Chapter 46 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 46 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Suasana pernikahan yang tadinya mewah pun kini terlihat sedikit ricuh. Beberapa tamu undangan juga ada yang syok bahkan saling berbisik dengan apa yang di lihat didepan mata mereka.


Fandi sadar, dua orang pria yang tak dikenal didepan matanya itu adalah orang asing meskipun berstatus polisi. Fandi menekan alat komunikasi kecil yang terpasang di telinganya, mendengarkan setiap detail ucapan putranya.


"Dia membawa surat penangkapan atas nama Hamdan, Dad. Apa yang harus kita lakukan?"


"Biarkan mereka bekerja."


Frankie menatap Daddynya yang masih berada di atas panggung pelaminan. Ucapan singkat dengan Daddynya itu baru saja berakhir.

Bruk!

"Misha!"


Tanpa diduga Misha pingsan begitu saja tepat disamping Franklin. Tentu saja sebagai seorang suami ia syok.

"Misha, sadarlah, kumohon sadarlah!" bisik Franklin pelan, menepuk kedua pipi Misha yang basah oleh air mata.


Dor! Suara letusan senjata yang memekikkan telinga terdengar. Franklin menatap situasi, semua tamu berlarian ketakutan bahkan ada yang bersembunyi di bawah meja. Jika saja Hamdan tidak memberontak, kericuhan tidak akan terjadi.


Dengan cepat Rex meninju Hamdan yang berusaha untuk kabur. Aifa ingin melerai, dengan cepat Frankie mencegahnya.

"Rex! Hentikan! Kamu tidak boleh memukulnya!"


"Rex!"


"Kakak tenanglah!" Frankie berusaha menahan Aifa, Aifa terguncang, syok, ia tidak menyangka seorang Hamdan yang awalnya ia anggap sudah lepas dari semua kasus harus kembali berhadapan dengan kepolisian.


"Tapi, Rex, Hamdan-" Aifa memeganh kepalanya yang pusing.


Bruk! Detik berikutnya Aifa pun pingsan.


Sadar bahwa istrinya tak sadarkan diri, Rex menghentikan aksinya yang sejak tadi memukul Hamdan hingga babak belur bertepatan saat salah satu polisi mengunci pergelangan tangan Hamdan kemudian memborgolnya.


Air mata menetes di pipi Ayesha, tak ingin kondisi istrinya berpengaruh, dengan tanggap Fandi segera menggendong istrinya ala bride style kemudian menuruni tiga anak tangga panggung pelaminan, sementara Franklin sudah menghilang sejak tadi, ia sudah tidak memperdulikan sekitarnya selain terhadap Mishanya.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"

"Anda harus ikut kami ke kantor polisi dan menjelaskan disana!"


"Misha!"

"Misha!"


Hamdan menoleh kebelakang, berteriak memanggil adiknya, namun tidak ada siapapun yang ia lihat. Bahkan keluarganya syok menatapnya. Hingga akhirnya, ia pun pasrah ketika dua orang pria berbadan besar itu menggiringnya ke kantor polisi.


Seulas senyum puas dan sinis terpancar dari bibir Jasmine yang kini duduk di bangku tamu sudut ballroom. Segelas kaca berkaki yang ia pegang sambil menatap situasi dengan apa yang terjadi semakin membuatnya terlihat angkuh.


"Ck, sudah aku bilang kan? Semuanya percuma saja. Itu akibatnya bila kamu menolakku, Franklin."


💘💘💘💘


30 menit kemudian, pukul 21.00 Malam.


Dengan perlahan Misha membuka kedua matanya, rasa pusing yang hebat semakin membuatnya tak bertenaga untuk bisa membangunkan dirinya.


Berusaha untuk kuat, akhirnya Misha membangunkan dirinya. Ia memegang kepalanya yang terasa berat. Gejolak mual pun mulai memenuhi perutnya.


Prank!


Suara pecahan kaca terdengar dari luar kamar. Misha syok, dengan cepat ia pun turun dari ranjang, tak perduli dengan rasa bertanya-tanya yang kini semua pakaiannya wedding dressnya tergantikan dengan gamis berbahan katun yang ia kenakan.


"Daddy sudah menahan sabar selama ini, Franklin! Kalian pikir Daddy tidak tahu kalau pria itu sudah melakukan penipuan bersama teman-temannya senilai 150 juta?!"


Suara amarah Fandi yang nyaring membuat seisi ruangan tamu hotel berkelas presiden suite pun terbungkam. Disebelah Fandi, ada Ayesha yang duduk di kursi rodanya.
Sementara di kanan mereka, ada Aifa dan Rex, di sudut ruangan ada Frankie yang tengah memeluk Feby karena terisak menangis setelah mengetahui fakta bahwa insiden kecelakaan yang menimpa Ayesha dan putranya itu disebabkan oleh Hamdan.


Rex dan Frankie terkejut. Ia tidak menyangka kalau Daddy mereka mengetahuinya sejak lama namun tidak mengatakan apapun. Franklin tetap diam, berusaha tenang, meskipun sebenarnya ia juga takut.


"Meskipun kedua Kakakmu berusaha menutupinya selama ini, Daddy tetaplah mengetahuinya. Tidak pernah sekalipun Kakakmu itu pergi keluar kota secara mendadak dengan alasan urusan bisnis tanpa di ketahui oleh Daddy sebelumnya. Perusahaan itu memang milik kalian, namun Daddy tetap memantaunya hingga sekarang!"


Seketika Frankie dan Rex menundukkan wajahnya. Sebaik apapun mereka menyembunyikan, tetap saja Daddy mereka mengetahuinya.


"Daddy bisa saja melaporkan Hamdan. Tapi Daddy tidak melakukannya. Uang bukanlah masalah besar buat Daddy meskipun Aifa juga mengalami hal yang sama."


Dan lagi, Aifa ikut menundukkan  wajahnya. Tentu saja ia juga tahu siapa dalang di balik penipuan pembelanjaan online. Sebuah pembelian yang sempat ia lakukan dua bulan yang lalu ketika ia memesan jam tangan bermerek seharga jutaan rupiah untuk Franklin semata-mata sebagai kenang-kenangan kepindahannya ke kota Solo.


Semua karena Hamdan, Hamdan yang melakukan penipuan itu. Namun Aifa sama seperti Daddynya, uang dan barang bukanlah masalah yang besar baginya.


"Daddy dan Aifa, sudah pernah menjadi korban pria brengsek itu! Tapi setelah pria itu melukai Mommy dan membuatnya kehilangan salah satu kakinya bahkan nyaris membuat keponakanmu merenggangkan nyawa, kamu pikir Daddy akan memaafkan dia?!"


Franklin tidak berdaya, dengan memberanikan diri ia menatap Mommynya yang berwajah sembab. Namun tanpa diduga Mommy yang ia cintai itu malah memalingkan wajahnya ke lain, enggan menatap putranya.


"Kamu tidak tahu, bagaimana terlukanya Daddy." suara Fandi terdengar serak dan terpukul.


"Wanita yang Daddy cintai selama puluhan tahun ini harus kehilangan salah satu kakinya, Mommy kalian terluka cuma karena pria itu. Mommy kalian memang diam, tapi dia tetaplah manusia yang memiliki perasaan sedih.."


"Aku, minta maaf atas nama Hamdan." lirih Franklin pelan, takut kalau Daddynya itu akan berbuat yang tidak-tidak, terutama pada Mishanya.


"Maaf tidak akan mengembalikan semua yang sudah terjadi. Usir wanita itu dari hadapanku! Daddy tidak akan pernah menganggapnya sebagai menantu atau bagian dari keluarga ini!"


"Dad-"


"Pilih dia atau orang tuamu yang sudah membesarkan mu!"


Seketika Franklin terdiam, tentu saja sebagai anak ia tidak bisa menjawab. Misha istrinya, sementara orang tua adalah segalanya baginya sampai kapanpun.


"Kenapa Daddy mengatakan hal itu? Misha istriku, dia-"


"Cinta memang benar-benar membuatmu buta.." sela Fandi dingin, enggan menatap putranya.


Fandi memunggungi semuanya, menatap kearah tirai kamar yang kini terlihat gelap oleh langit malam diluar sana.


"Kamu lihat Kakakmu! Frankie dan Aifa, menikah dengan orang yang berasal dari keturunan baik. Pekerjaannya, tahta, dan semuanya terlihat jelas. Sekalipun kamu menikah dengan wanita dari kalangan orang biasa, Daddy tidak akan mempermasalahkannya. Tapi apakah Daddy bisa menerima wanita itu yang terlahir dari keluarga penjahat? Kenapa kamu tidak melihat asal muasal keluarga mereka dulu sebelum menikahi wanita itu!


"Dad, Misha tidak salah. Dia-"


Dengan kesal Fandi melempar sebuah dompet hitam di hadapan Franklin. Franklin sampai terkejut, ia syok bahwa dompet itu adalah miliknya yang telah lama hilang. Tepat saat tanpa sadar ia pernah kecopetan ketika makan siang disalah satu restoran siap saji kota Jakarta.


"Feby dan Aifa menemukan dompet itu didalam koper istrimu itu ketika mereka hendak menggantikan wedding dressnya saat pingsan. Masih mengelak kalau dia wanita yang baik? Bahkan dia berani mencuri sebagian hartamu. Kami semua disini ragu apakah dia benar-benar tulus menjadi istrimu atau hanya mengincar harta keluarga kita!"


"Bu.. bukan aku yang melakukannya."


Tiba-tiba Misha keluar dari kamarnya. Sejak tadi ia sudah mendengar percakapan dan perselisihan tersebut. Dengan takut ia mendekati Franklin hingga posisinya berada di belakangnya.


"Kakak, sungguh, bukan aku yang mencuri dompet Kakak."


Franklin tak menjawab, ia malah memegang tangan Misha, saling bertautan jari seolah-olah keduanya takut berpisah.


"Tanpa kamu kasih tahu, tentu aku percaya padamu."


"Suruh dia pergi dari sini sekarang juga! Kami muak melihatnya!"


"Hari sudah malam, tidak mungkin Misha-"


"Jadi kamu memilih dia yang baru saja dikenal hitungan minggu ketimbang orang tuamu dan keluargamu disini?!" sindir Fandi dengan dingin.


"Tapi, Dad-"


"Kakak, a.. aku akan pergi dari sini."


Dengan menahan air mata, Misha mencoba melepaskan genggaman tangannya pada Franklin, namun Franklin menolak, malah semakin mempererat.


"Aku.. aku baik-baik saja, Kak."


"Misha.."


"Daddy, Daddy benar.. " sebentar lagi, air mata akan luruh, namun sebisa mungkin Misha menahannya. Ia tidak ingin membuat Franklin semakin bersalah dan dilema.


"Aku, istri Kakak. Tapi, bukankah orang tua Kakak lebih berhak terhadap Kakak?"


"Tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu, Misha. Kita-"


"Jangan jadikan dirimu menjadi anak durhaka! Putra yang baik akan menuruti ucapan orang tuanya. Kamu lihat Mommymu sekarang bagaimana dia tidak memiliki satu kaki gara-gara Kakaknya yang brengsek itu!"


"Silahkan pergi dari sini.."


Suara Feby tiba-tiba terdengar bertepatan saat ia menarik koper milik Misha dari dalam kamar.


"Putraku hampir saja meregang nyawa karena kehilangan banyak darah ditubuhnya bahkan kepalanya terbentur di trotoar jalan.."


Misha menundukkan wajahnya. "Maafkan atas nama Kakak saya."


"Allah Maha baik dan masih memberikan panjang umur untuk putraku. Tapi kejahatan yang di lakukan Kakakmu benar-benar sulit untuk di maafkan." ketus Feby dingin.


"Daddy akan memberangkatkanmu ke Australia. Ada proyek baru disana." sela Fandi lagi. "Lebih baik wanita itu pulang."


Fandi menatap Misha dengan tajam. "Waktumu hanya 20 menit dari sekarang, asistenku akan berjaga diluar, memastikan dirimu pergi dari sini!" ancam Fandi dingin hingga ia berlalu, di ikuti dengan semuanya. Fandi pun berdiri tepat didepan assisten pribadinya begitu didepan pintu luar.


"Pastikan wanita itu pulang. Aku tidak ingin mereka bersama apalagi adanya calon keturunan diantara mereka."


"Siap, Tuan."


Franklin menatap kepergian keluarganya. Setelah pintu tertutup, ia pun menatap Mishanya. Tanpa ragu Franklin membawa Misha ke pelukannya. Misha hanya diam dan menurut, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasakan dekapan Franklin yang begitu hangat penuh cinta.


"Kalau nggak kuat, kamu boleh menangis dipelukanku."


"Aku.. aku kuat kok."


"Serius?"


"I.. iya."


"Tapi malah aku yang nggak kuat sekarang."


Misha pun terdiam, ia memejamkan matanya. Merasakan telapak tangan Franklin mengelus pundak dan kepalanya.


"Kenapa?"


"Aku hanya takut melihatmu menangis. Itu yang membuat hatiku melemah. Aku merasa hatiku terluka."


"Kakak.."


"Iya, sayang?"


"Sekarang.. sudah menit keberapa?"


"Menit ke 3. Masih ada 17 menit lagi."


"Aku mau sholat Sunnah dua rakaat setelah menikah. Apakah masih bisa?"


"Aku barusan berpikir seperti itu. Kita memang sepemikiran dan sehati. Makanya kalau kamu menangis, aku juga ikutan terluka."


💘💘💘💘


S


holat Sunnah dua rakaat baru saja selesai Franklin lakukan bersama Misha begitupun doa yang ia panjatkan kepada Allah Subhana wa taala. Franklin pun menghadap Misha lalu terkejut ketika istrinya itu menundukkan wajahnya.

"Ka.. kakak.. maafkan aku."

"Kenapa kamu meminta maaf? Kamu nggak salah."

"Aku, nggak kuat. Aku nggak bisa.."

Tiba-tiba Misha berdiri, ia melepaskan mukenanya kemudian meletakkannya di atas tempat tidur. Dengan cepat Franklin menghentikan niat Misha yang ingin ke toilet. Franklin memegang lengannya.

"Aku tahu pada akhirnya kamu nggak kuat dan menangis. Apa yang kamu rasakan, aku juga merasakannya."

Misha terdiam. Ia pun menatap Franklin. "Maaf aku menangis. Maaf sudah buat Kakak sakit."

Dan tangis Misha pun pecah. Franklin memeluknya semakin erat. Ia memejamkan matanya, mencium puncak kepala Misha berulang kali, seolah-olah akan merindukan moment bersama dengan istri yang di cintainya.

Pintu terketuk pelan. Tentu saja Franklin tahu bahwa ketukan itu berasal dari asisten Daddynya yang terlihat takut bila ia gagal dalam menjalankan tugasnya.

"Maaf Tuan, waktu istri anda habis."

Franklin tak menjawab. Ia pun melepaskan pelukannya pada Misha. Franklin meraih Khimar berwarna peach yang ia lihat di atas tempat tidur.

"Izinkan aku, memakaikan Khimar untuk menutupi auratmu."

Misha mengangguk. Tentu saja ia tidak ingin menolak. Sebuah perlakuan sederhana yang menggetarkan hatinya. Franklin mulai meraih ciput berbahan rajut berwarna senada dengan Khimar Misha.

"Selama aku tidak bersamamu, jagalah diri. Jangan lupa berdoa kepada Allah. Allah senantiasa menjagamu dimanapun kamu berada. Tetaplah di apartemenku. Sekarang itu rumah kita. Tunggu aku sampai urusan disini selesai."

Misha mengangguk. Dengan penuh perhatian Franklin merapikan helaian anak rambut di dahi Misha, memastikan agar tidak terlihat.

"Ini hanyalah masalah waktu. Ketika sedang kecewa terhadap suatu hal, keluargaku memang begitu. Sulit untuk memaafkan, tapi pada akhirnya, mereka akan menerima dengan lapang dada. Bukan hanya kamu yang mengalaminya, di masalalu Daddy pernah kecewa dengan Kakak ipar Rex. Butuh waktu untuk mengembalikan semuanya menjadi baik. Yakinlah kalau kita harus sabar melewati ujian dari Allah."

Misha mengangguk lagi. Ia sadar kalau Franklin tidak ingin membuatnya cemas.

"Selama tidak ada aku, jangan berpikir hal-hal buruk. Hindarkan bisikan was-was syaitan. Aku ke Australia untuk bekerja. Setelah selesai, aku akan kembali supaya kita bisa bersama. Masih banyak yang tidak aku ketahui tentang kamu dan masih banyak hal lainnya yang harus kita lakukan."

Franklin memasangkan Khimar dikepala Misha dengan sempurna lalu kembali memeluknya.

"Bagaimana jika Kakak tidak kembali?"

"Jangan berpikir buruk."

Misha memejamkan matanya. Meresapi dekapan hangat Franklinnya. Menghirup aroma wewangian maskulin yang sangat menenangkan hati dan jiwanya. Mendengarkan semua pesan Franklin yang membuatnya yakin. Misha pun mendongakkan wajahnya, menatap Franklin dengan seksama.

"Aku ingin menatap wajah Kakak sebentar. Aku akan merindukan wajah suamiku ini."

Air mata menetes di pipi Franklin. Akhirnya ia menyerah, yang tadinya berusaha tegar pun kini terasa goyah ketika Misha menyentuh pipinya, Franklin memejamkan matanya, ikut menggenggam tangan Misha di pipinya.

"Aku akan juga merindukan tanganmu ini di pipiku. Rasanya aku seperti di manja."

Franklin menatap Misha dengan jarak wajah yang sangat dekat. Rasa cintanya untuk pertama kali setelah menikah pun ingin ia ungkapkan begitu kedua matanya terfokus pada bibir ranum istrinya. Franklin mengusap pelan bibir Misha menggunakan ibu jarinya.

"Dan kita juga tidak akan melupakan ini, aku mencintaimu Mimi." bisik Franklin pelan, hingga akhirnya Misha pun memejamkan kedua matanya.

💘💘💘💘


Bagian atas memang sakit.


Bagian bawah, rasanya sudah malu-malu bersemu merah nggak bs nahan senyum.


Tapi sakitnya masih kerasa. Kuharap kalian kuaaaaadd 😭😩


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca  ☺️


Sehat selalu buat kalian ya.. moga selalu sabar nunggu bumil yg up nya lagi ngaret semenjak hamil 🖤


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar