Chapter 50 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 50 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Pukul 10.00 pagi. Kota Surakarta. Tiga hari kemudian.


Tanpa sengaja Misha menatap Franklin yang sedang berada di sebuah toko yang menjadi pusat oleh-oleh kota Solo. Ia yakin, kalau pria itu adalah Franklin. Dengan cepat Misha pun mendekati pria itu.

"Assalamualaikum, Kakak?"

"Wa'alaikumussalam."


Seketika pria itu terdiam setelah menoleh kebelakang. Keduanya sama-sama terkejut. Misha tak menyangka kalau pria itu adalah Frankie, saudara kembar suaminya. Sedangkan Frankie, awalnya cukup terkejut akan bertemu Misha. Namun setelah itu, ia memasang raut wajah datar.

"Maaf, saya kira Kak Franklin."


"Permisi."


Misha menatap kepergian Frankie dalam diam. Hanya menatapnya saja, ia seperti melihat Franklin. Kedua mata Misha berkaca-kaca, hatinya di penuhi kerinduan yang terpendam. Ia pun kembali mengejar Frankie

"Maaf, Kak, tunggu."


Frankie menghentikan langkahnya tanpa menoleh kebelakang.

"Apakah Kak Franklin ikut kemari bersama Kakak?"


"Tidak."


"Apakah dia masih di luar negeri atau-"


"Dia sudah di Jakarta sejak beberapa hari yang lalu."


"Bolehkah saya ikut kesana? Saya janji, setelah itu saya akan pulang. Saya hanya ingin melihatnya. Tidak masalah walaupun hanya beberapa jam."


Frankie menoleh kebelakang, ia menatap Misha dengan benci karena teringat putranya yang nyaris tewas akibat Kakaknya. Frankie pun kembali pergi.


"Bahkan dirimu pun sekarang tidak di terima di keluarga kami. Jadi lupakan saja keinginanmu itu."


"Sebentar, Kak. Apakah saya bisa minta tolong? Biasakah Kakak melakukan panggilan video call dengannya. Hanya 1 menit. Saya ingin melihat wajahnya, sungguh saya begitu merindukannya. Setelah itu, saya janji tidak akan meminta tolong pada Kakak."


Air mata menetes di pipi Misha. Namun Frankie tetap mengabaikannya dan pergi menjauh setelah itu memasuki salah satu mobil untuk segera pergi menuju bandara setelah sebelumnya ia bertemu dengan klien perusahaannya.


Disaat yang sama, Misha memegang kepalanya yang terasa pusing. Tubuhnya memang sedang sakit.  Perutnya juga terasa lapar karena tidak makan sejak pagi.

"Kapan Kakak akan pulang?"


"Ya Allah, hamba begitu lapar. Tapi hamba tidak bisa berada di panti asuhan terus menerus. Akan sangat merepotkan."


💘💘💘💘


Kediaman Hamilton, pukul 17.00 sore. Jakarta Timur.


Aifa menelusuri rumahnya hanya untuk mencari Daddynya. Aifa menghela napasnya, rumah yang ia tinggali sejak kecil sebelum memiliki rumah sendiri setelah menikah dengan Rex itu memang sangat besar dan mewah sehingga membuatnya sedikit lelah.


Seketika Aifa teringat Daddynya yang hobi berolahraga sejak dulu meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Dan benar saja, tujuannya ke ruangan gym yang berukuran luas itu akhirnya terlihatlah Daddynya yang sedang mengangkat barbel seberat 10kg di tangan kanannya.


Aifa berbinar dan segera masuk
"Daddy sayang..."


Fandi menoleh kearah pintu. Putrinya berdiri disana dengan ciri khas raut wajahnya yang manja, tanda bahwa sepertinya sedang menginginkan sesuatu. Fandi hanya diam, lalu sibuk melanjutkan aktivitasnya.

Aifa memberengut kesal. "Ish, apakah Daddy sedang mengabaikan Aifa?"


"Kamu mau minta apa? Bukankah pesawat jet pribadi sudah Daddy belikan tadi malam?"


"Hm, iya Dad."


"Sarapan pagi di Australia seminggu yang lalu juga sudah, kan?"


"Sudah Dad, bahkan sekarang Aifa ngidam ingin ke pantai hawai. Tapi jauh banget."

Aifa memegang perutnya yang masih rata. Ia pun mendekati Daddynya.


"Dad.."


"Hm?"


"Sepertinya cucu Daddy pengen ketemu super junior."

Fandi menghentikan aktivitas. Ia 

mengerutkan dahinya.


"Super junior? Siapa itu?"


Aifa berusaha menahan sabar dan tersenyum manis bagaikan gula. "Itu loh, Dad, grup boyband asal Korea."

"Terus?"


"Aifa pengen Daddy undang mereka kemari. Aifa ingin makan cireng bareng anggota super junior dirumah ini bersama keluarga kita. Minggu depan."


"Jangan memfitnah calon cucuku didalam rahimmu Aifa. Kamu terlalu mengada-ada."

"Dad, Aifa serius. Aifa sudah meminta Rex untuk menemani Daddy ke Korea untuk bertemu dengan manajemen mereka. Ayolah Dad, temani Rex kesana. Kalau nggak, Aifa bakal sedih. Bukankah orang hamil tidak boleh sedih dan kecewa?"


"Waktu telat haid saja, kata Rex kamu sudah mengidam di belikan kapal pesiar." Fandi menatap datar putrinya yang sudah memasang raut wajah sesedih mungkin.

"Ayolah Dad, ya,ya,ya?"


Fandi pun berdiri, dengan cepat Aifa menyerahkan handuk kecil. Ia menatap Daddynya yang terlihat bugar dan sehat meskipun tidak muda lagi. Otot tubuhnya juga masih terjaga dengan baik. Sepertinya predikat hot Daddy tetap melekat pada Daddynya sepanjang masa.


Fandi mengabaikan putrinya dan berjalan kearah luar pintu. Ia juga tidak menerima tawaran handuk kecil putrinya. Aifa pun sedih dan menundukkan wajahnya.


"Oke, siapkan penerbangan besok pagi."

"Bersama menantuku, ke Korea."


Seketika raut wajah Aifa berbinar bahagia. Dengan cepat ia mendekati Daddynya yang baru saja memutuskan panggilannya dengan seseorang di ponsel. Aifa memeluk erat lengan Daddynya.


"Jadi beneran besok pagi Daddy ke ke Korea?"


"Hm."


"Aifa sayang Daddy, terima kasih, ya."


Bukannya menjawab, Fandi hanya mengacak-acak puncak kepala putrinya sambil tersenyum tipis. Tak lupa mencium keningnya. Dan ntah kenapa, sejak dulu ia memang tak bisa menolak permintaan putrinya yang tercinta itu.


"Bikinkan Daddy jus buah. Daddy ingin kamu yang membuatnya, bukan pelayan didapur."


"Tentu Dad, Aifa akan membuatkannya, spesial buat Daddy Aifa yang paling baik sedunia."


"Tapi ingat, pakai gula, jangan pakai garam. Bisa bedain gula dan garam, kan?" goda Fandi dengan santai


"Ih, Daddy apa'an sih."


Lalu Fandi pun tertawa. Dari jarak kejauhan, Franklin menatap keduanya dalam diam. Dalam hati ia merasa bersyukur, setidaknya, cukup ia saja yang tidak bisa seakrab itu dengan Daddynya. Sungguh ia menyayangi Aifa melebihi apapun. Disaat yang sama, ia juga merindukan kebaikan Daddy untuk dirinya dengan cara memberikan izin bertemu dengan Mishanya.


💘💘💘💘


Keesokan harinya, pukul 09.00 pagi. Kediaman Hamilton.


Semua pekerjaan sudah selesai. Sholat Sunnah Dhuha juga sudah. Tak ada yang Franklin lakukan selain berbaring diatas tempat tidur, menatap wajah layar wallpaper nya yang kini terpampang foto Misha disana.


Setelah mengecek panggilan log beberapa hari yang lalu, ntah kenapa ia merasa nomor Vita hilang begitu saja? Padahal ia sudah berniat meminta tolong padanya mengenai Misha.


"Ya Allah, kenapa dia begitu mudah di rindukan?" lirih Franklin pelan.


Seketika Franklin ingat suatu hal, ia pun segera bangun dari rebahannya. Mencoba menghubungi karyawannya untuk bisa berkomunikasi dengan Vita disana. Di saat yang sama, notip pesan WhatsApp pun masuk. Pesan chat yang berasal dari Ayesha.


Mommy : "Kalau anak Mommy nggak sibuk, ke ruang tamu ya. Mommy tunggu, lagi pengen ngobrol berdua."


Tentu saja Franklin langsung keluar kamarnya untuk menemui Mommynya. Ayesha menatap putranya yang sudah berjalan kearahnya. Ia pun menepuk sofa empuk tepat di sebelahnya.


"Apakah Mommy mengganggumu?"


"Em, tidak."


"Kalau begitu, duduk disini."


Franklin hanya mengangguk dan menurut. Salah satu pelayan pun datang membawakan nampan berisi dua cangkir teh hangat. Setelah pergi, Ayesha menatap putranya. Ia merasa bahwa Franklin memang sedang tidak baik-baik saja. Terlihat sekali kalau kantung matanya sedikit menghitam.


"Katakan kalau kamu sedang sakit, nak."


"Sakit?" Franklin mengerutkan dahinya. "Aku tidak sakit, Mom."


"Tapi hati kamu yang sakit. Mommy paham kamu sedang terluka."


Detik berikutnya Franklin terdiam. Ia menatap kelain, menyenderkan punggungnya ke sofa. Sampai akhirnya sebuah genggaman di punggung tangannya membuat Franklin menatap kearah sana.


"Maafkan Daddy. Sejak dulu, begitu ada seseorang yang menyakiti keluarga kita, dia tidak akan segan-segan bertindak diluar dugaan kita. Kamu tahu sendiri bagaimana dia dulu memperlakukan Rex ketika Kakak iparmu itu menyakiti Aifa. Ini hanya masalah waktu, biar bagaimanapun Misha adalah putri Mommy dan Daddy sekarang."


"Aku tahu." Franklin memaksakan senyumnya.


Ayesha menarik pelan bahu Franklin sampai akhirnya putranya itu menyenderkan dahinya pada pundak Mommynya.


"Mom.."


"Hm?"


"Aku merindukan Misha. Bagaimana cara mengatasinya kalau tidak bisa bertemu?"


Franklin menghela napasnya. "Rasanya sakit sekali. Disaat yang sama, ingin rasanya aku pergi, tapi aku juga takut kalau setiap langkah yang aku pijak, Allah tidak meridhoinya."


"Sungguh kamu adalah putra Mommy yang begitu berbakati dan penurut. Misha sangat beruntung memiliki suami sepertimu."


"Tidak, dia tidak beruntung."


"Kenapa kamu berkata seperti itu?"


Ayesha menatap putranya. Ia bisa melihat jelas bagaimana kedua matanya berkaca-kaca.


"Ini pertama kalinya Mommy melihatmu rapuh." Ayesha menyentuh bulir air mata yang sedikit keluar di sudut mata Franklin.


"Maaf," Franklin tersenyum tipis, merasa malu karena terlihat lemah sebagai pria dewasa. "Selama ini aku merasa seperti sendiri. Padahal kita semua sedang berkumpul. Tetapi tidak ada satupun yang mengerti keadaanku selain Mommy. Aku ingin meluapkan emosi, tetapi aku berusaha menahannya. Aku tidak ingin syaitan mengendalikan diriku sehingga amal ibadahku berkurang."


"Tetapi aku merasa menjadi suami yang dzalim bagi Misha. Aku memiliki tanggung jawab, Misha adalah amanahku, tapi aku menelantarkannya. Aku tidak memberinya nafkah lahir dan batin. Allah akan murka denganku."


"Bukan salahmu, Nak. Ini semua adalah salah Hamdan. Kalian hanya korban, sedangkan Daddy, dia sudah terlanjur terluka sehingga egois dan emosi menguasainya. Pulanglah kerumah, putri Mommy pasti sedang menunggumu disana."


Franklin terkejut. Ia yakin saat ini tidak salah dengar. Ayesha tersenyum tipis sambil mengusap pelan pipi putranya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Daddy sedang berada di Korea."


"Di Korea? Kenapa aku tidak tahu?"


Ayesha menghedikkan bahunya. "Kakakmu yang manja itu tiba-tiba mengidam ingin bertemu dengan boyband asal Korea untuk berkunjung kemari."


Franklin terdiam. Benarkah Aifa meminta hal tersebut pada Daddynya? Ada yang tidak beres. Karena ia sangat tahu bahwa sejak dulu Aifa bukanlah penyuka hal-hal yang berhubungan dengan artis Korea maupun film dramanya.


"Kok melamun? Jangan menunda-nunda. Tidak baik."


"Tapi-"


"Jangan meragukan apapun. Mommy mengizinkanmu."


Jantung Franklin langsung berdebar kencang. Raut wajahnya pun bersemu merah karena teringat Mishanya. Ayesha sadar akan hal itu, ia pun tersenyum geli.


"Mommy tunggu kabar calon cucu Mommy ya."


"Insya Allah, terima kasih Mom." Dengan haru Franklin memeluk Mommynya. Kesabaran yang membuahkan hasil. Penantian rindunya pada Misha akan terlampiaskan sebentar lagi.


"Mom, Aifa-"


Tiba-tiba Aifa menghentikan langkahnya. Ia pun berdeham dan menyengirkan bibirnya.


"Em, nanti saja deh. Aifa lupa mau ngomong apa."


Franklin menatap Kakaknya dengan curiga, setelah pamit dan meminta doa pada Mommynya, dengan cepat ia mengejar Aifa.


"Kakak, tunggu!"


"Kakak!"


Aifa panik, ia mempercepat langkahnya menuju kamarnya. Namun secepat itu Franklin mencegah pergelangan tangannya. Aifa merasa gugup, tak berani menoleh kebelakang.


"Apakah Kakak yang membuat Daddy pergi ke Korea?"


"Hah? e.. enggak kok. D..Daddy pergi kesana karena ada urusan pekerjaan."


"Kakak tidak pandai berbohong."


"Aifa serius!"


Franklin berpindah posisi menghadap Aifa, lalu Aifa berbalik memunggungi adiknya. Merasa tak berkutik karena apa yang di katakan Franklin benar.


"Kakak.." panggilan Franklin pelan. "Terima kasih, sudah menolongku."


Lalu air mata menetes di pipi Aifa. Tenggorokan Aifa serasa tercekat. Merasa terharu dan lega karena akhirnya ia bisa menolong adiknya. Sejak dulu, Franklin banyak sekali dalam membantunya, sekarang giliran dirinya.  Dengan perlahan Franklin menarik Aifa kedalam pelukannya dan Aifa sudah tak bisa lagi menahan isak tangisnya.


"Aku sayang sama Kakak. Sudah aku bilang kalau sejak dulu aku tidak suka melihat Kakak menangis."


"Kemarin Aifa terluka." ucap Aifa lirih. "Semarah apapun Aifa sama Hamdan, tetap saja Aifa tidak bisa menghilangkan rasa sayang Aifa sama Misha. Begitu melihat Franklin mengeteskan air mata, saat itu juga Aifa sedih. Aifa nggak bisa melihat adik Aifa terus menerus menahan rindu sama wanita yang di cintanya. Menahan rindu itu nggak enak. Dulu Aifa ngerasain kok, rindu sama Rex. Kalau nggak percaya, tanya saja Angel."


"Aulia Kak, Aulia."


"Oh iya lupa."


Franklin melepaskan pelukannya, tak lupa menghapus sisa air mata yang menempel di pipi Kakaknya.


"Sudah jangan menangis. Nanti calon keponakanku bisa mirip denganku."


"Tidak masalah. Asal jangan mirip Frankie. Dia itu adek Aifa yang menyebalkan."


"Apa bedanya mukaku dengan dia? Kan sama saja."


"Oh iya ya?" Aifa tersenyum geli, Franklin merasa hatinya lega ketika Aifa sudah mulai tenang. "Yaudah mirip Rex, saja. Oh iya, Franklin sudah bikin keponakan buat Aifa setelah resepsi di Yogyakarta?"


Dengan cepat Franklin sedikit memundurkan langkahnya, memberi jarak antara dirinya dengan Aifa. Ntah kenapa ia sedikit salah tingkah.


"Em, aku.. mau siap-siap pulang dulu, Kak.. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Aifa tersenyum geli. Ternyata Adiknya itu masih ori bujangan tampan. "Hati-hati dijalan ya, Aifa doain semoga lancar dan tidak gugup nantinya. Jangan malu-maluin jadi adik Aifa ya, Franklin kan pria sejati."


Franklin hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang. Aifa itu ada-ada saja. Dengan cepat Franklin menuju kamarnya, bersiap-siap untuk bertemu Mishanya.


"Sayang, tunggu aku ya,"


💘💘💘💘


Siapa yang gak sabar ketemu Chapter selanjutnya? 😆


jangan lupa sedia tisu ya nanti hhe. Kali aja butuh buat lap air mata wkwkwk 😝😆🤣


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca..
Sehat selalu buat kalian 💕


WithLove
LiaRezaVahlefi


Akun Instagram : lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar