Chapter 54 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 23 Mei 2021

Chapter 54 : Mencintaimu Dalam Doa


 

PT FR Food Jaya, pukul 14.30 sore. Surakarta.


"Ternyata enak ya, kalau rambut di elus-elus gini. Sebelumnya aku tidak pernah merasakannya."


"Memang waktu kecil nggak pernah ngerasain kayak gini?"


"Aku lupa. Mungkin pernah waktu kecil. Kalau sudah dewasa begini, untuk hal seperti itu tidak mungkin memintanya lagi sama Mommy."


"Kakak kayak bayi besar, manja banget."


"Kenapa berhenti ngelusnya?"


"Tanganku sedikit pegel."


"Jangan berhenti."


"Tapi, Kak-"


"Please..."


Dengan manja Franklin terlelap di pangkuan Misha. Padahal ia belum minum obat, namun seperti yang ia bilang, Misha bagaikan obat buatnya. Terbukti, hanya berbaring di pangkuan Misha selama 15 menit, perlahan-lahan rasa pusingnya menghilang.


Misha menatap Franklin yang terlelap begitu pulas. Suaminya itu benar-benar manja. Apalagi sekarang wajah Franklin menghadap ke perutnya, secara tidak langsung membuatnya sedikit tidak nyaman karena rasa gugup.


"Kak, bangun. Sebentar lagi sholat Ashar."

Misha mengelus pelan pipi Franklin yang memiliki jambang halus meskipun sudah dicukur tadi pagi. Ia pun merunduk, mencium pipi Franklin.


"Kak, ayo bangun."


Franklin malah semakin erat memeluk perut Misha menggunakan lengan kirinya. Diam-diam ia tersenyum geli, dan ntah kenapa ia sangat suka aroma tubuh Misha yang wangi.


"Kak.." Misha menghela napasnya. Tidak ada cara lain, ia berniat menggelitik pinggul Franklin, namun secepat itu Franklin mencegahnya.


"Jangan sentuh area perut apalagi pinggul." sela Franklin tiba-tiba.


Misha terdiam, ia mengerutkan dahinya. Franklin pun terbangun dengan perlahan, sayup-sayup ia menatap Mishanya.

"Memangnya kenapa?"


Franklin tersenyum smirk. "Kemarin aku mimpi, tangan kamu menggoda bagian tubuhku. Jadi aku teringat."


"Ih, Kakak, apa-apaan sih."


Dengan cepat Misha berdiri, ia merasa malu. Pipinya sudah merona merah namun secepat itu Franklin menarik tangannya hingga ia pun terjatuh di pangkuan Franklin. Franklin memeluk seputaran pinggulnya dari samping, dengan manja ia menumpukan dagunya pada bahu kiri Misha.


"Bisa minta tolong nggak?"


"Mi.. minta tolong apa?"


"Rapiin rambut aku yang ikal ini. Kayaknya berantakan."


"Bukankah Kakak bisa rapiin sendiri? Di laci meja kerja Kakak pasti ada sisir-"


"Please.." tatapan mata Franklin pun memelas lagi.


Akhirnya Misha pun mengalah. Ia sedikit menghadap Franklin lalu merapikan rambut ikalnya menggunakan jari-jari tangannya. Tak sedikitpun Franklin melepas pandangannya dengan Misha. Dalam hati ia merasa bahagia, bisa bebas menatap Misha setelah menikah.


"Kakak jangan lihat-lihat begitu ke aku."


"Kenapa? Hm?" Franklin mencium ujung hidung Misha, tak hanya itu, ia malah berganti mencium pipinya dengan gemas bagaikan sedang mencium anak balita.

"Ih, geli kena jambang Kakak."


Franklin tertawa, setelah itu Misha berdiri. Ia bersedekap.


"Aku pengen udara segar di sore hari."


Bukannya menjawab, Franklin hanya tersenyum tipis. Ia juga bersedekap menatap Mishanya sambil duduk dan menyilangkan salah satu kakinya. Dengan intens Franklin menatap Mishanya, dari ujung kaki hingga kepala dan ntah kenapa tiba-tiba pikirannya jadi kotor. Biar bagaimanapun ia belum meminta haknya pada Misha selama seminggu ini setelah kedatangannya dari Jakarta beberapa waktu yang lalu. Franklin berusaha mengalihkannya.


"Udara segar? Baiklah, permintaanmu akan terlaksana setelah sholat ashar di mushola."


Franklin berdiri, tak lupa menggenggam tangan Misha. Keduanya pun menuju Mushola dan melakukan sholat berjamaah bersama para pekerja lainnya.


💘💘💘💘


Sholat Ashar pun selesai. Sedari tadi, Misha hanya menurut ketika Franklin kembali memegang tangannya setelah keluar dari mushola. Mereka pun akhirnya memasuki lift. Misha terkejut, Franklin malah menekan angka tombol 20.


"Kak, kok lift nya keatas? Bukannya turun ke lantai lobby dan keluar mencari udara segar?"


"Memang iya."


"Terus kenapa naik keatas? Aku beneran pengen jalan-jalan di taman, jam gini tuh enak banget kalau-"


Ting! Dan Misha terdiam, setelah keluar dari lift, Franklin benar-benar mengajaknya ke bagian atas gedung FR Food Jaya setinggi 20 lantai. Misha syok, sebuah helikopter dengan lambang huruf F besar tertera di badan helikopter.


Dari jarak beberapa meter, dua orang pria berbadan tinggi besar dengan balutan jas formal serta kaca mata hitam terlihat siap mempersilakan Franklin dan istrinya untuk menaikinya.

"Kak, ini..."


"Bukankah ini yang kamu mau? Menikmati udara segar yang sesungguhnya?"


"Naik helikopter milik Kakak?"


"Aku akan menjadi pilot bucinmu sore ini.."

"Apa? Pi.. pilot bucin?"


"Hm, semingguan ini kebucinanku hilang."


"Memangnya Kakak bisa menerbangkan helikopter?"


"Jangankan helikopter, nerbangkan hatimu saja aku bisa.."


"Ih, Kakak apa-apaan sih, receh nya nggak banget.." sela Misha dengan malu sekaligus salah tingkah.


Detik berikutnya helikopter pun mengudara secara perlahan, Misha terlihat berbahagia. Sedikit udik karena ini pertama kalinya ia menaiki helikopter, sementara Franklin terlihat tampan dari samping mengenakan perlengkapan seperti helicopters headset di kepala dan alat komunikasi lainnya.


"Apakah kamu senang?"


"Aku malah bahagia banget Kak. Ah lihat, disana ada dua gunung yang indah." tunjuk Misha antusias.


"Punyamu juga indah, Mimi. bahkan aku tak sabar mau melihatnya."


"Apa?" Kakak bilang apa tadi?" tanya Misha yang memang tidak terlalu mendengar suara Franklin.


Seketika Franklin terbungkam. Tanpa sengaja ia mengucapkan kata yang ambigu. Rasanya ia ingin merutuki kebodohannya sendiri akibat mulutnya yang tiba-tiba berbicara unfaedah. Ntah kenapa pikirannya sering menjadi yang tidak-tidak semenjak menikah dengan Misha. Franklin menarik napas sejenak, lalu menghembuskan secara perlahan.


"Kakak lihat! Awannya indah, kan? Rumah-rumah dibawah sana juga lucu banget, kelihatan kecil seperti rumah monopoli yang pernah aku mainkan sewaktu kecil."


Franklin tertawa, ia pun mencubit pelan pipi Misha dengan sayang menggunakan tangan kirinya saking gemasnya. Sesederhana itu, hanya untuk membahagiakan istri kesayangannya.

💘💘💘💘



Alhamdulillah sudah up lagi 💕


Maafkan Franklin yang pikirannya sebagai pria normal kali ini nggak terkondisikan ya, ku harap kalian gak terkejoed di balik santuynya dia dari jaman cerita Better With You, Because I Love You, hingga sekarang 😁


Serta untuk Misha yang geleng-geleng kepala karena akhirnya sadar kalau si bucinnya itu ternyata memiliki sisi manja 😌


Oh iya, Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 untuk umat muslim seluruh dunia 😊
Author Lia, sekeluarga


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar