Chapter 51 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 51 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Surakarta, Pukul 10.00 pagi. Keesokan Harinya.

Setibanya dari bandara 35 menit yang lalu, tentu saja Franklin tidak langsung pulang ke apartemen. Ia harus mencari Misha di panti asuhan setelah mendapatkan alamatnya dari Raina ketika dimasalalu wanita itu pernah mengundang anak yatim dari panti asuhan untuk acara syukuran peresmian PT. FR Food Jaya.


Franklin menghentikan mobilnya tepat di halaman depan sebuah bangunan yang bertuliskan panti asuhan Pelita Harapan. Setelah keluar dari Mobil, beberapa anak kecil penghuni panti pun menatapnya tak biasa karena melihat ada orang baru memasuki wilayah mereka.


"Assalamualaikum, Om. Apakah Om suaminya Bunda Fiya?"



Suara sapaan gadis kecil membuat Franklin menoleh kebelakang. Franklin merasa familiar karena pernah melihatnya ntah dimana. Tetapi, bagaimana gadis kecil ini tahu bahwa ia suaminya Bunda nya?  Franklin tersenyum tipis, ia pun berjongkok, menyamakan posisinya pada gadis kecil itu.


"Wa'alaikumussalam. Hai nak, maksud kamu Bunda yang bernama Misha?"


"Iya, Bunda Misha. Namaku Shafiyah. Om bisa memanggilku Fiyah. Tapi Bunda tadi keluar, kearah sana." tunjuk Fiya kearah jalan raya.

"Fiyah?"


Keduanya pun menoleh ketika seorang ibu paruh baya yang Franklin duga adalah pemilik panti asuhan. Franklin segera berdiri, sedangkan Ibu paruh baya tersebut langsung tersenyum sopan dan merasa segan, tahu bahwa pria di hadapannya itu adalah pemilik perusahaan PT FR Food Jaya yang pernah memberi bantuan sejumlah dana dan keperluan kebutuhan panti asuhan meskipun hanya melalui tangan kanan Franklin.


"Maaf, Pak, ada yang bisa saja bantu?"

"Saya kesini mencari Misha. Kata Fiyah, istri saya barusan keluar. Apakah itu benar?"


"Keluar?" Ibu paruh baya yang bernama Bunda Latifah pun mengerutkan dahinya. "Maaf, Pak, saya tidak memperhatikannya karena kami sedang kedatangan tamu didalam."


"Bunda Latifah, Fiyah nggak bohong kok. Fiyah tadi lihat Bunda Misha keluar. Terus hidung Bunda Misha juga memerah."


Franklin tertegun, merasa kalau apa yang di katakan Fiyah itu adalah benar dan sepertinya Misha tidak baik-baik saja. Tanpa basa-basi lagi, Franklin pun memilih pamit dari sana dengan sopan, mencoba mencari Misha terlebih dahulu sesuai petunjuk Fiyah.

"Hati-hati dijalan, Pak,"


"Iya, Bu, sekali lagi terima kasih telah membantu istri saya selama ini. Assalamualaikum."

"Wa'alaikumussalam..


💘💘💘💘


Misha sedikit menengadahkan tangannya ke udara, rintik hujan mulai turun seiring berjalannya waktu. Padahal perjalanannya masih jauh hanya untuk ke tempat praktek dokter.


Misha merapatkan jaket tebal yang ia pakai, ia juga mulai menutup hijabnya menggunakan tudung jaketnya. Hidungnya terasa sesak karena memakai masker, namun ia terpaksa memakainya agar terhindar dari hawa dingin yang akan ia hirup melalui hidungnya.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya, Misha masih tak sadar bahwa siapa pengendara milik mobil hitam tersebut. Dengan langkah pelan, Misha tetap berjalan meskipun tubuhnya melemas.

"Misha.."


Seketika Misha menghentikan langkahnya. Misha menoleh ke belakang, ia terkejut kalau orang yang di rindukan selama ini berdiri di belakangnya. Namun Misha berusaha untuk fokus, bisa jadi itu Frankie, bukan Franklin.


Dengan cepat Misha kembali berjalan, mengambil langkah selebar mungkin. Ia hanya tidak ingin berhalusinasi bahwa pria di belakangnya itu adalah Franklin, sudah cukup Frankie dan keluarganya mengancamnya untuk tidak bertemu Franklin.

"Mimi.."


DEG, Misha menghentikan langkahnya. Hanya orang-orang terdekat saja, yang memanggilnya nama Mimi. Pria itu kini memegang lengannya, sebuah sentuhan yang tentu saja terasa tidak asing baginya. Lalu sentuhan itu berpindah, dengan menggenggam tangannya secara pelan.


Misha menundukkan wajahnya, melihat tangannya yang kini di genggam oleh pria yang jari manisnya juga tersemat cincin pernikahan yang sama dengannya. Tanpa bisa di cegah, saat itu juga air matanya menetes di pipinya.


"Aku sudah kembali, sesuai janjiku."


Franklin berdiri di hadapan Misha, ia tersenyum dengan tatapannya yang sendu. Dengan perlahan ia menghapus air mata istrinya. Fiyah benar, hidung Misha memerah, tak hanya itu, Misha juga demam. Rintik pun mulai turun secara lebat.


"Ayo ke Dokter,"


"Tidak."


"Mimi.." Seperti menyadari mimik wajah Misha, Franklin berusaha untuk sabar. "Tidak ada siapapun didalam mobilku, hanya kita. Bahkan semua pengawal Daddy pun sudah tidak ada lagi di sekitar kita. Jangan takut, ada aku,"


Benarkah apa yang dikatakan Franklin? Ntah kenapa Misha masih merasa takut dan cemas. Sudah cukup ia membuat keluarga suaminya itu terluka akibat perbuatan Hamdan.


"Aku juga sakit, tolong jangan memperparah keadaan. Ayo,"


Misha pun menurut ketika Franklin menarik pergelangan tangannya, dan ia juga tidak tega melihat suaminya itu yang katanya sedang sakit. Sesampainya didalam mobil, saat itulah juga Franklin meraih tisu di dashboard mobil.


Misha menatap suaminya yang terlihat sedih, lelah, khawatir, dan merasa bersalah atas semuanya. Lalu Franklin mengelap tetesan air hujan yang menempel di wajah Misha.


Misha hanya bisa diam, ia masih tidak menyangka kalau Franklin sudah kembali. Rasanya ini seperti mimpi yang terwujud baginya. Franklin tak bisa menahan diri lagi, ia pun memegang kedua pipi Misha dan mencium keningnya lalu di lanjutkan dengan kedua pipi istrinya. Setelah itu, Franklin memeluknya lagi. Rasa rindu yang begitu menyiksa, kini terlampiaskan.


Franklin memejamkan kedua matanya, sekali lagi, dengan penuh cinta ia mencium kening dan pipi Misha lalu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah tiba di jalanan poros yang lenggang, Franklin kembali meraih tangan kanan Misha kemudian menggenggamnya dengan erat.


Misha menatap tangannya, rasa rindu yang terasa sakit kini perlahan sirna, ia pun membalas genggaman tangan Franklin dengan pelan. Franklin memang tak banyak berkata, namun perlakuan pria itu membuatnya tersentuh.


"Ya Allah, terimakasih," ucap Misha dalam hati. Ia menatap ke samping jendela mobil, tersenyum penuh haru tanpa bisa mencegah air matanya sendiri.


💘💘💘💘


Franklin berjalan menuju lobby rumah sakit, bersiap untuk ke bagian petugas pendaftaran untuk mendaftarkan Misha ke bagian dokter umum.


Franklin pun menghentikan langkahnya, ia pun menoleh kebelakang kemudian menatap Misha yang terlihat terdiam. Bahkan setelah keluar dari m

obil, istrinya itu malah menghindarinya seolah-olah menjaga jarak.


"Ada apa?"


"Kakak, kenapa kita kerumah sakit ini?"

"Memangnya kenapa?"


"Uangku... " Misha merogoh saku jaketnya, sedikit malu untuk berkata sesuatu, namun sebenarnya malah terlihat seperti orang yang polos bagi Franklin ketika ia melihat selembar uang di telapak tangan istrinya.

"Uangku, tidak cukup. Aku nggak jadi kemari. Bolehkah kita pulang saja?"


Bukannya menjawab, Franklin malah mendekatinya dan berdiri saling berhadapan. Tiba-tiba Misha memundurkan langkahnya, takut kalau disekitar mereka masih ada para pengawal Daddy mertuanya.


"Apakah kamu takut biayanya mahal? Bukankah sekarang kamu tanggung jawabku?"


"Tapi, Daddy melarangku-"


"Kita sudah bersama. Uangku, uangmu juga. Daddy tidak berhak melarangmu walaupun kamu menggunakan satu rupiah."


"Bagaimana jika Daddy memarahiku?"

"Surgamu aku atau Daddy?"


"Kakak." ucap Misha polos seperti anak kecil,


"Uang suami, uang istri juga. Di rekeningku ada penghasilan terliunan rupiah bahkan lebih, berarti itu semua uangmu juga. Ayo.."

Franklin mengulurkan telapak tangannya. Namun Misha masih 

. Pengaruh Daddy dan para pengawalnya memang benar-benar membuatnya ketakutan hingga sekarang. Franklin berusaha untuk sabar, istrinya itu menahan rindu, namun takut untuk di dekati.


"Mommy yang mengizinkanku kemari untuk menemuimu. Daddy lagi di luar negeri, kamu jangan takut karena Mommy sudah menghubungi mereka untuk tidak membatasi kita."

"Jadi, apakah aku boleh memegang tangan Kakak dengan bebas?"


"Tentu.."


"Jika aku dekat-dekat Kakak, apakah tidak ada yang melarang kita lagi?"


"Iya.."


Misha menundukkan wajahnya, merasa malu bahkan kedua pipinya bersemu merah.

"Aku, sangat merindukan Kakak. Bahkan aku menangis saat Kakak mencium kening dan pipiku ketika didalam mobil tadi."


Dan Franklin pun tersenyum. Ia tertawa geli lalu segera memegang tangan Misha. Misha merasa hatinya tenang, ia malah memeluk erat lengan Franklin bahkan tak sedikitpun mau berjauhan lagi. Mereka pun akhirnya memasuki rumah sakit.


Setelah mendaftarkan nama Misha, Franklin segera duduk diruang tunggu. Franklin sengaja memilih membawa Misha kerumah sakit, antisipasi bila istrinya itu sedang sakit parah.


Tetapi semoga saja tidak. Setelah menyadari meninggalkan Misha berhari-hari tanpa kabar, tanpa nafkah, bahkan tidak tahu apakah Misha menjaga pola makannya secara teratur atau tidak, tentu saja hal itu membuat Franklin cemas.


Misha merasa tubuhnya lemas, ia pun menyenderkan dahinya pada bahu Franklin tanpa sedikitpun melepaskan genggaman tangan mereka.

"Apakah Kakak juga berobat disini?"

"Tidak.."

"Katanya tadi sakit?"


"Sudah sembuh."


"Kok bisa?" Misha menumpukan dagunya pada bahu Franklin, menatap wajah yang ia rindukan selama ini dari samping.

"Yang sakit hatiku, Mimi. Aku menahan 

rindu denganmu bahkan kepikiran tentangmu sehingga hatiku yang menjadi imbasnya. Sekarang aku sudah menemukan obatnya, jadi, Alhamdulillah sudah sembuh.


"Benarkah?"

"Hm.."


"Terima kasih," bisik Misha pelan, ntah kenapa tiba-tiba Franklin merasa gugup dan sedikit tidak biasa. Apalagi bibir Misha begitu dekat dengannya. Namun ia begitu paham, bahwa Misha sedang meluapkan rasa rindu padanya.

"Hm, sama-sama."


Akhirnya Misha kembali menyenderkan dahinya pada bahu Franklin, sambil menunggu namanya di panggil, Misha kembali menatap tangannya yang saling berpegangan erat sampai akhirnya, tanpa sadar ia tertidur. Franklin seperti tempat sandaran yang ia tunggu selama bertahun-tahun ketika semuanya berawal dari rasa kagum sebelum pria itu berada di kota ini hingga akhirnya, Allah mengabulkan keinginannya berjodoh Franklin.


Dan Franklin menarik kedua sudut bibirnya, ia menyelipkan tangannya pada pinggul Misha dan memeluknya dari samping. Ia akan membiarkan Mishanya tertidur sejenak, sudah cukup istri tercintanya itu tersiksa selama ini.

💘💘💘💘


Akhirnya.. setelah penantian yang panjang. Kok kalian sabar banget sih sama author yang bikin alur ginian? Wkwkwk 😆


Tapi ku terharu, kalian bela-belain bertahan sama cerita ini meskipun mereka suka nebar bawang. Eh, author kali yak, yang nebar bawang dari dulu sampai sekarang? 😁


Jazzakallah Khairan sudah pada baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga, ya 😘


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar