Chapter 77 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 77 : Mencintaimu Dalam Diam






Aiza mendengus kesal. Tapi sekarang bukanlah saatnya. Afnan itu pria. Tapi mulutnya sangat ember. Sejak kapan pamannya itu beralih menjadi tim Arvino? Ck, ternyata kedua pria itu sama saja!
Aiza tetap tidak akan memaafkan Afnan meskipun pria itu berulang kali meminta maaf padanya karena sudah ikut-ikutan membantu Arvino dalam mengerjainya.
Aiza juga tidak memiliki waktu lagi untuk berdebat atau protes. Yang ia lakukan saat ini adalah ia harus segera bersembunyi agar tidak bertemu Arvino.
Afnan tertawa terbahak-bahak. Aiza sudah tidak perduli lagi dan memilih masuk kedalam kamar lalu mencari tempat persembunyian yang tepat dan lemari besar menjadi tempat terbaik untuknya. Tak lama kemudian pintu dibuka dengan nyaring. Suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar.
"Aiza! Aiza!"
Aiza membekap mulutnya sendiri. Ia bisa melihat siluet Arvino yang mencari dirinya di balik celah pintu lemari.
"Aiza! Mas tau kamu lagi ada disini. Jangan bercanda Aiza. Keluarlah!"
Aiza mengabaikannya. Ia berusha menahan diri, hawa yang gerah, panas, tempat yang sempit dan Kecoa yang kini berjalan di tangannya.
"Aiza! Mas serius loh ini, kamu pasti sedang sembunyikan?! Lama gak ketemu rupanya kamu ngajak main ya?!"
Arvino menelusuri seisi kamar Aiza. Membuka belakang pintu, menggeledah kamar mandi, bawah kolong ranjang, teras balkon dan laci meja riasnya.
Aiza mengerutkan dahinya. Kenapa batu dua hari dua malam gak ketemu Arvino malah terlihat somplak? Masa iya mencarinya di laci meja rias. Emangnya dia seekor kecoa?
Aiza memejamkan kedua matanya sangat erat. Berupaya menahan diri dari rasa jijik, tubuh yang merinding karena kecoa dan perasaan ingin teriak karena kecoa tersebut semakin berjalan di tubuhnya lalu memasuki dalam gamisnya.
"Aaaaaaaaaaaaaa!!" BRAK!
Pintu lemari terbuka lebar. Arvino menoleh ke sumber suara dan mendekati kearah Aiza!
"Aiza! Aiza! Kamu-"
"Aaaaaaaaaaaaaa mas! Tolong aku! Ini! Anu- aaaaaaaaaa!"
Aiza terlihat panik sambil berdiri tidak karuan dan berusaha mengibas-ngibaskan pakaian ujung gamisnya sendiri.
"Iya-iya kenapa sih?! Kenapa!"
"Mas! Ini.. aku- huaaaaaaaaaaaa- tolong!!!!!!!!"
"Ya Allah hati-hati Aiza! Ingat perutmu! Ini mas disini! Kalau kangen jangan kebangetan- arghhh!"
Dan Arvino meringis kesakitan saat tanpa diduga Aiza menginjak salah satu kakinya.
"Mas! Aku serius. A-aku ini.. aaaaaaaaaa kecoa dalam bajuku! Ada kecoa!!"
"Lah kenapa gak bilang dari tadi?!"
Dengan cepat Arvino membuka Khimar Aiza lalu dilanjutkan dengan gamisnya. Sementara Arvino beralih membawa gamis Aiza keluar balkon lalu mengibas-ngibaskannya agar kecoa tersebut keluar.
Aiza mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Ia memegang perutnya sendiri yang memasuki usia 7 bulan. Aiza terduduk di lantai. Untungnya saja ia tidak apa-apa. Lalu ia teringat Arvino berada dikamarnya. Dengan cepat Aiza membuka lemari lagi, mencari gamisnya berniat kabur-"
"Terlambat kalau mau menghindariku lagi."
Dan bulukuduk Aiza meremang ketika tanpa diduga Arvino memeluknya dari belakang.
"M-mas-"
"Jadi gitu ya? Lama gak ketemu rupanya mau ngajak main petak umpet. Kita sudah dewasa Aiza. Jangan kayak anak kecil lagi. Kamu loh baru bertambah usia 23 tahun." bisik Arvino pelan tepat di samping telinga Aiza.
Aiza merasa kesal. Tiba-tiba ia teringat Arvino mengerjainya yang kebangetan. "Lepasin aku! Aku-"
"Aku apa?" Arvino membuka kaitan belakang bra Aiza lalu membalikan badannya. Aiza hendak protes tapi Arvino sudah memasang raut wajah smirknya. "Sudah mas bilang kita ini sudah dewasa. Bukan anak-anak lagi. Kalau dewasa main petak umpet itu gak level."
"Mas! Aku-"
Arvino merengkuh pinggang Aiza. "Layani aku. Aku butuh sekarang. Aku mencintaimu tuan putri ku yang cantik."
Aiza bersemu merah. "Mas!"
Arvino masih tersenyum smirk menatap Aiza ketika Arvino menggendongnya keatas tempat tidur.
Bahkan Aiza mengagap saat ini Arvino bagaikan kecoa raksasa yang merayap diatas tubuhnya.
"Mas nyebelin! Kayak kecoa! Tukang bohong! Bikin kesel! " bisik Aiza tepat di samping telinga Arvino. Wajahnya sudah bersemu merah.
Arvino tersenyum . Arvino mencium kening Aiza dengan lembut dan ia berjanji akan mentraktir bakso untuk Afnan yang sudah menjadi tim nya. Kalau tidak, Mana mungkin saat ini ia menjadi kecoa raksasa kan?
****
Aiza itu ya 🙄
Mau menghindari Arvino dalam bentuk apapun, tetap aja Arvino berhasil meraihnya kembali 😂
Maaf ya kemalaman, sebenarnya tadi Author ketiduran dari jam 9 malam. Terus terbangun karena lupa sikat gigi lalu ketemu kecoa di kamar mandi. Tiba-tiba dapat inspirasi lalu tertuang disini deh.
🤣🤣🤣🤣🤣
Sehat selalu buat kalian ya..
With Love 🖤
LiaRezaVahlefi
Instagram: 
LiaRezaVahlefi



LANJUT CHAPTER 78. KLIK LINK NYA :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar