JODOH DARI LAUHUL MAHFUDZ : CHAPTER 73 - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 24 Juli 2022

JODOH DARI LAUHUL MAHFUDZ : CHAPTER 73

 


 
 

Kabar bahwa Ela baru saja melahirkan melalui proses persalinan caesar sudah terdengar oleh orang tuanya. Saat ini, mereka dalam perjalanan menuju kota Jakarta dari kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Ela terdiam, menatap jendela luar yang ada di sampingnya. Sudah beberapa jam berlalu, efek bius pada sayatan operasi di perutnya sudah hilang. Dan rasanya begitu menyakitkan.

Seketika ia teringat kejadian kemarin tentang Nafisah. 9 bulan pernikahannya dengan Danish, selama itu ia di hantui rasa bersalah.
Sesama perempuan, ia sadar bahwa ia sudah membuat luka pada Nafisah.

"Nafisah, aku janji akan menemuimu untuk menjelaskan semuanya setelah aku sembuh."

Pintu terbuka. Danish masuk dengan perasaan tak menentu sejak kemarin. Ia memikirkan Nafisah sekaligus kondisi Ela yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja. Dengan cepat Ela menghapuskan sisa air mata yang menempel di pipinya.

"Bagaimana dia?" tanya Ela khawatir.  Dia yang ia maksud adalah bayi mereka.

"Alhamdulillah baik." Danish menarik kursi lalu duduk di samping wanita itu. "Muhammad Abdullah Aqila Rajendra."

"Laki-laki?"

"Iya, kamu tidak tahu?"

"Aku sengaja tidak mencari tahu jenis kelaminnya agar menjadi kejutan."

Danish menggenggam tangan Ela. "Arti nama putra kita itu adalah Laki-laki yang rajin ibadah. Tampan dan cerdas. "

Putra kita? Haruskah Ela senang mendengarnya? Seharusnya ia senang. Tapi lagi-lagi ia kembali memikirkan semuanya. Sudah cukup ia senang di atas penderitaan orang lain.

"Fisiknya lengkap meskipun usia kelahirannya belum cukup dengan berat badan yang rendah."

Perasaan Ela campur aduk. Antara senang dan sedih. Senang karena bersyukur statusnya kini berubah jadi seorang ibu dan sedih karena ada wanita lain yang sedang tersakiti.

"Kenapa?" tanya Danish lagi.

"Lebih baik Mas pulang."

"Aku tidak bisa. Kamu baru saja operasi dan kamu butuh aku."

"Justru Nafisah yang lebih butuh kamu, Mas."

Danish menatap Ela. Ia sadar, ia juga belum pulang sejak kemarin. Tak hanya itu, nomor ponsel Nafisah juga tidak aktip.

"Aku tahu. Bahkan aku tidak berani memikirkan apa yang terjadi setelah ini."

"Mas nggak salah. Aku yang salah. Aku yang sudah membuat rumah tangga kalian hancur. Seandainya waktu kejadian ketika aku di tuduh sebagai pencuri ponsel pemilik toko-"

"Tolong berhenti untuk menyalahkan dirimu." potong Danish akhirnya. Ia semakin menggenggam erat tangan Ela. Ela ingin menjauhkan tangan Danish, namun pria itu enggan melepaskannya.

"Bisa kah, aku meminta sesuatu pada Mas?"

"Apa?"

"Lepaskan diriku. Kembalilah pada Nafisah."

"Ela.. "

"Please. Jangan menambah luka Mas Danish.. "

****

Nafisah menatap sajaddah yang sudah terhampar di hadapannya. Ia baru saja menyelesaikan sholat isya di kamarnya. Di tangannya, ada tasbih yang tidak henti-hentinya ia ucapkan istighfar. Nafisah meraih selembar tisu, ia mengelap darah yang lagi-lagi mengalir di hidungnya.


"Ya Allah. Hanya kepadaMu hamba kembali. Engkau lah, yang hamba miliki saat ini."

"Orang tua bisa saja meninggalkan hamba karena kematiannya. Sahabat hamba juga meninggalkan hamba karena takdir kematiannya. Tapi seorang suami yang hamba cintai, justru meninggalkan hamba karena wanita lain. Hanya Allah yang tidak akan meninggalkan hamba sampai kapanpun."

"Ya Allah, hamba tahu, Allah tidak akan menimpakan suatu ujian melainkan sesuai kesanggupannya. Tapi, ujian ini begitu menyakitkan Ya Allah. Apakah benar, arti semua ini kalau hamba akan sanggup?

Sudah banyak air mata yang Nafisah keluarkan sejak kemarin. Kalau saja tidak mengingat Allah dan siksa neraka, mungkin ia sudah melakukan tindakan bunuh diri saking terpuruknya. Nafisah lelah, untuk makan saja ia tidak bertenaga untuk pergi ke dapur. Ia pun akhirnya berbaring menyamping di atas sajaddah. Ia meringkuk. Sehancur itu dirinya saat ini.

Pintu terbuka pelan Danish menatap Nafisah yang berbaring di atas sajaddah. Ia pun duduk di pinggiran ranjang.

"Assalamu'alaikum.."

Nafisah mendengar suara Danish. Akhirnya suaminya yang dzolim itu datang. Ia berusaha mengendalikan diri agar tidak terbawa emosi. Baginya, marah-marah dengan Danish hanya membuang tenaga dan pikirannya. Ia sudah lelah akan semuanya.

"Wa'alaikumussalam."

"Nafisah, kenapa kamu meringkuk di bawah sana-"

"Langsung saja ke intinya. Kenapa ada Ela di antara kita tanpa sepengetahuanku?"

Danish terdiam. Ia menarik napasnya sejenak dan menghembuskannya secara perlahan. Rasanya begitu takut untuk menjelaskan semuanya.

"Berani berbuat, berani bertanggungjawab, Mas."

"Aku akan menjelaskannya padamu."

****

Greget ya ama Danish!!!

Tapi sabar, Insya Allah besok aku update lagi ya☺

Makasih sudah baca hingga chapter ini. Sayang kalian dan tetap kuatkan hati 😭

With Love, Lia

Instagram : lia_rezaa_vahlefii

 

NEXT CHAPTER 74. KLIK LINK DIBAWAH INI :

https://www.liarezavahlefi.com/2022/07/jodoh-dari-lauhul-mahfudz-chapter-74.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar