Ending - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Ending







Satu bulan kemudian
Arvino sedang berada di dalam kamarnya. Kepulangannya ke Indonesia seminggu yang lalu menuntunnya untuk segera menjalani kewajibannya sebagai seorag Dosen. 
Padahal disetiap detiknya, Arvino ingin berada disamping Aiza dan menemaninya hingga sadar dari komanya ntah itu kapan. Tapi Arvino berusaha menahannya dan ia sadar ada seorang mahasiswi yang sedang berjuang untuk mencapai kelulusan dan membutuhkan dirinya sehingga membuat Arvino rela pulang ke Indonesia.
Arvino menatap berkas-berkas yang berada diatas meja kecil disudut ruangan. Arvino menatap datar berkas tersebut. Ia pun akhirnya berdiri dari duduknya lalu berjalan dan meraih berkasnya. Sebuah berkas yang tertera nama Aiza. Lalu ada tiga skripsi yang sudah di jilid rapi.
Seharusnya hari ini adalah jadwal pendadaran istrinya. Seharusnya hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu Aiza selama ia kuliah sebagai akhir masa menempuh perguruan tinggi untuk memperoleh gelar sarjananya.
Siapapun yang kuliah, pasti ingin segera mencapai masa pendadaran dengan lancar. Aiza sudah mencapai hal itu. Namun sungguh disayangkan bila takdir membuatnya tidak sempat menjalankan. Sudah sebulan berlalu dan kondisi Aiza masih tidak ada perubahan hingga sekarang.
Arvino beralih menatap sebuah catatan kecil. Sebuah catatan ketika dengan rajinnya Aiza mencatat semua hutang-hutangnya sebanyak Rp 4.070.000 yang menjadi awal dari niatnya hanya untuk mengikat wanita itu agar terus dalam jangkauannya meskipun sempat bersaing dengan sosok Alex.
Aiza benar-benar wanita yang bertanggung jawab. Hanya untuk masalah hutang saja dia menepati janjinya. Bagaimana jika untuk di jadikan pasangan hidup? Tentu saja Aiza bertanggung jawab sebagai seorang istri yang melayani seutuhnya, menjaga pandangan yang bukan mahramnya bahkan menjaga cinta hanya untuknya
"Kamu itu lucu ya. Padahal waktu di masalalu aku itu tidak serius memberimu hutang. Aku juga tidak pernah menagihnya. Tapi dengan rasa tanggung jawabmu kamu begitu tahu diri dan menepati janjimu"
Arvino menatap catatan kecil itu. Lalu menutupnya dan memasukannya kedalam sebuah laci. Arvino memperhatikan seisi kamarnya. Semua barang-barang Aiza tetap rapi pada tempatnya. Tidak sedikit pun Arvino berniat untuk memindahkannya. Termasuk mukena dan sajadah yang terdapat tasbih Aiza.
"Aku merindukanmu Aiza. Kapan kita sholat berjamaah lagi?" air mata menetes dipipi Arvino. Arvino mengecek jam di pergelangan tangannya. Hari ini ada dua mahasiswa yang akan melakukan pendadaran di kampusnya. Sebagai pembimbing, ia tidak ingin membuang waktu dan bersedih dengan kondisi Aiza secara terus menerus
Sebelum benar-benar pergi, Arvino menuju kamar putranya dan mendapati Bundanya sedang menimang cucunya dengan penuh kasih sayang. Menyadari hal itu, Ayu pun kembali meletakkan cucunya ke box bayi.
"Mau berangkat sekarang?"
Arvino mengangguk. "Iya Bun. Dia sedang apa?"
Ayu meraih botol susu. Memperlihatkan kearah Arvino. "Dia habis minum susu. Lahap banget minumnya. Tuh sekarang melek."
Arvino tersenyum tipis lalu menengok putranya yang berada di dalam Box Bayi.
"Mirip kamu waktu kecil." ucap Ayu lagi.
"Tentu saja. Dia tampan seperti ku."
"Tentu saja. Dia tampan sepertiku."
Ayu terkekeh geli. Lalu raut wajahnya berubah muram. "Kalau mantu bunda lihat. Dia pasti seneng banget. Dari dulu dia pengen banget cepat hamil dan punya anak."
Arvino yang mendapati ekspresi wajah Ayu sedih. Arvino pun memeluknya "Dia sedang berjuang Bun melawan komanya. Semoga Allah segera membuatnya sadar kembali. Aku begitu merindukkannya."
"Kamu yang sabar ya Nak."
Arvino mengangguk. "Iya Bun, em susu Formulanyanya masih ada Bun?"
"Alhamdulillah masih."
"Alhamdulillah. Oh iya kamu tidak terlambat?"
"Belum. Tapi Vino mau berangkat sekarang."
"Yaudah kamu hati-hati ya dijalan. Jangan terlalu bersedih. Serahkan semuanya pada Allah. Bunda khawatir konsentrasi kamu terganggu nanti."
"Iya Bunda iya."
Arvino pun beralih mencium pipi putranya sekali lagi. Padahal belum saja pergi tapi rasa rindu begitu terasa pada putra tercintanya.
"Nanti ayah akan nimang kamu lagi ya nak. Ayah kerja dulu. Jadi anak yang soleh buat ayah dan bunda Aiza disana. Ayah mencintaimu." bisik Arvino dan ia pun segera memberikan putranya pada Ayu dan pamit untuk melenggang pergi.
****
Arvino sudah siap duduk di sebuah kursi yang di persiapkan untuknya. Disebelah kirinya ada dua dosen penguji bernama Ibu Linda dan Pak Bambang.
Arvino terlihat tidak bersemangat. Dua dosen penguji tengah mencatat sesuatu di buku catatannya. Lalu menoleh kearah Arvino dengan heran.
"Ada pak? Kelihatannya bapak sedang bingung."
Arvino menoleh. "Tidak juga. Hanya sedang tidak bersemangat."
"Aduh maafkan saya! Apakah saya telat? Diluar hujan deras. Malah banjir. Macet pula."
Tiba-tiba seorang dosen datang dengan tergopoh-gopoh lalu duduk di sebelah kanan Arvino. Arvino mengerutkam dahinya. Untuk apa Pak Doni kemari? Bukankah-
"Asalamualaikum. Maafkan saya terlambat. Saya terjebak macet dalam perjalanan kemari. Diluar sedang banjir."
Suara seorang mahasiswi lagi-lagi terdengar dan masuk begitu saja keruangan. Arvino terkejut bukan main. Raut wajah mahasiswi itu terlihat cantik dan manis. Ekspresi wajahnya terlihat tenang tanpa kendala apapun atau merasa gugup. Berbeda dengan posisi Arvino yang saat ini mendadak diam membeku.
Arvino yakin bila saat ini ia sedang tidak bermimpi. Ia yakin saat ini sedang berada di dunia nyata. Ia yakin kali ini ia tidak salah lihat. Semua benar-benar membuatnya bingung, syok, berbagai macam pemikiran dan menerka-nerka bergerumul dalam diri Arvino sejak melihat kedatangan Pak Doni beberapa menit yang lalu.
Semua terasa nyata. Pak Doni adalah dosen pembimbing Aiza dan.. dan.. sekarang..
Aiza terlihat nyata didepan matanya. Aiza benar-benar berdiri di depan matanya dalam balutan jas hitam serta rok panjangnya. Aiza sendiri begitu paham bagaimana ekspresi wajah Arvino yang sangat syok dan terkejut. Ia sudah bisa memastikan hal ini akan terjadi.
Alih-alih memperhatikan Arvino lagi, Aiza memilih menundukan wajahnya dengan tidak enak hati karena merasa bersalah selama ini. Tapi ia ingat. Sekarang bukanlah saatnya memikirkan urusan pribadinya. Ia harus paham bahwa tujuannya kemari adalah memperjuangkan hasil kerja kerasnya selama ini menjadi mahasiswi untuk memperoleh gelar sarjana.
Arvino terlihat menyibukkan diri. Ia meraih skripsi yang sudah dipersiapkan untuknya dan membaca nama yang tertera di sana. Aiza Shakila. Dan Arvino masih tidak percaya dengan semua ini.
"Maaf Pak, Bu.. Apakah saya sudah bisa memaparkan skripsi saya untuk hasil penelitian Bab 4 dan Bab 5?
Pak bambang pun mengangguk. "Boleh Aiza silahkan."
Arvino masih sibuk membolak-balikkan halaman skripsi Aiza. Memastikan bahwa yang pendadaran saat ini adalah benar Aiza. Bukan hantu atau makhluk halus atau orang lain yang menyamar Aiza.
Bu Linda merasa jengah. "Maaf Pak Arvino. Kita akan memulai sekarang. Sebenarnya apa yang bapak lakukan?"
Arvino tidak mengubris.
Pak Doni pun menyikut lengan Arvino. Tapi dasarnya Arvino yang masih kebingungan pun tetap mengabaikan situasi.
"Pak Arvino terhormat! APAKAH BAPAK DENGAR?!" suara Ibu Linda terdengar lebih lancang sehingga pada akhirnya Arvino diam. Lalu menyadari situasi.
"Maaf." ucap Arvino lirih. "Baiklah kita mulai sekarang."
"Ayo Aiza. Silahkan paparkan skripsi kamu." ucap Bu Linda akhirnya.
Aiza mengangguk. "Baik sebelumnya saya ucapkan Assalamu'alaikum Warohmatullah'hiwabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam Warohmatullah'hiwabarokatuh." jawab semua dosen.
"Kali ini saya ingin memaparkan bab 4 dan bab 5 skripsi saya dengan judul 'Sifat Pemberani Sang Pahlawan dalam film Pahlawan Borneo'
Saya akan paparkan satu saja hasil penelitian saya di bab 4 karena jika dipaparkan semua maka waktu yang di butuhkan tidak akan cukup dalam waktu yang singkat ini." jelas Aiza.
"Baik silahkan Bapak dan Ibu buka langsung pada Bab 4. Ada foto yang saya screenshot kemudian saya print dari film yang saya ambil. Denotasinya  adalah tampak seorang pria dengan jubah putih dan berdiri didepan banyak orang dalam menghadapi para penjajah yang hendak merampas hasil panen padi masyarakat, nampak juga para penjajah yang membawa pistol. 
Konotasinya adalah pria yang berjubah putih itu ialah Syarif Hidayatullah yang merupakan ulama besar di Borneo. Posisinya sangat berani. Berdiri paling depan diantara orang-orang lain dalam menghadapi penjajah dan membuktikan bahwa beliau merupakan seorang yang pemberani. Beliau juga memiliki keberanian dalam melawan penjajah walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Setiap perjuangan yang ia lakukan hanyalah untuk membela masyarakat yang ditindas penjajah. 
Mitosnya adalah penjajah merupakan sekelompok besar orang yang melakukan invasi pada suatu daerah dengan keinginan menguasai daerah tersebut serta menjadikan penduduk asli daerah itu sebagai masyarakat yang mau diperintah.  Adapun teks dalam scane.  Syarif Hidayatullah berkata, Enyahlah kalian dari tanah air Kalimantan kami. Tidak ada sejengkal tanah pun yang akan kami berikan pada kalian walau darah ku tertumpah demi melindungi Kalimantan ini dari penjajahan. Aku akan berada diposisi terdepan jika kalian para penjajah berani merampas harta penduduk."
Aiza terdiam sebentar lalu kembali berucap. "Itulah hasil dari penelitian saya, selanjutnya saya serahkan kepada Bapak dan Ibu jika ada pertanyaan dan kritik untuk saya."
Pak Bambang pun menatap Aiza dengan serius. Aiza yang menyadarinya pun bertanya. "Maaf Pak apakah ada yang ingin ditanyakan kepada saya?"
"Saya tidak ada pertanyaan dan kritik buatmu. Bagi saya skripsi anda sudah sangat bagus dan sangat baik dalam pemaparannya."
Aiza tersenyum. "Alhamdulillah terima kasih Pak."
"Aiza.. saya sih sepakat dengan Pak Bambang. Skripsi kamu sudah bagus, EYD juga rapi, tapi skripsi ini kamu yang mengerjakannya sendiri serta tidak ada plagiat kan? Kalau ketahuan plagiat nanti gelar sarjana kamu bisa dicopot."
"Alhamdulillah saya mengerjakannya dengan sendiri Bu dan tidak ada plagiat." ucap Aiza yakin. "Dan saya siap menerima pencopotan gelar sarjana jika diketahui skripsi saya ternyata plagiat."
"Baik kalau begitu."
Aiza beralih menatap Pak Doni dan memberanikan diri menatap Arvino. "Pak Arvino dan Pak Doni apakah ada saran untuk saya?"
Arvino langsung bertanya "Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu tiba-tiba datang? Kamu-"
"Tidak ada Aiza." potong Doni. Mengabaikan Arvino yang sejak tadi membuat suasana ruangan begitu menjengkelkan. "Skripsi mu sudah bagus dan tidak ada yang perlu diperbaiki. Beri kami waktu selama 5 menit dalam menetapkan apakah Aiza lulus atau tidak."
Aiza mengangguk. Ia benar-benar gugup dan gelisah. Penentuan sedang berlangsung sampai akhirnya waktu
5 menit pun berlalu.
"Aiza.. " ucap Pak Bambang dengan serius. "Keputusan kami sebagai para dosen bahwa kamu tidak.."
Aiza semakin deg-degan. Jangan sampai dia gagal. Percuma saja dan akan menjadi sia-sia selama 4 tahun ini ia kuliah dan menyusun skripsinya.
Pak bambang menatap Aiza dengan serius. "Kamu tidak perlu mengulang ujian karena kami.. "
Rasanya Aiza ingin menangis saat ini juga.
"Kami nyatakan kamu lulus."
Dan akhirnya Aiza menangis haru. Bahkan ia sujud syukur seraya berucap doa. "Terima kasih ya Allah atas karuniaMu. Sungguh engkau Maha Baik ya Allah. Alhamdulillah."
Lalu Aiza hendak berdiri dan terkejut ketika tanpa diduga Arvino tiba-tiba menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
Tangis Aiza pun pecah. Ia menangis haru karena akhirnya perjuangannya untuk mendapatkan gelar sarjana akhirnya selesai dan berjalan dengan lancar. Berbeda dengan Arvino yang malah bersyukur karena ini benar-benar Aizanya. Ia menumpahkan rasa rindunya yang tertahan selama ini dengan memeluk erat tubuh Aiza. Menciumi seluruh wajah dan puncak kepalanya. Mengabaikan para dosen Pak Bambang, Pak Doni dan Bu Linda yang hanya menggelengkan kepala mereka sambil terkekeh geli.
"Dasar suami istri." kekeh Bu Linda.
"Dari tadi Pak Arvino itu menyebalkan." cibir Pak Doni lagi.
Pak Bambang pun tak kalah mencibir mereka. "Ya begitulah mereka. Namanya jodoh. Yang bimbing suaminya sendiri. Sementara yang di bimbing istrinya sendiri. Gak heran kenapa masalah pribadi sampai di bawa-bawa kesini. Untung saja Aiza lulus. Jika tidak mungkin Pak Arvino akan membakar tempat ini."
****
"Aiza! Aiza!"
Aiza baru saja keluar dari ruangan bersama Arvino yang menggenggam tangannya.
"Kamu bercengkrama sama mereka dulu. Aku tunggu di mobil." bisik Arvino.
Aiza mengangguk. Lalu beberapa mahasiswa seangkatan Aiza menghampirinya.
"Wah selamat ya! Masya Allah akhirnya kamu lulus!"
"Terima kasih." senyum Aiza.
"Cieeeeee yang sudah lulus. Yang sudah gelar S.Ikom. selamat ya Za!"
"Kalau gitu doakan aku ya."
"Minta doa apa nih? Cepat lulus atau cepat nikah?"
"Keduanya juga boleh."
Dan semuanya pun tertawa. Aiza pun hanya bisa bersyukur menatapi candaan mereka apalagi teman-temannya kali ini memberinya buket bunga, kado kelulusan, boneka bertopi toga dan bingkai foto ucapan kata kelulusan.
"Ayo kita foto bareng!"
"Ayo Aiza! Jangan malu-malu."
Dari jarak kejauhan, seorang wanita menatap Aiza tanpa berkedip. Hanya melihatnya saja ia merasa familiar dengan sosok Aiza. Saat ini wanita itu berada didalam mobil. Disamping tempat duduknya ada seorang pria paruh baya yang menjadi ayah angkatnya.
"Ini dulu tempat kuliah kamu. Kamu ingat?"
Wanita itu menoleh. "Aku kuliah disini?"
"Iya nak. Bahkan sudah lulus sarjana. Apakah kamu ingat semua itu? Ah atau wanita yang sedang berfoto-foto setelah kelulusan disana."
Sekali lagi wanita itu menoleh kearah yang di maksud ayah angkatnya. Ia sendiri tidak bisa menepis dan merasa familiar melihat Aiza.
"Aku lupa."
"Mau kesana? Siapa tau mereka mengenalmu nak."
Wanita itu menggeleng. Tertunduk lesu. "Aku malu yah. Aku malu."
"Kenapa?"
"Wajahku rusak. Aku jelek. Aku buruk."
"Jangan seperti itu." hibur sang ayah. "Alhamdulillah bulan depan dokter akan melakukan operasi plastik pada wajahmu. Itu salah satu ikhtiar kita."
Wanita itu tetap terdiam. Memperhatikan Aiza dari kejauhan yang sedang bahagia sambil memegang beberapa buket kelulusan ditangannya.
"Tapi Ayah bersyukur. Setidaknya ayah bisa mengajakmu kembali kesini. Disini tempat kamu kuliah. Disini tempat kamu merantau dan banyak menemukan tempat-tempat baru. Sedikit banyaknya kamu merasa familiar dengan situasi disini. Bahkan nama kamu adalah Reva."
Dengan sabar Ayah angkatnya menjelaskan semuanya apalagi saat ini dengan sah ia menjadi anak adopsi oleh orang tua yang tidak memiliki keturunan sejak dulu.
"Ayo kita balik ke penginapan. Ibumu sudah menunggu disana. Kita harus banyak istrirahat sebelum melakukan penebangan ke kampung halaman sore ini."
Wanita itu mengangguk. Ayahnya benar. Ia butuh istirahat. Kenyataan mendapati dirinya mengalami amnesia dan tidak mengingat apapun membuat kepalanya sedikit pusing.
Akhirnya Reva pun meninggalkan tempat diiringi kepergiannya menggunakan mobil yang telah di supir oleh asisten pribadi ayah angkatnya. Meninggalkan semua masalalu beserta kenangan seorang Reva di masalalu yang tidak sengaja terlupakan begitu saja oleh amnesia yang ia alami karena kecelakaan.
****
Arvino sudah pulang. Ia berada di rumahnya sendiri. Niatnya ingin membawa Aiza kerumah bunda Ayu. Tapi ia masih syok bahkan belum mengabari bahwa Aiza nyata dan hidup.
Arvino menatap jendela besar kamarnya. Berbagai macam pertanyaan sudah ia persiapkan untuk Aiza.
Suara pintu terbuka lalu tertutup. Arvino menoleh kesamping, merasakan keberadaan Aiza yang kini berada di belakangnya. Arvino menoleh dan terkejut. Kedua matanya terbelalak.
Aiza berdiri dibelakangnya sambil membawa cake dan tersenyum manis. 
"Hai Mas. Barakallah fii umrik ya sayang."
Dan Arvino ingin pingsan saat ini juga. Arvino masih diam di tempat. Sementara Aiza melangkah kearahnya setelah meletakkan cake nya diatas meja sampai akhirnya Aiza memeluknya sangat erat. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Arvino.
Arvino masih tidak memberi respon atau membalas pelukannya. Aiza mendongakkan wajahnya menatap Arvino.
"Mas.. maafkan aku."
Aiza berjinjit. Mencium pipi Arvino yang masih diam. Mungkin karena masih syok itu yang Aiza pikirkan saat ini. Aiza membawa Arvino duduk di pinggiran ranjang lalu kembali memeluknya.
"Sebenarnya aku tau Mas Vin ulang tahun ke 32 tahun setelah menikah. Aku melihat tanggal lahir mas di buku nikah yang pernah di urus bunda. Aku.. sebenarnya aku tidak tega tapi.."
"Tapi Afnan yang melakukan ini semua. Katanya supaya impas." jelas Aiza lagi.
Arvino menatap Aiza dengan dingin. Aiza merasakan bulu kuduknya merinding. Apakah Arvino marah? Mungkin itu konsekuensi yang akan ia terima. Dengan takut Aiza menundukan wajahnya. Ia malu karena sudah berlaku salah.
"Sebenarnya aku sudah sadar dari koma seminggu yang lalu. Tepatnya saat Mas pulang ke Indonesia beberapa jam setelah meninggalkanku. Saat aku sadar, aku langsung bertanya dimana Mas Vin. Lalu Bunda menjelaskan semuanya. kalau Mas sibuk dan mengharuskan pulang ke Indonesia sebagai Dosen pembimbing mahasiswa lain dan-"
"Dan membimbing kamu Aiza. Kenapa kamu tidak mengabariku saat kamu sadar? Aku begitu mengkhawatirkanmu selama aku disini" Potong Arvino cepat dan kecewa. Namum hatinya bersyukur dan bahagia karena Aiza sudah membaik.
Arvino meraih dagunya. Tanpa berkata ia segera mencium kening Aiza yang rasanya sudah ratusan hari ia rindukan. Aiza berusaha untuk tenang dan rileks. Arvino menyentuh pipi Aiza yang kini basah oleh air mata.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Tapi kamu menangis."
Aiza memaksakan senyumannya. "Aku menangis karena akhirnya rasa rinduku terlampiaskan."
"Lalu?"
"Dan aku gak bisa kalau gak ketemu sama mas walau hanya satu hari. Kak Afnan benar-benar menyebalkan."
Arvino membawa Aiza kedalam pelukannya. "Rasanya aku hampir gila karena kamu meninggalkanku. Alhamdulillah Allah masih memberimu umur yang panjang."
"Mas."
"Hm?"
"Aku kangen Raihan." bisik Aiza lirih. "Setiap malam hanya ucapan doa yang selalu aku lakukan kepada Allah agar Mas dan Raihan selalu sehat dalam perlindungan Allah. Bolehkah aku bertemu dengannya?"
"Tentu. Kamu ibunya. Kenapa tidak?"
"Bisa sekarang? Aku ingin menimang Raihan. Aku ingin mencium Raihan dan memeluknya. Aku.." Aiza menangis. Lalu memposisikan dirinya untuk duduk. Menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Maaf mas. Aku.. aku hanya tidak tahan menahan rindu sama putra kita karena setelah selesai operasi, bunda sudah membawanya bersama Kak Afnan dan Naura."
Arvino terkejut. Tapi ia berusaha tetap tenang sambil ikut duduk di samping Aiza. " Jadi semuanya sudah tau dan sepakat untuk mengerjai mas?"
Aiza mengangguk. "Iya. Tapi mas jangan marah sama aku ya. Sedikitpun aku tidak berniat membalas perbuatan mas dimasalalu."
Arvino tersenyum. "Mas gak marah kok. Yang ada kalau sekarang pengennya melepas rindu sama kamu."
Aiza tersenyum. Lalu meminta izin untuk segera bersiap-siap. sepeninggalan Aiza pun Arvino tersenyum sinis.
"Ck. Cari mati memang kamu Afnan."

****
"Oh Calon masa depanku yang begitu cantik dan manis. Jika diluar sana para pria memberi sebuket bunga, coklat dan barang mahal. Apa daya aku yang hanya memberimu semangkok bakso. Kamu boleh mengataiku dengan pria si pemberi yang tidak istimewa ini. Tapi karena niat tulusku, aku akan memberikan kisah hati dan cintaku begitu istimewa hanya untukmu mengalahkan bakso sederhana ini.. Maukah kamu berhijrah denganku dijalan Allah Leni? Bila kamu menerima semangkok bakso ini maka artinya kamu menerima lamaranku. Bakso ini sengaja di buat dengan hati dan bumbu cinta spesial dariku."
Leni terkejut. Tidak ada hujan, angin, petir dan angin ribut tiba-tiba Afnan memanggilnya, Menyuruh berhenti lalu bersimpuh begitu saja didepannya?
Leni menatap datar Afnan. "Maaf. Jangan bercanda. Aku-"
"Aku sedang tidak bercanda Leni. Aku menyukaimu dalam diam selama ini. Tapi sebagai pria sejati, aku tidak bisa berlama-lama diam untuk tidak memperjuangkanmu. Terima lah."
Leni bertambah malu. Beberapa orang lalu-lalang memperhatikan diirinya dan Afnan saat ini. Apalagi situasinya sedang berada di pinggir jalan. Samping rombong bakso.
"Maaf saya tidak bisa."
Dan Leni pun akhirnya melenggang pergi. Meninggalkan Afnan yang muram karena cintanya di tolak. Leni memilih pulang dan tidak menyangka bila saat ini ada nona mudanya di rumah Ayu.
Semua begitu ramai. Ada Devian dan Adila yang saat ini sedang hamil 4 bulan. Beberapa keluarga Aiza dan keluarga Ayu dari Amerika. Mereka semua ikut ke Indonesia. Semuanya berkumpul karena sedang melakukan syukuran pada Aiza yang baru saja lulus.
Di sofa empuk, Ada Aiza yang kini menimang putra tercintanya. Sikapnya yang memang tidak banyak bicara selain didepan Arvino pun sesekali hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Aiza mencium pipi Raihan yang mulai gempal.
Sampai akhirnya Aiza meminta izin pamit undur diri karena ingin memberi Asi pada Raihan di kamarnya. Setelah kepergian Aiza, Arvino menatap kesal sambil bersedekap.
"Aku lagi ulang tahun. Mana kadoku?" ucap Arvino yang sebenernya hanya bercanda. Anggap saja dia ingin membahas dan meminta pertanggungjawaban sama keluarganya yang tega mengerjainya.
"Oooooh iya yah. Wah-wah gimana rasanya Vin? Ck." cibir Devian.
"Biasa aja."
Devian tersenyum sinis. "Benarkah? Apa susahnya sih ngaku?"
Dan semuanya tertawa. Arvino semakin jengkel karena ia sendiri tidak bisa menyembunyikan raut wajah kesalnya.
"Makanya! Lain kali kalau ngerjain Aiza itu jangan kebangetan! Disislain jadi pria jangan suka gonta-ganti pasangan supaya kamu gak punya musuh! Tu lihat? Istri kamu kan yang terkena imbasnya." timpal Ayu dengan kesal. "Awas ya kamu sampai salahin Aiza! Ingat! Dia gak salah. Ini ide dari kami!".
"Kalian tega ya. Bahkan selama 7 hari 7 malam di indonesia aku benar-benar hampir gila." kesal Arvino.
"Itu hukuman buat kamu yang sudah mengerjai adikku. Kamu benar-benar keterlaluan ya jadi adik ipar! Nyaris saja aku kehilangan calon keponakan yang belum lahir." Naura menatap tajam Arvino.
Adila ikut angkat bicara. "Iya tuh bener. Kasihan Aiza. Bunda sampai bela-belain menahan Aiza supaya gak ketemu putranya dulu sementara waktu."
Dan semuanya pun akhirnya mengertawakan Arvino yang terlihat seperti orang bodoh.
"Asalamualaikum. Hei hei.. lagi ramai-ramainya nih. Kalian pada bahas apa sih? Wah ternyata aku ketinggalan ya. Aku-"
Dan Afnan hadir begitu saja. Lalu tidak jadi melanjutkan ucapannya begitu Arvino menatapnya tajam. Dengan tersenyum sinis Arvino meraih pukulan bisbol sehingga membuat Afnan lari keluar rumah.
"Huaaaaaaaaaaaa- tidaaaaaaaakkkk!"
"Hei! Hei! Mau kemana Om?!! Jaharaaaaaaaa Om ini ya!!!!"
Afnan berlari keluar rumah. Bahkan Dengan panik ia memanjat pohon. Arvino mengarahkam pukulan besbol sambil menunjuk-nunjuk kearahnya.
"Turun Om turun! Atau restoran bakso om aku sita saat ini juga!"
"Ya jangan gitu dong." mohon Afnan sok dramatisnya. "Ya salah sendiri. Itu semua gara-gara kamu yang tega tidak membawaku ke Amerika."
"APA??!!!!!!!!"
"Iya. Amerika. Kamu banyak uang. Janganlah pelit-pelit denganku."
"Ya Allah,,, Aku sudah menyuruh kepercayaanku menjemput om! Tapi om malah mengakui sebagai petter parker dan om-"
"Tuan Arvino! Tuan! Jangan lakukan itu."
Tiba-tiba Leni hadir begitu saja. Ia tidak menyangka bila Leni datang tanpa diduga dengan panik.
"Apa? Kamu mau bela paman aiza yang lebay itu?"
Leni terlihat takut. "Maafkan saya tuan. Tolong jangan pukul calon suami saya."
"Apa?" Arvino yakin ia tidak salah dengar. "Ca-calon suami?"
Leni mengangguk dengan malu. Raut wajahnya bersemu merah sehingga tanpa diduga Afnan melompat dari atas pohon begitu saja.
"Masya Allah. Akhirnya aku akan melepas masa lajangku. Leni makasih ya. Tapi aku gak ada semangkok bakso ini. Gimana?"
"Em.. i-iya. Tidak apa-apa."
Dengan santai Afnan beralih menatap Arvino. "Jangan pukul aku ya. Aku mau nikah nih. Kan gak oke di pelaminan wajah babak belur. Sudah ya, tak makan bakso dulu." Afnan beralih menatap Leni. "Ayo calon masa depanku, kakak traktir adek makan bakso." ucap Afnan sambil mengedipkan salah satu matanya kearah Leni.
Dan akhirnya Afnan melenggang pergi setelah Leni pamit dengan sopan kearah Arvino. Arvino menatap kedua insan itu. Jika saja Afnan tidak akan menikah, mungkin saat ini juga ia akan menggiling Afnan ke dalam gilingan daging bakso.
****
"Kenapa kamu masih mau kesini? Kenapa kamu mau memaafkanku? Sementara aku sudah jahat sama kamu Aiza."
Dengan tulus Aiza menggenggam punggung tangan Kumala. Saat ini Aiza dan Arvino sedang duduk didepan Kumala yang sudah memakai pakaian tahanan.
"Aku sudah memaafkanmu kak Kumala. Aku paham bagaimana rasanya menyukai Mas Arvino tapi diabaikan begitu saja. Rasanya pasti sangat sakit. Menyukai seseorang itu tidak salah kok. Yang salah adalah bagaimana meraih hatinya dengan cara yang tidak benar."
"Maafkan aku. Aku menyesal. Keegoisan benar-benar membutakan akal pikiran dan hatiku."
Kumala menundukan wajahnya. Kini ia telah menyesal. Berbeda dengan Arvino yang kini mendengus kesal. Ia tidak habis pikir kenapa Aiza malah mau mengunjungi Kumala yang nyata-nyatanya sudah mendzoliminya berkali-kali. Bahkan memaafkannya.
"Aku sudah memaafkan kakak kok. Aku.. aku cuma minta tolong agar kakak segera bertaubat dan jangan mengulangi kesalahan dimasalalu."
"Ayo kita pulang. Aku lelah mau istirahat." ketus Arvino yang akhirnya berdiri dari duduknya. Aiza memaklumi bagaimana Arvino membenci Kumala.
Aiza beralih menatap Kumala.
"Em.. maaf kak. Aku harus pulang ya. Raihan tidak bisa di tinggal lama-lama."
Aiza pun berdiri diikuti dengan Kumala. Tanpa ragu Aiza memeluk Kumala.
"Aku minta maaf ya kak kalau ada salah. Maafkan aku yang jatuh cinta sama mas Arvino. Aku tidak bermaksud merebutnya. Tapi aku tidak bisa mengelak jika Allah mentakdirkan kami berjodoh."
"Kamu gak salah." Kumala memeluk erat Aiza. "Aku yang salah sama kamu. Sekali lagi maafkan aku Aiza. Aku harap kamu masih mau menjalin silahturahmi denganku suatu saat."
"Insya Allah kak."
Mereka pun saling melepas pelukannya.
"Aku pergi kak. Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam Aiza."
Arvino dan Aiza pulang. Selama di perjalanan Aiza memilih memeluk erat lengan Arvino.
"Mas marah ya?"
"Mas cuma gak suka kamu begitu!"
"Mas.." ucap Aiza lembut. "Aku ngerti mas marah. Tapi sesama manusia harus saling bermaaf-maafan. Allah saja pemaaf. Masa kita sebagai ciptaanNya tidak pemaaf?"
Dan Arvino tidak bisa menjawab lagi. Aiza benar. Yang ia lakukan hanyalah membalas pelukan Aiza selama perjalanan pulang kerumah dengan Randi yang mengemudikan mobilnya.
****
Dua Bulan Kemudian.
Aiza memandang sebuah bingkai berukuran 24R besar di dinding kamarnya sambil menimang Raihan yang baru saja tertidur dalam dekapannya.. Rasa syukur tak terkira di hatinya. Sebuah foto wisuda bersama keluarga besarnya secara lengkap.
Ada Ayah Bunda mertuanya. Lalu disampingnya ada Fikri meskipun datang dalam keadaan terpaksa kalau bukan Bunda Ayu yang membujuknya. Tak hanya itu saja, Ada Naura, Daniel dan keponakannya si Hafizah lalu ketambahan keluarga baru yaitu Leni yang mengamit lengan Afnan setelah mereka menikah dengan status pengantin baru serta kakek dan nenek Arvino hingga sosok Arvino tepat di sebelahnya. Arvino tersenyum manis sambil menggendong Raihan berusia 3 bulan.
Sebuah pelukan hangat terasa dari belakang. "Lagi ngapain?"
"Lihat foto kita mas."
Arvino mengikuti arah pandang Aiza. "Alhamdulillah ya. Akhirnya kamu lulus sarjana dan gak nyangka kita foto bareng Raihan."
Aiza tersenyum kecil. "Alhamdullilah."
"Kabar baiknya mulai bulan depan aku akan mengurus surat pengunduran diri sebagai dosen. Lalu beralih menjalankan bisnis perusahaan properti yang diwariskan kakek padaku."
"Secepat itu?"
"Iya. Sesuai yang mas biacarakan dulu."
Aiza mengangguk. Lalu menuju kamar Raihan dan meletakkan Raihan kecil di box bayinya yang sudah tertidur pulas.
"Alhamdulillah akhirnya dia tidur."
"Iya. Aiza makasih ya."
Arvino kembali memeluk Aiza dari belakang. Aiza menggenggam punggung tangan Arvino diperutnya.
"Untuk apa mas?"
"Telah menjaga rasa cintamu hanya untukku."
Aiza membalikan badannya. Mengalungkan lengannya pada leher Arvino.
"Aku juga berterima kasih sama mas."
"Untuk?"
"Telah jatuh cinta padaku dan bersedia berhijrah bersamaku dijalan Allah."
Arvino tersenyum lalu mencium kening Aiza. "Kenapa kamu menyukaiku dalam diam?"
"Karena aku hanya ingin berharap sama Allah. Hanya kepada Allah aku selalu berdoa agar mas jodohku. Aku tidak berani mengungkap perasaanku saat itu. Karena bagiku, menyukai mas tidak perlu di umbar kesiapapun meskipun saat itu aku harus menahan rasa cemburu dengan kak Kumala, mbak Adila dan wanita-wanita lainnya. Aku tau itu sudah menjadi resiko. Tapi aku akan sabar.. sampai rasa cemburu ku itu hilang dengan sendirinya disaat Allah mengabulkan doaku bahwa mas jodohku."
"Masya Allah." Arvino memeluk Aiza. "Itu ucapan terpanjang yang rasanya ingin aku rekam." kekeh Arvino.
"Gak ada pengulangan lagi!" sebal Aiza walaupun tidak serius. "Cukup saling mencintai dan menerima apa adanya diantara kita mas. Maafkan aku jika aku belum sempurna menjadi istri mas."
"Dan maafkan aku bila dimasalalu aku berbuat tidak baik. Allah benar-benar memberiku hidayah untuk meninggalkan kemaksiatan lalu berhijrah dengamu sampai halal."
Air mata meluruh di pipi Aiza. Arvino mendaratkan ciumannya di kening Aiza.Mereka saling menempelkan dahi setelah melepas ciuman lembut mereka. 
"Aku mencintaimu Aiza."
"Aku juga mencintaimu Mas. Mas Vinoku. Masya Allah."
"Sesunggunya dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah." ( HR. Muslim no. 1467 )






Aiza Shakila & Arvino Azka berakhir disini

Aiza Shakila & Arvino Azka berakhir disini.
TAMAT
🖤🖤🖤🖤🖤
MASYA ALLAH ALHAMDULLILAH 😭😭😭
Akhirnya Mencintaimu Dalam Diam yang di tulis pada tanggal 15 November 2018 hingga 30 Mei 2019 tamat.
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti kisah cinta Arvino Aiza. Terima kasih buat dukungan kalian, komentar, vote hingga air mata penuh haru yang telah kalian teteskan dalam membaca kisah ini.
Semua di tulis secara lengkap. Dimulai dari Aiza merantau, lalu pergi ke Samarinda. Jadi mahasiswi angkatan tahun di pertamanya, bertemu Arvino ketika di pagi hari lalu bertabrakan hanya karena mencari toilet sampai akhirnya dia menyukai dan jatuh cinta dalam diam sama Arvino.
Bahkan di kisah ini dilengkapi dengan alur Arvino yang dulunya gak suka Aiza jadi suka, mencoba memperjuangkannya..di ikat pakai perjanjian hutangnya sampai akhirnya menikah. Mulai dari dia buta karena kecekakaan sampai bisa melihat lagi...
Berbagai macam problematika sampai dari kemunculan Kumala. Terus menghilang, sampai akhirnya muncul lagi di selingi perjuangan Aiza dalam menyelesaikan kuliah saat hamil sampai akhirnya lahiran pun.. Aiza tetap sosok wanita yang behati baik dan pemaaf.
Terima kasih sekali lagi buat kalian yang sudah mengikuti alur ini dari awal sampai akhir.
Maaf jika selama kepenulisan Author ada salah dan khilaf dalam penyampaian kata-kata, alur serta eyd dan typonya.
Author masih banyak belajar. Semoga Author menjadi penulis yang Istiqomah. Lancar update buat menemani keseharian kalian dan doakan semoga kita semua selalu di beri kesehatan, rezeki, dan panjang umur oleh Allah SWT.
Author sayang sama kalian sehingga tidak ada sedikitpun berniat membuat kisah sad ending. Author memang suka menyembunyikan teka-teki. Author emang suka bikin kalian menerkan-nerkan dan author memang suka membuat kalian menangis sehingga berakhir dengan happy ending.
Terima kasih sekali lagi sudah mengikuti karya author Mencintaimu Dalam Diam.
Alhamdullilah. Boleh Author tau bagaimana kesan kalian selama membaca kisah Arvino dan Aiza dari awal hingga tamat?
Kritik dan saran buat Author??
Dan sampai jumpa di karya selanjutnya. Insya Allah 🖤
Samarinda, 30 Mei 2019 00:43
With Love 
LiaRezaVahlefi
Instagram 
lia_rezaa_vahlefii

*****
Next Cerita tentang Fikri Azka, Adik Arvino : 

UPDATE DI WATTPAD liareza15 ( TAMAT )
Blurb : ( Sequel Mencintaimu Dalam Diam)

Fikri tidak masalah jika ia harus terlambat menikah di balik kesibukannya sebagai CEO di perusahaan yang ia jalankan. Meskipun Fikri terlihat sempurna di mata kaum hawa, lelaki berparas tampan ini justru mengalami kesulitan move on hanya karena masalalu setelah meninggalnya Devika akibat kecelakaan lalu lintas.

Tapi apa jadinya, setelah bertahun-tahun kemudian Fikri berhasil menemukan pelaku penyebab tewasnya Devika? Mirisnya lagi, pelaku itu bernama Afrah Amirah yang akan di jodohkan dengannya!


3 komentar:

  1. Super.. Super... Super.Alur cerita yang begitu mengasyikkan sehingga ga mau putus membaca sebelum mengetahui endingnya... Salut

    BalasHapus
  2. Makasih sudagh mampir dan baca yaaa :)

    BalasHapus
  3. Gatau lagi harus mau ngomong apa.. Keren, bagus, dan bisa nyampe banget ke hati, ya allah.. Banyak banget pelajarannya yang tersampaikan di cerita ini..

    BalasHapus