas? Berkomunikasi dengan Jasmine diam-diam apalagi-"


"Aku dan Jasmine, hanya rekan bisnis."


"Aku dan Aldi juga berkomunikasi-"


Franklin membalikkan badannya. "Adab seorang istri, jika berkomunikasi dengan seorang pria yang bukan mahramnya, akan lebih baik bila izin terlebih dahulu dengan suaminya. Meskipun tidak ada hal penting apapun."


"Kenapa ingin menang sendiri?"


Misha meringis, ketika tanpa diduga Franklin malah memegang kedua bahunya dan menyenderkannya pada dinding kamar.


"Aku tidak bersikap seperti itu."


"Benarkah? Jika memang-"


BUG! Dengan kesal akhirnya Franklin meninju dinding pesawat yang terbuat dari besi tepat di samping Misha. Emosinya pun telah terpancing setelah sebelumnya ia tidak pernah semarah ini.


"Aku cemburu Misha! Aku cemburu."


Misha terbungkam. Ia masih memejamkan kedua matanya karena merasa takut. Ini pertama kalinya setelah mengenal Franklin, ia melihat pria itu marah.


"Aku tidak bermaksud mengekang istriku. Tapi sebagai seorang suami, aku tidak ingin bersikap Dayyuts yang artinya membiarkan keburukan terjadi dalam keluarganya apalagi tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. Apakah kamu lupa, syaitan bisa saja menyelinap diantara dirimu dan Aldi kapan saja meskipun berawal dari komunikasi biasa?"


Akhirnya Misha membuka kedua matanya, air mata mengalir di pipinya. Franklin memalingkannya wajahnya ke lain, ia tidak sanggup melihat air mata Misha sejak dulu.
Ntah kenapa hatinya melemah. Merasa tak sanggup, ia pun pergi keluar kamar.


Misha menghapus air mata di pipinya. "Kalau begitu, apa susahnya sih, jelasin ke aku ada apa sebenarnya Mas dengan Jasmine selama ini? Kenapa aku masih kurang puas dengan semua penjelasan tadi? Aku merasa masih banyak teka-teki."


Tiba-tiba ponsel Franklin berdering, nomor tak di kenal pun masuk, Misha segera mengangkat panggilan tersebut. Misha berdeham, menyamarkan suara isak tangisnya.


"Halo, Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumussalam. Bisa bicara dengan Tuan Franklin?"


"Maaf, dengan siapa saya berbicara?"


"Ah perkenalkan, saya Candra. Ini mengenai urusan bisnis perusahaan."


"Untuk urusan bisnis bisa melalui saya juga Pak Candra. Saya istrinya dan kebetulan mulai sekarang saya yang-"


"Jadi, apakah sekarang si wanita pembawa masalah ini yang mulai menguasai perusahaan putraku?"


Tiba-tiba Misha terdiam. Suara seberang panggilan yang tadinya terdengar ramah, berubah menjadi lebih berat dan sinis. Putraku? Apa jangan-jangan pria yang sekarang berbicara padanya saat ini adalah, Daddy mertuanya?


"Maaf, apakah.. apakah ini Daddy? Bu..bukan Pak Candra?" tanya Misha mulai takut.


"Menurutmu, siapa yang paling membenci dirimu selain diriku yang terluka setelah apa yang kalian perbuat dengan keluarga kami? Ah, kamu lupa ya, Kakakmu adalah si penyebab istriku tidak bisa berjalan lagi?"


"Maaf.. ma..maafkan aku Dad. Aku-"


Tut.. Tut.. Tut.. panggilan pun terputus. Wajah Misha berubah menjadi pucat. Pintu terbuka, Franklin sudah mengganti pakaiannya menjadi baju Koko berwarna putih. Ia menatap istrinya dengan wajah penyesalan setelah sempat membuatnya takut. Namun di saat yang sama, ia juga mengerutkan dahinya.


Misha segera membalikkan badannya, seolah-olah menghindari situasi hanya untuk memakai khimar kemudian meraih slinbag yang ia bawa. Setetes air mata dan rasa takut menyapa hatinya.


"Tuan Franklin? Maaf menganggu." sapa salah satu pramugara didepan pintu kamar Franklin.


"Ya?"


"Tuan Fandi ingin berbicara dengan anda." ucap Pramugara tersebut sambil memegang ponsel. Franklin menerima ponsel tersebut.


"Ya, Dad?"


Franklin terdiam, mendengar semua ucapan Daddynya yang membuatnya tak menyangka. Ia menatap istrinya sejenak, sekarang ia tahu, mengapa wajah Misha begitu pucat saat ini.


Setelah panggilan berakhir, ia mendekat Misha dan berniat memeluknya. "Maafin aku. Aku khilaf telah membuatmu takut karena aku begitu cemburu."


"Aku, aku.. tidak apa-apa." lirih Misha pelan. Ia pun akhirnya memilih pergi keluar kamar, ia menolak di peluk oleh suaminya sendiri.


💘💘💘💘


Alhamdulillah, aku sudah up ya, nggak kerasa sudah chapter 59. Btw, ini salah satu cerita terlama aku. Di publish pertama kali November 2019 😂 eh sekarang sudah September 2020.


Mungkin bawaain hamil kali yak, jadinya sedikit ngaret gak kayak biasanya 😆


Tapi, nikmati aja deh, bagaimana Fandi kedepannya, sampai kapan nggak suka sama Misha 😐


Dan sesabar apa Misha menghadapi si santuy Franklin 😁


JazzakallahKhairan sudah baca. Sehat selalu buat ukhti sekeluarga 😘


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar