Chapter 53 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 53 : Mencintaimu Dalam Doa


Apartemen Solo Residen. Pukul 04.30 pagi.


Suara adzan subuh berkumandang. Lagi-lagi Misha terbangun ketika Franklin tak ada di sampingnya. Sudah seminggu lebih mereka menikah, tak sekalipun Franklin bersikap manis seperti yang ia harapkan. Terutama ketika bangun dari tidur, mungkin sedikit morning kiss atau semacamnya. Itu yang Misha sering pikiran.


Misha menoleh kearah tempat dimana biasanya Franklin meletakkan sajjadahnya . Sajjadah tersebut tidak ada, menandakan kalau suaminya itu sudah pergi ke mesjid untuk sholat subuh berjamaah.


Misha segera menuju dapur untuk memasak sarapan sampai akhirnya pintu apartemen terbuka, Franklin masuk dengan raut wajahnya yang terlihat segar dan tampan. Misha menoleh ke samping ketika Franklin mendekati.


"Assalamualaikum, pagi Mimi."


"Wa'alaikumussalam." dengan tanggap Misha pun menyalami punggung tangan Franklin, setelah itu Franklin malah pergi menuju ruang tamu, kembali membuka laptopnya.


Misha mencengangkram kuat celemek masak yang ia pegang. Merasa gemas sama Franklin yang sepertinya tidak peka. Apakah hanya untuk sebuah ciuman di kening atau pipi di pagi hari saja, Franklin tidak terpikir untuk melakukannya?


"Sayang.." panggil Franklin dari arah ruang tamu.


"Ya?"


"Apakah sarapan sudah siap?"


"Belum, sebentar lagi."


"Kalau begitu tolong buatkan aku jus alpukat dulu."


Misha tak lagi menjawab, yang ada ia malah sibuk membuka kulkas untuk mengeluarkan buah alpukat.

"Mimi.."

"Ya, Kak?"


"Charger ponsel dimana ya? Ponsel aku lowbat."


"Ada dilaci, Kak."


"Dimana nya? Nggak ketemu.."


Misha berusaha untuk sabar. Dengan cekatan ia mulai mengupas buah alpukat, tak lupa mencucinya sebentar.


"Sayang.."


"Ya?"


"Tolong bantuin aku cari."


Misha pun akhirnya mengalah keruang tamu, namun menghentikan langkahnya ketika melihat Franklin sudah mencharge ponselnya.

"Sudah ketemu."

"Kakak nihhhhhh,"


Dan Franklin hanya diam, raut wajahnya terlihat santai bahkan sangat sibuk dan menuju kamar mereka.

"Yaudah aku balik ke dapur."


"Kemeja aku sudah kamu siapkan?"


"Sudah dikamar.."


"Kok tadi aku nggak lihat?"


Misha mulai gemas dengan Franklin. "Ada, Kak. Coba cari deh. Sudah aku gantung didalam lemari."


Misha pun kembali menuju dapur dengan langkah cepat karena waktu terus berjalan. Ia mulai fokus mengecek nasi di rice cooker lalu membuat jus alpukat.


"Dasi, celana kain, celana dalam, kaus kakiku juga dimana ya?"


"Di dalam lemari juga.."


"Ih, kok nggak ada."


Akhirnya kesabaran Misha pun habis. "Kak, coba tolong cari lagi. Aku lagi sibuk buat jus-"


"Sayang, tolong kemari sebentar. Penting."


Misha mematikan api kompor sejenak. Padahal aktivitas memasaknya belum selesai. Dengan langkah terburu-buru, ia pun membawa segelas jus alpukat dan meletakkannya di atas meja ruang tamu lalu menuju ke kamar.


"Misha sayang.. cepet.."


"Iya, iya, ini aku kesana. Memangnya ada ap-"


"Tolong kancingin baju aku, ya." potong Franklin santai sampai akhirnya Misha melongo tak percaya.


"Bukankah Kakak bisa?"


"Please.."


Dan akhirnya Misha pun mengalah. Apalagi wajah Franklin terlihat memelas. Selain tidak peka, rupanya semenjak bersama dirinya, suaminya itu menjadi bayi besar yang apa-apa butuh di uruskan.


Misha fokus mengancingkan kemeja Franklin satu per satu, sementara pria itu sibuk berbicara dengan Aldi di ponsel mengenai urusan pekerjaan. Misha menatap dada bidang Franklin yang membuatnya sedikit gugup. Dengan perhatian ia juga memasangkan ikatan dasi yang rapi. Sekarang, suaminya itu sudah rapi, wangi, dan tampan. Tidak seperti dirinya yang bau bumbu dapur dan belum sempat mandi meskipun sudah cuci wajah.

"Sudah, Kak."


"Oke, terima kasih."


Dan Franklin pergi berlalu begitu saja hingga membuat Misha menatapnya datar. Dengan sabar Misha kembali ke dapur, namun lagi-lagi ia terkejut. Rupanya Franklin malah tidak ada di sekitarnya. Jus alpukat yang sudah di siapkan juga tidak tersentuh. Laptop yang ada diatas meja sudah tidak ada. Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Misha ingin marah, kesal, teriak, gemes sama Franklin.


💘💘💘💘


PT FR Food Jaya, Pukul 12.00 siang.

Dengan diantar supir pribadi baru, Misha akhirnya tiba di lobby perusahaan Franklin sambil membawa tas canvas berisi wadah makan siang. Sejak pagi, suaminya itu belum sempat sarapan, maka ia pun berinisiatif membawakannya untuk Franklin.


Beberapa pekerja berlalu lalang di samping Misha, memberi senyuman dengan rasa segan dan hormat pada Misha ketika mereka bertemu dengan istri seorang bos perusahaan. Tidak ada lagi ucapan julid atau ucapan memojokkan untuk Misha seperti waktu itu.


"Mimi?"


Misha menoleh ke belakang, Vita datang menghampirinya dan melihat penampilan Misha yang berubah semenjak menikah. Sekarang sahabatnya itu terlihat lebih terawat dari segi wajah dan penampilan, memakai stelan syar'i yang terlihat mahal, jam tangan bermerek dan gelang mas yang terlihat simpel meskipun Vita sadar harganya pasti mahal. Vita tersenyum, bersyukur kalau sahabatnya itu sekarang ada yang mengurus. Tak lupa ia memeluk lengan Misha.


"Lama banget nggak ada kabar? Kamu baik-baik saja kan, Mi?"


"Em, aku baik. Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk, Ta."


"Iya, iya, aku ngerti kok yang sudah menikah. Lagian sampai sekarang aku masih penasaran, kenapa waktu itu kamu menghindariku dan tinggal di panti asuhan sana? Apakah keluarga Hamilton mengecewakanmu?"


Misha menghentikan langkahnya, bukan saatnya membahas hal tersebut apalagi di lingkungan perusahaan suaminya.


"Insya Allah, aku ceritakan semuanya kalau waktunya sudah tepat, ya."


"Baiklah, kamu mau antar makan siang?"

"Iya, aku kesana dulu."


Vita ingin mencegah kepergian Misha. Tapi ia mengurungkan niatnya, padahal ia ingin memberitahu sesuatu, namun bibirnya terasa kaku. Biarlah Misha sendiri yang mengetahui semuanya begitu sampai diruangan Franklin.


Misha sudah berdiri didepan pintu ruangan suaminya setelah lift membawanya ke lantai paling teratas gedung perusahaan. Dengan santai ia pun membuka pintunya dan terdiam. Ada Jasmine dan Aldi, yang tengah duduk di sofa tamu. Sementara ada kotak makan siang terhidang disana.


Jasmine menatap Misha dengan pandangan tak suka, tentu saja ia menyimpan rasa cemburu terpendam namun apalah daya tak bisa berbuat apapun ketika Franklin tidak memilihnya. Franklin dan Aldi tidak sadar dengan kedatangan Misha dan masih sama-sama sibuk menatap MacBook di tangan Franklin.


"Oh iya, Pak Franklin. Bagaimana menu masakannya? Enak kan? Kalau suka, besok-besok bisa saya bawakan lagi kok. Daripada beli makan siang diluar terus. Apalagi kalau nggak ada yang antar, kan kasihan."

"Kelihatannya enak. Terima kasih sudah menawarkan."


"Sama-sama, jadi apakah besok Bapak mau dibawakan makanan dari saya-"


"Assalamualaikum."


Franklin menatap Misha yang berdiri didepan pintu. Dengan canggung Misha pun memasuki ruangannya. Sadar bahwa semua urusan selesai, Aldi pun berdiri.


"Oh iya, Bu Jasmine, kita bisa lihat hasil penjualannya di komputer saya. Mari."


Jasmine dan Aldi pun pergi dengan sopan pada Franklin. Jasmine merasa puas sudah membuat hati Misha panas. Hobi barunya saat ini memang suka membuat Misha cemburu.  Setelah kepergian mereka, Misha merasa moodnya semakin hancur.


"Kak, ini makan siangnya mau di makan atau nggak? Barang kali sudah kenyang."


"Letakkan saja diatas meja kerjaku, aku sudah kenyang."


Misha mendengkus kesal. Akhirnya ia pun menuruti semua permintaan Franklin. Setelah itu, ia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya.


"Kalau begitu aku pulang saja. Maaf deh, yang terlambat antar makan siang. Kan semua itu nggak mudah dan praktis, perlu di masak dulu, terus perjalanan kemari juga butuh waktu. Lagian beberapa hari ini aku sibuk, walaupun aku lelah, aku akan tetap menjalankan kewajibanku meskipun kadang diabaikan. Assalamualaikum."


Misha pergi dengan langkah kecewa. Rasanya ia sudah nggak bisa menahan rasa cemburu, kecewa, dan masih banyak hal yang bergerumul sesak di hatinya.


💘💘💘💘


30 menit kemudian..


Sholat Zuhur baru saja usai. Seorang Dokter pribadi bernama Dokter Samuel pun dengan teliti memeriksa tekanan darah Franklin.


"Tekanan darah Pak Franklin sangat rendah. Apakah anda mengalami rasa pusing?"


"Ya, semingguan ini saya sering pusing dan sulit tidur."


"Apakah semuanya baik-baik, saja?"


Franklin hanya tersenyum tipis. "Hanya ada masalah pribadi dengan keluarga dan pekerjaan yang menumpuk disini selama saya di Jakarta."


"Oh begitu.." Dokter Samuel pun memakluminya. "Ini resep obatnya, apakah obat kemarin masih ada?"


"Sisa 1 kali minum untuk siang ini."


"Apakah masih sering sesak napas?"


"Tidak juga. Tapi terkadang kambuh."


"Minum air hangat dan jangan pernah merokok lagi. Kan saya sudah pernah mengingatkan hal itu sama Pak Franklin. Masih banyak hal positif yang bisa dilakukan sebagai pengalihan ketika sedang tertekan karena suatu masalah. Tidak baik dengan merokok. Mungkin Bapak juga bisa membagi kelu kesahnya dengan Ibu Misha."


Franklin terdiam lalu tersenyum tipis. Tentu saja Dokter Samuel mengetahui sumber masalah yang menimpanya.
"Maaf, saya janji tidak akan merokok lagi. Terima kasih atas sarannya."


Dokter Samuel pun pamit pergi. Wajah Franklin terlihat pucat. Ia melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik di lehernya.
Seketika ia merindukan Mishanya. Ia sadar, semingguan ini istrinya itu terlihat bad mood dan suntuk. Sesungguhnya ia tidak ingin membuat Mishanya merasa terbeban apalagi sampai kepikiran mengenai kesehatannya. Sudah cukup istrinya itu tertekan karena urusan rumah apalagi permasalahannya dengan Daddy Fandi yang belum selesai.


Franklin pun berdiri dan merogoh obat yang tersisa satu kali minum di saku celananya. Tiba-tiba pintu terbuka pelan.


"Assalamualaikum."


Franklin terkejut, itu suara Misha yang ada di belakangnya. Dengan cepat ia pun kembali menyembunyikan obat tersebut, jangan sampai Misha khawatir tentangnya. Namun terlambat, Misha malah mencegah lengannya. Misha pun membuka telapak tangan Franklin dengan tatapan sedih.


"Assalamualaikum, Kak."


"Wa.. wa'alaikumussalam." jawab Franklin terbata-bata.


"Kakak sakit?"


"Em, tidak." Franklin tersenyum tipis. "Ini hanya vitamin. Aku sering meminumnya untuk-"


Franklin terbungkam ketika jari telunjuk Misha menyentuh bibirnya. Tanpa diduga Misha menyelipkan tangan kirinya pada pinggul Franklin, kemudian memeluknya.


"Kenapa Kakak tidak cerita kalau lagi sakit? Tanpa sengaja aku mendengar obrolan karyawan Kakak di toilet wanita. Mereka bilang, akhir-akhir ini Kakak sering kedatangan Dokter pribadi disini."


Air mata menetes di pipi Misha. Selama ini ia sudah salah paham. Ia kira Franklin sengaja cuek padanya, tetapi nyatanya pria itu malah menyembunyikan kondisinya yang sedang tidak sehat namun memaksakan diri untuk tetap fokus bekerja.


Franklin menyentuh tangan Misha, meletakkannya di pipi kanannya. Misha tak tinggal diam, ia malah mengelus pipi Franklin.


"Aku tidak ingin membuatmu khawatir. Sudah cukup tentang Daddy yang membuatmu sedih."


"Tapi, Kak-"


"Maaf, aku tidak bermaksud mengabaikanmu dan tidak bersikap manis seperti yang kamu inginkan selama ini." sela Franklin cepat. "Aku sadar aku salah, akhir-akhir ini pekerjaan menyita waktuku. Melihatmu sudah sembuh beberapa hari yang lalu, aku bersyukur. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Apakah aku di maafkan?"


"Kakak nggak salah. Justru aku yang salah dan sudah salah paham sama Kakak. Kupikir Kakak benar-benar bersikap datar sama aku."


Franklin tersenyum, ia menciumnya seluruh wajah Misha penuh sayang. Sesungguhnya ia juga merindukan Mishanya.


"Banyak yang bilang aku begitu. Tapi sebenarnya tidak, kalau sudah bersamamu."


"Tapi Kakak jangan diam-diam lagi ya kalau sedang sakit."


"Sepertinya aku sudah sembuh."


"Kok bisa?"


"Sudah aku bilang, kamu obat buatku. Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia. Kalau kamu sakit, maka aku pun sama."


Misha menatap Franklin dengan lekat. Ia sadar, akhir-akhir ini mereka kurang menghabiskan waktu bersama sedekat ini. Maka Misha pun berjinjit, hendak mencium bibirnya dan Franklin mulai gugup meskipun akhirnya ia tersenyum geli sambil menunduk hingga bibir Misha pun mengenai keningnya. Misha merasa malu salah target, lalu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Franklin. Franklin tersenyum penuh arti.


"Jangan disini Mimi, aku khawatir keterusan."


💘💘💘💘


Sudah kesemsem, eh bersambung.
😆😆😆😆


Alhamdulillah, sepertinya ini akan menjadi chapter terpanjang macam Arvino Aiza dulu, wkwkwk. Insya Allah ya, kan belum tentu juga. Hhe😁


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca ya, sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga 🤗


With Love 💋 LiaRezaVahlefi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar