Chapter 83 : Mencintaimu Dalam Diam - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Jumat, 17 Januari 2020

Chapter 83 : Mencintaimu Dalam Diam






Arvino melangkah dengan tegap. Tatapannya begitu datar. Dibelakangnya ada Randi yang setia mengikutinya kali ini.
Suasana begitu tegang. Tempat yang tertutup dan tidak terkespos orang-orang yang melintasi daerah tersebut.
Sebuah lokasi yang berada jauh dari keramaian publik.
Seorang pria berbadan besar dan berotot dengan pakaian serba hitam membukakan pintu untuk Arvino. Arvino sudah masuk dan memperhatikan sekitarnya yang begitu berantakan. Sebuah gudang tak terpakai.
Seorang wanita dengan anggunnya duduk dengan santai. Rokoknya terselip di bibir berpulas lipstik berwarna merah. Siapa lagi kalau bukan Kumala yang kini berdiri, membuang puntung rokoknya di lantai kemudian menginjak dengan sepatu hitamnya.
"Akhirnya... Setelah beberapa jam menunggu." ucap Kumala dengan manis. "Kamu sudah berubah dan memutuskannya?"
Arvino menatap datar Kumala. Ia memberanikan diri tanpa takut melangkahkan kedua kakinya hingga mereka kini saling berhadapan.
"Aku sudah memikirkannya. Setelah itu, sesuai janjimu lepaskanlah Aiza."
"Tentu." Kumala tersenyum sinis. Dengan santai ia menyentuh lengan Arvino yang terbalut jaket hitamnya. Ia mengelus otot lengan Arvino.
Rasanya Arvino ingin menampar kumala saat ini juga. Tapi sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Ia tidak boleh gegabah. Kumala terlalu berbahaya.
"Sudah lama sekali." bisik Kumala dengan tatapan menggodanya pada Arvino. "Kamu pasti merindukanku. Iya kan?"
Kumala menghapus jarak di antara mereka, ia berjinjit hanya untuk berbisik di telinga Arvino.
"Aku mau kamu ceraikan Aiza dengan cepat sehingga aku akan terus berada didekatmu setiap saat."
Arvino masih bersikap santai. Kumala benar-benar menganggunya. Ia pun memundurkan langkahnya. Berbagai macam cara dan rencana sudah ia siapkan. Tapi Arvino tidak ingin berburu-buru. Untuk sementara ini ia mengikuti alur yang di inginkan Kumala.
"Lepaskan Aiza sekarang. Dan aku akan menikahimu"
"Aku tau. Tapi tidak semudah-" DOR!"
DOR!
DOR!
DOR!
Empat tembakan melesat begitu saja. Suasana yang tadinya tenang tapi mencekam tiba-tiba menjadi tegang.
Arvino dan Kumala menoleh kearah sumber dimana tembakan berasal.
Arvino terkejut. Ia tidak menyangka bila semuanya berasal dari Aiza. Dan ia tidak habis pikir darimana Aiza bisa memegang pistol di tangannya.
"AKU TIDAK SUDI KAMU MENIKAHI SUAMIKU SEENAKNYA!" bentak Aiza marah.
Dengan cepat Arvino memukul tengkuk belakang leher Kumala hingga wanita itu tersungkur dilantai.
"LARI AIZA! LARI! KAMU BENAR-BENAR MEMBAHAYAKAN DIRIMU! RANDI! SELAMATKAN AIZ-" DOR!
Rupanya Aiza keras kepala. Ia menembak kearah Kumala namun sungguh disayangkan tembakan itu melesat. Niat Arvino yang ingin bernegosiasi dengan Kumala secara licik gagal. Ia tidak menyangka Aiza tiba-tiba hadir begitu saja dan ia tidak mengerti kenapa Aiza begitu keras kepala bahkan bisa meloloskan diri dari ruangan penyekapan.
Randi sudah melawan beberapa komplotan Kumala yang menyerangnya secara tiba-tiba.
Kumala berusaha untuk berdiri "KURANG AJAR KAMU AIZA!"
"Aiza! Maaf saya harus membawamu Aiza!"
Leni hadir tanpa di minta Arvino. Posturnya yang tinggi dan besar dengan mudahnya menggendong tubuh Aiza. Leni sengaja karena ia tidak mungkin mengajak Aiza berlarian dengan posisi kehamilannya 7 bulan.
Suasana begitu menegangkan. Kumala berusaha untuk berdiri dan berhasil. Tengkuk lehernya sakit. Tapi ia mengabaikannya.
DOR!!
Dengan cepat Kumala mengarahkan pistolnya kearah Leni hingga mengenai punggungnya. Arvino menendang pergelangan tangan Kumala.
"Sudah cukup! Kamu benar-benar keterlaluan Kumala!"
Kumala mengabaikan rasa sakit ditangannya akibat di tendang Arvino. Sementara pistol tersebut sudah jatuh ke lantai. Kumala hendak meraih dan dengan cepat Arvino mengambil duluan pistolnya lalu mengarahkannya tepat kearah kumala.
Kumala terdiam membeku. Ia meengangkat kedua tangannya. Wajahnya panik.
"Serahkan dirimu ke polisi maka aku akan memaafkanmu." ucap Arvino dingin. Tajam dan tegas.
Kumala meneguk ludahnya dengan gugup. Lalu raut wajahnya berubah tenang ketika tanpa Arvino sadari, seseorang pria misterius dari jarak jauh penuh kegelapan sudah mengarahkan sniper ke punggung belakang Arvino.
Dengan santai Kumala berdiri dan bersedekap
"Serahkan cintamu padaku, maka semuanya akan berakhir. Aku bisa pastikan Aiza selamat dan tidak terluka. Kamu lupa kalau dia sedang mengandung buah cinta pertama kalian?" Kumala menatap Arvino dengan sinis. Ia menurunkan kedua tangannya lalu bersedekap.
"Ah lebih tepatnya anak kedua ya?" Kumala tertawa jahat. "Aku lupa jika anak pertama kalian sudah keguguran. Pasti rasanya sakit sekali saat di dorong jatuh ke lantai toilet." sindir Kumala hingga membuat Arvino marah.
Wajah Arvino sudah memerah karena amarahnya. Dengan mencengkram kuat pistolnya, ia mulai menarik pelatuknya. Arvino masih berusaha sabar untuk tidak membunuh wanita picik macam Kumala.
"Pilih dan putuskan Arvino. Atau aku-
DOR!!!!
"AIZA!!!!!!!"
Arvino terkejut. Hatinya begitu hancur ketika tanpa diduga Aiza mendorong tubuhnya agar terhindar dari seorang sniper yang awalnya ingin menembak dirinya. Sebuah peluru bersarang mengenai punggung Aiza sementara Leni sudah tersungkur tak sadarkan diri karena sempat di tembak oleh Kumala beberapa menit yang lalu.
Menyadari Aiza meringkuk karena punggungnya mengenai timah panas. Kumala terkejut, lalu tersenyum sinis dan berniat kabur hingga ia kembali tersungkur ketika tanpa diduga dengan cepat Randi mengejarnya setelah menghabisi beberapa kompolotan Kumala lalu membekap bagian belakangnya dan memberi sengatan alat kejut listrik stun gun 5000 volt.
Kumala pingsan. Beberapa suruhan Arvino pun kini bergantian membawa Kumala dan menyerahkan kepada pihak kepolisian. Sudah di pastikan Kumala tidak akan bisa kabur lagi kesekian kalinya.
"Ya Allah Aiza! Kenapa kamu melindungiku!"
Arvino sudah tidak perduli dengan ucapan nya yg begitu kasar terhadap Aiza. Ia begitu panik karena Aiza sudah tidak sadarkan diri. Darah mengalir dengan deras di punggungnya. Randi sudah menolong Leni yang memang sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.
Air mata mengalir di pipi Arvino. "Aku mohon bertahanlah demi aku Aiza." Arvino semakin panik. Aiza benar-benar tidak sadarkan diri. Wajahnya memucat bahkan tubuh Aiza terasa dingin.
Sebuah mobil sudah siap membawa Arvino dan Aiza kerumah sakit. Mobil begitu cepat membawa mereka kerumah sakit.
Seorang petugas tim medis rumah sakit dengan sigap mendorong sebuah brankar pasien begitu Arvino keluar dari mobilnya dan menggendong tubuh Aiza.
"Nurse! Help me!  Save my wife's life. Please."  panik Arvino dengan deraian air matanya.
Seorang perawat terkejut melihat Aiza begitu pucat, tubuh yang dingin dan bersimbah darah dalam keadaan hamil. Salah satu tim medis mulai mendorong brankar Aiza memasuki UGD. Ia memegang leher Aiza, memeriksa denyut nadi yang melemah.
Tanpa Arvino sadari, rekan sesama tim medis pun saling bertatapan. Sebagian dari mereka sudah mulai menduga bahwa apa yang mereka pikirkan semoga saja tidak terjadi.
Tapi hanya melalui isyarat matanya saja mereka tahu bahwa pasien tersebut saat ini tidak bisa tertolong lagi.
***
Kumala sudah di bawa ke kantor polisi sama Randi. Tapi Aizanya...
😭😭😭😭
Terima kasih sudah baca, sehat selalu buat kalian ya. 
With Love, LiaRezaVahlefi
Instagram : lia_rezaa_vahlefii




NEXT CHAPTER 84 KLIK LINK DIBAWAH INI :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar