Chapter 31 : POV Raihan - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 09 Mei 2021

Chapter 31 : POV Raihan

 



*Kepergok Warga*


🎮🎮🎮🎮


Jika kalian sebelumnya menganggapku suka sama Raisya lalu tersenyum-senyum gak jelas karena mengetahuinya. Aku cuma bilang. Lupakan saja.


Kalian pikir aku suka sama dia? Ck. Tentu saja tidak. Ah untuk hal tadi. Aku sengaja mengeluarkan jurus ampuh gombal receh yang pernah aku dengar dari Faisal agar Raisya menghentikan marah-marahnya yang tidak jelas itu.


Dasar cewek labil. Menyusahkan saja. Itu yang aku pikirkan.


Akhirnya aku mengendarai motorku. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku membonceng seorang cewek di motor yang sama dalam keadaan darurat.


Tante Adila sakit. Sebenarnya mami berniat kerumahnya hanya untuk mengantarkan rantang berisi makanan. Hal yang biasa sejak dulu Mami lakukan ketika kami bertetangga sebelah. Kata Mami saling memberi makanan itu berpahala.


Kemudian mami menghubungiku. Katanya Tante Adila lemas. Wajahnya pucat. Tidak mengetahui dimana keberadaan ponselnya untuk menghubungi putrinya saking lemahnya kondisi beliau.


Jika hal itu tidak terjadi. Mungkin saat ini aku sudah dirumah. Sudah mandi. Sudah makan malam. Sudah belajar bahkan menyibukkan diri bermain game dengan Anu dan Nua.


Aku mengendarai motorku dengan cepat untuk menuju rumah sakit. Masa bodoh jika saat ini Raisya terlihat ketakutan karena motorku yang laju. Apalagi saat ini aku merasa Raisya memegang tas ransel yang ada di punggungku. Jarak antara aku dan dia.


Ceilahhh aku dan dia. Ck menjijikan.


"Rai bisa pelan."


Aku mengabaikan Raisya. Hujan mulai rintik karena cuaca hari ini memang mendung sejak sore.


"Rai aku takut. Ntar kalau kecelakaan gimana."


"Takdir."


"Pelan-pelan. Aku belum mau mati muda."


"Gak bis-" PLAK!


Lagi-lagi aku meringis kesal. Ini sudah kedua kalinya Raisya memukul helm yang aku kenakan. Walaupun kepalaku tiba-tiba sedikit pusing tapi tetap saja aku mengabaikannya. Dasar dia itu. Tidak tahu rasa terima kasih. Syukur aja aku mau antar walaupun terpaksa.


Aku menyipitkan kedua mataku. Dari sejauh mata memandang aku melihat polisi di persimpangan empat. Astaga. Aku lupa bila saat ini Raisya tidak memakai helm.


Dengan cepat aku memutar haluan. Belok kanan kesebuah jalan yang tentunya akan memakan waktu lebih lama untuk ke rumah sakit.  Hujan mulai turun. Lagi-lagi aku juga tidak membawa jas hujan. Ini motor baru. Tentu saja aku tidak sempat berpikir untuk memasukan jas hujan didalam jok motorku.


"Rai. Hujan. Apakah kita tidak berteduh dulu."


Suara Raisya tiba-tiba membuatku berpikir bahwa itu adalah saran yang tepat. Alhasil aku menepi di pinggir jalan. Tepatnya di sebuah halte. Dengan cepat aku turun dari motor dan aku melihat Raisya kini berada di sampingku.


Wajahnya pucat. Bibirnya sedikit membiru. Ia memeluk erat tubuhnya sendiri. Baju kami benar-benar basah.


"Dingin banget." Raisya menggosokkan kedua tangannya sambil mengigil.


"Siapa bilang panas."


Raisya menatapku kesal. "Kenapa sih kamu jadi cowok jutek banget?"


"Tanya sama Papi dan Mami yang membuatku dulu."


Raisya mendecak sebal. Mungkin dia pikir aku gila. Ck. Biarkan saja.


"Ngapain nanya. Mau ditanya atau gak tetap aja kamu adalah cowok yang menyebalkan. Jadi mikir buat minta maaf sama kamu. Dasar cowok berhati batu. Aku minta maaf aja gak di maafin."


"Biarin."


"Sok banget!"


"Awas nanti kamu suka."


"Suka sama kamu?" Raisya menatapku horor. "Nauzubillah min dzalik."


Aku tersenyum sinis. Lalu menatap kearahnya. "Cewek itu baperan. Aku yakin cepat atau lambat kamu akan suka sama aku."


"Jangan mimpi!"


"Aku gak mimpi."


"Terus."


"Perlu aku jawab?"


Raisya menatapku kesal. Sepertinya dia kehabisan bahan omongan. Akhirnya dia pun terdiam. Akupun melakukan hal yang sama. Tanpa sengaja aku menatap pakaiannya yang basah oleh guyuran hujan dan sedikit membentuk lekukan di tubuhnya. Padahal jika dipikir pakaiannya adalah pakaian syar'i berukuran lebar.


Aku menghela napas. Kenapa akhir-akhir ini gejolak gairahku meningkat sebagai cowok normal? Aku menyerah. Dengan cepat aku mengeluarkan ponselku. Berusaha untuk menghubungi layanan jasa online menggunakan mobil untuk Raisya.


Jujur aja aku tidak bisa berlama-lama berada di dekat Raisya. Ternyata memang benar. Aura seorang perempuan yang bukan mahram itu benar-benar memikat iman seorang laki-laki. Kalian jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Ayolah guys. Aku sudah dewasa. Tentu saja untuk hal demikian aku harus mampu menahan diri terhadap godaan hawa nafsu yang berasal dari syaitan.


Sebuah notif ditemukannya driver membuatku bernapas lega. Aku mencoba chat untuk menjelaskan posisi kami lalu


APA?! SIAL.


Tiba-tiba driver itu mengcancel nya secara sepihak. Astaga. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Akupun mencoba mencari driver lain. Baik untuk layanan jasa roda dua ataupun mobil. Hasilnya tetap sama.


"Rai. Hujan sudah berhenti. Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Aku kepikiran Mama."


Aku memperhatikan cuaca. Ternyata benar. Hujan sudah berhenti. Aku pun hanya mengangguk pasrah hingga akhirnya kembali mengendarai motorku untuk melanjutkan perjalanan.


🎮🎮🎮🎮


"Kalau gini caranya kapan sampainya nih?"


"Aku tuh capek Rai kalau jalan kaki gini terus."


Aku mencoba menahan sabar ketika saat ini bersusah payah mendorong motor akibat ban motorku yang kempes.


Hujan yang turun dengan deras lalu mengisi kubangan-kubangan yang ada di jalanan rupanya menjadi penyebab ban motorku yang tiba-tiba kempes. Mungkin tertusuk sebuah paku yang ada di kubangan? Ntahlah.


"Rai.. masih jauh gak bengkel motornya? Capek nih!"


"Aku gak tahu."


"Yaudah. Aku mau makan dulu! Capek. Laper."


Aku menoleh kebelakang. Rupanya dia berhenti disebuah warung Lamongan penjual nasi goreng dipinggir jalan. Raisya sudah melenggang masuk. Aku berpikir sejenak. Apakah aku harus melanjutkan perjalanan ku mencari bengkel sementara perutku saat ini sedang lapar?


Tapi jika dipikir-pikir aku butuh tenaga untuk mendorong motor ini. Raisya itu cewek. Tentu saja dia tidak bisa di harapkan untuk membantu mendorong motor. Akhirnya aku mengalah. Lalu ikut masuk dan duduk di hadapan Raisya.


Raisya memilih diam sambil menunggu nasi goreng buatannya sambil bertopang dagu. Aku juga ikutan diam tidak melakukan apapun apalagi sekedar basa-basi memainkan ponsel agar terlihat sibuk sampai akhirnya nasi goreng kami pun terhidang didepan mata.


🎮🎮🎮🎮


Aku menatap datar sebuah bengkel yang saat ini sudah tutup. Aku mengecek jam dipergelangan tanganku. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 malam.


Hal tersial lagi adalah ponselku dan ponsel Raisya sama-sama mati total karena lowbat. Raisya terlihat lelah. Matanya sayup-sayup


"Jadi kita gimana Rai? Untuk menuju rumah sakit masih ada waktu kurang lebih 45 menit."


"Aku tahu."


"Kenapa juga sih kamu pakai belok ke jalan tadi sebelum mencapai persimpangan 4?"


"Kamu lupa kalau tidak pakai helm?"


"Ah iya."


Raisya terlihat lesu. Sebuah gazebo yang terbuat dari bambu kebetulan ada didepan kami dalam jarak beberapa meter. Saat ini kami berada di kawasan jalanan sepi dengan banyaknya pohon di kanan kiri jalan.


Raisya berjalan kearah gazebo bambu tersebut bertepatan disamping sebuah tiang listrik sebagai penerang jalanan.


Kalau boleh jujur. Aku juga lelah. Sangat lelah. Bahkan saat ini aku masih mengenakan seragam sekolahku. Aku mencoba sabar. Lalu duduk di gazebo tersebut setelah memarkirkan motorku yang benar-benar kempes.


"Rai.."


"Apa?"


"Maaf."


"Bosan aku dengernya."


Raisya terlihat tersenyum miris. "Aku tahu. Aku sadar kok sudah banyak bikin masalah. Terutama mama dirumah. Mungkin tekanan mama lagi naik karena kepikiran soal aku."


"Nah itu sadar."


"Karena itu aku tidak ingin mengulanginya lagi."


"Baguslah."


Aku menatap gemerlap malam yang benar-benar hampa tanpa adanya bintang. Suasana begitu sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar.


Akhirnya kami sama-sama terdiam. Kesunyian mengisi diantara kami. Sampai beberapa menit kemudian aku menoleh kearah Raisya. Dia tertidur. Kepalanya miring kesamping bersandar pada sebuah tiang bambu.


Tatapan ku beralih menatap pakainya yang masih basah. Aku mendengus kesal. Lagi-lagi bagian tubuhnya terbentuk. Terutama bagian depan dadanya.


Ck. Dasar. Akhirnya aku melepaskan jaketku. Berniat menyelimutinya agar tidak terlihat lagi yang seharusnya tidak aku lihat.


Aku merubah posisi. Berada didekatnya walaupun masih berjarak. Namun keduanya tanganku terhenti saat hendak menyelimutinya. Aku tertegun melihat wajahnya yang menyebalkan itu tertidur dengan pulas.


Ntah dorongan dari mana dengan perlahan aku berniat mengulurkan telapak tanganku untuk menyentuh pipinya yang.. em.. chubby. Lalu-


"APA-APAIN INI?!"


Aku terkejut. Begitupun dengan Raisya yang tiba-tiba terbangun kebingungan. Aku menyipitkan kedua mataku karena silaunya sebuah lampu senter mengarah kepada kami.


Beberapa orang pria paruh baya dengan ciri khas sarung di lehernya sambil membawa senter. Para penjaga ronda. Aku berusaha membela.


"Bukan Pak. Saya-"


"Ya ampun! Kalian ini masih bocah.  MAU MESUM DI SINI YA?!"


🎮🎮🎮🎮


Astaga. Warga kampung salah paham liat Raihan dan Raisya 🤣🤣


Makasih sudah baca. Maaf ngaret udpate. Seharian ini sibuk banget.


With Love 💋
LiaRezaVahlefi


Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Next Chapter 32 :

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-32-raisya.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar