Chapter 49 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 49 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Kediaman Hamilton, Pukul 06.00 pagi.

Sudah dua hari semenjak kepulangan Franklin dari negara Australia, ia pikir semua urusan pekerjaannya sudah selesai, Nyatanya tidak. Lagi-lagi Daddy Fandi memberinya tambahan pekerjaan seolah-olah ia tidak di berikan izin untuk pulang.


Sarapan sudah terhidang diatas meja. Semua makanan, minuman, roti tawar, puding buah serta buah-buahan lainnya terlihat lezat. Namun tidak dengan Franklin sendiri.


Dengan memberanikan diri ia memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang sudah menempati kursi meja makan berukuran besar khas keluarga besar.


Semua terlihat tersenyum, tertawa, saling berbicara dan para keponakannya tengah bermain sambil bercanda. Tetapi, adakah yang sadar dan perduli bagaimana dengan perasaannya saat ini?


"Franklin, ayo dimakan sarapanmu." tegur Fandi pelan.

Franklin menatap Daddynya, ia hanya mengangguk lalu memilih mengambil puding buah dan segelas air putih.

"Kenapa sarapanmu dikit sekali, nak? Tambah roti dan susu atau jus, ya." tawar Ayesha lagi.

"Tidak, Mom. Terima kasih." Franklin memaksakan senyumnya. Berusaha menghargai tawaran Mommynya. Bagaimana ia bisa makan dan minum dengan enak sementara ia tidak tahu bagaimana kabar istrinya, sedang dimana dan sudah makan atau belum?

Tiba-tiba Aifa datang dari kamar mandi dengan raut wajah pucat. Dengan lesu ia duduk di tempatnya semula.

"Semuanya baik-baik saja Aifa?" tanya Fandi pada putrinya.

"Tidak, Aifa mual. Barusan tes pack, Alhamdulillah Aifa positif hamil."

Lalu semua yang ada di sana pun bersyukur, menatap Aifa dengan raut wajah bahagia. Seketika tiba-tiba hati Franklin menjadi tidak menentu. Sejujurnya ia bahagia akan mendapatkan calon keponakan lagi. Tetapi tidak adakah yang menginginkan ia memiliki calon buah hati sementara kebersamaannya dengan Misha saja tidak di izinkan?

"Selamat Kakak! Aku harap calon keponakanku nanti perempuan." sela Frankie dengan bahagia.

"Aamiin. Doakan saja yang terbaik."

"Selamat ya, Kak Aifa. Feby turut berbahagia."

"Selamat, Kak. Semoga lancar sampai lahiran.." ucap Franklin akhirnya, sengaja mengucapkan demi menjaga etika. Detik berikutnya, ia pun berdiri karena sarapannya sudah selesai tak sampai 15 menit.

"Sudah selesai sarapan?" tanya Fandi lagi.

"Sudah Dad, aku akan keruang kerja untuk bekerja."

"Franklin, itu, ponselku." sela Frankie tiba-tiba. Dengan cepat Franklin melihat kearah tangannya, ponselnya dan ponsel Frankie tadi memang bersebelahan diatas meja makan. Ia pun mengangguk.

"Maaf,"

"Tidak apa-apa."

Lalu Franklin kembali berjalan meninggalkan tempat, sampai akhirnya ia pun kembali ke tempat semula untuk duduk. Bisa-bisanya ia lupa minum setelah makan. Dengan tenang Franklin kembali berdiri lalu menuju ruang kerja Daddynya.

Ayesha menatap putranya dengan sendu, sadar bahwa putranya itu terlihat linglung seperti tidak fokus.

"Apakah dia sakit?" tanya Feby pelan

"Dia begitu semenjak kedatangannya ke Australia. Hampir tiga kali dia melupakan sesuatu yang penting sana." sela Rex lagi.

"Bahkan wajahnya sedikit bertirus. Salah satu pelayan menemukan banyak putung rokok di balkon kamarnya. Aku tidak menyangka kalau Franklin itu perokok." ucap Aifa lagi.

"Lebih baik semuanya lanjut untuk sarapan. Franklin akan baik-baik saja." ucap Fandi akhirnya.

💘💘💘💘


15 menit kemudian..


Franklin mencoba mengetik sebuah proposal penting dalam sebuah proyek perusahaan pangan yang lagi-lagi di bangun oleh Daddynya di daerah Kalimantan.


Franklin menghentikan aktivitasnya. Mengetik sebuah kalimat visi dan misi perusahaan bukanlah hal yang sulit. Tapi ntah kenapa, tiba-tiba mendadak otak Franklin menjadi buntu.


Franklin terdiam, menatap kedua punggung tangannya yang berada di atas keybord laptop sembari terfokus pada cincin pernikahan yang tersemat di jari manisnya. Seketika ia pun teringat Mishanya.


"Ya Allah, hamba merindukan Misha..."


"Ya Allah, hamba terluka. Hamba memendam rasa rindu, rasa kasmaran, jatuh cinta pertama kalinya dengan seorang wanita yang kini sudah sah menjadi istri namun tak terlampiaskan dan rasanya begitu tersiksa."


"Ya Allah, hamba seorang pria. Hamba di ciptakan kuat dalam bekerja mencari nafkah, namun lemah ketika memikirkan Misha."


"Ya Allah, jika hamba pergi menemui Misha sekarang, apakah hamba akan di anggap sebagai anak durhaka ketika Daddy tidak mengizinkannya? Sesungguhnya hamba takut ketika melanggarnya lalu datang musibah seperti yang pernah menimpa Aifa ketika dia tidak amanah pada Daddy. "


"Ya Allah, di saat yang sama, sesungguhnya hamba sedang menahan syahwat ketika sadar bahwa saat ini hamba sudah beristri dan membutuhkannya untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Ya Allah lindungilah kami dari segala fitnah dan perzinahan. Aamiin."


Franklin menyenderkan punggungnya sambil memejamkan matanya. Membayangkan wajah Misha karena sangat merindukannya. Lalu ia pun mengecek ponselnya, menatapnya sejenak, berharap ada satu saja kabar mengenai Misha. Jika saja ia tahu bahwa semua ini akan terjadi, maka ia pun akan memberi perintah oleh salah satu kepercayaan untuk mencari tahu keberadaan Misha. Namun sayang, sebelum itu terjadi, lagi-lagi Daddynya mengancamnya agar tidak menjadikan Misha urusan utama ketimbang semua pekerjaan yang paling penting.


Jangankan hal itu, Aldi saja sampai diancam akan di pecat oleh Fandi jika sampai berani-beraninya membantu Franklin. Franklin tak habis pikir, mengapa pengaruh Daddynya itu begitu kuat bagi orang-orang diluar sana? Padahal ia atasan Aldi, tapi mengapa lagi-lagi Daddynya yang mengambil alih?


Ponsel Franklin berdering, nomor panggilan tak dikenal masuk terpampang di layarnya. Dengan ragu Franklin menerimanya.


"Halo.. a.. Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumussalam. Pak, ini saya. Vita."


"Ada apa?"


"Kenapa Bapak mengabaikan saya? Saya sudah cukup sabar begitu tahu kalau nomor saya di blokir sejak dulu. Saya sudah berusaha untuk menghubungi Bapak dengan nomor saya yang lainnya."


"Apakah ini urusan pekerjaan?"


"Bukan-"


"Saya sibuk, maaf-"


"INI SOAL MISHA PAK! BAPAK MASIH MAU NGABAIKAN SAYA?!!!" tegas Vita akhirnya, tak perduli meskipun dianggap tidak sopan.


Seketika Franklin syok. Bukan terkejut karena karyawannya itu membentaknya.


"A.. apa yang terjadi dengan istriku?"


Helaan napas terdengar. "Kemarin saya pulang kerja. Nggak sengaja lihat Misha. Diam-diam saya ikutin dari belakang ternyata dia masuk ke panti asuhan."


"Ke panti asuhan? Ngapain?"


"Saya sudah cari tahu sama anak panti. Kebetulan saya mengenalnya disana, namanya Fiyah.. kata Fiyah, Misha tinggal disana."


Franklin terbungkam. Mengapa istrinya tinggal disana? Bukankah ia sudah memberinya amanah untuk tinggal di apartemen? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Misha nya?


"Kenapa istriku tinggal disana?"


"Saya nggak tahu Pak. Setelah itu saya pulang, takut ketahuan sama Misha. Akhir-akhir ini Misha tidak bisa saya hubungi. Nomor ponselnya nggak aktip. Dia juga menghindari saya."


"Terima kasih infonya, Assalamualaikum."


Detik berikutnya Franklin segera memutuskan panggilannya dan berdiri dari duduknya. Saking paniknya ia sampai lupa untuk meminta tolong mencari tahu semua informasinya tentang Misha pada Vita. Hanya Vita satu-satunya harapan yang ia punya. Ia harus bisa membujuk Daddynya sekarang juga. Kalau perlu mengemis demi Misha dan hatinya.


Dari balik dinding, Feby mendengarkan semuanya. Setelah mengetahui Franklin pergi, buru-buru ia pun memasuki ruangan kerja Daddynya untuk meraih ponsel Franklin yang masih menyala tanpa terkunci sandi.


Dengan cepat Feby membuka log panggilan masuk dan memblokir panggilan dari Vita yang baru saja masuk kemudian menghapusnya. Rasa bencinya pada Misha akibat kecelakaan yang menimpa putranya waktu itu membuat Feby berusaha menghentikan cara tersebut agar Misha tidak mudah menghubungi Franklin melalui Vita nantinya.


💘💘💘💘


"Kabar baiknya, Mommy kalian akan mendapatkan alternatif pemasangan kaki palsu."


"Alhamdulillah, Aifa senang kalau akhirnya nanti Mommy bisa berjalan lagi."


"Kapan hal itu di lakukan Dad?" tanya Frankie lagi.


"Minggu depan. Doakan saja-"


"Daddy...."


Suara lirihan dari Franklin terdengar dari belakang. Semuanya pun menoleh kearah Franklin. Disana  masih lengkap, terkecuali Feby dan para anak-anak yang kini di ruang bermain.


"Franklin kamu kenapa nak?" tanya Ayesha terkejut, menyadari bahwa putranya tidak baik-baik saja.


"Daddy.. izinkan aku pulang. Aku ingin menemui Misha."


"Tidak sebelum pekerjaan disini selesai." ucap Fandi datar, lalu membalikkan badannya memunggungi Franklin.


"Aku janji akan menyelesaikannya diapartemenku secepat mungkin. Atau izinkan aku pulang dulu, setelah itu aku kembali kesini."


"Sekali perintah, tetap perintah."


"Misha tinggal di panti asuhan selama ini. Sesuatu terjadi dengannya. Sungguh aku begitu mengkhawatirkannya."


Semuanya pun terkejut atas ucapan Franklin. Tidak menyangka kenapa bisa Misha berada disana. Fandi tetap dingin, walaupun sempat terdiam, namun tidak sedikitpun rasa kasihan terhadap menantunya sendiri.


"Baru tinggal di panti asuhan, kan? Lagian disana dia bisa makan dan tidur walaupun menumpang. Ah, dia juga memiliki dua kaki. Bukankah kata Neneknya dia wanita yang mandiri?"


"Daddy..."


"Bagaimana dengan Mommymu sendiri? Jika dia berada di suatu tempat, apakah kamu mengkhawatirkannya apalagi hanya memiliki satu kaki untuk bisa melakukan banyak hal?"


"Fan.." sela Ayesha tiba-tiba. "Izinkan saja Franklin-"


"Kalau dia tetap membangkang, wanita itu akan menanggung akibatnya. Aku sudah mencoba sabar padanya sejak kasus penipuan itu. Jika aku tahu Kakaknya penyebab dirimu kehilangan satu kaki sebelum pernikahan itu terjadi, maka sampai kapanpun aku tidak akan merestuinya."


"Setidaknya izinkan putramu pulang. Apakah kamu tidak melihat bagaimana tatapannya yang begitu merindukan istrinya?"


"Tolong Mommy dan Daddy jangan berdebat." sela Franklin akhirnya. "Aku, tidak apa-apa."


Air mata menetes di pipi Franklin. Semua keluarga menatapnya dan terkejut, seorang Franklin yang di kenal pendiam tanpa banyak bicara itupun mengeluarkan air mata didepan semua orang. Tanda bahwa akhirnya, Franklin pun rapuh.


Dan Franklin sadar, hanya doa yang bisa ia lakukan saat ini bagaimana ia menjaga cintanya pada Misha. Bagaimana ia percaya bahwa Allah menjadikan ia kuat bersama Misha. Dan hanya Allah lah, yang mampu membolak-balikkan hati Daddynya saat ini.


"Mishaku memang wanita mandiri seperti yang Daddy bilang," tanpa sengaja tatapan Franklin beralih ke Aifa. "Tetapi melihat Kakak barusan, mengingatkanku pada Misha. Dia begitu manja seperti Kakak. Satu jam sebelum kami berpisah, tak sedikitpun dia ingin melepasku dalam pelukannya. Ini pertama kalinya aku mengenal arti cinta." Franklin tersenyum sendu.


"Maaf, sudah lancang. Kuharap Daddy dan Mommy tidak seperti tadi. Aku hanya bisa berpikir positif, mungkin belum waktunya aku pulang. Kalau sudah waktunya, maka itu akan terjadi."

"Jika di izinkan, aku akan pulang. Kalau tidak, aku akan disini."

"Tolong siapapun, jangan sakiti Mishaku disana. Aku.." tenggorokan Franklin tercekat.

"Aku mencintainya.."

"Jika dia terluka, maka aku pun juga hancur secara perlahan."

Seperti wataknya, tak sekalipun Franklin bersikap emosi, menggunakan kekerasan fisik apalagi membangkang. Ia akan tetap berbakti pada Daddy dan Mommynya meskipun harus mengalah menahan rindu terhadap istrinya.

Setelah itu, Franklin pun membalikkan badannya untuk pergi, membuat semua keluarganya tak menyangka untuk pertama kalinya mendengar Franklin berbicara panjang mengenai curahan isi hatinya yang terdalam di balik sikapnya yang pendiam.

"Adikku suami yang baik. Sama Daddy dan Mommy saja dia bertanggung jawab dan amanah, bagaimana dengan istrinya sendiri?" Detik berikutnya Aifa meneteskan air mata nya tanpa siapapun sadari.

Franklin pun memasuki ruangan kerjanya dengan perasaan terluka. Ia pun kembali menatap telapak tangannya yang pernah di genggam sama Misha. Ia juga menyentuh bibir tipisnya yang pernah di tinggalkan jejak cinta disana oleh bibir Misha untuk pertama kalinya. Lalu Franklin pun menyentuh cincin nikahnya lagi yang tersemat di jari manisnya.

"Mimi, nggak apa-apa. Hati aku kuat kok. Aku ingin peluk kamu, tapi tidak bisa."

💘💘💘💘


Chapter ini mengandung bawang 😭😭😭


Setabah itu anakku Franklin. Paling sabar banget dari tokoh-tokoh yg aku buat.


Dan Fandi, sejak jaman dulu kalau sudah kecewa caranya kebangetan 😩


Moga kuad ya. Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca 💕


With Love 💋 LiaRezaVahlefi


Akun Instagram :
lia_rezaa_vahlefii



Tidak ada komentar:

Posting Komentar