Chapter 38 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 38 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Apartemen Solo Residen Pukul 16.30 sore.

Franklin memutuskan pulang lebih cepat karena tiba-tiba ia merasa pusing. Mungkin karena akhir-akhir ini ia sibuk dan sering bergadang minum kopi, alhasil tubuhnya menjadi sakit.

Franklin memilih berbaring di sofa empuk ruang tamu. Sambil menutup sebagian wajahnya menggunakan lengan, ia pun memilih istirahat sejenak sembari menunggu Aldi mendatangi apartmentnya.

Ting tong!


Suara bel apartemen berbunyi, Franklin melirik kearah jam dinding. jam masih menunjukkan pukul 16.30 sore. Bukankah Aldi akan tiba pukul 17.00 lewat? Kenapa cepat sekali?


Ting tong!


Sambil mendengkus kesal akibat jadwal istirahatnya terganggu, akhirnya Franklin memilih bangun dan menuju pintu kemudian membukanya.


Seketika Franklin terkejut. Setelah sebulan tanpa kabar, wanita yang bikin ia penasaran sejak kemarin-kemarin berdiri didepan matanya sambil membawa tas canvas berisi laundry pakaian.


Franklin segera mengalihkan pandangannya ke lain. Yang penting tidak ke Misha yang makin hari makin imut saja. Dan Misha semakin gugup saja dengan penampilan Franklin yang hanya mengenakan celana training dan kaus singlet hitam yang membuat otot-otot sispack di lengannya semakin terlihat sempurna.


"Assalamualaikum, Kak."


"Wa'alaikumussalam."


"Maaf Kak, saya mau antar laundry pakaian Kakak."


Franklin mengerutkan dahinya, kenapa pakaiannya bisa sama Misha? Wanita itu terlihat menundukkan wajahnya. Seperti sedang ketakutan.


"Saya dengar kamu berhenti bekerja di tempat Anita. Jadi sekarang kamu bekerja di laundry?"


"I..iya."


"Oke, pakaian saya?"


Misha tetap diam. Ntah kenapa rasanya begitu berat untuk mengakui kesalahan yang ia sembunyikan. Jika ia jujur, apakah pria itu akan marah apalagi sampai membuatnya di pecat oleh Bu Jum?


"Saya minta pakaian saya."


Franklin mengulurkan tangannya untuk meraih tas canvas ditangan Misha. Tapi Misha malah menyembunyikan di belakang tubuhnya. Seperti sudah membaca karakter Misha, Franklin menatap wanita itu dengan curiga. Ia pun membuka lebar pintu apartemennya.


"Kalau begitu, silahkan masuk."


Misha mendongakkan wajahnya. Franklin baru saja menyuruhnya masuk? Rasanya ia ingin kabur, tapi tidak, melakukan hal itu sama saja tidak bertanggung jawab.


"Bismillah, Ya Allah, apapun yang terjadi, hamba harus berserah diri pada Allah." ucap Misha pelan.


Untuk pertama kalinya, Misha memasuki apartemen Franklin yang luas, bersih, wangi, dan terawat. Perasaan Misha semakin gugup. Ia pun melihat Franklin yang kini duduk di sofa sambil bersedekap.

"Tolong, buka pakaian saya."


Misha melongo. "Ha?"

"Maksudnya pakaian laundry saya, tolong buka kemasannya sekarang, saya mau lihat."


Misha semakin gugup. Keringat bercucuran di dahinya. Misha meletakkan tas canvasnya di atas meja sofa. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengeluarkan isinya.

Hanya menatap tangan Misha yang bergetar kecil, Franklin sadar sesuatu. Ia pun segera berdiri menghampiri Misha.

"Kamu saja yang duduk."


"Ha? Du.. duduk?


"Iya, kamu yang duduk disofa sana."


"Tapi, pakaian Kakak-"


"Ini perintah. Biar saya yang buka."


Misha meneguk ludahnya dengan takut. Ia pun akhirnya memilih duduk di sofa sambil memainkan ujung hijabnya dengan cemas.


Franklin sudah membuka kemasan plastik laundry pakaiannya. Satu per satu ia mengeluarkan dasi, kaus kaki, celana hitam kain, jas formal dan-


"Kakak! Tunggu, saya bisa jelasin kemeja Kakak-" bruk!


Detik berikutnya, Misha sudah ambruk di atas sofa. Franklin sampai syok karena Misha pingsan. Ia menghela napasnya. Untungnya saja sejak awal ia lebih sigap menyuruh wanita itu berdiri didekat sofa karena ia sadar, kalau Misha panik, wanita itu pasti pingsan. Jika tidak, menggendong wanita itu yang ketiga kalinya pasti akan terjadi.


Sudah cukup dua kali, jangan sampai terjadi lagi karena setiap menggendong Misha, ntah kenapa pikiran kotornya selalu menghampirinya. Mungkin karena efek terlalu kelamaan ori membujang sehingga membuat Franklin kerap berpikir seperti itu.

💘💘💘💘


Beberapa menit kemudian,


Sayup-sayup Misha membuka kedua matanya. Ketika ia mulai sadar, Misha mendapati dirinya berada di sofa, sementara selimut tebal menutupi sebagian perutnya.


Dengan perlahan Misha membangunkan dirinya. Samar-samar ia mendengarkan suara Franklin sedang berbincang dengan seorang pria di ruang tengah.


Misha pun melirik kearah atas meja sofa. Kemeja yang bolong akibat hangusnya strika terpampang disana. Misha menggigit ujung kukunya. Sudah bisa di pastikan kalau Franklin mengetahui semuanya.


Dengan cepat Misha menyibak selimutnya. Ia pun langsung mengeluarkan dompet di dalam tas slinbag yang ia bawa. Misha mengeluarkan uang sejumlah ratusan ribu dan secarik kertas beserta pulpennya.


"Kak Franklin, saya mohon maafkan saya. Demi Allah, saya tidak sengaja membuat kemeja Kakak menjadi bolong.
Kebetulan saya baru saja gajihan, ini ada uang sejumlah  Rp.500.000
Saya harap ini bisa mengganti pakaian Kakak yang rusak. Tolong jangan laporkan hal ini sama bos saya. Kalau uangnya kurang, Kakak bisa hubungi saya disini.
0812xxxxxxx
Terima kasih, maaf merepotkan.
- Misha -


💘💘💘💘


"Pak?"


"Ya?"


"Serius, si Mbak tukang pingsan itu bukan siapa-siapa nya Bapak?"


"Bukan."


Aldi tertawa. "Ah masa? Bukankah Bapak pernah bilang, hanya wanita pilihan dan spesial saja yang bisa masuk ke apartemen, Bapak?"


Seketika Franklin terdiam mengingat percakapannya bersama Aldi kemarin sore. Ya Aldi benar, tanpa sadar kemarin ia menyuruh Misha memasuki wilayah pribadinya selain orang-orang spesial seperti Aifa dan keluarganya.


Secara tidak langsung, Misha seperti wanita spesial yang sudah berhasil masuk ke wilayah pribadinya.


Mobil yang di kemudikan Franklin tiba di parkiran laundry, tempat dimana Misha bekerja. Selain membuatnya penasaran, ternyata Misha berhasil mengaduk-aduk pikiran dan hatinya.


Hanya karena Misha main pergi begitu saja tanpa pamit dan meninggalkan secarik kertas, tentu saja Franklin merasa tidak suka sebelum mendengarkan semuanya secara jelas.


Franklin segera keluar dari mobil dan memasuki tempat laundry itu dengan raut wajah serius. Ia melihat Misha sedang duduk sambil menulis sesuatu di atas meja. Saat ini, suasana sedang sepi tanpa konsumen.


Misha mendongakkan wajahnya begitu pintu laundry terbuka dengan raut wajah syok. Misha segera berdiri dengan gugup.


"So..sore Kak, apakah Kakak ingin mencuci pakaian lagi?"


"Tidak."


"A..ada yang bisa.. bisa saya bantu?"


"Kenapa kamu sering membuat saya kepikiran dan saya jadi memikirkan kamu? Kamu sering mendoakan saya supaya saya jatuh cinta sama kamu?"


DEG.


Jantung Misha berdegup kencang. Ucapan Franklin terlalu membuatnya terkejut. Sementara Franklin malah memajukan langkahnya mendekati meja Misha tanpa basa-basi.


"Pertama, kamu membuat saya penasaran tentang rahasia yang kamu simpan dan tidak pernah saya ketahui hingga sekarang."


"Kedua, kenapa kemarin kamu main pergi begitu saja hingga membuat saya khawatir dan kebingungan?"


Franklin menatap Misha tanpa berkedip. Lalu kedua matanya terfokus dengan bibir Misha yang tipis.


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.."


Franklin mengalihkan tatapannya ke lain dan memundurkan langkahnya. Hanya karena perasaan yang gelisah, sampai-sampai ia lupa pada batasannya. Dan lagi, pikiran kotornya lagi-lagi datang disaat yang tidak tepat.


"Maafkan saya Kak. Saya sudah bersikap seperti itu, saya hanya takut."


"Ada apa ini?"


Suara Bu Jum tiba-tiba terdengar. Melihat Franklin yang tentu saja ia kenal, Bu Jum langsung segan. Sementara Misha mulai merasa terancam.


"Oh ada Pak Franklin, silahkan Pak, ada yang bisa kami bantu?


"Tidak ada, Bu."


"Apakah Bapak ingin mencuci pakaian lagi?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Saya kesini untuk urusan pribadi dengan Misha."


Bu Jum terdiam. Ia menatap kearah Misha dengan tatapan tidak suka. Ia tak habis pikir, sudah tahu jam kerja tapi kenapa ia malah mengobrol dengan seorang pria? Dengan bersikap bijak, Bu Jum menatap Franklin dengan sopan.


"Em, maaf Pak, jika berkenan, mungkin Bapak dan Misha bisa mengobrol setelah jam-"


"Pakaian saya rusak setelah laundry disini." potong Franklin cepat dengan cemas karena ia sadar bos Misha itu telah mengusirnya secara halus sementara urusannya belum selesai.


Bu Jum langsung menatap Misha dengan tajam. Ia mulai curiga.


"Misha, kemarin saya suruh kamu antar pakaian laundry ke Pak Franklin. Apakah sebelumnya kamu melakukan kesalahan?"


"Em, saya.. saya bisa jelasin-"


"Mas Doni! Mas!"


Seorang pria datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Dia adalah suami Bu Jum.


"Iya Bu, ono opo toh?"


"Tolong sampean periksa cctv kemarin siang dan lihat pekerjaan yang dilakukan Misha."


Pak Doni langsung mengangguk patuh  dan Misha pun ketakutan. Sementara Franklin merasa ia paling bodoh saat ini kenapa bisa keceplosan.


Menit demi menit terus berjalan. Semua sudah jelas. Tenyata Misha telah berbuat salah. Menyetrika pakaian sambil melamun sehingga bolong dan hangus. Bu Jum tak banyak kata, ia langsung mengeluarkan uang puluhan ribu kearah Misha.


"Ini uang harian kamu setelah masa gajihan kemarin. Maaf, saya harus pecat kamu. Lain kali kalau bekerja di tempat lain, tolong lebih cermat. Ini pelajaran buat kamu."


Sambil menundukkan wajahnya yang bersalah, Misha menerima uang itu dan segera mengangguk kemudian pergi dengan rasa malu. Misha melalui Franklin begitu saja.
Sesampainya diluar, Franklin mengejar Misha dengan rasa bersalah.


"Tunggu."


Misha menghentikan langkahnya. Ia menoleh kearah Franklin dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.


"Maafkan saya Misha. Saya tidak bermaksud membuatmu seperti ini."


"Tidak apa-apa. Saya juga yang salah."


"Bagaimana kalau kamu bekerja ditempat saya?"


Misha terdiam. Ia sadar mungkin pria itu bermaksud bertanggung jawab. Namun di satu sisi, ia ingat, bukankah pria itu sedang bersama Vita? Ia tidak ingin merusak hubungan keduanya.


"Maaf saya tidak bisa."


"Bekerja di perusahaan saya apakah kamu tidak mau?"


Misha menggeleng lemah. Apalah daya dirinya yang sering di timpa ujian masalah hidup dan tidak bisa berbuat banyak hal.


"Saya tahu kamu memiliki data catatan buruk dari kepolisian. Tapi dengan saya, saya tidak masalah."


Misha tetap terdiam. Ia tidak heran lagi mengapa Franklin tahu. Tentu saja pria itu tahu semuanya dari Vita.


"Maaf, Kak. Saya memilih mencari pekerjaan di lain, saja. Jika uang kemarin masih kurang, saya janji akan mendatangi Bapak dan menggantinya."


"Iya, memang kurang. Harga kemeja saya Rp. 4.500.000,- Made in Paris."


"Saya akan usahakan lagi sisanya. Permisi."


Misha kembali pergi. Mestinya ia sadar, kemeja yang di pakai Franklin tentu saja mahal. Hatinya pun terluka, ia sadar, tidak seharusnya ia mendekati pria itu apalagi mencari masalah. Disisilain, Bukankah Frankie dan Rex sudah mengancamnya untuk menjauhi keluarga Hamilton?


Franklin menatap kepergian Misha. Ntah kenapa tiba-tiba hatinya terdorong mencegah wanita itu. Dengan cepat Franklin berdiri di hadapan Misha.


"Tunggu.. jangan pergi."


"Maaf saya harus pergi, Kak."


"Tolong jangan lakukan itu."


Misha berusaha untuk kuat. Bayangan Vita, Frankie, dan Rex semakin menakutinya.


"Maafkan saya, saya-"


"Saya suka sama kamu, Misha. Saya suka sama kamu, tolong jangan pergi." ucap Franklin akhirnya.


Ntah kenapa Franklin merasa lega setelah mengatakan itu.


💘💘💘💘


Alhamdulillah 😭😭😭😭


Chapter 1 - 38.
Akhirnya ada titik terang 🤣


Salut buat kalian yg sudah sabar ngikutin chapter ini sejak awal hhe 🤧🤗


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar