Chapter 44 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 44 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Beberapa menit kemudian..


Setelah suara pintu di tutup oleh Aifa, Franklin memberanikan diri menghadap Misha. Franklin berusaha menahan diri untuk tidak memeluk Misha karena ia sungguh malu. Padahal ia ingin melakukannya. Ia pun tersenyum tipis pada Misha.


"Aku ingin membacakan doa untuk pernikahan kita."


Misha mengangguk. Debaran hatinya semakin kencang di iringi semburat merona merah di pipinya ketika tangan kanan Franklin menyentuh ubun-ubun kepalanya. Sementara tangan kirinya menengadah ke langit.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaaalaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaalaih.”


"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya. Aamiin."


"Aamiin."


Misha masih menundukan wajahnya karena masih malu, sementara Franklin meneguk ludahnya dengan gugup karena masih tidak menyangka Allah mentakdirkan dirinya sudah berstatus sebagai seorang suami. Seorang kepala rumah tangga dan penuntun surga untuk Misha dan calon anak-anak mereka kelak.


"Mimi?"


"Hm, ya?"


"Boleh nggak?"


"Bo.. boleh apa?"


Suara Misha nyaris terdengar pelan. Franklin menggaruk lehernya yang tidak gatal seperti salah tingkah. Bahkan kedua telapak tangannya sudah panas dingin.


"Kakak mau minta apa? Aku.. aku siap memberinya." jawab Misha sambil memainkan ujung jarinya.


Seperti lampu hijau bagi Franklin, tapi nyatanya ia semakin gugup saja.


"Em, nanti saja deh." Franklin segera pergi berlalu meninggalkan Misha menuju pintu luar. Sementara Misha menatap kepergian Franklin sambil mengerutkan dahinya. Sebenarnya apa yang di hendak minta suaminya itu? Kenapa juga dia pergi tetapi tidak memegang pergelangan tangannya seperti suami istri yang baru sah seperti pada umumnya?


Franklin menghentikan langkahnya lagi. Ia pun kembali mendatangi Misha sambil menarik napasnya sejenak.


"Hm, yaudah, balik saja deh ke Misha. Aku harus berani melawan rasa grogi."


"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, hamba deg-degan cuma mau pegang tangannya.." ucap Franklin dalam hati


Detik berikutnya Franklin sudah meraih tangan Misha kemudian saling menggenggam dengan erat. Misha sadar, ia dan Franklin sama-sama malu.


"Ya Allah, semoga hamba tidak pingsan nanti. Masih nggak nyangka, kalau Kakak sekarang suami aku." sela Misha dalam hati.


****


60 menit kemudian..


Setelah menyempatkan sesi foto prawedding untuk mencetak hasil fotonya agar bisa di pajang di depan gedung resepsi, saat ini semua keluarga dan para tamu undangan yang mayoritas tetangga nenek Misha itu pun terlihat mencicipi hidangan menu makanan di acara pernikahan Franklin dan Misha.


Makan-makan pun dilakukan di taman belakang rumah Oma Misha bertemakan outdoor. Siapa sangka kalau keluarga Misha itu keturunan orang mampu meskipun nyatanya Misha memilih hidup mandiri ketimbang tinggal bersama Omanya.


Nenek Misha yang bernama Oma Latifah pun bersyukur, akhirnya cucu kesayangan yang di kenal mandiri dan tidak suka merepotkan orang pun akhirnya menemukan pasangan hidupnya.


"Oma, terima kasih sudah mempercayakan cucu Oma pada putra kami." ucap Ayesha pada Nenek Misha.


Nenek berusia 70 tahun itupun tersenyum meskipun saat ini ia sedang duduk di kursi roda.


"Sama-sama. Justru saya yang berterimakasih dengan kalian. Misha, cucu Oma itu anak yang baik. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Misha memilih hidup mandiri ke Solo mengikuti Hamdan. Semoga cucu Oma senantiasa membawa kebahagian di keluarga barunya. Aamiin."


"Aamiin."


Ayesha pun tersenyum tipis. Franklin melihat hal itu semuanya dari jarak kejauhan sambil berbincang dengan para tamu pria yang menjadi rekan bisnis dan kerjanya.


Tak hanya itu, tatapannya juga sejak tadi tidak lepas dari Misha yang tengah tersenyum disamping teman-teman wanita yang datang memberinya selamat.


"Iya deh iya, yang lagi bucin."


Dengan cepat Franklin menoleh kesamping. Lagi-lagi Aldi datang di saat yang tidak tepat. Mengganggu aktivitasnya yang sedang menatap Misha setelah halal baginya.


"Kamu kayak tidak pernah bucin saja pada istrimu."


Aldi tertawa geli. "Jodoh itu nggak kemana ya, Pak. Jarang ketemuan, sudah gitu nggak pernah jalan bareng, eh tahunya nikah."


"Jodoh memang rahasia Allah. Tidak ada yang mengetahuinya."


"Sekalipun terkait soal rahasia asal-usul yang sebenarnya tentang istrimu itu?"


Tiba-tiba suara Frankie terdengar. Keduanya pun menoleh kearah Frankie. Frankie bersedekap sambil tersenyum seolah-olah senyumnya itu terlihat meremehkan.


Aldi sudah mengetahui kejadian yang menimpa Misha dan Hamdan beberapa waktu yang lalu. Dengan sadar diri, Aldi pun memutuskan pamit sejenak dengan alasan mendatangi istrinya.


"Apa alasanmu untuk memilihnya?"


"Karena dia pilihan Allah. Pilihan Allah yang terbaik." jawab Franklin datar penuh percaya diri.


"Bukankah dia itu si biang masalah?"


"Yang salah Kakaknya, bukan adiknya. Misha wanita yang baik, dia hanya korban dari keburukan Kakaknya."


"Cinta memang buta. Terkadang wanita yang tidak baik, dengan penuh perjuangan pria tersebut menjadikannya calon istri. Padahal diluar sana masih banyak wanita yang lebih baik."


Franklin mengepalkan salah satu tangannya dibalik saku celana kainnya. Tentu saja ia merasa marah ketika Frankie mengatakan hal demikian yang sudah membuatnya tersinggung.


"Dia adik iparmu, suka atau tidak, kamu harus menerimanya."


"Ck, lebih tepatnya ucapan itu kamu lontarkan saja pada Daddy dan Mommy nantinya."


Detik berikutnya Frankie memilih pergi dari sana, sementara Rex juga menatapnya tidak suka dari kejauhan. Berbeda dengan Misha yang lagi-lagi terlihat tersenyum bahagia apalagi disampingnya ada Aifa.


Tiba-tiba ponsel Franklin bergetar kecil di saku celana kainnya. Franklin segera mengeluarkan ponselnya. Rupanya pesan tersebut dari Misha. Nomor yang ia simpan satu jam yang lalu setelah akhirnya Misha mau memberikan nomor ponselnya.


Sayang : "Kakak, aku takut."


Franklin pun membalasnya..


Franklin : "Apa yang kamu takutkan?"


Sayang : "Aku lihat Kak Frankie dari sini berbicara sama Kakak.
Kak Rex dan Kak Frankie begitu membenciku. Aku takut Daddy dan Mommy juga membenciku. Aku khawatir Kakak akan meninggalkanku."


Franklin : "Cobalah berprasangka baik. Allah tergantung prasangka hambaNya."


Sayang : "Tapi aku takut, Kak :( "


Franklin : Please, Jangan berpikir buruk. Cium nih ya.."


Franklin segera memasukan lagi ponselnya kedalam saku celananya. Ia menatap Misha dari jarak kejauhan yang terlihat menundukkan wajahnya. Sudah bisa ia pastikan saat ini Misha tercengang menatap pesan darinya.


"Mom lihat! Franklin sudah terlihat mesum dengan adek ipar! Apa jangan-jangan Franklin ketularan Daddy?"


"Hush!" sela Ayesha tiba-tiba. Gara-gara mendengar ucapan Aifa barusan, satu meja yang berisikan keluarga besar Misha dan Franklin pun terbahak.


"Kok Kakak, ngintip ponselku?" tanya Misha dengan gugup.


"Sedikit sih hehe. Chat bagian bawah saja kok, Ya Allah Franklin so sweet banget sih, sudah mulai goda-godain istri pakai kata ciuman." ucap Aifa secara dramatis sambil memegang kedua pipinya.


"Bahkan Aifa serasa muda lagi dan merindukan My Rex. Mom, bolehkan, Aifa nambah cucu buat Daddy dan Mommy lagi?" pinta Aifa dengan polos dan tersenyum manis.


Fandi hanya mengacungkan jempolnya. Tanda bahwa ia setuju.
Dan Franklin tersenyum geli dari kejauhan. Hanya melihat interaksi mereka saja, seketika hatinya lega. Ia yakin, setelah ini tidak ada hal apapun yang terjadi antara dirinya dan Misha. Ya, ia yakin itu.


Bahkan rasanya Franklin sudah tidak sabar ingin berduaan dengan Misha.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Iya, yg sudah nikah. Ngerti aja kemauan pengantin baru πŸ™„πŸ˜†


Alhamdulillah kembali up. Masih suasana lebaran dan memasuki hari ke limaπŸ–€


Jazzakallah Khairan sudah menunggu aku kembali up. Sehat selalu buat kalianπŸ™‚


With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar