Chapter 84 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 84 : Mencintaimu Dalam Diam





"Maafkan kami, sesuai observasi dan keputusan bersama tim dokter, kami harus melakukan operasi caesar pada istri anda."
"Apakah dia baik-baik saja? Maksud saya, keadaan Aiza. Apakah dia selamat?"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Yang paling utama adalah menyelamatkan kondisi janinnya Pak. Jika di biarkan bisa mengancam nyawa anak bapak. Istri anda kehilangan banyak darah, disisilain tekanan darahnya sangat rendah. Kondisi istri bapak benar-benar buruk dalam kehamilannya saat ini."
"Tolong tangani dia dengan baik. Selamatkan Aiza dok. Saya tidak ingin istri dan anak saya kenapa-kenapa."
"Kita berdoa saja pada Tuhan. Kami akan mengusahakannya. Permisi."
Percakapan Arvino dengan seorang dokter yang kini menangani Aiza sejak 20 menit yang lalu membuatnya terlihat mondar-mandir dengan gelisah didepan sebuah ruangan persalinan. Didalam sana istrinya sedang berjuang.
Arvino begitu panik. Sedikit pun ia tidak bisa melupakan bagaimana Aiza yang tiba-tiba melindungi dirinya dari sosok penembak misterius saat kejadian di gudang tadi.
"Nak tenanglah."
Teguran Ayu sejak tadi tidak bisa membuat Arvino tenang. Beberapa kelurga sudah mendengar kabar Aiza lalu segera menuju rumah sakit.
"Bagaimana aku bisa tenang bunda. Aiza. Putraku. Dia-"
"Berdoa sama Allah. Minta sama Allah agar Aiza dan janinnya lahir dengan selamat. Cobalah untuk tenang dan berpikir positif. Allah tergantung perasaan hambaNya."
Ayu berdiri dari duduknya. Kemudian merengkuh lengan putranya untuk membawanya duduk bersama. Saat ini ada Naura yang ikut cemas. Sementara suaminya dan ayah Arvino memilih menunggu di luar ruangan untuk menemui keluarga lainnya.
"Bun."
"Hm."
"Vino takut."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak."
"Vino ngerti." Arvino menyenderkan dahinya pada pundak Ayu. "Kata orang Aiza itu tidak cantik. Aiza itu biasa-biasa aja. Aiza itu sederhana. Tapi ntah mengapa Vino bisa jatuh cinta sama dia waktu di masalalu."
Ayu mengelus pipi putranya. Ia tahu bagaimana terpukulnya Arvino saat ini.
"Vino.. vino hanya takut.. Vino takut bila Allah akan mengambil nyawa Aiza. Bahkan vino belum bisa bahagiakan dia bun. Aiza begitu sayang sama janin didalam kandungannya. Bagaimana jika dia... Dia-"
Pintu terbuka. Salah satu dokter yang menangani Aiza keluar sehingga membuat Arvino segera berdiri di ikuti Ayu. "Dok! Bagaimana dengan istri saya?"
"Apakah adik saya selamat? Bagaimana dengan janinnya?" tanya Naura tidak sabaran dan khawatir.
Dokter tersebut hanya diam. Ekspresi wajahnya tidak bisa di tebak. Ayu mencoba menenangkan putranya dengan menggenggam tangannya.
Dokter pun akhirnya menghela napas. "Operasinya berjalan dengan lancar. Selamat ya pak, janinnya berjenis kelamin laki-laki. Tapi saat ini kondisi organ-organnya belum sempurna sehingga harus di inkubator mengingat usia kehamilan istri anda baru 7 bulan. Tapi.."
"Tapi apa dok? Istri saya baik-baik aja kan?"
"Istri anda mengalami koma."
Arvino memudurkan langkahnya. Ia menggeleng. Air mata menetes di pipinya. "Tidak.. tidak mungkin. Aku yakin dia.. aku yakin dia baik-baik saja. Dia.. dia mencintaiku. Tidak mungkin dia koma.."
Naura menutup mulutnya dan terisak menangis.
"Maafkan kami. Kondisinya begitu memburuk. Disisilain istri anda juga kehilangan banyak darah, psikisnya yang terganggu dan tertekan serta tekanan darahnya yang sangat rendah. Detak jantungnya sempat berhenti. Kami sudah berusaha hingga janinnya berhasil dikeluarkan hingga 10 menit kemudian detak jantung istri anda kembali berdetak."
Dokter tersebut terlihat serius. "Karena sempat kehilangan detak jantung, oksigen tidak tersebar sampai ke jaringan otaknya sehingga menyebabkan istri anda koma."
Arvino tidak mampu berkata-kata lagi. Air mata mengalir di pipinya. Hancur sudah hatinya. Apa yang ia takutkan kini terjadi. Aiza mengalami koma dan belum sempat melihat putranya.
Ayu pun menangis hingga akhirnya Arvino memeluknya.
****
Arvino mengenggam punggung tangan Aiza yang tidak terpasang jarum impus. Sudah 8 jam berlalu Aiza masih koma. Suasana begitu dingin. Kedua mata Arvino masih memerah karena sejak tadi ia tidak bisa menahan air matanya sendiri. Kondisi Aiza begitu memperihatinkan. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, masuklah Randi dan juga Leni yang baru saja pulih setelah punggungnya di tembak oleh Kumala.
"Kumala sudah di proses oleh pihak kepolisian. Saat ini dia sudah di terbangkan ke Indonesia." ucap Randi
Arvino mendengarkannya. Tapi ia memilih diam. Ia sedang tidak berminat membahas tentang Kumala yang menjadi sebab musabab kepergian Aiza. Sekarang ia menyesal kenapa dulunya suka bergonta-ganti wanita sehingga pada akhirnya semuanya menjadi seperti ini.
Hanya karena keegoisan Kumala. Kecemburuan dan kejahatan yang ia lakukan sampai akhirnya seorang istri yang di cintai Arvino mengalami koma.
"Dia tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun sekalipun ia sedang koma saat ini" ucap Arvino pedih.
"Aku mencintaimu sayang. Terima kasih sudah menjaga cintamu hanya untukku. kumohon cepatlah sadar. aku merindukanmu." Arvino mencium kening Aiza dan air mata meluruh dipipi Arvino.
****

Arvino sudah berada diruang NICU beberapa menit yang lalu. Dalam diamnya, ia menatap putra tercintanya yang kini sedang berada di dalam inkubator. 
"Dulu dia begitu menginginkan kehadiranmu." bisik Arvino sendu.
"Dulu juga dia pernah bilang kalau suatu saat punya putra dan putri, wajahnya akan sangat cantik dan tampan. Bermata biru lalu berwajah blasteran."
Air mata kembali menitik di pipi Arvino.
"Dia begitu menyayangimu. Sampai-sampai dia mempertahankan dirimu didalam rahimnya ketika dengan bodohnya aku mengerjai di hari ulang tahunnya.. Dia seorang ibu yang kuat selama mengandung dirimu. Dia seorang istri yang penyabar dalam mengahadapiku sebagai ayahmu. Dia seorang ibu yang baik dan menjaga cintanya sejak dulu denganku sehingga pada akhirnya aku jatuh cinta kepadanya lalu kamulah menjadi buah cinta kami."
Arvino memaksanya senyum pedihnya.
"Tapi Allah berkehendak lain. Allah sedang menguji kesabaran kita. saat ini ibumu sedang berjuang dalam koma nya antara hidup dan mati." Arvino mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala putra tercintanya.
"Karena Allah bersama kita. Bersama orang-orang yang sabar. Allah tidak akan meninggalkan kita. Aku mencintaimu nak. Semoga menjadi anak yang Soleh dan kuat. Sekuat hati ibumu yang begitu sabar dalam menemaniku dan mengandung mu hingga berjuang melahirkanmu."
Dan tangis Arvino pun pecah di kesunyian ruangan.
😭😭😭😭
Ini beneran loh. Author gak bikin alur sebuah mimpi macam karya better with you dulu.
Maaf :(
Sehat selalu buat kalian. Kalau mau out sama cerita ini, sayang banget. Setelah ini Part Ending.
😭😭😭
With Love 
LiaRezaVahlefi
Instagram : 
lia_rezaa_vahlefii



CHAPTER ENDING :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar