Chapter 52 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 52 : Mencintaimu Dalam Doa






 Apartemen Solo Residen, pukul 14.00 siang.

Sayup-sayup Misha membuka kedua matanya, efek meminum obat yang membuatnya cepat mengantuk, sedikit banyaknya ia merasa tubuhnya sedikit lebih mendingan.


Misha terbangun dengan perlahan, menyadari bahwa ia berada ditempat tidur. Sementara Franklin tidak ada disampingnya. Ia pikir begitu terbangun, Franklin ada untuknya. Ia pun segera berdiri dan mencari suaminya. Rupanya Franklin tengah sibuk memasak di dapur.


Wajah Misha masih pucat, namun ia tidak bisa menahan senyum begitu melihat Franklin yang benar-benar perhatian dengannya sejak tiba di apartemen. Tanpa bisa di cegah, dengan perlahan ia memeluk Franklin dari belakang.

"Astaghfirullah!"


Franklin terkejut. Ia menoleh kebelakang lalu bernapas lega. Hampir saja ia lupa kalau di apartemennya sekarang ada seorang istri.

"Kenapa Kakak kaget?"


"Em, tidak apa-apa. Sudah agak mendingan?" Franklin berusaha untuk tenang, jiwa bucinnya sekarang sudah hilang ntah kemana. Yang ada bawaannya grogi terus, karena belum terbiasa adanya seorang istri yang bisa memeluknya kapanpun dia mau.


"Alhamdulillah, agak mendingan. Kakak sudah sholat? Maaf setelah sholat Zuhur dikamar tadi, aku ketiduran."


"Sudah, tadi jamaah di mesjid."

Misha berpindahnya posisi berada di samping Franklin sebelah kiri, sementara tangan kanannya memeluk pinggul pria itu. Misha berjinjit, kembali mencium pipinya yang sudah dilakukan kesekian kalinya semenjak bertemu.


"Kakak lagi buat apa?"


"Lagi buat teh, untuk kita."


"Dengan memasukan garam?"


"Ha?" Seketika Franklin menghentikan aktivitasnya yang sedang mengaduk secangkir teh, kenapa ia sampai bisa menambahkan garam? Efek di dekatin Misha membuat pikirannya tidak fokus. Apalagi perlakuan istrinya barusan secara tidak langsung membuat pikirannya menjadi tidak-tidak. Astaga, ia pria normal, tentu saja reaksinya begitu cepat, padahal cuma di peluk. Franklin berdeham, berusaha bersikap santai.

"Rupanya aku salah."


"Kok bisa?"


"Istriku sudah manis seperti gula, jadi aku lupa menambahkan gula yang sesungguhnya, maaf."


Franklin tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Misha sudah merona merah dan terlihat salah tingkah.


"Em, aku, aku tunggu di ruang tamu. Tiba-tiba kepalaku pusing."

"Perlu di gendong?"


"Nggak," tolak Misha cepat dan segera mengambil langkah lebar menuju ruang tamu.


Dan Franklin bernapas lega. Ia merutuki kebodohannya dan segera membuat teh yang baru. Untung saja ia memiliki keahlian menggombal berkat novel romance milik Aifa yang pernah ia simpan. Jangan sampai ia dianggap tidak gentleman. Jangan sampai.


💘💘💘💘


Seminggu Kemudian.. Kediaman Hamilton. Pukul 19.00 malam.


Aifa memegang ponselnya dan kembali menemui Daddynya diruang tamu. Pria paruh baya itu terlihat bersama Mommynya. Mommy Ayesha sedang berlatih berjalan secara perlahan menggunakan kaki palsu.


"Sedikit lagi, Ay. Aku yakin kamu bisa."


"Aku sudah lelah, bolehkah aku beristirahat?"


"Tentu, perlu ku gendong menuju sofa disana?"


Ayesha tersenyum tipis. Tentu saja ia tidak ingin menolaknya. Fandi pun segera menggendongnya menuju sofa dan mendudukkannya secara perlahan.


"Akhir-akhir ini kamu sibuk bersamaku, apakah tidak masalah?"


"Tentu saja tidak. Lagian kedua putra kita sudah mengerjakan semua pekerjaannya sejak dulu. Aku hanya perlu memantau kinerja mereka seminggu sekali."


"Dad?"


Fandi dan Ayesha menoleh kearah putrinya. Dengan santai Aifa mendekati mereka.


"Dad,"


"Hm?"


"Aifa mau bunga ini, lucu kan? kalau menambah koleksi dipekarangan Mommy, Mommy akan setuju."


"Terus?"


"Tapi lokasinya di Surakarta. Aifa ingin beli ke sana, sekarang."


"Memangnya bunga jenis apa, Aifa?" sela Ayesha tiba-tiba. Aifa pun mendekati Mommynya, dan memperlihatkan dua pot tanaman kaktus hias berukuran sedang. Ayesha tersenyum senang.


"Ide yang bagus. Mommy setuju. Tumben kamu ingin mengoleksi bunga? Apa jangan-jangan calon cucu Mommy ini perempuan?" Ayesha mengusap pelan perut Aifa. Tentu saja Aifa merasa senang.


"Aamiin, semoga saja Mom."


"Kamu mau membeli bunga atau mendatangi wanita si pembawa masalah itu yang sedang mengandung calon cucu yang tidak aku inginkan, disana?"


Seketika suasana menjadi hening, Aifa menatap Daddynya yang akhir-akhir ini mengabaikannya. ia sadar, apa yang ia lakukan sebelumnya memang salah. Meminta sesuatu sebagai pengalihan agar Daddynya itu ke Korea semata-mata agar Franklin bisa keluar dari rumah.


"Aifa-"


Detik berikutnya, Fandi pun pergi meninggalkan putrinya. Sudah cukup permintaan dengan mendatangkan boyband Korea beberapa waktu yang lalu, tidak lagi dengan lainnya.


"Jadi, Daddy mulai mengabaikan princess Made in Korea nya ini?"

Fandi menghentikan langkahnya, ia pun menoleh kearah putrinya sambil merogoh ponselnya, terlihat menghubungi seseorang selama beberapa menit sampai akhirnya panggilan tersebut berakhir.

"Tentu saja tidak, putri kesayangan Daddy."

"Jadi, kapan Aifa kesana?" tanya Aifa berbinar.

"Apanya yang kapan?" Fandi tersenyum sinis. "Sudah Daddy pesankan sama Rayni. Bukankah putri kembar Tante Luna juga membuka cabang kios bunganya di kota sana? Kamu tidak perlu repot-repot Aifa, aku tidak ingin cucuku kenapa-kenapa didalam rahimmu karena kelelahan."

"Kenapa Aifa nggak boleh ketemu Franklin dan Misha? Mereka adik Aifa, mereka juga keluarga kita, lagian Daddy tahu darimana kalau Misha lagi hamil? Nikah juga baru seminggu." kesal Aifa

"Ck, memangnya apa yang terjadi ketika mereka bersama dan hanya berduaan di apartemennya? Kamu yang sudah berkeluarga pasti tahu maksud Daddy. Cepat atau lambat wanita itu akan mengandung keturunan Hamilton."

"Tapi-"

"Sekali lagi kamu meminta hal itu, Daddy tidak akan segan-segan-"

"Fan.." Ayesha menatap Fandi dengan tatapan peringatan, jangan sampai dia berucap sesuatu yang menyakiti Aifa hingga membuat putrinya itu berakhir dengan penuh drama seperti yang sudah-sudah.

Fandi tak banyak berkata, raut wajahnya terlihat datar lalu menuju kamarnya. Sungguh ia begitu benci dengan adanya Misha didalam keluarganya.

💘💘💘💘


Malam harinya, kota Surakarta, pukul 19.00 malam.


Tak terasa sudah seminggu berlalu. Setelah sembuh dari sakit, sedikit demi sedikit Misha mulai menjalankan aktivitas sebagai istri sekali Ibu rumah tangga.


Misha menatap Franklin yang sedang sibuk diruang tamu, dihadapan pria itu ada laptop yang sudah menyala sejak 3 jam yang lalu. Padahal ini malam Minggu, pria itu juga sering bergadang. Kadang dirumah, bahkan di kantor.


Dalam seminggu, interaksinya dengan Franklin bisa di hitung. Sepertinya, ia harus sabar memiliki suami yang super workaholic dan penyibukkan seperti Franklin.


Misha merasa rutinitasnya menjadi ibu rumah tangga sedikit membuatnya suntuk. Ia pun menghampiri Franklin dan memeluk lehernya dari belakang.


"Allahuakbar!"


Dengan cepat Franklin menoleh kesamping dan bernapas lega. Misha sampai tersenyum miris, kenapa suaminya itu mudah terkejut.


"Kak?"


"Hm?"


"Kenapa sih Kakak kagetan?"


"Ha?" Franklin berusaha untuk tenang. Sungguh ia begitu malu kalau dianggap grogian. "Tidak juga."


Lalu Misha pun tersenyum tipis. Dan Franklin kembali fokus dengan pekerjaannya, mengabaikan Mishanya yang sepertinya tidak bisa di ganggu lagi hanya untuk urusan pekerjaan dan pribadi.


"Aku sibuk dulu ya, kamu tunggu saja di kamar."


"Em, Kak, ini malam Minggu."


"Lalu?"


"Tidak ingin keluar?"


"Kamu baru saja sembuh, Mimi."


Dan raut wajah Misha pun menjadi muram. Tidak adakah rasa keinginannya untuk refreshing walaupun hanya sebentar saja? Bukankah pria itu bilang ingin merasakan pacaran setelah menikah?


Misha menghela napasnya. Sungguh ia ingin sekali keluar walaupun hanya sekedar jalan-jalan. Dengan kecewa ia pun menuju kamar, sekarang ia percaya bahwa apa yang dikatakan keluarga Hamilton itu benar. Franklin adalah tipe pria yang irit bicara dan pendiam serta pria yang sangat sibuk sejak lulus kuliah.


Dan Franklin tetap santuy seperti biasanya karena sudah menjadi wataknya.


Jiwa bucinnya sudah hilang setelah apa yang ia perjuangan selama ini sudah diperolehnya.


💘💘💘💘


Franklin kemarin nebar bawang kan ya, sekarang, ada yang mau lempar ulekan dan cobekan sama dia setelah memperoleh bawang dari chapter sebelumnya?
Wkwkww  😂🤣


Jazzakallah Khairan sudah menunggu aku up, sehat selalu buat kalian ya,


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii




Tidak ada komentar:

Posting Komentar