Chapter 79 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 79 : Mencintaimu Dalam Diam






New York city, Amerika
Aiza sudah menghabiskan beberapa makanan miliknya dan membuat Arvino hanya terkekeh geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Kenapa mas ketawa?"
"Lucu aja."
"Lucu?" Aiza mengerutkan dahinya. "Apanya?"
Bukannya menjawab, Arvino malah memajukan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya untuk mengelap sisa makanan di sudut bibir Aiza.
"Susah 23 tahun loh. Masa makan kayak anak kecil belepotan gini?" goda Arvino dan Aiza hanya menatap datar suaminya.
"Kalau mas bilang 23 lagi aku akan ngambek!"
"Masa?"
"Iya!"
"Ayo kita ngambekan lagi. Biar kangennya makin greget."
Aiza menatap Arvino dengan tajam dan hal itu membuat Arvino malah tertawa. Ck, rupanya dia cari masalah sama bumil.
Arvino segera beranjak dari duduknya. Lalu meraih pergelangan tangan Aiza yang baru saja selesai makannya.
"Dan sayangnya aku gak mau kita ngambekan lagi. Kalau sudah saling mencintai gini ya susah."
"Gombal!"
"Lah beneran. Masa mas bohong? Kalau mas bohong mas gak akan cium kamu."
"Gombal! Gombal! Gom-"
Dan Aiza terkejut ketika tanpa diduga Arvino mencium pipinya. Dengan malu Aiza mendorong dada bidang suaminya.
"Mas! Ini tempat umum. Hentikan!"
Arvino tertawa. "Disini bebas. Kamu gak perlu khawatir. Ayo kita kerumah kakek sekarang. Bunda sudah menunggu kita disana."
Arvino ingin merengkuh pundak Aiza tapi Aiza menolak.
"Kenapa?" tanya Arvino heran.
"Gak usah pakai peluk-peluk segala!"
"Kok gitu."
"Aku lagi ngambek."
"Mas cuma bercanda Aiza."
Arvino sudah mulai was-was dan khawatir bila Aiza akan marah dan kabur lagi.
"Aiza-"
"Lagi hamil malah di kerjain."
"Ya maaf. Mas cuma-"
"Kita ngambekan aja. Biar saling kangen."
Aiza melenggang pergi meninggalkan Arvino. Arvino mengejarnya hingga menuju lift untuk membawa mereka ke lantai lobby setelah beberapa menit yang lalu mereka singgah ke restoran bertingkat tinggi di kawasan pusat kota New York.
Pintu lift tertutup. Arvino memilih diam. Ia merasa bersalah. Seharusnya ia akan lebih berhati-hati lagi dalam berbicara. Seharusnya ia sadar, ibu hamil cenderung lebih sensitif atau mungkin ia tidak akan membahas kata 23 lagi.
Sebuah genggaman hangat begitu terasa. Arvino melirik kesamping dan Aiza menatapnya sambil terkekeh geli.
"Ternyata benar. Kalau saling mencintai terus lagi ngambekan kangennya cepat terasa."
"Ha?"
"Kalau boleh jujur aku bakal kangen sama mas terus setiap detiknya."
Dan perasaan Arvino menghangat sekaligus lega. Ternyata beberapa menit yang lalu Aiza tidak serius dalam ngambeknya.
Arvino tertawa lalu merengkuh pundak Aiza. "Iya kamu benar. Aku mencintaimu Aiza."
"Aku juga Mencintaimu mas."
Pintu lift terbuka dan mereka segera keluar loby ketika Randi sudah menunggu mereka untuk mengantarkan ke lokasi tempat bunda Ayu berada menggunakan mobilnya. Arvino dan Aiza segera memasuki mobil karena cuaca begitu dingin sehingga membuat Aiza semakin memeluk erat lengan Arvino.
"Mas.."
"Ya?"
"Aku ingin sesuatu."
"Katakan saja."
"Aku lagi ngidam nih. Kira-kira kalau aku bilang mas bakal nurutin keinginan Raihan little gak?"
"Memangnya kamu mau apa?"
"Tapi janji jangan marah ya."
"Apa?"
"Aku ngidam om Afnan ada di negara ini."
"Ha?" Arvino terkejut. "Kamu yakin? Aiza-"
"Tu kan, mas gak mau ya?" Raut wajah Aiza berubah sedih. "Yaudah kalau gak bisa tidak apa-apa mas. Maaf."
Aiza ingin melepaskan pelukannya, tapi Arvino kembali menahannya.
"Iya iya mas turutin ngidam kamu. Tapi kalau boleh tau kenapa harus ada dia disini? Kamu sudah maafin dia?"
Aiza mengangguk. "Sudah mas. Dan om Afnan kemarin bilang, jika ada seseorang yang baik hati dan tidak sombong bisa membiayainya liburan ke Amerika, dia akan bersyukur dan mendoakan orang itu banyak rezeki."
Arvino mengerutkan dahinya. Kenapa tiba-tiba Ia berpikir Afnan itu pria yang suka mengambil keuntungan darinya? Ah bukankah itu terlihat seperti kode keras untuknya melalui Aiza?
"Mas.. boleh kan? boleh ya?"
"Aku ingin om Afnan ada disini mas. Ya anggap aja babbymoon kita kali ini ada sosok om Afnan sebagai penghibur kita. Iyakan mas? Iya kan?"
Arvino menghela napas. Bukannya dia mau bersenang-senang dengan Aiza malah pria itu hadir seperti pengganggu saja.
"Mas?"
"Iya. Baiklah. Mas akan menghubungi seseorang untuk mempersiapkan keberangkatan Afnan saat ini juga."
"Yey!!!!!!! Makasih sayang. Seperti kata om Afnan. Semoga mas banyak rezeki ya. Aamiin."
Arvino tersenyum lalu mencium pipi Aiza yang tembem dan kemerahan karena cuaca dingin.
"Aamiin iya sayang. Sama-sama. Apapun akan kulakukan jika itu membuatmu senang asalkan hal yang baik."
Aiza hanya mengangguk dan kembali memeluk Arvinonya. Sedangkan Arvino, pria itu hanya tersenyum miris.
Jika saja Afnan tidak mendoakannya dengan kata-kata banyak rezeki mungkin saat ini juga ia akan menenggelamkan Afnan yang kembali merogoh kocehnya karena ia akan mengeluarkan biaya pembuatan pasport dan lainnya hanya untuk si Afnan-Afnan itu setelah on going restoran baksonya.
****
"Jadi nanti kalau ada pria berkacamata hitam datang dia ya orangnya? Oalah oke. Eh tapi serius nih? Aku belum siap-siap. Ya habisnya gimana? Masa iya ketemu sama makelar pakaiannya begini? Lah aku harus ganti baju. Iya iya oke deh."
Klik, panggilan terputus. Seorang pria makelar baru saja mematikan panggilannya. Ia pun kini melanjutkan makan baksonya dengan cepat karena sebentar lagi kesibukannya sebagai makelar mobil akan tiba.
Tak lama kemudian, Afnan datang lalu memesan semangkuk bakso pada penjual yang kini berlokasi di pinggir jalan.
"Bang, bakso satu ya!"
"Iya mas. Saya buatkan dulu ya."
"Oke."
Dengan santai Afnan duduk di meja makan selagi menunggu semangkok baksonya. Perutnya sudah lapar. Padahal ia tadi sudah makan. Tapi karena bakso adalah makanan favorit, maka kata lapar tadi hanyalah wacana baginya.
Sebuah mobil berhenti tepat disamping rombong bakso tersebut kemudian seorang pria berpakaian rapi dan mengenakan kacamata hitam pun keluar dari mobilnya.
Seorang pria yang di tugaskan Arvino untuk menjemput Afnan ketika sebelumnya ia sempat kerumah Naura hanya untuk mencarinya lalu mengatakan bahwa Afnan sedang beli bakso di pinggir jalan.
"Permisi?"
"Ya?"
"Tuan Afnan?"
Afnan terdiam membeku seketika. Ia memperhatikan sosok pria didepan matanya kali ini dengan was-was. Ia tidak mengenalinya sama sekali. Berbagai macam kejahatan dan penculikan mulai mempengaruhi pikirannya.
Sebentar lagi dia akan jadi pengusaha sukses tukang bakso. Jangan sampai dia diculik. Itu yang Afnan pikirkan saat ini.
Dengan santai Afnan berucap. "Oh maaf. Saya bukan Afnan. Saya peter Parker."
"Maaf mas. Apakah mas sedang mencari nama Afnan?"
Suara seorang pria tiba-tiba hadir diantara mereka. Afnan dan pria berkaca mata hitam itu pun menoleh ke arah pria tersebut.
"Iya. Saya sedang mencari Afnan."
"Kebetulan. Saya sendiri Afnan. Kalau gitu bisa berangkat sekarang?"
Pria berkacamata itu mengangguk. "Iya tuan silahkan. Mobil sudah siap. Kita berangkat sekarang."
Dan akhirnya pria berkacamata hitam dan seorang pria makelar itupun meninggalkan Afnan lalu memasuki mobilnya.
Afnan bernapas lega lalu tersenyum sinis. "Setidaknya aku bisa hati-hati dengan orang yang tidak dikenal kan?"
Sambil menunggu baksonya di buatkan, Afnan bertopang dagu dan berucap lirih. "Kok sepi ya gak ada Aiza. Naura masih marah denganku karena masalalu. Ah jika saja ada Seseorang yang menjemputku dan membawaku ikut menyusul Aiza di Amerika."
****
Cuma mau bilang, suruhannya Arvino salah orang cuma karena Afnan ngakunya Peter Parker. Katanya takut di culik. Memangnya siapa yang mau culik dia?
🤣🤣🤣🤣🤣

Makasih ya sudah baca part ini. Soryy banget ngaret, biasalah punya bayi 10 bulan yang lengket sama author nih emang susah ngikut neneknya. Jadi ya gitu, butuh cari waktu yang tepat buat update hhe 😂
Niatnya mau malam update. Tapi takut kemalaman lagi. Gpp ya menjelang sore gini. Takutnya ntar tepar dan lupa lagi wkwkw  🤣
Sehat selalu buat kalian ya..
With Love 
LiaRezaVahlefi
Instagram : 
lia_rezaa_vahlefii.


LANJUT CHAPTER 80. KLIK LINK NYA :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar