Chapter 30 : POV Raisya - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 09 Mei 2021

Chapter 30 : POV Raisya

 



*Raihan Yang Menyebalkan!*


❣️❣️❣️❣️


Aku menatap kepergian Raihan dengan motornya. Aku memegang degup jantungku yang berdebar karena syok. Ini pertama kalinya aku melihat Raihan begitu kasar dengan bentakannya.


Salahkah aku bila meminta tolong seperti tadi tetapi Raihan dengan kasarnya marah-marah? Tapi aku tidak bisa mengelak jika air mataku akhirnya luruh. Aku seorang perempuan. Jika di lakukan seperti itu tentu saja hatiku tersayat.


Aku menghapus air mata dengan punggung tanganku. Menangis bukanlah hal yang tepat saat ini. Aku segera membalikan badan. Kembali ketempat sebelumnya. Berharap menemukan kunci mobilku yang mungkin tercecer.


Waktu Ashar sudah berlalu. Saat ini jam menunjukan pukul 17.00. Sekali lagi, aku mencoba menghubungi Mama namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban.


Aku beralih menghubungi Lili. Hingga beberapa detik kemudian panggilan terjawab.


"Asalamualaikum. Iya Sya ada apa?"


"Wa'alaikumussalam. Em Li, bisa minta tolong?"


"Minta tolong apa Sya?"


"Em.. kamu bisa kesini gak? Ke mesjid Islamic Center? Kunci mobilku hilang. Aku lupa dimana. Mungkin tercecer."


"Ah sayang sekali jika aku bisa." Seketika aku menjadi harap-harap cemas. "Sebenarnya.."


"Ya Li kenapa?"


"Aku.. em aku lagi sibuk Sya. Aku lagi tidak dirumah."


"Li ayo. Umi sudah nunggu di luar."


Aku terdiam. Samar-samar aku mendengar suara Kak Bejo. Oh rupanya Lili lagi sama dia. Kalau sudah begitu aku bisa apa?


"Sya. Maaf ya. Aku gak bisa bantu. Kebetulan aku sibuk."


"Oh iya tidak apa-apa Li. Maaf ya sudah ganggu."


"Sya.."


"Ya?"


"Jangan marah."


Aku tertawa sumbang. "Untuk apa Li? Santai aja. Gak usah lebay deh ah."


"Ya.. aku gak enak aja sya sama kamu. Maafin aku."


"Sudah deh sudah-sudah. Santai aja. Yaudah gih. Aku tutup ya panggilan ini. Asalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah panggilan terputus. Aku
menatap ponselku dengan nanar. Kenapa sih susah sekali menghilangkan rasa cemburuku sama Lala? Aku menghela napas. Lalu mencoba menghubungi Lala. Tapi tidak bisa. Sahabatku itu tidak merespon panggilan ku. Kemudian aku teringat Faisal. Terdiam sejenak. Memikirkan apakah caraku benar atau tidak jika meminta tolong padanya.


Aku menggelengkan kepalaku. Menepis hal tersebut. Aku khawatir akan merespotkan dia. Aku berusaha tenang dan mungkin aku akan mencoba kembali menghubungi Mama.


❣️❣️❣️❣️


Aku terduduk dengan menyelonjorkan kedua kakiku. Lelah. Haus. Ingin cepat pulang. Itu yang aku pikirkan saat ini. Aku sudah berkeliling selama 1 jam di mesjid ini. Tapi hasilnya nihil. Tidak ketemu.


Aku mendongakkan wajah. Menatap langit yang senja hingga adzan Maghrib berkumandang. Lalu aku mencoba menghubungi Mama namun hasilnya tetap sama.


Hingga akhirnya suara adzan pun usai. Aku harus melaksanakan sholat Magrib terlebih dahulu. Mungkin setelah ini aku harus meminta bantuan pada petugas masjid untuk mencari keberadaan kunci mobilku yang hilang.


❣️❣️❣️❣️


"Bagaimana Pak?"


Seorang petugas baru saja meletakkan sebuah mike didekat mimbar sebagai pengeras suara untuk mengumumkan bagi siapapun yang menemukan kunci mobilku.


"Kita berdoa aja ya dek. Semoga kuncinya ketemu. Kamu yakin sudah mencarinya disekitar sini?"


"Saya yakin Pak. Sudah mencarinya kemanapun. Tetap gak ketemu."


"Ya kalau gitu adek cari lagi ya. Maaf nih saya tinggal dulu. Saya belum bisa bantu lagi. Di rumah saya ada syukuran ba'da Magrib."


Aku mengangguk. "Iya Pak. Tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkan."


Setelah petugas mesjid itu mengangguk dan pergi, dengan lesu aku berjalan mencari kunci mobilku itu. Rasa lelah begitu terasa. Perutku sangat lapar. Aku juga haus.


Sampai akhirnya aku terduduk dengan lemas. Rasa frutasi dan putus asa menyergap. Aku menundukan wajahku. Kedua mataku sudah memanas. Aku-


"Sudah ketemu kuncinya?"


Aku terkejut. Lalu mendongakan wajahku. Aku terdiam karena tiba-tiba Raihan berdiri didepanku.


"R-Rai?"


"Gak usah pakai kaget segala."


"Aku.. aku-"


"Sudah ketemu?"


Aku menggeleng lemah. "Belum."


Raihan terlihat mendecak sebal. Dia memunggungiku. Menghubungi seseorang. Ntah itu siapa. Raihan masih mengenakan baju sekolahnya. Apakah dia tidak pulang sejak tadi?
Tiba-tiba Raihan melemparkan sebuah kunci motor ke arahku.


"Nih pakai motorku sana!"


"Motormu?"


"Hm."


Raihan melenggang pergi. Lalu dengan cepat aku mengikutinya.


"Rai tunggu!"


"Apa lagi?"


"Aku baru ingat lebih baik aku hubungin dealer mobilku atau bagian asuransi untuk mengklaim kunci cadanganku."


"Kamu bodoh atau gila?"


Dia berhenti. Akupun ikut berhenti.
Aku mengerutkan dahi. Maksud dia apa bilang gitu? Raihan menatapku dengan datar dan dingin.


"Memangnya mereka masih mau bekerja di jam sekarang hanya untuk melayani gadis biang masalah macam kamu?"


Dan aku terdiam. Oh iya. Dia benar. Aku lupa. Raihan melenggang pergi mengabaikan ku yang masih bertanya-tanya kenapa tiba-tiba dia datang kesini.


"Raihan!"


"Apa lagi?"


"Kamu sendiri gimana nanti jika aku memakai motormu?"


"Jalan kaki."


"Kok gitu?"


"Jadi kamu perduli?" Raihan menatapku dengan raut wajah smirknya.


Aku terdiam. Tiba-tiba lidahku kelu. Dalam hati rasanya aku ingin mencakar-cakar wajahnya itu yang menyebalkan.


"Aku.. maksudku-"


"Apakah kamu beralih menyukaiku semenjak Bejo mengecewakan mu? Ck!"


Aku menatap Raihan dengan tajam. Sepertinya cowok macam dia benar-benar gak bisa di baikin ya? Dengan kesal aku melemparkan kunci motornya itu kearah badannya. Dia hanya mendecak sebal dan tersenyum sinis.


Ini pasti gara-gara Lala yang ember dan cerita pada Raihan kalau Kak Bejo memang sudah di jodohkan sama Lili. Dasar sahabat jahara!


Aku melenggangkan pergi. Gak tau harus kemana bagaikan orang bodoh yang tidak jelas. Sepertinya aku harus menarik niatku yang ingin meminta maaf sama dia. Si cowok berhati batu tak berperasaan!


orotan lampu motor terlihat dari samping diriku. Raihan mengendarainya dengan pelan.


"Gak usah sok jual mahal!"


"Siapa yang jual mahal?!" sungut ku sebal


"Kamu. Siapa lagi?"


Suara petir terdengar. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Lalu aku dilema apakah ikut bersama Raihan atau tidak.


"Mamamu sakit. Mami yang bilang."


Aku terkejut. Aku menghentikan langkahku. Begitupun Raihan yang ikut memberhentikan motor matiknya. "Apa? Mama sakit?"


"Hm."


"Kalau gitu aku harus pulang! Pantas saja mama tidak merespon panggilanku. Sepertinya mobilku harus bermalam di parkiran ini atau-"


Aku tidak melanjutkan ucapanku lagi. Ini benar-benar darurat. Aku segera menaiki motor Raihan-


BRUK!


"Aaaaaaaaaa bokongku."


Aku meringis. Tanpa diduga Raihan main pergi begitu saja mengendarai motornya dalam jarak beberapa meter.


"Raihaaaann!"


"Kamu- astaga! Punya hati gak sih! Kalau pinggulku patah gimana?!"


"Itu urusanmu."


Dengan susah payah aku berdiri. Menghentakkan kedua kakiku dan berdiri lagi disampingnya. Sementara dia masih stay dengan tenang duduk di motornya tanpa rasa bersalah.


"Kamu itu ya! Aku tuh capek! Aku tuh lelah! Aku tuh haus! Lapar! Pengen cepat pulang! Pengen tidur! Pengen mandi seger! Gerah! Panas! Frustasi gak nemuin kunci mobil! Benci sama kamu! Kesal sama Bejo! Jengkel sama Lala! Mau marah sama Lili! Aku-"


Plak!!!


Dengan kesal akhirnya aku menabok helm yang terpasang di kepala Raihan. Kedua tanganku terkepal. Nafasku bergemuruh. Emosiku membelundak. Raut wajahku menegang.


Raihan meringis kesakitan. Tapi hanya sebentar. Lalu kembali tenang.


"Kamu itu ya benar-benar keterlaluan! Manusia berhati batu-"


"Gadis cantik tolong jangan marah-marah. Nanti cantiknya hilang."


❣️❣️❣️❣️


Ayo guys. Kita mulai senam jantung saat ini juga 😏


Makasih sudah baca. Iya tahu. Yang lagi senyum baca ini.


🤣🤣


Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi


Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Next Chapter 31 

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-31-raihan-raisya.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar