Chapter 43 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 43 : Mencintaimu Dalam Doa


 

"Kamu harus kuat. Ini pilihan yang terbaik."


"Aku tahu."


"Terkadang pernikahan sudah di rencanakan, tapi bisa saja batal kalau mereka tidak berjodoh. Kamu harus sabar, Aku pergi."


Misha menatap kepergian Hamdan dalam diam. Padahal ia sudah siap dengan semuanya. Misha tertunduk lesu kemudian menatap ruangan yang ada disekitarnya.


Cantik, itu yang ia pikirkan saat ini. Nuansa putih adalah warna favoritnya, sama seperti wedding dress yang ia kenakan sekarang.


Seharusnya ia bahagia, seharusnya hari ini adalah hari impian bersejarah dalam hidupnya, menikah dengan pria yang dicintai. Tapi semua kebahagiaan itu sirna, begitu pria itu membatalkan pernikahannya. Air mata pun meluruh. Misha memukul dadanya yang terasa sesak.


"Ini.. ini sungguh menyiksa!"


"Ini benar-benar menyakitkan!"


"Kenapa? Kenapa ya Allah? Kenapa ujian hamba begitu pahit? Kapan hamba bahagia?"


"Misha! Misha! Tenanglah!"


Hamdan mengguncang tubuh adiknya. Misha terlihat mengacau tidak jelas bahkan dahinya berpeluh.


"Misha! Misha! Ya Allah Misha istighfar.."


Detik berikutnya Misha membuka kedua matanya. Wajahnya sangat syok. Tak ada kata yang terucap selain memeluk Hamdan dengan cepat.


"Kakak.. kakak.. aku.. aku takut."


"Apa yang terjadi?"


"Aku, aku bermimpi, Kak Franklin membatalkan pernikahannya."


"Kamu lupa baca doa ya, sebelum tidur?"


Seketika Misha terdiam. Sepertinya ia memang lupa membaca doa sebelum tidur sehingga mimpi buruk menghampirinya.


"Suaramu begitu nyaring ketika tanpa sengaja aku melewati kamarmu."


"Apakah semua keluarga kita terganggu?"


"Aku tidak tahu," Hamdan melepaskan pelukannya pada Misha. "Sekarang pukul 03.00 pagi. Lebih baik kamu sholat Sunnah tahajud sambil menunggu waktu subuh. Setelah itu, semua keluarga kita akan bersiap-siap."


Misha mengangguk. Meskipun Hamdan sudah menenangkannya, ntah kenapa rasa takut, khawatir, dan cemas sering menghampirinya. Sepertinya ini yang dinamakan was-was syaitan.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan, setan dapat mendatangi seseorang untuk menghembuskan was-was (gangguan) dan syubhat (keraguan) ke dalam hatinya ; di antaranya dengan membisikkan kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan keragu-raguan secara halus, hingga menggiringnya kepada kalimat kufur.


Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati dan benak pikiran seseorang, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah dan mengakhiri (was-was setan tersebut) dari benak pikirannya. Walahu a’lam.


💘💘💘💘


"Kenapa kamu ingin menikahi adik saya? Bukankah saudaramu sudah mengancamnya agar tidak mendekatimu?"


"Karena Allah, saya mencintainya. Itu alasan saya kenapa saya ingin memperjuangkan cintanya. Tolong restui saya menjadi pendamping hidup Misha."


"Adik saya itu mudah panik. Dia juga sering cemas terhadap suatu hal yang membuatnya takut. Apakah kamu sanggup menjadikan adik saya sebagai istri kamu?"


"Saya tahu dengan hal itu. Saya ingin melengkapi kekurangan yang ada pada dirinya, begitupun Misha yang akan menjadi pelengkap hidup saya. Insya Allah saya akan sanggup."


"Tetapi bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka akan memperlakukan Misha dengan baik? Kamu tahu sendiri, saya dan Misha terlahir dari keluarga sederhana. Tidak seperti keturunan kalian yang saya tahu berasal dari orang-orang kalangan atas."


"Keluarga saya tidak mempermasalahkan nya. Sebelumnya Misha sudah di terima di keluarga kami."


"Saya percayakan Misha pada Allah yang senantiasa mempertemukan dirinya dengan pria sepertimu. Tolong jaga amanah saya, jangan sampai kamu menyakiti adik saya. Tolong bimbing dia menjadi istri yang baik. Saya yakin, insya Allah kalian akan bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah.  Temui keluarga saya di Yogyakarta, tempat Nenek kami untuk melamar Misha secara resmi."


Franklin terdiam ketika ia mengingat obrolannya bersama Hamdan sebulan yang lalu. Tepat saat ia mencari Hamdan di kota Surakarta untuk meminta restu agar bisa menikahi adiknya.


Misha memang menyuruhnya pergi saat di UGD rumah sakit setelah kejadian musibah kebakaran waktu itu, tapi tetap saja, ia tidak bisa benar-benar pergi karena sudah terlanjur mencintai wanita itu.


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Jalanan kota Yogyakarta terlihat lenggang dengan cuaca yang cerah. Jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi sementara akad nikah akan di gelar pukul 09.00 pagi.


Franklin duduk di bagian kursi belakang, sementara salah satu supir pribadi mengemudikan mobilnya.
Di depan mobil Franklin ada Daddy dan Mommynya. Sedangkan 10 rombongan mobil yang tentunya dari pihak keluarga besar kota Bandung, Jakarta, dan London berada di belakang mobilnya bersamaan dengan satu mobil lagi yang di khususkan berisi semua barang-barang hantaran untuk Misha.


Franklin berusaha menahan debaran hatinya. Sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai seorang suami. Dan Misha, rasanya ia sudah tidak sabar berbicara banyak hal dengan wanita itu meskipun sebelumnya sangat jarang sekali untuk di lakukan.


💘💘💘💘


Dress wedding warna putih terasa pas di tubuh Misha. Misha menatap wajahnya sendiri yang benar-benar terlihat pangling.


"Ya Allah, kamu benar-benar cantik Mi."


Vita menatap sahabatnya dengan berbinar. Kenyataan yang tak terduga begitu Franklin memberinya undangan pernikahan dengan nama Misha yang tertera disana membuatnya terkejut. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin selama ini sahabatnya tidak pernah bercerita kalau dia menyukai Franklin?


"Terima kasih. Apakah make up ku terlihat menor? Aku sudah meminta mereka untuk merias secara natural saja."


"Nggak kok. Pokoknya fresh, natural, dan cantik."


Vita pun memeluk bahu Misha dari samping. Ia menatap wajah Misha pada pantulan cermin didepannya.


"Maaf sudah membuatmu menahan cemburu selama ini, Mi. Sungguh, aku tidak tahu kalau ternyata Pak Franklin menyukaimu."


"Apakah kamu marah?" Misha menundukkan wajahnya. Ia menatap punggung tangannya yang sudah di lukis Henna berwarna putih serta kuku nya yang di poles kutek halal berwarna merah. "Padahal aku sudah menolaknya. Aku sadar, posisimu lebih pantas daripada aku."


"Tapi di hatimu yang terdalam, kamu mencintainya kan?"


Seketika Misha terdiam. Sungguh ia begitu malu hanya untuk mengangguk. Cukup ia dan Allah saja yang tahu betapa ia memendam rasa dengan Franklin selama ini.


"Kalau diam, berarti iya." Vita tersenyum tipis. Ia pun mengeluarkan ponselnya. "Ayo kita foto bareng. Ini foto perdana yang wajib kita abadikan."


"Sekali lagi maafin aku, Ta."


"Ih kamu apa'an sih. Serius, aku mengikhlaskanmu sama Pak Franklin. Sudah jangan sedih, ini hari bahagia kamu, setelah akad nikah dirumah ini, kalian sekeluarga langsung ke hotel buat resepsi kan?"


Misha mengangguk. Ia tidak bisa membendung air mata di sudut matanya. Vita pun meraih tisu dan menghapusnya secara hati-hati agar make up di wajah Misha tetap terjaga.


"Iya, Ta, sekali lagi terima kasih. Em, apakah kita jadi berfoto?"


"Tentu." ucap Vita dengan raut wajah sumringah.


💘💘💘💘


Aifa memperhatikan seisi ruangan kediaman Nenek Misha yang sudah didekor acara akad nikah bernuansa putih. Dekorasi tersebut sangat sederhana namun terlihat elegan.


Aifa bahagia. Sebagai seorang Kakak, tentu saja ia bersyukur karena akhirnya adik yang ia sayangi  menikah dengan wanita yang di cintai.


Disebelah kanan Aifa, ada Mommy dan Daddynya. Lalu di samping kiri Aifa, ada Rex, Frankie dan Feby. Aifa menatap Feby yang sibuk mengabadikan situasi dengan kamera video di ponselnya. Berbeda dengan Rex dan Frankie yang terlihat biasa-biasa saja.


"Mas?"


"Hm?"


"Kenapa wajah Mas terlihat kaku sih?"


"Maksud kamu?"


Aifa menghela napasnya. "Hari ini akad nikah Franklin loh, semua keluarga memancarkan raut wajah bahagia. Tapi Aifa merasa, Mas dan Frankie malah kelihatan biasa-biasa saja. Kayak nggak suka gitu."


"Hanya perasaan mu saja Aifa." ucap Rex datar.


"Tapi-"


"Apakah aku harus menari dan berjoget-joget didepan sana agar terlihat bahagia?"


Aifa mencubit pelan lengan Rex.
"Nggak boleh! Mas itu tampan. Tinggi. Sispack. Aifa nggak rela kalau Mas sampai menjadi pusat perhatian semua wanita disini. Apalagi kalau sampai pamer otot dan roti sobeknya!"


Rex menghela napasnya. Aifa, istri yang ia cintai itu memang lebay dan suka mendrama. Tetapi dalam hati, tentu saja ia dan Frankie tidak menyukai Misha setelah kejadian beberapa waktu yang lalu.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Tiba-tiba suara pengeras suara yang berasal dari seorang penghulu pun terdengar. Semua mata tertuju pada penghulu dan Franklin yang terlihat tampan rupawan mengenakan peci putih beserta bunga melati yang melingkar di leher hingga kebagian perutnya.


"Saudara Ananda Franklin Hamilton bin Fandi Hamilton Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Misha Azizah dengan maskawinnya berupa uang Rp. 10.032.420 dibayar Tunai.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Misha Azizah binti Muhammad Arkani dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah.."


"Sah.."


"Sah.."


"Barakallah."


Tiada henti-hentinya Hamdan mengucap kata syukur. Air mata tak mampu ia bendung. Adik kecil yang ia sayangi akhirnya sudah berpindah surga pada suaminya sendiri. Tanggung jawabnya sebagai Kakak kandung yang menjadi saksi pernikahan adiknya pun usai.


Ayesha menatap haru putranya yang terlihat tampan meskipun ia sadar kalau raut wajah Franklin terlihat gugup. Ia bernapas lega, bersyukur karena putra dan putrinya akhirnya menemukan pasangan hidup yang di inginkan dan di cintai.


Fandi sadar, istrinya sudah menangis haru. Tak ada yang biasa ia lakukan selain merangkul bahu Ayesha seraya berbisik.


"Ay, akhirnya, Alhamdullilah, kebahagiaan kita sudah lengkap dihari tua kita."


"Iya Fan, Alhamdullilah. Waktu tidak terasa terus berjalan. Seketika aku merasa baru saja melahirkan Aifa dan si kembar kemarin sampai akhirnya mereka sudah berkeluarga."


Samar-samar Vita mendengar percakapan Fandi dan Ayesha. Posisinya tepat di belakang mereka. Semua orang berwajah bahagia dan bersyukur. Begitupun wajahnya saat ini, namun tidak dengan hatinya yang terluka.


Cintanya pada Franklin, bertepuk sebelah tangan. Hanya rasa penyesalan dan berdosa pada kemunafikan sendiri lah, ketika ia sempat membohongi Misha satu jam yang lalu. Ia mengatakan ikhlas, padahal sebenarnya ia sulit mengikhlaskan Franklin.


💘💘💘💘


Franklin segera berdiri dari duduknya untuk menjemput Cinderellanya yang sedang menanti di dalam kamar.


Telapak tangannya terasa panas dingin. Niatnya ingin menjadi pria yang bucin seketika menghilang ntah kemana ketika ia sudah berada didalam kamar Misha yang berukuran besar mengingat saat ini akad nikah diadakan di kota Yogyakarta, rumah Nenek Misha berada.


Franklin menarik napasnya sejenak lalu menghembuskannya secara perlahan. Misha segera berdiri begitu menghampirinya.


Misha menundukkan wajahnya. Sungguh ia begitu malu. Bila sebelumnya bertemu hanya sebentar dalam hitungan detik. Berbicara hanya seperlunya lalu pergi. Kemudian minimnya berkomunikasi melalui ponsel jika adanya keperluan tertentu lalu menghilang tanpa kabar, Kini, semua itu sirna.


Semua hal yang sebelumnya sempat tertunda, kini akan di lakukan setiap waktu begitu Misha dan Franklin sadar kalau keduanya sudah terikat sehidup semati.


"Apakah aku boleh, memegang tangan kamu?"


Misha menatap Franklin. Ntah kenapa tiba-tiba ia merasa pria didepan matanya ini begitu gugup. Seketika Franklin menundukkan wajahnya, sadar Misha mendongak melihatnya.


Misha heran, kemana sifatnya yang sejak kemarin-kemarin seperti pria sejati dan pemberani?


"Kenapa Kakak meminta izin?. 


"Aku.."


"Aku.."


"Kenapa?"


"Kakak baik-baik saja?"


"Aku hanya.."


Franklin memundurkan langkahnya. Ia memunggungi Misha. Ia merasa seperti orang bodoh dan grogi bagaikan pangeran yang gagal. Wajah Misha benar-benar cantik di hari akad nikah dan hal itu membuatnya semakin panas dingin.


"Aku hanya malu, itu saja."


Detik berikutnya Misha tak dapat menyembunyikan raut wajah senyumannya. Suaminya itu benar-benar pria yang membuatnya gemas.


Ntah dorongan dari mana, Misha memajukan langkahnya. Tangannya sedikit bergetar lalu akhirnya, ia pun memberanikan diri malah memeluk Franklin dari belakang hingga pria itu terkejut.


"Kakak, terima kasih. Sudah sabar memperjuangkan aku yang banyak kekurangan seperti ini."


Misha menempelkan pipinya pada punggung tegap Franklin. Aroma tubuh Franklin begitu menenangkan. Sebenarnya ia malu melakukan hal ini, tetapi rasa bersyukur dan terima kasihnya lah membuat Misha terdorong untuk memeluk Franklin.


Franklin meneguk ludahnya dengan gugup. Posisi Misha yang memeluknya saat ini membuatnya tidak karuan bila sebelumnya tidak ada wanita manapun yang melakukannya.. 


Dengan perlahan, Misha pun melepaskan pelukannya namun secepat itu Franklin menahannya. Tangannya bergetar kecil dengan perasaan malu untuk membalas memegang punggung tangan Misha di perutnya.. 


"Tetap seperti ini, Mimi."


Brak! Pintu terbuka lebar. Aifa berdiri di depan pintu. Dengan cepat Misha menjauhkan diri namun Franklin menahannya.


"Ya Allah, so sweet nya... " puji Aifa dengan dramatis dan berbinar.


"Kakak, lepas," rengek Misha. "Aku malu."


Franklin tersenyum puas menatap Aifa dan mengabaikan Misha.


"Apakah kami cocok, Kak?"


"Tentu. Sangat cocok. Ya Allah, pengen keponakan cewek. Pasti nanti cantik seperti Aifa."


"Kakak.." bisik Misha dengan rasa malu.


"Cepet keluar. Semua keluarga pada nunggu untuk pemasangan cincin nikah kalian."


Aifa sudah kembali menutup pintunya. Sementara Franklin berbalik, ia menatap Misha yang sudah merona.


"Kalau mau pingsan, nanti malam saja. Dipelukan aku," bisik Franklin pelan, ia hanya bercanda lalu tak lupa mencium punggung tangan Misha. Istri yang ia cintai karena Allah.


Setelah perjuangan yang penuh liku, dan patah hatinya pada Ava.


💘💘💘💘


Melelehhhhhh 😍😍😍


🤣🤣🤣🤣🤣


Sebenarnya mau up tadi malam, tapi tertunda, ada kata-kata yg sempat di revisi. Hhe


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar