Chapter 42 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 42 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Rumah Sakit Kota Surakarta, Pukul 19.00 malam.


Nafas yang sedikit sesak membuat Misha hampir saja kehabisan nafas kalau saja Allah tidak menyelamatkan nyawanya. Dengan lemas dan wajah pucat, Misha bersandar pada bead head brankar pasien.


Kesibukan lalu lalang para tim medis masih bisa didengar Misha di balik tirai pembatas pasien ketika saat ini ia berada di UGD rumah sakit.


Misha terdiam. Bayangan kejadian musibah kebakaran dua jam yang lalu membuatnya syok dan pingsan didepan rumah. Misha bersyukur, salah satu petugas pemadam kebakaran segera menolongnya untuk dibawa ke bagian petugas medis mobil ambulance.


Sekarang semua titipan Allah seperti rumah dan hartanya ludes di lalap api. Hanya sisa pakaian yang melekat di tubuh Misha. Bahkan ia sendiri masih tidak mengetahui penyebab terjadinya kebakaran berasal dari  deretan rumah tetangganya yang mana.


"Assalamualaikum, nona Misha, ini ponselnya."


Seketika kedua mata Misha terbelalak. Akibat pingsan dan panik, hampir saja ia melupakan ponselnya. Seingatnya, sudah dua hari ini ia lupa meletakkan dimana ponselnya.

"Terima kasih, apakah ponsel ini ada bersama saya ketika saya pingsan?" Misha menatap name tag suster Ani yang melekat di pakaian suster tersebut.


"Saya-"


"Suster Ani, suster Ani?!"


Suara panggilan suster Ani membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Dengan cepat suster yang berada didepan Misha pun membalikkan badannya.


"Maaf, Nona, sepertinya Dokter membutuhkan bantuan saya. Permisi, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Tapi, suster, bisa tolong jawab pertanyaan saya-"


Suster Ani pun memilih segara keluar. Suster Ani sendiri merasa kebingungan harus menjawab apa setelah sebelumnya ia dimintai tolong oleh seorang pria. Misha tak tinggal diam, ia butuh penjelasan dari Suster Ani sekarang juga di luar.


Dengan perlahan Misha turun dari pinggiran brankar pasien. Meskipun tertatih, ia akan tetap berusaha. Namun semua usaha itu terhenti begitu Misha membuka tirai pasien, tanpa diduga Franklin berada didepan matanya, berdiri santai sambil memasukkan salah satu tangannya didalam saku celana kainnya.


Franklin tersenyum puas. Dugaannya benar, ponsel yang ia sayembarakan di sosial media bersama Aldi adalah milik Misha.


Misha syok, buru-buru ia menutup tirai tersebut, lalu secepat itu juga Franklin memajukan langkahnya untuk memegang tirai pembatas pasien dalam sekali cengkraman.


"Apa kamu berusaha menghindari saya lagi, Misha?" ucap Franklin tenang dan pelan.


Misha meneguk ludahnya dengan gugup. Sebisa mungkin ia menahan tirai yang di pegang Franklin agar tidak terbuka.


"Tolong buka tirai nya. Izinkan saya masuk," desak Franklin.

"Ti-tidak."


"Cinderella sudah ada didepan saya setelah meninggalkan ponselnya di gang sempit dua hari yang lalu. Apakah kamu lupa?"

"Itu.. itu bukan ponsel saya."


"Kamu pikir saya tidak mendengar ucapanmu dengan suster barusan? Saya menyuruhnya menyerahkan ponsel itu."

Seketika Misha terdiam. Ia sadar, mau berusaha bohong, sepertinya Franklin adalah pria yang tak mudah di bodohi.

"Saya ingin melihat keadaan Cinderella saya. Apakah tidak boleh?"


"Tidak, saya baik-baik saja. Lebih baik Kakak pulang."


Bukannya menjawab, Franklin malah memegang balik kedua pergelangan tangan Misha yang terhalang kain tirai pembatas pasien. Misha semakin gugup. Genggaman yang begitu erat.


"Kakak, to..tolong lepasin tangan saya."


"Tidak, kamu jawab dulu pertanyaan aku." tukas Franklin penuh harap, ucapan kata formalitas sudah tidak ia perdulikan lagi.

"Apa yang harus aku jawab?" lirih Misha akhirnya. "Kenapa tidak bersama Vita saja yang lebih baik dari aku?"


"Apakah kamu tega bila aku menyakiti sahabatmu yang sama sekali tidak kucintai dengan mencampakkan hati dan perasaannya?"


"Tapi-"


"Apakah kamu sanggup, ketika kamu  bersama seorang pria yang tidak pernah kamu cintai sama sekali kemudian kalian menikah? Apakah kamu bisa melakukannya ketika kalian tinggal dalam satu rumah?"


Misha terdiam. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya secara pelan. Pertanyaan Franklin tadi benar, secara tidak langsung, mana mungkin ia sanggup bersama seorang pria yang tidak pernah ia inginkan sekalipun ia cintai.


"Seperti itulah aku, sampai kapanpun aku nggak akan bisa bersama seorang wanita yang tidak aku cintai. Siapapun itu, termasuk Vita. Terkecuali dengan dirimu."


Tiba-tiba remasan lembut yang Franklin lakukan pada pergelangan tangan Misha semakin menyentuh relung hatinya. Meskipun terhalang kain hijau, Franklin merasa tubuh merasa sedang demam.


"Kondisimu sekarang membuatku terluka, Misha."


"Nggak, aku baik-baik saja. Jangan kasihan denganku."


"Aku perduli dengan orang yang aku cintai, apakah aku salah?"


Air mata pun meluruh di pipi Misha. Suara Franklin terdengar lirih. Franklin pun menyenderkan dahinya pada pergelangan tangan Misha.


"Maafkan keluargaku. Aku tahu, kamu menolakku karena takut sama mereka. Tapi percayalah, apapun yang terjadi, setelah menikah nanti, kamu akan tetap bersamaku. Kita akan jauh dari mereka. Bukankah kamu tahu sendiri, kalau sekarang aku menetap di kota ini, bukan di kota Jakarta?"


"Kenapa.. kenapa Kakak pilih aku? Kenapa? Aku bukan wanita yang baik, keluargaku-"


"Karena kamu adalah impian calon pendamping hidup yang aku minta sama Allah ketika berdoa di sepertiga malam dan kamu adalah petunjuk dari sholat istikharahku, Misha. Kamu adalah satu-satunya wanita yang aku perjuangkan selama ini setelah aku mendapat petunjuk jawaban dari Allah. Tolong izinkan aku menjadi calon imam dalam hidupmu."


Air mata sudah meluruh membasahi pipi Misha. Sungguh ia begitu mencintai pria yang sedang berada didepannya. Meskipun masih terhalang kain tirai, Franklin menggenggam tangannya seolah-olah takut kehilangan lagi.


Namum ntah kenapa, rasa takut dan kebenaran tentang Hamdan yang belum terungkap ternyata lebih besar dari apa yang Misha bayangkan. Keadaan membuatnya terpaksa bersikap tak perduli meskipun akan membuat hatinya hancur.

"Misha.."


"Maaf, aku, tidak bisa.."


"Apakah kamu mencintaiku?"


Tanpa sadar, dalam isakan yang tertahan, tentu saja Misha mengangguk cepat. Tapi untuk berucap, rasanya Misha takut.

Franklin sudah harap-harap cemas, apakah Misha menolaknya lagi? Apakah benar, wanita itu tidak menginginkannya? Tapi, ntah kenapa ia merasa kalau Misha juga mencintainya.


"Misha,"


Merasa tidak ada jawaban, detik berikutnya Franklin pasrah. Dengan perlahan Franklin melepaskan pergelangan tangan Misha yang sempat ia genggam bersama tirai kain pembatas pasien.


Franklin merasa hatinya terluka. Ia sedih, mengapa ia tidak bisa bersama orang yang ia cintai pertama kali dalam hidupnya? Franklin memundurkan langkahnya dan membalikkan badannya dengan langkah lesu.


Sama seperti Misha, setelah sadar Franklin pergi, ia pun meluruh terduduk dilantai yang dingin. Misha menangis dengan perasaan terluka. 


Saling mencintai, namun tidak bisa bersama.


"Tentu saja aku mencintaimu, Kak. Itu tidak akan pernah bisa hilang dari dalam hatiku." lirih Misha akhirnya.


💘💘💘💘


Author lama gak up, sekali up nyesek 🤧


Iya, maaf ya, emang alurnya sudah begitu 😭😭😭


Kan aku suka bikin kalian gemes dan nyesek dulu. Tauajakan 🤣


Part ini sebenarnya panjang, tapi karena baru pulih dari kondisi, jadi maaf ya, ngetiknya nyicil dulu kemudian di bagi dua sama next chapter. Insya Allah secepatnya.


Jazzakallah Khairan, mohon kemakluman nya ☺️


Next chapter 43

https://www.liarezavahlefi.com/2021/05/chapter-43-mencintaimu-dalam-doa.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar