Chapter 56 : Fikri ( Syarat Yang Menyedihkan ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 21 Januari 2020

Chapter 56 : Fikri ( Syarat Yang Menyedihkan )




Jakarta Utara, Pukul 17.00 sore.
Sepulang dari aktivitas bekerja, aku langsung menuju sebuah cafe terdekat D'Media Corp saat ini juga. Aku ingin bertemu dengan Fara dan Daniel sekarang.
Aku butuh banyak penjelasan dari Fara. Dia itu sahabatku, tumben sekali dia tidak menceritakan hal yang terpenting dalam hidupnya padaku. Khususnya soal pernikahan yang dilakukannya.
Mobil yang aku kemudikan akhirnya memasuki halaman parkiran caffe minimalis yang berada di pinggiran kota Jakarta.
Aku segera keluar dari mobilku dan memasuki caffe tersebut. Aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan. Lalu aku melihat mereka duduk dengan posisi saling bersebelahan dan memunggungiku.
Aku melangkahkan kedua kakiku mendekati mereka. Fara terlihat memeluk erat lengan Daniel. Dagunya dia tumpukan pada bahu pria itu. Terlihat sepasang pengantin baru yang lengket bagaikan perangko.
Ck, dasar memang Reva Sintia itu. Bikin ngiri saja.
"Sorry telat. Jalanan macet." ucapku tiba-tiba begitu  didepan mereka.
Aku pun menarik kursi dan duduk di hadapan mereka. Aku melihat keduanya yang kini terkekeh geli menatapku.
"Kenapa?"
"Kamu yang kenapa Fik? Datang-datang kok wajahmu kayak kusut gitu." ucap Daniel santai.
"Mas, sudah-sudah jangan ganggu dia."
"Sayang, aku itu tidak ganggu dia. Temen kamu itu kelihatannya suntuk banget."
Fara terlihat tersenyum dan mengecup pipi Daniel. "Wajar Mas. Mungkin dia lelah habis bekerja."
"Ck, lebih tepatnya lelah tidak di urus istri."
Lalu Fara tertawa. Tertawa di atas penderitaan diriku. Mereka berdua sama saja.
"Jelaslah padaku. Kenapa kalian bisa menikah."
"Ya jodohlah Fik. Jodoh itu rahasia Allah. Seseorang yang tidak terpikirkan sama sekali terkadang bisa menjadi jodoh kita. Iya kan Fara?"
"Iya Mas."
"Kamu cinta sama aku kan?"
"Alhamdulillah iya Mas. Aku mulai ada hati sama kamu."
"Alhamdulillah."
Lalu Daniel mencium pipi Fara. Aku menatap keduanya dengan jengah. Kemudian salah satu pelayan caffe datang menghampiri kami membawa buku menu makanan. Aku mulai melihat deretan secangkir coffe karena aku butuh kafein.
"Fara, Fikri. Aku ke toilet dulu ya."
"Hm."
"Mas lama?"
"Tidak sayang, Ya Allah, istriku ini takut banget di tinggal lama-lama."
"Bercanda Mas. Yasudah, Fara tunggu disini."
"Fik." panggil Daniel lagi.
"Apa?"
"Titip bidadari surgaku ya."
"Ogah banget. Kalau takut, ikat sana."
"Baper jangan dibawa-bawa kemari Fik. Ini anak kurang belaian istri nih makanya bawaannya marah mulu."
Lalu Daniel pergi dengan senyuman angkuhnya hingga membuatku sebal. Fara tertawa. Aku menatap Fara. Alhamdulillah, akhirnya dia bisa move on dariku. Aku bersyukur dengan hal itu.
Akhirnya kami sama-sama terdiam. Aku sibuk membaca deretan menu sebagai pengalihan diantara kami. Ntah kenapa sekarang semuanya sudah berubah. Dulu aku dan Reva alias Fara saat kuliah tidak yang mana jaim diantara kami. Dan sekarang?
"Fik?"
"Hm?"
"Aku mau cerita."
"Soal?"
"Pernikahanku dengan Daniel."
Aku terdiam. Akhirnya aku menatapnya.
"Kamu ingat kan sewaktu aku datang ke resepsi kamu?"
"Iya aku ingat."
"Saat itulah aku memutuskan untuk pergi ke Swiss bersama pamanku. Alhamdulillah, Papa dan Mama itu tergolong mampu dan berlebihan rezeki. Papa dan Mama menyuruhku pergi liburan bersama Paman dan keponakanku dan menanggung semua biayanya. Ntah kenapa saat itu aku terpikir negara Swiss sampai akhirnya disana aku bertemu Daniel. Dia bekerja disana. Di perusahaan asing."
"Lalu?"
"Kami berkenalan. Dia banyak bertanya tentang kehidupanku. Salah satunya pendidikanku di Indonesia. Dari situlah dia tahu kalau aku dan kamu saling mengenal. Aku juga terkejut kalau ternyata dia teman ospekmu saat di kampus."
"Apakah saat itu dia lamar kamu?"
Fara menggeleng. "Tidak. Kami hanya berteman saja. 1 bulan aku habiskan waktuku untuk berlibur disana dan berteman dengannya."
"Bukan mencari pekerjaan?"
"Tidak. Itu hanya alasanku saja."
"Bagaimana kalian bisa menikah?"
Fara menarik napas sejenak dan menghembuskannya secara perlahan.
"Semua berawal ketika kamu melamarku. Seperti yang aku bilang, Mama dan Papa melarangku menerima dirimu. Lalu mereka mencarikanku jodoh."
"Jadi, kalian di jodohkan?"
Fara mengangguk. "Iya, Mas Daniel adalah keluarga dari pihak Papa. Aku dan Mas Daniel diberi waktu 1 Minggu untuk mempertimbangkan perjodohan ini apakah lanjut atau tidak. Bila berlanjut, akad nikah kami akan diadakan di kota Samarinda. Tapi sebelumnya, aku ada bilang tentang masalaluku, kenapa aku kecelakaan dan semuanya. Supaya jelas dan tidak ada kesalahpahaman lagi seperti sebelumnya."
Aku syok dan tidak menyangka. "Jadi, setelah kamu dan keluargamu datang kerumah Bunda waktu itu, apakah setelah itu kalian menikah."
"Iya." Fara tersenyum tipis. " Setelah aku sholat istikharah berkali-kali. Mas Daniel adalah jodoh yang di berikan Allah untukku. Setelah semua kesalahanpahaman yang terjadi diantara keluargaku dan keluargamu selesai, 3 hari kemudian aku akad nikah. Em, resepsi insya Allah 2 Minggu lagi di kota ini. Makanya aku minta pendapat kamu tentang model desain kartu undanganku."
Aku mendengkus kesal. "Kalau gitu selamat deh. Tapi gara-gara kamu Afrah dan Ayah jadi salah paham."
"Ya kan aku tidak tahu kalau saat itu Ayah kamu datang. Lagian salah sendiri, kamu nikahin Afrah tujuannya jelek banget. Kirain kamu tulus, rupanya malah mencari tahu dia itu aku atau bukan. Kata Daniel kamu itu anggap Afrah sepertiteka-teki kepingan puzzle."
"Fara-"
"Sudahlah tidak usah dibahas. Intinya pelajaran buat kamu supaya tidak sedudzon sama orang. Lagian Mas Daniel baru cerita tentang niat burukmu 2 bulan yang lalu tadi malam kok. Terus-"
Aku sudah tidak mendengar ucapan Fara lagi ketika tanpa diduga kedua mataku melihat Bunda Mertuaku menatapku marah. Aku langsung berdiri tapi Bunda sudah pergi.
"Ya Allah, salah paham lagi."
****
Rasa panik membuatku ingin cepat pulang ke alamat rumah Afrah saat ini juga. Lagi-lagi Bunda salah paham denganku. Setelah aku mengetahui semua tentang Fara dan Daniel secara jelas, aku janji pada diriku sendiri untuk menghindari Fara agar tidak terjadi salah paham lagi diantara kami.
Aku juga tidak mengerti. Kenapa disaat seperti tadi ntah kenapa Ayah, Bunda, atau Afrah paling sering melihatku sedang bersama Fara. Suatu kebetulan yang pada akhirnya membuat kesalahpahaman.
Mobil tiba di depan halaman rumah Afrah. Aku segera keluar dari mobilku dan memasuki halaman rumah Afrah. Tiba-tiba Ayah berdiri didepan pintu sambil bersedekap.
"Asalamualaikum Ayah."
"Wa'alaikumussalam."
"Ayah, aku-"
"Ngapain kamu kesini?!"
Aku terdiam. Aku meneguk ludahku dengan gugup. Tak hanya itu, di tangan Ayah ada raket listrik pemburu nyamuk. Jangan bilang Ayah mau nyerang aku pakai itu.
"A-aku ingin ketemu Afrah."
"Setelah berduaan dengan Fara di Caffe?"
Tuh kan benar. Apa aku bilang. Pasti Bunda salah paham lagi. Aku berusaha untuk sabar.
"Ayah-"
"Kata Bundamu pernikahanmu dengan Fara batal. Tapi kenapa putranya masih bersama wanita lain yang bukan mahramnya?"
"Ayah, itu tidak seperti yang Ayah pikirkan."
"Benarkah? Sayangnya kamu sudah menghancurkan kepercayaan kami sejak awal!"
"Ayah-"
"Pergi dari sini!"
"Tapi Ayah, saya, saya suami Afrah. Bukankah Afrah harus berbakti sama saya"
"Berbakti dengan suami dzolim seperti mu?!"
Tiba-tiba Ayah memajukan langkahnya dan menatapku tajam. Tak hanya itu, dengan santainya Ayah malah menekan tombol on hingga lampu raket listrik pemburu nyamuk itu menyala merah.
"A-apa yang Ayah lakukan?"
"Berusaha mengusir suami durhaka sepertimu!"
"Ayah.. tolong saya mohon Ayah. Biarkan saya bertemu dengan Afrah."
"Tidak!"
"Afrah sedang hamil. Izinkan saya melihat keadaannya."
"Pergi dari sini!"
"Ayah, please.."
"Pergi! Sebelum saya-"
"Izinkan saja untuk hari ini Ayah."
Tiba-tiba suara Bunda terdengar. Beliau mendekati kami. Aku ingin menyalaminya dan mencium punggung tangannya. Tapi aku tersenyum miris, Bunda menolaknya seolah-olah tidak sudi denganku.
"Kenapa Bun? Jangan sampai kita tertipu lagi sama wajahnya yang sok sedih ini. Dia sudah membuat putri kita nyaris keguguran!"
"Bunda tahu. Tapi tadi siang Afrah mengigau dalam tidurnya. Dia menyebut nama Fikri. Izinkan dia ketemu walaupun hanya sebentar."
"Tapi Bunda. Ayah tidak setuju!"
"Demi Afrah. Tolonglah. Dia sedang hamil cucu kita. Jangan sampai Afrah stress."
Lalu Bunda pergi berlalu meninggalkan kami. Tapi secepat itu aku pergi memasuki rumah. Tiba-tiba aku terkejut, Ayah menarik kerah bajuku hingga aku temudur kebelakang dan terjatuh. Aku meringis ketika pinggulku mengenai tanah.
"Tidak semudah itu kamu bertemu dengan putri saya!"
"Ayah, please.."
"Ada satu syarat!"
Akhirnya dengan lemah aku berdiri. Tubuhku lelah. Aku hanya ingin melepas rindu dan melihat keadaan Afrah. Bahkan saat ini aku merindukan calon buah hatiku didalam rahimnya.
"Apa syaratnya Ayah?"
"Karena ini permintaan istri saya, Maka saya izinkan kamu! Sela Afrah hamil dan tinggal disini, Kamu boleh kemari melihatnya. Tapi setiap sebulan sekali dan itu hanya 2 jam."
Aku syok. "A-apa?"
"Mau atau tidak?!"
Dengan cepat aku mengangguk daripada aku tidak bisa bertemu Afrah sama sekali.
"Bagus." tanpa diduga Ayah mengarah raket listriknya itu kewajahku. "Kalau sampai kamu melanggar syarat dari saya, saya tidak akan segan-segan membuatmu kesetrum seperti nyamuk-nyamuk ini! KAMU MENGERTI?!"
"I-iya Pak."
Lalu setelahnya, dengan cepat aku memasuki rumah Afrah. Aku segera menuju kamarnya dan membuka pintunya. Aku bernapas lega. Aku memegang degup jantungku.
Kedua mataku menatap Afrag yang sedang duduk berdzikir sambil memejamkan kedua matanya. Rasa rindu ini semakin terasa didalam diriku dan itu hanya 2 jam saja.
Oke. Tidak apa-apa. Satu bulan hanya 30 hari dan bertemu 2 jam. Aku hanya bisa tersenyum miris sampai akhirnya aku terpikir dua hal.
Ayah yang kejam padaku atau,
Author yang sudah membuat ceritaku ini yang begitu menyiksa diriku?
Awas saja kalian tertawa! 
🥀🥀🥀🥀
Syukurin apa adanya Fik. Yang penting ketemu Afrah.
  Iya kan?
😄😄😄
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii


Lanjut, Chapter ENDING. KLIK LINK DIBAWAH INI :

https://www.liarezavahlefi.com/2020/01/ending-afrah-ana-uhibbuka-fillah.html



3 komentar: