Chapter 39 : Mencintaimu dalam doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 39 : Mencintaimu dalam doa


 

Surakarta, pukul 17.00 sore. Beberapa menit kemudian.


"Kenapa Kakak bisa milih saya? Bukankah saya adalah wanita pembawa masalah? Vita lebih baik dari saya."


"Apakah rasa suka itu butuh alasan?"


Misha menatap Franklin dengan sendu. Disaat yang sama, hatinya tersentuh. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan selama puluhan tahun ini. Tapi, apakah situasi akan memihaknya? Misha menundukkan wajahnya.


"Aku tidak tahu,"


"Allah yang mendatangkan rasa suka ini padamu." ucap Franklin akhirnya. "Aku ingin rasa suka ini menjadi cinta yang halal. Menikahlah denganku, Misha Azizah."


Air mata mengalir di pipi Misha. Hatinya dilema. Tapi ancaman Frankie dan Rex membuatnya terluka.

"Misha.."


"Maaf, aku.. aku tidak bisa."

"Kamu, suka sama aku? Apakah kamu menyukaiku selama ini?"


Misha kembali terdiam. Seketika ia tidak berani menatap Franklin. Air mata mulai membanjiri pipinya. Merasa ingin terisak menangis, detik berikutnya Misha memiliki pergi dari sana. Sungguh ia begitu malu bila terlihat lemah di depan pria itu. Franklin ingin mencegah Misha, tapi wanita itu sudah berlari.


Napas Misha tersengal-sengal. Ia merasa sudah jauh dari jangkauan Franklin. Dalam jarak beberapa meter lagi, ia akan tiba dirumah. Misha kembali berlari cepat, lari dari kenyataan pahit yang harus ia alami saat ini.


Sesampainya dirumah, Misha segera membuka kunci pintunya kemudian memasuki rumahnya. Setelah mengucapkan salam, detik berikutnya Misha menutup pintunya dengan rapat sampai akhirnya ia meluruh di balik pintu sambil terduduk memeluk lututnya sendiri. Misha pun menyembunyikan wajahnya sambil terisak menangis.


"Vita lebih pantas buat Kakak. Bukan aku,"


💘💘💘💘


Apartemen Solo Residen. Pukul 19.00 malam.


Belum pernah Franklin merasa segelisah ini hanya karena memikirkan seorang wanita untuk pertama kali dalam hidupnya.


Serumit apapun urusan pekerjaan, dengan mudahnya atas izin Allah Franklin mengatasinya dengan baik. Serumit apapun permasalahan yang terjadi didalam keluarganya, atas izin Allah dengan mudahnya ia membantu mencari jalan keluar hingga permasalahan itu selesai.


Tapi tidak dengan Misha. Wanita itu pengecualian. Franklin memegang dadanya sendiri. Kenapa disana terasa nyeri dan sesak? Apakah ini yang di namakan cinta dan penolakan disaat bersamaan?


Sekarang Franklin sadar, mengapa dimasalalu Aifa begitu berjuang tak mengenal kata lelah hanya untuk memperoleh cinta sejati dari suaminya sebelum menikah.


Sekarang Franklin sadar, mengapa dimasalalu Aifa sebegitu terlukanya melihat Rex menolak cinta darinya. Tak hanya itu, Rex juga pergi dari hidup Aifa.


Tapi Aifa seorang Kakak perempuan yang kuat dan sabar. Sementara dirinya seorang pria. Apakah ia kalah dengan perjuangan dari Kakaknya itu yang lemah dari perasaan sementara pria sepertinya berpikir secara logika?


Franklin pun segera berdiri dari duduknya. Ia harus menggunakan akal logikanya sebagai seorang pria dalam urusan cinta. Tanpa banyak bicara lagi, ia pun langsung menghubungi orang tuanya.


Deringan pertama tak diangkat, Franklin tetap sabar. Lalu deringan kedua, panggilan itu tersambung.


"Halo, Assalamualaikum, ya nak?"


"Wa'alaikumussalam. Mommy. Apakah, aku mengganggu Mommy?"


"Tidak, Mommy baru selesai mengaji. Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Em, ya, semua baik. Aku hanya.."


Franklin menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ntah kenapa tangannya terasa berkeringat dingin. Peluh mulai terlihat di dahinya


"Hanya apa nak? Kamu, nggak kenapa-kenapa kan disana?"


"Ya, Alhamdullilah aku nggak kenapa-kenapa. Em, Mom.."


"Kamu bisa cerita sekarang, kalau belum siap, Mommy akan sabar menunggu."


"Aku, hanya bingung.."


"Bingung kenapa?"


"Aku, suka sama seorang wanita dan aku ingin menikahinya." ucap Franklin akhirnya, dan rasanya ia sudah malu setengah mati. Semoga saja setelah berita ini tersebar, Aifa tidak menerornya.


"Franklin.."


"Ya, Mom?"


"Mendengar kabar darimu, hati Mommy jadi tersentuh. sekarang kedua mata Mommy sudah berkaca-kaca mendengar kabar bahagia ini."




Franklin tersenyum tipis. Secara perlahan-lahan, hatinya ikutan lega.


"Terima kasih, Mom. Sebenarnya aku ingin menelepon Daddy, tapi aku malu."


Ayesha tertawa kecil. Baginya, disaat seperti ini, putranya seperti anak kecil saja meskipun tidak bisa menepis bahwa putra yang ia sayangi itu akhirnya menemukan tambatan hatinya setelah patah hati dari Ava.


"Nanti Mommy akan sampaikan hal ini pada Daddy. Oh iya, kalau boleh tahu, siapa calon mantu Mommy? Apakah Mommy pernah melihatnya?"


Franklin tersenyum tipis meskipun hatinya deg-degan. "Pernah, dia adalah Misha Azizah."


"Alhamdulillah, sudah Mommy duga."


"Jadi Mommy tahu?"


"Tentu, dari tatapan kamu yang diam-diam memperhatikannya disaat dua dirumah kita. Kamu pikir Mommy tidak menyadarinya? Tatapanmu tidak sedalam saat kamu menatap Jasmine."


Seketika Franklin merasa malu. Ya benar, diam-diam ia pernah memperhatikan Misha dari jarak jauh saat wanita itu berada di kediaman Hamilton di Jakarta saat acara pengajian mingguan.


"Aku, minta doanya dari Mommy. Bukankah doa dari seorang Mommy akan terkabul?"


"Iya, Mommy akan doakan semoga di beri kelancaran. Oh iya, jadi, kapan kita kerumah orang tua Misha?"


Franklin tersenyum tipis. "Nanti Franklin kabari lagi, saat ini Misha menjauhiku."


"Loh, mau nikah kok jauh-jauhan?"


"Biasalah Mom, wanita, dia butuh di kejar."


Ayesha tertawa kecil. "Jadi kamu, nggak santuy lagi?"


"Untuk saat ini tidak. Kalau bukan karena Allah, aku tidak akan seserius ini, Mom. Sebelumnya aku sudah sholat istikharah berulang kali, meminta petunjuk calon jodoh yang terbaik pilihan Allah untuk aku. Ntah kenapa Misha terus muncul di hati dan pikiran aku. Padahal sebelumnya, aku tidak pernah memperdulikannya, aku terlalu sibuk bekerja."


"Oh begitu, jawaban dari Allah itu yang terbaik. Ya udah, nanti kabarin Mommy ya. Yang penting Mommy sudah tahu niat baik kamu."


"Insya Allah Mom, terima kasih, aku tutup dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan berakhir, seketika Franklin bernapas lega. Ia sudah menyatakan perasaannya pada Misha. Ia juga sudah membicarakan niat baiknya pada orang tuanya. Seketika Franklin menyugar rambut ikalnya kebelakang.


"Kalau kamu menolakku terus, tapi nama kita sudah tercatat di Lauhul Mahfudz sebagai pasangan berjodoh, Kamu yang terus menghindariku, bisa apa Mimi?" senyum Franklin dengan raut wajah smirk dan tingkat kepercayaan tingginya yang mulai kambuh.


Ponsel Franklin bergetar kecil. Puluhan spam chat berisikan notifikasi pesan membanjiri ponselnya. Franklin syok, semua itu berasal dari Aifa.


Franklin mengela napasnya. Dugaannya benar, Aifa adalah satu-satunya dari pihak keluarga yang heboh sendiri begitu mengetahui hubungannya dengan Misha akan berlanjut.


Dan secepat itu beritanya menyebar. Padahal belum ada 3 menit.


💘💘💘💘


Wkwkwkwk 😁


Kita santai dulu ya setelah temu titik terang 😆 setelah itu...


Nggak menjamin 🙃


Wkwkwkww. Becanda, intinya siap-siap main senam jantung lagi


🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar