Chapter 56 : Mencintainu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Minggu, 23 Mei 2021

Chapter 56 : Mencintainu Dalam Doa



"Jadi, itu kah rahasia yang kamu simpan selama ini yang awalnya membuatku penasaran terhadap rahasia itu malah penasaran terhadapmu?"


"Hm, iya, maaf sudah membuat Kakak kepikiran waktu itu."


"Semua berawal dari Kak Hamdan yang pernah mencopet dompetku sewaktu di Jakarta, dan siapa sangka sekarang dia Kakak iparku?"


"Apakah Kakak membencinya?"


"Tidak. Hanya kecewa saja. Biar bagaimanapun dia sekarang Kakakku juga. Kenapa kamu tidak jujur saja dari awal kalau rahasia yang kamu sembunyikan selama ini adalah dompetku?"


"Karena aku takut, Kakak akan menuntut Kak Hamdan. Kalau dia di penjara, siapa yang akan bersamaku?"


"Bukankah sekarang aku bersamamu?"


"Iya, Alhamdulillah Kakak bersamaku saat ini meskipun pada akhirnya Kak Hamdan di penjara. Di penjara itu tidak enak."


"Jadi benar apa yang di katakan Jasmine, kalau kamu, em maaf, mantan narapidana?"


"Maaf kalau nama baikku akan membuat keluarga Kakak malu. Semua karena Kak Hamdan yang pernah menjebakku saat di masalalu. Dia menyuruhku mengantarkan sesuatu, tapi begitu di perjalanan, polisi berpakaian bebas malah menangkapku."


"Kenapa kamu tidak mengelak kalau kamu di jebak?"


"Saat proses penyidikan, aku di periksa selama berjam-jam. Sampai akhirnya, seiring berjalannya waktu, aku terbukti tidak bersalah sesuai kondisi dan tes urine kalau aku bukan pemilik barang haram itu dan pemakai. Kakak malu punya istri kayak aku? Dan.. kenapa Kakak bisa menyukaiku bahkan menikahiku?"


"Semua terjadi setelah aku berhijrah, jodoh itu cerminan. Aku memperbaiki diri terlebih dahulu, menundukkan pandanganku. Tapi ujiannya begitu berat begitu tanpa sengaja sering melihatmu dan bertemu denganmu. Disitulah aku sadar, kalau aku memiliki perasaan terhadapmu."


"Terima kasih, telah memilihku sebagai istri Kakak, meskipun, momongan adalah hal yang aku tunggu di pernikahan kita."


"Kita tunda dulu ya, punya anak."

"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya ingin menikmati masa-masa pernikahan muda."


"Tapi, umur aku sudah 25 tahun. Aku ingin hamil."

"Mimi-"


"Kalau ditunda tidak baik Kak. Bagaimana kalau nanti aku sulit hamil? Bagaimana kalau masalahnya ada di aku?"


"Jangan berpikir buruk. Prasangka baik saja, oke?"


Misha terdiam, menatap bayi mungil yang baru saja lahir sebulan yang lalu. Bayi cantik dan menggemaskan tersebut adalah buah cinta dari pasangan Aldi dan istrinya. Disaat yang sama, Misha juga teringat ucapan Franklin 6 bulan yang lalu, tepat setelah ia dan suaminya itu selesai melakukan malam pertama.


"Apakah dia sudah tertidur?"


Seketika Misha tersadar, dengan cepat ia menoleh kebelakang. Nadya, istri Aldi yang baru saja selesai masak di dapur itupun mendapati Misha sedang menimang putrinya yang baru berusia 1 bulan.


"Baru saja, Mbak." Misha tersenyum. "Sudah selesai masak?"


"Sudah nih. Sebentar lagi jam istirahat di kantor, kan? Kalau Mas Aldi nggak makan siang bareng Pak Franklin, biasanya sih, dia pulang ke apartemen."


"Hari ini mereka nggak makan siang bareng ya?"


"Katanya sih, nggak. Oh iya, kamu sudah masak? Siapa tahu Pak Franklin mau makan di apartemen."


Misha mengangguk. "Sudah, Mbak. Lagian aku lagi nggak ada kerjaan kok. Pengen main kesini saja sama Aliza."


Nadya tersenyum tipis. Sungguh ia begitu mengerti bagaimana perasaan Misha yang secara tidak langsung menginginkan momongan namun Allah memberinya rezeki malaikat kecil hingga sekarang seperti yang ia pikirkan selama ini.


"Semoga kalian segera di karuniai momongan ya. Lagian masa subur pengantin baru itu jangka satu tahun kok. Kalau lebih dari satu tahun tidak adanya kehamilan, nggak ada salahnya kok, periksa dan konsultasikan ke dokter kandungan untuk suami dan istri."


"Aamiin, terima kasih, Mbak."


"Assalamualaikum?"


Keduanya pun menoleh, Aldi tiba di waktu yang tepat saat jam istirahat. Setelah itu Misha juga menoleh ke arah jam dinding, pukul 12.30 siang. Dengan sungkan akhirnya Misha pun menyerahkan si mungil Aliza pada Nadya dengan perasaan sedih. Sesungguhnya ia sangat menyukai menimang Aliza.


Aliza adalah bayi mungil yang pertama kali Misha timang mengingat selama ini Misha adalah anak terakhir dari dua bersaudara bahkan jauh dari keluarga.


"Em, Mbak, aku pulang dulu ya ke sebelah."

"Oh iya, hati-hati ya. Sekali lagi terima kasih, Misha."


"Sama-sama. Assalamualaikum, Mbak."

"Wa'alaikumussalam."


Misha pun pergi menuju pintu luar. Setelah Misha tidak ada, tak lupa Aldi mendekati istrinya untuk mencium pipi dan kening Aliza.

"Aku tidak tahu kalau sebelumnya ada Misha disini."


Nadya tersenyum tipis. "Malahan dia tiap hari, Mas, kemari."

"Tiap hari? Ngapain?"


"Main sama Aliza. Dia seneng banget sama Aliza."

"Apakah dia belum hamil? Ku pikir sudah."

"Belum. Doakan saja yang terbaik buat mereka, Mas. Mungkin belum rezekinya Pak Franklin dan Misha memiliki anak."


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Apartemen Solo Residen, pukul 22.00 malam.

Misha menatap arah jam dinding. Sudah semingguan ini Franklin sering pulang telat bahkan lembur di kantor. Apakah sesibuk itu suaminya bahkan ada kalanya sampai-sampai sehari semalam tidak pulang kerumah?


Misha memegang ponselnya bertepatan saat alarm berbunyi. Sebuah alarm sebagai pengingat untuk meminum pil kontrasepsi. Dengan cepat Misha pergi menuju ke dapur, meminum satu butir bersama dengan seteguk air mineral.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussalam."


Franklin tiba dirumah tepat pukul 22.00 malam. Misha menyambut kedatangannya dengan senyuman tipis.


"Mas lembur lagi ya?"


"Hm, iya,"


"Apakah akhir-akhir ini banyak kerjaan? Bahkan Aldi pulang lebih cepat dari Mas."


"Karena pekerjaan dia sudah selesai."


"Sampai kapan lemburnya?"


Franklin menyentuh pipi Misha. "Kok kamu banyak tanya? Nggak percaya ya, sama aku?"


Seketika Misha terdiam. Ya, Franklin memang benar. Ntah kenapa ia merasa akhir-akhir ini Franklin lembur. Dan kenapa juga Aldi lebih cepat pulang? Bukankah seorang sekretaris bos perusahaan itu selalu mendampingi atasannya sampai semua urusan pekerjaan selesai? Misha berusaha untuk berpikir positif. Ia pun mengalihkannya dengan hal lain.


"Aku, em percaya kok, sama Mas. Oh iya, Mas mau makan dulu atau-"


"Aku mau kamu sekarang."


Dengan perlahan Franklin memeluk pinggul Misha. Tak hanya itu, ia juga mencium kening istrinya.


"Mas nggak capek? Kan habis kerja."


"Tidak ada lelah untuk aku ketika aku membutuhkan istriku untuk menjalankan kewajibannya."


Franklin pun mengajak Misha ke kamar. Misha berusaha memaksakan senyumnya, meskipun sebenarnya ia ingin bisa segera hamil tanpa harus menunda.


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


60 menit kemudian..

Getaran ponsel diatas meja membuat Misha terbangun. Ia menoleh ke samping, rupanya ponsel tersebut milik Franklin.


"Pukul 01.00 pagi? Siapa yang menghubungi Mas sepagi ini?"


Dengan perlahan Misha menjauhkan tangan Franklin yang memeluk seputaran pinggulnya. Ia pun membangunkan tubuhnya untuk meraih ponsel tersebut.


JasmineπŸ–€ calling ...


Misha terkejut. Nama Jasmine terpampang jelas di layar ponsel Franklin dengan emot love. Misha segera menoleh ke samping, ingin rasanya ia marah, namun situasi saat ini tidak tepat. Franklin terlihat pulas dalam tidurnya setelah lelah bekerja dan berhubungan suami istri dengannya. Dengan kesal Misha merijek panggilan telepon tersebut.


"Dasar wanita nggak tahu diri. Hubungi suami orang seenaknya malam-malam begini. Lagian.." air mata akhirnya luruh di pipi Misha. "Nggak mungkin Mas mengkhianatiku. Aku kurang apa sebagai istri?" sela Misha dalam hati.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Misha mulai mengecek seluruh isi ponsel Franklin. Di mulai dari semua pesan, chat, sosial media, hingga ke log semua riwayat panggilan.


"Tidak ada chat dengan Jasmine. Tapi kenapa semua riwayat log panggilan dari seminggu yang lalu sampai sekarang kosong? Nggak mungkin ponsel ini tidak melakukan komunikasi."


Tiba-tiba tubuh Franklin bergerak. Misha menoleh ke samping, dengan cepat Misha segera berbaring menghadap suaminya. Tak hanya itu, Franklin malah menarik dirinya ke dalam pelukan erat.


"Mimi, aku mencintaimu, sayang."


Misha mendongakkan wajahnya, ia menatap Franklin yang tertidur pulas sambil meracau.


"Cinta? Benarkah? Tapi kenapa Mas terlihat mencurigakan sekarang?"


Tidak ingin menunda waktu lagi, Misha segera merubah posisi sedikit menjauhi Franklin. Peluh di dahinya bermunculan, rasanya ia begitu gugup karena takut Franklin terbangun. Setelah berhasil, Misha kembali meraih ponsel Franklin dan memasukkan kode angka sandi yang sudah ia tahu sejak dulu.


Tak hanya itu, ia juga mulai menyimpan nomor ponsel Jasmine. Tiba-tiba Franklin kembali bergerak, sayup-sayup Franklin membuka matanya. Misha mulai panik sampai akhirnya ia membatalkan niatnya.


"Kamu nggak tidur?"


"Ha? Em, a.. aku, aku-"


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Aku? Aku apa ya?
Udh deg-degan, eh malah bersambung 🀣


Hai kalian apa kabar? Sehat semua kan? Tetap jaga kesehatan ya. Jazzakallah Khairan sudah sabar menunggu author up 😘


Tetap stay ya untuk chapter selanjutnya πŸ–€


With Love πŸ’‹ LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar