Chapter 47 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 47 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Keesokan Harinya.. pukul 08.00 pagi. Kota Yogyakarta.

Misha menatap koper yang sudah ia siapkan sebelum benar-benar pergi dari kamarnya. Semalam, setelah kejadian menyedihkan itu, Misha memutuskan pulang kerumah Neneknya untuk menginap semalam.


Misha segera menarik kopernya keluar kamar, menuju ruang tamu sampai akhirnya ia melihat keluarga dan Neneknya duduk di sofa tamu.


"Nenek harap kamu mau tinggal disini, Mimi."


Misha memaksakan senyumnya. Sebisa mungkin ia menutupi sikap keluarga suaminya setelah apa yang terjadi.

"Mimi mau pulang saja, Nek. Lagian Mimi harus tinggal di apartemen Kakak."


"Kalian, baik-baik saja kan setelah kejadian tadi malam?"


Misha memeluk Neneknya dengan erat sembari mengusap pelan punggung beliau.

"Jangan khawatirkan apapun. Kata Kakak, kalau pekerja selesai, dia akan pulang mendatangiku."


"Baiklah kalau begitu. Kamu memang sama seperti Mama kamu. Suka mandiri. Dan kamu benar-benar syok kenapa Hamdan yang dulu dikenal baik tiba-tiba berubah menjadi pria penjahat? Apakah semua itu disebabkan dari pergaulannya?"


"Iya, Nenek benar. Semoga Kakak bisa menyadari kesalahannya."


"Aamiin."


Nenek Misha pun melepaskan pelukannya bertepatan saat Tante Misha menyerahkan amplop coklat kearahnya.

"Ini uang mahar kamu kemarin pagi saat akad nikah. Simpan baik-baik kedalam tas."


Misha mengangguk kemudian merunduk membuka koper miliknya untuk memasukkan uangnya kedalam sana dengan aman.

"Mimi berangkat dulu, Nek, Tan.. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Nenek Misha pun menatap kepergian cucunya. Padahal ia sudah menawarkan bantuan agar Om Misha bisa mengantarkan. Namun lagi-lagi Misha menolak dengan halus sebagai alasan bahwa ia tidak ingin merepotkan keluarganya. Misha hanya tidak ingin sesampainya di Surakarta, mereka mengetahui masalah yang sebenarnya. 


💘💘💘💘


Pesawat pribadi yang di tumpangi keluarga besar Hamilton itupun akhirnya sudah lepas landas di bandara dan mengudara secara perlahan.


Franklin terdiam sejenak, menatap awan putih yang ada di sampingnya. Merenung memikirkan Mishanya. Tak hanya itu, sebuah first kiss yang pertama kali ia lakukan bersama Misha tadi malam adalah momen yang tidak pernah ia lupakan sampai kapanpun.


Franklin ingin mengecek ponselnya, tapi ia urungkan mengingat saat ini pesawat sudah berada di ketinggian 35.000 kaki. Franklin memegang dadanya sejenak, ada luka yang menganga lebar disana. Luka yang di sebabkan oleh rindu tak terlampiaskan. Luka yang terjadi setelah menatap kepergian Misha di iringi air mata wanita itu.


"Kakak?"


"Hm?"


"Kalau Kakak sudah pulang, aku ingin berpegang tangan seperti ini."


Franklin terdiam, menatap tangannya yang lebih besar dari Misha sambil menggenggam balik tangannya.


"Dulu jari manisku polos. Tidak ada cincin apapun disana. Sekarang ada. Kakak juga makai, ini tanda cinta kita. Tanda ketika Allah mentakdirkan kita sehidup dan semati."


Lalu Misha mencium punggung tangan Franklin. "Aku ingin mencium punggung tangan ini, ketika Kakak pulang nanti. Menyambut kedatangan Kakak setelah bekerja keras mencari nafkah."


Franklin memeluk Mishanya dengan erat. Menumpukkan dagunya pada pundaknya sambil memejamkan mata.


"Terima kasih atas.." seketika Misha terdiam, wajahnya merona merah.


"Terima kasih buat apa?"


"Em, itu.."


"Katakan saja.."


"First kissnya.." ucap Misha pelan, merasa malu dan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Franklin. Seketika Franklin membuka kedua matanya sambil tersenyum geli.


"Kenapa jantung Kakak berdebar-debar dengan cepat sekali?"


"Aku, hanya gugup dengan apa yang aku lakukan soal first kiss tadi. Padahal sebenarnya aku takut. Masih kedengaran ya debarannya?" tanya Franklin polos.


"Masih. Nyaring banget. Kakak yang pertama buat aku."


"Kamu juga yang pertama buat aku. Tunggu aku di apartemen. Aku mencoba prasangka baik pada Daddy, mungkin Daddy memberiku pekerjaan tambahan supaya aku lebih bekerja keras lagi mencari nafkah. Setelah aku pulang, kita akan berpacaran."


"Berpacaran?"


"Hm, pacaran setelah menikah. Bukankah itu hal yang menyenangkan? Masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang pribadi kita masing-masing. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya malam mingguan sama kekasihku, liburan bersama, bahkan ketika tidur nanti, bukan guling lagi yang aku peluk. Tapi kamu."


"Ih Kakak.."


Lalu Franklin tertawa kecil. Misha semakin erat memeluknya. "Aku akan menantikan hal itu dengan sabar, Allah lagi menguji hati kita. Jika kita bersabar, maka ada hadiah buat kita."


"Aamiin. Semoga hadiahnya nanti dua garis merah setelah berminggu-minggu aku di apartemen bersamamu."


Franklin memejamkan matanya. Meskipun ia mendengar pramugara dan keluarganya  lalu lalang, tetap saja Franklin memejamkan matanya seolah-olah sedang tidur. Padahal ia sedang merindukan Misha. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengingat kejadian semalam dan membayangi wajah Misha.


💘💘💘💘


Pukul 11.00 siang. Kota Surakarta.


Dengan pucat Misha memeriksa tasnya. Ponsel yang ia bawa didalam tasnya pun tiba-tiba tidak ada. Sebentar lagi bus kota yang ia tumpangi dalam perjalanan darat dari kota Jogjakarta menuju Surakarta pun tiba di terminal.


Padahal ia berniat menghubungi Franklin, memberi kabar bahwa ia sudah sampai di tujuan. Misha yakin, saat ini Franklin pasti menunggu kabar darinya. Dengan panik Misha juga merogoh koper yang ia bawa. Mencari-cari sesuatu yang ia takutkan akan hilang


"Ya Allah.. ponselku.. uang maharku.. kok nggak ada?"


Kedua mata Misha berkaca-kaca, bertepatan saat bus sudah memasuki kawasan terminal. Misha menoleh ke kanan dan kiri, sebelumnya ia memang duduk di bagian belakang karena semua kursi penumpang bagian depan dan tengah penuh.


Akibat kelelahan, tanpa sengaja Misha ketiduran. Bahkan ia tidak tahu seperti apa ciri-ciri penumpang yang duduk di sebelahnya, pria ataupun wanita, ia tidak memperhatikannya selama ia terfokus dan kepikiran soal Franklin dan kejadian semalam.


"Sampean nggak turun, Mbak?"


Tegur seorang supir Bus yang kini menghampiri Misha. Misha pun seperti kebingungan.


"Sebentar Pak, saya masih memeriksa semua barang-barang saya."


"Ya wes, tak tunggu ya Mbak. Jangan sampai ada yang ketinggalan."


Misha mengangguk setelah supir tersebut turun dari Busnya. Detik berikutnya hanya air mata yang menetes di pipi Misha.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


💘💘💘💘


Kediaman Hamilton, pukul 12.00 siang. Jakarta Timur.


"Ay, wanita itu, benar pilihan Franklin?"


Ayesha menoleh kearah temannya yang bernama Putri. Ia pun mengangguk.


"Benar. Apakah kamu mengenalnya?"


Seketika Putri terdiam. Ibu paruh baya itu merasa bibirnya kelu. Ayesha merasa heran, kenapa raut wajah temannya itu terlihat menatap menantunya itu penuh waspada, sedikit tidak suka dengan tatapan yang dingin.


"Semoga dia membawa kebahagiaan di keluargamu ya, Ay."


Hanya itu ucapan yang di dengar Ayesha dari Putri kemarin pagi, beberapa jam setelah Franklin resmi menyandang status sebagai suami Misha ketika akad nikah.


Sekarang Ayesha sadar, kalau Putri ternyata mengenal keluarga Misha lebih jauh meskipun temannya itu tidak mengatakan yang sebenarnya semata-mata hanya ingin menghargai perasaan masing-masing.


Seluruh keluarga Franklin pun tiba di kediaman Hamilton dengan selamat. Tanpa banyak kata Fandi segera memasuki rumahnya sambil mendorong kursi roda istrinya.


"Fan?"


"Ya?"


"Dimana Franklin?"


"Masih didalam mobil. Kata Frankie dia sibuk dengan ponselnya sejak tiba di bandara."


"Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Jangan terlalu banyak memikirkan apapun. Sudah cukup pria brengsek itu membuatmu terluka sehingga kondisimu menjadi seperti ini."


"Kamu marah dengan Franklin?"


"Hanya kecewa. Itu saja."


"Bagaimana dengan menantu kita?"


"Siapa menantu kita?" cibir Fandi sinis, ogah menyebut namanya. Ayesha menghela napasnya.


"Fan-"


"Apapun yang terjadi, keluarga kita sudah banyak bersabar selama ini. Dengan baiknya kita tidak membawa Hamdan ke jalur hukum begitu mengetahui dia menipuku dan menipu Aifa semata-mata hanya karena dia adalah satu-satunya keluarga yang di butuhkan wanita tidak tahu malu itu selama tinggal di Surakarta. Tapi begitu anggota kepolisian tiba-tiba datang di pernikahan Franklin tadi malam, Apakah kamu pikir aku tidak syok?"


Ayesha terdiam. Tentu saja ia dan seluruh keluarga besar Hamilton tidak pernah tahu bahwa Hamdan lah pelaku yang sebenarnya sehingga menjadikan ia dan cucunya korban tabrak lari.


"Jadi, siapa yang melaporkan Hamdan?"


"Jasmine, wanita yang datang bersama Franklin ketika menjengukmu di rumah sakit. Kamu ingat?"


"Hm, ya, aku ingat."


"Seharusnya dia yang pantas bersanding dengan putra kita. Bahkan dia menunjukkan semua bukti-bukti yang kuat pada kita dan kepolisian."


Ayesha hanya diam. Dengan perlahan mereka memasuki lift untuk menuju lantai 3 tempat dimana kamar mereka berada.


"Aku tidak bisa diam begitu saja setelah mengetahui bahwa pelaku kejahatan yang tidak bertanggung jawab itu sudah membuatmu terluka bahkan nyaris membuat cucu kita kehilangan nyawanya. Dan aku tidak pernah membenci putraku Franklin, tapi aku telah membenci Misha."


💘💘💘💘


😭😭😭 Sabar ya ikutin alur ini. Memang sedih sih.


Kapan bahagianya kak?


Insya Allah ada saatnya 😊


Cinta dalam doa itu memang harus sabar ketika Allah menguji seberapa kuat pertahanan cinta sejati mereka 🖤


Jazzakallah Khairan sudah menunggu aku up lagi dengan sabar, doakan bumil lancar update seperti biasanya ya 🤗
Aamiin.


Sehat selalu buat kalian.


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar