Chapter 55 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 23 Mei 2021

Chapter 55 : Mencintaimu Dalam Doa




Apartemen Solo Residen. Pukul 19.50 Malam.


Misha menatap Franklin yang sejak tadi sibuk didepan cermin walk in closet. Ia pun bersedekap, dilihatnya Franklin sedang mengancingkan kemejanya satu per satu.

"Kakak sudah siap?"


Franklin menoleh ke belakang, ia mengerutkan dahinya.


"Sudah. Bukankah tadi kamu memakai gamis berwarna biru gelap?"


"Iya, tapi aku memutuskan untuk menggantinya."

"Kenapa?"


"Ntahlah, aku merasa nggak cocok. Memangnya kenapa Kak?"


"Kalau begitu, aku juga harus menggantinya. Tanggung jawab, kamu sudah membuatku kerja dua kali. Kemarilah.."

"Tapi-"


"Please.."


Dan lagi, seperti menjadi kebiasaan Franklin dengan wajah memelas. Mau tidak mau Misha menghela napas sambil berjalan kearah suaminya. Padahal ia sudah rapi dengan memakai gamis berwarna peach. Misha pun akhirnya membuka kancing  kemeja Franklin satu per satu.


"Kenapa ganti kemeja lagi? Warna biru gelap ini juga bagus kok." tanya Misha bingung.

"Salah ya, kalau aku mau couplean sama kamu?"


Misha menghentikan aktivitasnya. Ia mendongakkan wajahnya menatap Franklin. Dengan sekali gerak Franklin memegang kedua pergelangan tangannya dan menarik posisi Misha agar lebih dekat.

"Jangan jauh-jauh begitu. Aku nggak suka."

"Tapi, Kak-"


"Aku tahu kamu pasti gugup saat ini."

"Kakak, apa-apaan sih."


Dengan cepat Misha membuka kancing kemejanya satu per satu. Ia merasa gugup karena di balik kaus singlet yang Franklin gunakan, dada bidang Franklin sangat shirtless untuk di lihat. Aroma parfum yang memenangkan di tubuh Franklin juga menenangkan di penciuman Misha.


"Jadi Kakak mau kemeja warna apa?"


"Warna yang sama seperti gamismu."


Misha mulai sibuk membuka lemari pakaian, memilih warna kemeja yang sama dengan gamisnya. Franklin bersedekap, ia tersenyum geli melihat raut wajah Misha yang terlihat sibuk berpikir. Tanpa bisa menahan diri, ia pun malah mendekati istrinya dan memelukku dari belakang.


"Sudah ketemu?"


"Nggak bakal ketemu kalau Kakak peluk gini dari belakang."


"Pasti ketemu. Sini aku bantu dengan doa dalam hati."


"Kakak bisa saja, tapi jauh-jauh dikit."


"Sepertinya tidak bisa." Franklin mencium pipi Misha dengan gemas. "Ternyata begini rasanya kalau punya istri, apa-apa serba di siapkan. Semoga Allah menjadikanmu pimpinan para bidadari penghuni surga."


Setelah mengatakan itu, Franklin melepaskan pelukannya. Ia berbalik dan memilih duduk di sofa. Seketika Misha terdiam, ia menoleh kebelakang menatap suaminya dengan perasaan yang menyentuh. Ia sadar, selain manja, Franklin memang suami romantis yang suka mendoakan kebaikan untuknya. Bukankah doa seorang suami yang baik-baik akan di kabulkan Allah?


"Aamiin, terima kasih doanya Kak." ucap Misha dalam hati.


💘💘💘💘


Pusat perbelanjaan kota Solo, pukul 20.00 malam


Akhirnya, Franklin dan Misha pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan seperti yang sudah di rencanakan Franklin. Malam ini adalah malam Minggu, tentu saja Franklin tidak ingin membuang kesempatan untuk berjalan-jalan dengan istrinya.


Misha menoleh kearah Franklin yang berada disampingnya sambil memegang pergelangan tangannya. Dilihatnya raut wajah Franklin sangat tidak biasa bahkan lebih sering menunduk ketika berjalan, atau sambil memegang ponsel.


"Kakak baik-baik saja?"


"Hm, ya, aku baik."


"Kenapa Kakak lebih suka menunduk dan sibuk pegang ponsel? Pekerjaannya nggak bisa di tinggal ya walaupun cuma satu jam?"


Franklin menghentikan langkahnya. Ia pun merubah posisi memegang pundak Misha. Ia tersenyum tipis.


"Dengar.. " Franklin menyentuh pipi Misha. "Jangan salah paham. Aku sering tunduk karena aku menundukkan pandanganku."


"Kakak terganggu ya, sama banyak wanita ditempat keramaian seperti ini?"


"Sedikit." Franklin tersenyum. "Disini banyak wanita yang cantik, ada yang tidak berhijab, ada yang memakai rok. Bahkan ada yang memakai celana jeans ketat. Setelah menikah denganmu, aku tidak pernah menatap wanita lain selain kamu atau keluargaku. Aku menatap wanita yang bukan mahramku hanya sebatas keperluan tertentu. Jika aku tidak menundukkan pandanganku, selain Allah tidak ridha, aku khawatir kalau sebagai seorang suami aku tidak pernah bersyukur terhadap dirimu, rupamu, dan fisikmu. Biar bagaimanapun aku adalah seorang pria, syaitan pasti selalu menggoda para suami untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Salah satunya zina mata. Kamu mengerti kan, maksud aku?"


"Jadi, ponsel tadi hanya pengalihan untuk Kakak."


Franklin menoleh ke kanan dan kiri, memastikan agar orang-orang tidak melihat. Dengan secepat kilat, ia mencium pipi Misha hingga Misha terkejut.


"Iya, benar sekali. Ku mohon jangan salah paham. Kamu akan selalu cantik di mataku, Mimi."


Tak ada yang bisa Misha lakukan selain meremas pelan genggamannya pada Franklin. Ia tidak menyangka kalau Franklin sebaik itu menjaga pandangan kepada yang bukan mahramnya untuk kebaikan bersama.


"Kakak, kok bikin aku-"


"Baper?"


Misha tertawa geli. Ia sampai menghapus buliran bening di sudut matanya saking terharu dan bersyukur. Franklin kembali melanjutkan langkahnya.


"Karena ini jalan-jalan perdana kita pergi ke mall setelah naik helikopter sore tadi. Silahkan pilih, kamu mau belanja apa?"


"Aku, nggak ingin apa-apa."


"Coba kamu lihat." Franklin berhenti, ia menunjuk ke salah satu stand. "Ada promosi, mobil keluaran terbaru. Mau aku beliin?"


Misha syok. "Ha? E..enggak, Kak. Nggak perlu."


"Disana juga ada stand pameran berlian dan perhiasan. Mau aku beliin?"


Misha menggeleng pelan. Terlalu mewah baginya.


"Kalau motor matik baru, mau?"


"Nggak, Kak."


"Pakaian baru? Gamis? Celana dalam renda dan pakaian tidur seksi untuk menggoda diriku?"


"Apa?"


Seketika Franklin terbungkam. Rasanya ia ingin memukul bibirnya saat ini juga. Kenapa tiba-tiba ucapannya jadi tidak terfilter lagi?


"Kakak bilang apa tadi?"


"Ha? Em, enggak. Maksudnya, kamu nggak mau beli gamis baru? Atau.. mukena?"


"Kok Kakak pucat? Kakak baik-baik saja?"


"Em, kayaknya aku mau ke toilet deh. Ayo temani aku kesana."


Dengan cepat Franklin menarik pergelangan tangan Misha yang di landa rasa kebingungan. Kenapa Franklin tiba-tiba terlihat salah tingkah?


💘💘💘💘


Franklin sudah keluar dari toilet. Ia terdiam melihat Misha dari belakang, istrinya itu terlihat tidak nyaman saat berdiri. Ia pun mendekatinya.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa, Kak."


Franklin merasa tak percaya, dengan perlahan ia bersimpuh bahkan tanpa izin melepaskan flatshoes bagian kanan Misha.


"Kaki kamu, baik-baik saja?"


"Kaki aku, nggak apa-apa kok."


Franklin tak banyak berkata lagi. Malahan ia menarik pergelangan tangan Misha menuju tempat duduk di salah satu menuju koridor toilet wanita. Tak hanya itu, ia juga melepaskan kaus kaki senada warna kulit pada kaki kanan Misha.


"Kamu bilang luka begini nggak apa-apa?"


"Tapi, Kak-"


"Tunggu disini, jangan kemana-mana. Hanya sebentar."


Franklin berdiri, dengan cepat ia mencari outlet yang menjual perawatan tubuh serta kebutuhan obat-obatan medis lainnya. Tak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah memegang plastik kecil yang berisi tisu, obat luar untuk luka serta plaster luka untuk Misha.


"Selama kamu disini, kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Franklin cemas setelah kembali pada Misha.


"Maksud Kakak?"


"Ya, siapa tahu ada pria genit godain kamu. Pakai kedipan mata, cari perhatian, atau apalah."


Misha tersenyum tipis, ia menyentuh pipi Franklin. "Ya Allah, Kakak, sampai segitunya. Alhamdulillah nggak ada kok."


"Kamu harus tahu," Franklin sibuk mengobati luka di bagian kaki kanan Misha. Sudah bisa ia tebak kalau luka tersebut di sebabkan oleh tumit Flatshoes Misha. "Aku ini cemburuan. Tentu saja aku nggak mau istriku di sukai pria lain. Biar bagaimana pun, tidak akan masuk surga bagi seorang suami yang tidak memiliki sifat Dayyuts."


"Terima kasih, sudah begitu perhatian denganku."


"Sudah kewajibanku, Mimi. Oh iya,"


"Apa?"


"Kita beli Flatshoes buat kamu. Yang lama nggak perlu di pakai. Lagian, bukankah isi hantaran pernikahan dariku ada flatshoes juga?"


"Maaf Kak, em, semua hantaran masih di tempat Nenek di Yogyakarta."


"Kalau begitu, aku akan menyuruh asistenku mengambilnya disana. Ayo, sudah selesai."


"Terima kasih."


"Kalau ada bagian tubuhmu yang sakit, bilang, jangan diam."


"Iya, Kak."


Franklin dan Misha baru saja berjalan beberapa langkah. Tiba-tiba Franklin kembali terdiam dan menghentikan langkahnya sehingga membuat Misha ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Aku nggak tega, lihat kamu berjalan. Lebih baik aku gendong."


"Ih, jangan Kak. Nanti, aaaa-"


Misha memekik. Ia merada malu ketika Franklin menggendongnya ala bride style menuju toko sepatu yang hanya tinggal beberapa langkah. Franklin tak perduli, meskipun orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka, nyatanya Franklin tetap bersikap santai seolah-olah tanpa beban.


"Kenapa Kakak gendong aku?"


"Latihan,"


"Maksudnya?"


"Buat dirumah."


"Buat dirumah? Kakak kalau ngomong yang jelas."


"Nanti kamu akan tahu, Mimi." senyum Franklin smirk.


💘💘💘💘


Apartemen Solo Residen, pukul 21.30 malam.


Misha dan Franklin sudah tiba di apartemen. Jam menunjukkan pukul 22.00 malam. Misha menatap beberapa tas canvas hasil belanja mereka malam ini.


"Ini buat kamu."


Misha menoleh kebelakang, Franklin sudah berganti pakaian setelan piyama tidur sambil membawa amplop coklat berisikan uang.


"Ini uang bulanan kebutuhan kita. Ada catatannya didalam. Maaf baru memberinya karena setelah kedatanganku seminggu yang lalu, aku benar-benar sibuk."


Misha menerima amplop tersebut, terselip semua catatan pengeluaran kebutuhan rumah tangga. Sejenak, Misha menghitungnya lalu mengerutkan dahinya.


"Em, ini lebih 10 juta."


"Ah iya, itu uang buatmu."


"Uang buat aku?"


"Iya, itu uang jatah bulanan khusus buatmu. Biar kamu nggak pakai uang bulanan yang lain."


Misha melongo. "Sebanyak ini tiap bulan?"


Franklin tersenyum. "Apakah ada masalah? Bagiku itu hanya kecil, terserah mau kamu apakan. Itu hak mu, belilah yang sekiranya perlu dan jangan boros. Karena berfoya-foya untuk hal yang tidak penting itu tidak baik."


"Tapi-"


"Aku tunggu di kamar,"


Franklin segera membalikkan badannya. Sebenarnya ia berusaha tenang. Sesungguhnya ada lagi yang ingin ia katakan, namun ia begitu malu untuk memintanya. Misha hanya mampu terdiam dan akhirnya menerima uang tersebut.


Seperti yang Franklin bilang, suaminya itu menunggunya di kamar. Duduk di pinggiran ranjang sambil mengelap peluh yang membasahi dahinya. Misha sadar, sepertinya Franklin sedang gelisah. Akhirnya ia pun duduk di samping Franklin.


"Kak?"


"Ya?"


"Ada yang ingin di omongin?"


Franklin berdiri, seperti pria polos yang tak tahu bagaimana caranya, Berusaha tetap santai, meskipun degup jantungnya berdebar-debar sangat kencang.


"Em, ya, tapi, aku bingung harus memulainya dari mana."


"Maksudnya apa sih, Kak? Coba sini deh kasih tahu aku."


Franklin terdiam lagi. Misha menatap Franklin dari belakang. Sampai akhirnya ia pun mendekatinya dan memeluknya dari belakang hingga membuat Franklin semakin grogi.


Misha menyenderkan pipinya pada punggung Franklin. Sampai akhirnya Franklin membalikkan badannya dan menatap Misha dengan intens.


"Setelah seminggu kedatanganku kemari, kamu sakit. Disaat yang sama, kamu juga sedang haid. Apakah semuanya sudah selesai?"


Misha mengangguk, ntah kenapa ia menjadi grogi. "Iya, sudah."


Detik berikutnya Franklin mendekati telinga Misha, membisikkan suatu ucapan yang membuat istrinya itu merona merah, malu, dan gugup, bersamaan dengan tangan Franklin yang akhirnya memberanikan diri membuka kancing piyama Misha satu per satu.


💘💘💘💘


Alhamdulillah, akhirnya mereka 🙈🙈, wkwkwk


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca.
Maaf banget ngaretnya ya, hhe 😘


Sabar menanti chapter selanjutnya. Sehat selalu buat kalian dan sekeluarga 😊


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar