Chapter 41 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 41 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Apartemen Solo Residen Lt 10 no 2. Surakarta, pukul 09.00 pagi.

Rasanya Aldi hendak menepuk jidatnya begitu melihat ada 10 orang wanita berada didepan pintu apartemennya. Tak hanya itu, istri Aldi yang sedang hamil besar pun hanya bisa tersenyum miris melihat tugas yang di terima oleh suaminya.


"Mbak yang paling depan, boleh masuk."


Pintu apartemen terbuka lebar sejak tadi sehingga suara Aldi dapat di dengar oleh jejeran wanita yang sedang berdiri antri. Satu orang wanita muda kisaran usia remaja memasuki apartemen Aldi kemudian duduk di sofa ruang tamu.

"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam. Kotak ponselnya bawa Mbak?"

Wanita itu mengangguk. "Iya, saya bawa, Om."


"Oke, boleh lihat?"


Wanita itu lagi-lagi mengangguk dan menurut. Dengan cermat Aldi membuka kotak ponsel tersebut yang memang sama dengan ponsel milik temuan Franklin kemarin siang.


Aldi menghela napasnya. Ia pun menatap wanita muda didepan matanya.


"Maaf Mbak, nomor IMEI nya beda. Jelas sekali ponsel yang ada ditangan saya ini bukan punya Mbak."


"Tapi ponsel saya hilang Om, sudah berjam-jam tidak ketemu. Nanti si doi curiga sama saya, gimana dong?"


"Bila memang di tangan saya ini ponsel Mbak, maka nomor IMEI di mesin ponsel dan kotaknya pasti sama. Mbak bisa lihat, nomor IMEI nya beda. Mungkin ponselnya hilang di lain. Maaf."


Wanita muda itu terlihat murung. Tentu saja ia kecewa. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dan pamit undur diri dengan sopan.


"Oke, Mbak selanjutnya boleh masuk."


Seorang wanita paruh baya masuk. Usianya sudah hampir tua namun terlihat sehat. Seketika Aldi syok, wanita berusia pertengahan tahun? Yang benar saja. Detik berikutnya Aldi tak habis pikir semisal wanita itu benar-benar Cinderella seorang Franklin Hamilton.


"Permisi, Asalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam. Masuk."


"Begini Mas, kemarin saya dagang gorengan di pinggir jalam. Terus ponsel saya hilang. Barang kali, ponsel sampean itu milik saya."


"Ibu bawa kotak ponselnya?"


"Ini, bawa. Saya yakin, itu ponsel saya."

Dan lagi, Aldi menghela napasnya. Nomor IMEI nya berbeda. Aldi berusaha bersikap sopan.


"Maaf ya Bu, nomor IME nya beda."

"Ha? IME itu apa? Saya nggak tahu."

"Nomor ini Bu," tunjuk Aldi pada kotak ponsel dan mesin ponselnya.


"Tapi ponsel saya sama seperti yang sampean pegang. Jangan-jangan itu ponsel saya ya?!"


Seketika Aldi panik. "Maaf Bu, tentu saja ini bukan-"


"Sampean mau bohongi saya?! Kalau bohong saya laporkan polisi!"


"Tapi-"


Brak! Tanpa diduga ibu paruh baya itu menggebrak meja sofa Aldi. Aldi sampai ketakutan kemudian berlari ke pojok ruangan.


"Sampean belum pernah tak timpuk pakai cobekan sambel kacang gorengan, ya! Jangan coba-coba bohongi emak-emak seperti saya!"


"Maaf Bu, saya tidak bermaksud-"


"Permisi, Maaf Ibu, apa yang di katakan suami saya benar."


Tiba-tiba istri Aldi datang dan melerai mereka. Dengan penuh kesabaran, akhirnya istri Aldi mengalah untuk menjelaskan semuanya hingga akhirnya Ibu paruh baya itu mengerti. Tak hanya itu, seorang anak remaja pria tiba-tiba datang ke apartemen Aldi.


"Assalamualaikum, permisi, maaf Pak menganggu, saya ingin memanggil Ibu saya."


"Loh nak? Ngapain kamu kesini? Siapa yang kasih tahu kamu kalau Ibu disini?" sahut Ibu paruh baya tadi, sementara Aldi sudah merasa jera dan takut akibat perlakuan the power of emak.


"Pak de yang kasih tahu aku, Bu. Ayo kita pulang, ponsel Ibu sudah ketemu."

"Loh, dimana ponsel Ibu?"

"Mungkin kemarin Ibu lupa simpan, ternyata ponsel Ibu ada didalam kaleng duit."

Detik berikutnya, Aldi sudah membenturkan jidatnya dengan pelan di dinding tembok ruang tamunya. Dan ia bersumpah akan mencekik leher Franklin kalau bisa hari ini juga.


💘💘💘💘


PT FR Food Jaya, Pukul 12.00 siang.


Rapat baru saja berakhir, Franklin bernapas lega. Seketika ia ingat Aldi dan pekerjaan yang ia berikan pada sekretarisnya itu. Franklin segera menghubunginya.


"Assalamualaikum, Aldi?"


"Wa'alaikumussalam."


"Bagaimana hari ini?"


"Mana gue tempe, Pak." ucap Aldi ketus dan lelah.


"Aldi.." Franklin berusaha sabar. "Saya serius."


"Dan saya lelah. Saya nyerah Pak. Semua wanita yang datang nggak ada yang beres, saya-"


"Saya dengar katanya istri kamu lagi ngidam buat ibadah suci umroh?"


Seketika Aldi terdiam. Mendadak ia mengerjap-ngerjapkkan keduanya matanya dengan bingung.


"Em, i.. iya Pak. Memangnya kenapa?"


"Bulan depan saya akan berangkatkan kamu dan istri kamu kesana. Paket umroh 14 hari + jalan-jalan ke kota Turki."


Seketika Aldi berbinar di seberang panggilan. Sementara Franklin tersenyum puas.


"Ayo Pak! Kalau begitu kita tambahin lagi waktu sayembaranya sampai Cinderella Bapak benar-benar ketemu, mau 20, 30, 100 wanita? saya oke in dah! Ngerti aja, yang lagi bucin."


Franklin mengerutkan dahinya. "Bucin? Apa itu bucin? Budak cina?"


"Bukan, Pak. Jangan ndeso kenapa, Pak? Bucin itu budak cinta. Ya kayak Bapak ini, santuy nya lenyap gara-gara Mbak Misha. Akhir-akhir ini Bapak kan jadi pria yang kasmaran. Kalau Pak Fandi tahu, wah, bisa heboh satu keluarga. Apalagi Nona Aifa."


Ia pun segera mematikan ponselnya sepihak tanpa sepatah katapun. Franklin hanya tersenyum tipis.
Semua sudah jelas, nyatanya hari ini tidak ada satupun Cinderellanya yang berhasil Aldi temukan. Franklin menghela napasnya, mungkin ia harus sabar dalam menjalaninya.


"Mimi, kenapa kamu bisa membuatku jatuh cinta seperti ini? Padahal sebelumnya aku tidak pernah bucin dengan wanita manapun."


💘💘💘💘


Sore harinya, Kota Surakarta, Pukul 17.30 sore.


Seharusnya Franklin bisa pulang tepat waktu seperti biasanya. Namun tidak sore ini, sudah hampir 30 menit mobil yang ia kemudikan terjebak macet.


Asap hitam mengepul di udara. Suara sirene pemadam kebakaran terdengar begitu nyaring. Saat ini ada terjadi musibah kebakaran sehingga membuat jalanan menjadi macet.


Ponsel Franklin berbunyi. Nama Aifa terpampang di layarnya. Untuk mengisi kebosanan, Franklin menerimanya.


"Assalamualaikum, iya Kak?"


"Wa'alaikumussalam. Franklin, Misha sehat? Sekarang dia lagi apa? Apakah sudah makan?"


"Kenapa Kakak tanya dia? Kenapa tidak menanyakan hal itu sama aku?"


"Jadi Franklin cemburu kasih sayang ya?"


Seketika Franklin tertawa kecil. Kakaknya itu ada-ada saja.


"Aku biasa saja."


"Jadi kapan nih Aifa dan sekeluarga kesana? Jangan lama-lama, nanti Aifa keburu kangen sama Misha. Aifa dan adek ipar Feby sudah merekomendasikan wedding organizer di Jakarta yang bagus. Terus Mommy dan Daddy juga punya hadiah buat Franklin. Katanya liburan honeymoon dengan kapal pesiar gitu."


"Bagaimana dengan Kak Rex dan Frankie? Apakah mereka tidak memberi hadiah kepadaku" tanya Franklin dengan santai. Ia ingin mengetahui bagaimana respon kedua pria itu setelah niatnya yang ingin menikahi Misha terdengar oleh keluarga.


"Aifa nggak tahu. Mereka nggak ada bahas. Mungkin sibuk. Oh iya, besok tanggal merah, Franklin stay di apartemen, kan?"


"Memangnya kenapa?"


"Kemarin Aifa bikin mie instan buat Rex. Biasalah, tiba-tiba dia pengen. Eh, nggak lama Aifa di kasih hadiah Rp.100.000.000 sama Rex. Katanya sih, ucapan terimakasih sudah membuatkan mie seenak ala Aifa. Mie rebus pakai telor."


"Terus?"


"Aifa bingung uang Rp. 100.000.000 nya mau di apain. Mau di tabung ke bank, lagi nggak ada waktu kesana. Masukan brankas, nggak muat. Kebetulan Aifa ada jalan-jalan ke pameran berlian, terus Aifa ada lihat kalung berlian bagus. Aifa yakin, kalau Franklin pakaikan kalung itu di leher Misha, dia pasti cantik banget! Jadi Aifa beliin buat Misha deh."


"Kenapa tidak di sedekahkan saja uangnya?"


"Memangnya kalau mau sedekah Aifa harus bilang-bilang dulu? Nggak kan? Itu rahasia Aifa, hanya Allah dan Aifa yang tahu. Bahkan sejak dulu Daddy pernah bilang, jangan sampai ada orang lain tahu apalagi wartawan kalau keluarga besar Hamilton ada sedekah atau memberi bantuan ke orang-orang yang membutuhkan. Di khawatirkan akan menjadi riya. Riya itu tidak boleh."


Franklin terdiam. Ya, Aifa benar. Disisilain, ia tak habis pikir, Misha belum sah menjadi istrinya saja, Aifa sudah memberi perhiasan semahal itu. Apalagi setelah menikah nanti?


"Besok pagi, kalung berliannya on the way ke alamat Franklin dengan di kawal oleh tim keamanan yang ketat. Tolong simpankan buat Misha ya, itu sebagai tanda terima kasih sudah menerima Aifa menjadi calon Kakak iparnya yang cantik dan manis. Oke?"


"Hm, iya Kak."


Tanpa sengaja sebuah ambulans berada didepan mata Franklin. Dua orang petugas medis membantu seorang wanita yang menggunakan masker sedang berjalan tertatih bahkan terkulai lemas.


"Apakah dia salah satu korban kebakaran?" tanya Franklin dalam hati. "Kenapa dia sangat mirip dengan Misha?"


"Kak,"


"Ya?"


"Nanti kita lanjut lagi, ada hal penting yang harus aku urus."


"Yaudah, Aifa tutup dulu, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Franklin menatap nama rumah sakit yang tertera di badan mobil ambulance tersebut. Ambulance sudah berjalan dengan perlahan sambil di bantu oleh pihak kepolisian yang mengatur lalulintas.


"Aku harus mengikuti mobil ambulance itu. Aku yakin, didalam sana ada Cinderellaku. Insting pangeran bucin begitu kuat kalau lagi kasmaran."


"Awas saja kamu, Mimi. Kamu harus tanggung jawab sudah membuatku jatuh cinta padamu."


💘💘💘💘


Yah, deg-degan nya di tunda, deh wkwkwkw. Sabar ya 😆


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar