Chapter 58 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Sabtu, 22 Mei 2021

Chapter 58 : Mencintaimu Dalam Doa


Flashback, 6 bulan yang lalu..


Jasmine baru saja memarkirkan mobilnya dengan rapi tepat didepan apotik. Padahal kepalanya sedang pusing, belum lagi rasa mual yang begitu menyiksa, namun sebisa mungkin ia harus ke apotik sekarang juga. Ia pun segera membuka pintu mobil namun menghentikan niatnya ketika melihat seorang wanita yang ia kenal baru saja keluar dari apotik memakai gamis dan khimar berwarna coklat muda.


"Bukankah itu, Misha?"


Sejenak, Jasmine terdiam. Setelah kepergian Misha dari apotik, Jasmine pun keluar dari mobilnya dan memasuki apotik tersebut.


"Selamat siang, Kak? Ada yang bisa saya bantu?"


Jasmine mengangguk. "Iya, saya beli tes kehamilan yang akurat dua, ya."


Wanita muda yang menjadi petugas apoteker pun tersenyum ramah. Sembari menunggu, rasa penasaran Jasmine semakin memuncak.


"Ini, Kak, silahkan bayar di kasir ya. Ada lagi bisa saya bantu?"


"Oh iya, Mbak, boleh tanya sesuatu nggak?"

"Boleh. Apakah ada tambahan produk obat-obatan yang lain?"


"Bukan," Jasmine menggeleng pelan. "Cuma mau nanya, wanita yang pakai gamis warna coklat muda tadi beli apa ya?"


"Yang baru keluar 5 menit yang lalu ya?"


"Iya benar."


Petugas apoteker itupun tersenyum lagi. "Ah, iya Kak, tadi dia kemari membeli obat pil kontrasepsi, itu saja."


Jasmine terdiam. Ia pun segera mengucapkan terima kasih dan membayar semua kebutuhannya di kasir. Setelah itu, tanpa siapapun sadari, tiba-tiba ia tersenyum angkuh sembari keluar menuju mobilnya.


"Ah, jadi dia menunda punya momongan ya?"



💘💘💘💘


Rumah Sakit Kota Surakarta, pukul 13.00 siang.

Vita menatap Misha yang kini masih terbaring lemah di brankar pasien UGD rumah sakit. Ia menggenggam pelan punggung tangan Misha yang tidak terpasang jarum impus, disaat yang sama Misha pun akhirnya membuka kedua matanya.


"Vita?"


Misha berusaha untuk bangun, namun secepat itu Vita mencegahnya.


"Pelan-pelan, nanti kamu bisa kesakitan."


"Memangnya aku kenapa?" tanya Misha kebingungan, ia menatap sekitarnya. "Aku di UGD? Kok bisa?"


"Tadi kamu pingsan." jelas Vita. "Pak Franklin panik banget. Terus waktu jam istirahat, aku langsung kemari. Kamu sakit apa, sih?"


"Aku nggak tahu." geleng Misha pelan. "Aku cuma lemas dan sedikit pusing."


Tirai pun terbuka pelan. Salah satu suster rumah sakit memeriksa kondisi Misha. Kemudian mengecek tekanan darah yang ternyata begitu rendah.


"Tekanan darah kamu rendah. Tadi aku sempat tanya Dokter, katanya kamu juga maag." ucap Vita lagi.


Misha tak banyak berkata. Ia pun membaringkan tubuhnya dengan pelan. Sekelebat bayangan beberapa jam yang lalu kembali terlintas di pikirannya.


"Kamu kenapa, Mi? Mau cerita?"


"Aku, nggak apa-apa kok, Ta."


"Sejak dulu kamu memang nggak pandai berbohong. Memangnya ada masalah apa? Siapa tahu aku bisa bantu."


Bukannya menjawab, Misha malah merubah posisi memunggungi Vita. Air mata mengalir di pipinya. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya pada Vita. Sudah lama sekali ia tidak bercerita banyak hal bersama sahabatnya seperti di masalalu sebelum menikah. Tapi, bukankah urusan Franklin, Jasmine, dan rumah tangganya adalah aib?


"Mi, please, aku rela loh pergi kesini demi kamu. Kamu kan sahabat aku, secara tidak langsung aku ada untukmu meskipun tidak sepanjang waktu."


"Aku baik-baik saja. Nggak ada yang perlu di khawatirkan."


"Baik-baik saja tapi menangis?"


Seketika Misha terdiam lagi. Ia pun tak mampu menyembunyikan Isak tangisnya sendiri. Tiba-tiba seorang pria berdiri di samping Vita. Vita pun menoleh kesamping dan terkejut, ada Franklin berdiri di sebelahnya dengan raut wajah datar seperti biasanya.


"Kamu kenapa, Mi? Lagi sakit hati? Atau ada masalah dengan suami kamu?" tanya Vita lagi yang terdengar sinis. Seolah-olah sedang menyindir Franklin.


"Aku, nggak kenapa-kenapa, Ta. Beneran.."

"Tapi, hati kamu pasti lagi sakit kan, sekarang?"


Akhirnya Misha pun mengangguk lemah. Detik berikutnya Vita pun berdiri, semua sudah jelas. Pasti ada sesuatu antara Misha dan Franklin. Ntah kenapa tiba-tiba Vita merasa kesal dengan Franklin.


"Yaudah, sabar, ya. Semoga orang yang lagi nyakiti kamu cepat sadar dan peka terus minta maaf. Dosa banget tuh, bagi orang yang dzolimi kamu."


"Aamiin, makasih Ta. Setelah semuanya baik-baik saja, temenin aku ke panti ya. Aku kangen Fiyah. Dia sudah aku anggap seperti anak aku sejak dulu. Jadi bawaannya kangen terus sama dia."


"Iya deh, Iya. Nanti aku temenin. Atur saja jadwalkan. Hm, kamu bilang begitu seperti naluri seorang Ibu yang kangen sama anaknya. Semoga cepat hamil ya."


Setelah mengatakan itu, Vita pun pergi berlalu tanpa sepengetahuan Misha. Franklin sampai merasa jengah kenapa Vita begitu sensi dengannya.


"Dasar wanita nggak bisa move on setelah aku tolak. Kenapa dia begitu kesal denganku?" sela Franklin dalam hati dengan rasa percaya dirinya.


"Iya, Ta, kamu benar. Aku seperti seorang Ibu yang merindukan anaknya. Tapi sayang, untuk saat ini calon anak kandung belum ada dirahimku." sela Misha tiba-tiba hingga membuat Franklin terdiam.


Franklin ingin menyahut, namun ponselnya bergetar tanpa nada panggilan di saku celananya. Franklin pun akhirnya memilih keluar sejenak dan nama Aifa terpampang di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, iya, Kak?"


"Wa'alaikumussalam. Franklin.." suara Aifa terdengar sedih.


"Ada apa?"


"Cepat pulang ke Jakarta. Mommy nggak sadarkan diri. Sekarang dirumah sakit."


Franklin terbungkam. Perasaan takut menyapa hatinya. Mommy yang ia sayangi dan cintai tiba-tiba sakit.


"Franklin, kok diam? Tolong jawab, kondisi Mommy benar-benar kritis.."


"Oke aku akan ke Jakarta sekarang. Assalamualaikum." jawab Franklin singkat tanpa bertanya lebih lanjut.


Dengan cepat Franklin pun kembali menuju tempat dimana Misha berada. Seketika Franklin terkejut. Misha tidak ada di atas brankar pasien bahkan melepas impusan yang tadinya terpasang di punggung tangannya.


"Kemana dia? Kenapa tidak ada?"

💘💘💘💘


30 menit kemudian..

Misha menatap Fiyah sambil tersenyum geli. Rasa bahagia memang hanya sesederhana itu, ketika ia ke panti asuhan sambil membawa beberapa kantong plastik berisi Snack dan kue-kue tradisional untuk Fiyah dan anak-anak panti lainnya.


"Em, Bunda, ini enak banget. Bunda mau nyoba?"


"Bunda sudah kenyang." Misha menyentuh ujung bibir Fiyah, terdapat sisa remahan Snack disana.


"Fiyah kangen sama Bunda. Semenjak Bunda menikah, Bunda jarang kesini."


Misha pun mengusap kepala Fiyah. "Maafin Bunda ya, sudah seharusnya Bunda bersama suami Bunda. Kan Bunda harus berbakti sama dia."


"Meskipun sekarang ada wanita lain di belakangku.." tambah Misha dalam hati.


"Kok Bunda menangis? Bunda kenapa? Fiyah nakal ya?"


"Ha?" dengan cepat Misha menghapus air mata di pipinya. "Enggak kok. Fiyah-"


Seketika Misha terdiam, ia melihat kearah jendela ruang tamu panti asuhan. Ada mobil Franklin disana yang baru saja terparkir. Misha pun panik karena sejak tadi ia menghindari suaminya itu yang sudah menyakitinya.


"Fiyah, kalau ada Om Franklin kesini. Bilang sama dia, Bunda nggak ada."


"Loh, kenapa Bun? Tapi-"


Misha pun memegang pipi Fiyah. "Pokoknya bilang begitu saja, ya,"



Secepat itu Misha langsung berlari ke dalam tanpa menunggu jawaban dari Fiyah. Beberapa menit kemudian, Franklin masuk dengan raut wajah datar seperti biasanya. Ia menatap gadis kecil yang sudah lama ia kenal semenjak menikah dengan Misha. Gadis kecil yang sudah di anggap Misha seperti anak angkat sejak usia gadis tersebut baru lahir. Franklin pun tersenyum tipis.


"Assalamualaikum, Fiyah?"


"Wa'alaikumussalam, Om Franklin."


Dengan sopan Fiyah mencium punggung tangan Franklin. Ia tersenyum ceria.

"Om ngapain kesini?"


"Om kesini cari Bunda." Franklin terdiam, mempersiapkan sebuah pertanyaan yang sekiranya paling mudah di jawab anak seusia Diyah. "Oh iya, tadi ada pesan nggak dari Bunda?"


Fiyah mengangguk patuh seperti bocah penurut. "Ada Om. Kata Bunda gini, kalau ada Om Franklin kesini, bilang sama dia, Bunda nggak ada." jawab Fiyah polos.


"Oh begitu." Franklin tersenyum puas. "Terus, setelah bicara begitu, Bunda pergi kemana?"


"Bunda pergi kearah sana dan masuk ke dalam."


Dalam hati Franklin merasa menang. Pria seperti dirinya tentu saja tidak mudah di bohongi. Hanya urusan Misha, baginya adalah hal yang mudah.


"Kalau begitu, terima kasih ya," Franklin mengeluarkan uang 500rb. "Ini, kasih ke Ibu Panti ya, bilang sama Ibu kalau uang ini dari Om buat jajan permen bersama teman-teman lainnya."


"Alhamdulillah..." Fiyah tersenyum berbinar. "Yey, rezeki anak Solehah. Om Franklin baik sekali. Semoga Om Franklin dan Bunda Misha punya anak secantik dan seimut Fiyah. Aamiin."


"Aamiin," Franklin tersenyum tipis sambil mengusap kepala Fiyah. Karena mengusap kepala anak yatim memiliki keutamaan.


Ketika berjumpa anak yatim
Maka dekap dia
Usaplah kepalanya
Rasakan hausnya ia
Akan kasih sayang, pengajaran
dan teladan sosok ayah


Mengapa mengusap kepala?
Karena ini sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam
Sabda ini keluar dari lubuk hati
Karena beliau merasakan menjadi yatim-piatu.


Lembutkan hati
Dan mengobati kerasnya hati.
Keras hati malas beribadah.
Malas melakukan kebaikan


ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﺷَﻜَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺴْﻮَﺓَ ﻗَﻠْﺒِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ: ﺇِﻥْ ﺃَﺭَﺩْﺕَ ﺗَﻠْﻴِﻴْﻦَ ﻗَﻠْﺒِﻚَ ﻓَﺄَﻃْﻌِﻢِ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻣْﺴَﺢْ ﺭَﺃْﺱَ ﺍﻟْﻴَﺘِﻴْﻢِ


Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seseorang yang mengeluhkan kerasnya hati kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau berkata kepadanya:
"Jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak
yatim."


Setelah itu, Franklin pun segera mendatangi Ibu pemilik panti asuhan dan meminta izin masuk ke dalam untuk mendatangi istrinya.

💘💘💘💘


Sore harinya, pukul 16.30


Misha enggan menatap Franklin sama sekali. Ia duduk di mobil dengan tenang sambil bersedekap setelah suaminya itu dadakan menjemputnya di panti asuhan.


"Mas.."


"Hm."


"Kamu peka atau nggak sih?"


"Menurutmu?"


"Aku lagi marah dan kamu diam begitu saja? Nggak ada niat beri aku penjelasan atas semuanya atau membujuk aku supaya nggak marah lagi?"


"Tidak."


Misha merasa gemas. Ia pun akhirnya mengalah dan menoleh ke samping. Dilihat Franklin tetap santai seperti biasanya dengan raut wajah datar meskipun ketampanannya tidak berkurang sedikit pun.


"Jadi, sekarang jelasin aku. Jasmine siapanya kamu?"


"Dia-"


"Dia apa?!" kesal Misha, berusaha menahan kesabarannya sejak tadi.


"Dia hanya rekan bisnis."


"Rekan bisnis perusahaan atau bisnis-bisnisan?"


"Bisnis "


"Mas pikir aku nggak dengar semua pembicaraan tadi siang? Dia hamil terus-"


Franklin pun memarkirkan mobilnya. Dua orang pria stelan formal membuka pintu mobil untuk Franklin dan Misha.


"Selamat sore, Tuan Franklin."


"Selamat sore, Nona Misha.


Misha merasa kebingungan menatap di sekitarnya. Kenapa ia dan Franklin berada di area parkiran mobil bandara?


"Mas, kita mau kemana?"


Franklin terlihat sibuk mengecek ponselnya sambil berjalan memasuki bandara. Misha bertambah kesal apalagi merasa di abaikan. Apalagi sekarang ada pesawat pribadi milik Franklin terlihat didepannya.


"Mas, kita mau kemana sih? Mau ke luar kota? Kok nggak bilang-bilang?"


"Mas.."


Rasanya Misha ingin menyubit seluruh tubuh Franklin hingga pria itu kesakitan. Tapi nyatanya Misha malah mengikuti Franklin menaiki anak tangga satu per satu dari belakang. Sesampainya di dalam pesawat, Misha menghentakkan kedua kakinya. Franklin menatap Misha dengan raut wajah datar, terlihat santai seolah-olah Misha bukanlah hal yang penting.


"Bisa jawab nggak sih? Aku nggak suka jadi istri yang di abaikan?!"


"Katakan pada Frankie bahwa sebentar lagi pesawat kita akan lepas landas." ucap Franklin kepada salah satu pramugara yang memegang ponsel.


"Baik Tuan, permisi.."


"Terus pakaian kita gimana? Mas tahu sendiri kan, seorang wanita itu harus banyak persiapan? Bahkan aku nggak tahu kita mau kemana? Berapa hari disana, ngapain saja dan nginap di hotel atau villa.."


"Lalu?"


"Ya Allah, kuatkan hati hamba ya Allah.." sela Misha lagi. Wajahnya sudah cemberut.


"Mas, kenapa sih dari tadi diam saja? Kita mau kemana-"


Tiba-tiba Franklin menarik pinggul Misha, dengan jarak dekat ia menatap lekat istrinya.


"Ke hati kamu, puas?" bisik Franklin pelan.


Seketika Misha terdiam. Ia berusaha menjauh namun Franklin mencegah niatnya. Bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggul Misha.


"Ke hati aku? Hati Misha atau hati Jasmine?" cibir Misha sambil menatap ke lain.


Disaat yang sama, ponsel Franklin berdering. Franklin mengeluarkan ponselnya dan melihat jelas nama Jasmine dengan tanda emot love terpampang di layarnya. Tak tinggal diam, Misha malah mengambil ponsel Franklin. Franklin tetap santai, tak juga terlihat panik ataupun marah.


"Mulai sekarang, tidak ada lagi alasan kerja sama bisnis sama dia. Sekali pelakor tetap pelakor!"


"


Kamu cemburu?"

"Mas pikir aku begini kenapa? Bercanda gitu?" dengan kesal Misha merijek panggilan dari Jasmine, tak hanya itu, ia malah memblokir nomor tersebut bahan menghapusnya secara terang-terangan didepan Franklin.

"Pokoknya aku nggak ikhlas kalau Mas berkomunikasi sama dia. Kalau urusan bisnis, nggak mungkin sampai menggodai suami orang. Lihat saja nanti, akan aku labrak dia! Sabar aku ada batasnya, Mas."

Franklin menarik napasnya sejenak. Ternyata begini rasanya punya istri yang pencemburu bahkan terlihat menyeramkan kalau lagi marah. Ini pertama kalinya dalam hidupnya bersama seorang wanita yang begitu tegas dalam suatu masalah, berbeda dengan sosok Mommynya yang lembut dan Aifa yang lebay bahkan manja.

Franklin pun membalikkan badannya, ia malah memasuki kamar pribadinya. Misha merasa gemas sama tingkah laku Franklin.


"Mas, ih, aku kan belum selesai bicara.."


"Mas?!"


"Mas, Ya Allah, kamu ini-"


"Istriku kalau lagi marah ntah kenapa semakin terlihat cantik. Lebih baik aku menjauh daripada tergoda mencium bibirnya yang menggemaskan itu selain di kamar yang lebih privasi.." sela Franklin jujur hingga akhirnya membuat Misha terbungkam.


💘💘💘💘


Perasaan kalian baca ini? Kesel dan gemes naik turun, yak 😣😆


Franklin mah gitu, ekspresi datar nggak banyak omong tapi sekali ngomong.. 🤣🤣🤣


Alhamdulillah aku sudah up ya, Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat kalian disana ya 😘


With Love 💋 LiaRezaVahlefi
Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii


Next chapter 59

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-59-mencintaimu-dalam-doa.html


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar