Chapter 55. Fikri : ( Kepercayaan Yang Sudah Hilang ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 21 Januari 2020

Chapter 55. Fikri : ( Kepercayaan Yang Sudah Hilang )




D'Media Corp. Pukul 11.58 siang. Jakarta Utara. Keesokan harinya.
Aku menatap jalanan ibukota yang selalu padat dibawah sana. Sambil menunggu seorang pria yang kata Rezki ada perlu denganku, membuatku akhirnya terdiam sambil memikirkan Afrah.
Tidak adanya dia disampingku membuatku tersiksa. Sudah 12 jam berlalu, aku berusaha membiasakan diri tanpa adanya Afrah di sisiku. Aku berusaha membiasakan diri tanpa adanya Afrah yang selalu memenuhi kebutuhanku.
Semalam aku mencoba menghubunginya. Tapi nomor ponselnya tidak aktip. Kata Afrah beberapa hari yang lalu, ponselnya dipegang sama Ayahnya. Kalau mengingat Ayah, seketika hatiku juga nyeri.
Hatiku nyeri mengingat kejadian kemarin. Aku tidak menyangka Fara akan datang di waktu yang tidak tepat meskipun hanya kebetulan. Aku jngin menjelaskan semuanya pada Ayah, tapi Ayah memotong pembicaraanku. Begitupun Fara yang berusaha melakukan hal yang sama tapi Ayah menolak penjelasan dari kami.
Sekarang aku sadar, ini hukuman buatku yang dulunya aku juga pernah memotong pembicaraan Afrah saat dia ingin berbicara padaku. Tiba-tiba ponselku berbunyi, nama Ayah terpampang di layar ponselku. Aku pun segera menerima panggilan tersebut.
"Asalamualaikum, Iya Ayah?"
"Wa'alaikumussalam. Fik, semua baik-baik saja?"
Aku menghela napas. "Tidak. Seperti yang Ayah ketahui, Mertuaku membawa istriku itu pulang kerumahnya."
"Wah kasian sekali ya dirimu nak. Ya Allah, bayi besar yang kurang kasih sayang."
Aku mencoba sabar. Ayah memang gitu, kalau berbicara denganku selalu saja tidak serius. Berbeda dengan Bunda yang malah langsung ke intinya.
"Itu namanya ujian rumah tanggamu Fik, jalani saja. Lagian semua ini kesalahanmu kan?"
"Iya, Fikri tahu."
"Kami sudah berbicara baik-baik dengan mertuamu. Ayah Afrah tidak banyak komentar. Mereka hanya berbicara seperlunya lalu memutuskan panggilan. Mereka sudah kecewa denganmu Nak. Mereka kecewa karena dari awal niatmu yang sudah tidak baik dan mempermainkan pernikahan."
"Berarti Ayah mertuaku sudah tahu bahwa Fara adalah Reva?"
"Sudah. Bunda kamu yang jelasin semuanya secara detail. Dari awal sampai akhir. Bahkan pernikahanmu yang batal saja mereka sudah tahu."
"Tapi kenapa mertuaku tidak mempercayai omonganku dan Fara?"
"Ayah tidak tahu Fik. Intinya mereka kecewa sama kamu. Kalau kamu sudah merusak kepercayaan seseorang, tentu saja orang tersebut akan marah. Afrah itu anak perempuan, dia anak satu-satunya dari mertuamu. Ketika kamu menikahinya 2 bulan yang lalu, itu artinya Ayah mertuamu sudah menyerahkan kepercayaan padamu. Kamu harus tahu itu. Semua Ayah akan marah kalau putrinya di sakiti oleh pria lain. Bila Ayah memiliki anak perempuan lalu di sakiti, mungkin Ayah akan melakukan hal yang sama. Atau begini saja, bila suatu saat kamu mempunyai anak perempuan. Lalu dia disakiti pria lain, apakah kamu akan diam saja?"
Aku terdiam. Kedua mataku berkaca-kaca. Rasa penyesalan ini akan terus menghantuiku yang tak kunjung usai. Tentu saja aku tidak mau bila suatu saat aku mempunyai putri tapi putriku di sakiti pria lain.
"Coba berperasangka baik saja Fik. Mungkin Mertua kamu membawa kembali putrinya agar kamu bisa introspeksi diri dengan kesalahan kamu. Ini hanya masalah waktu. Kamu harus sabar menghadapinya. Itu saja. Ayah yakin, Afrah mencintaimu, dia akan kembali padamu."
Aku mengangguk. "Terima Kasih yah. Tolong doakan yang terbaik untuk hubungan rumah tangga Fikri."
"Ayah dan Bunda selalu mendoakanmu. Tolong perbaiki kesalahan-"
"Fikri.. Fikri.. Bayi besar, aduh maaf ya Bunda ikut nimbrung obrolan kalian."
Aku terkejut. Tiba-tiba Bunda mengambil alih ponsel Ayah dan suaranya terdengar panik.
"Iya Bunda. Ada apa?"
"Barusan Bunda hubungin Bunda mertua kamu. Katanya mantu Bunda itu hamil ya?"
"Em iya Bun."
"Alhamdulillah... Ya Allah, akhirnya bayi besar Bunda sudah dewasa ya."
Aku tersenyum tipis. Iya Bunda benar. Aku tidak menyangka kalau sekarang sudah menjadi calon Ayah meskipun saat ini aku sedang menahan rindu pada Afrah.
"Kata Bunda mertuamu Afrah sudah 1 bulan?"
"Alhamdulillah iya Bun."
"Alhamdulillah. Kamu harus sabar ya Nak. Introspeksi diri dulu sama kesalahan yang kamu perbuat, setelah itu tolong datangin Afrah. Kata Bunda mertuamu, Afrah itu sekarang murung didalam kamar. Dia suka menyendiri. Mungkin dia kepikiran kamu. Istri kalau lagi hamil itu pengennya dekat sama suami. Bunda dulu gitu waktu hamil kamu."
Aku terdiam. Rasanya hatiku teriris pisau tajam. Seolah-olah aku dan Afrah sebatin. Apa yang dia rasakan, aku juga merasakan hal yang sama. Aku tahu dia begitu manja denganku. Disaat seperti ini, aku tahu dia akan menangis sendirian. Tapi bila mengingat kondisinya yang tersakiti dan cemburu pada Fara, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menuruti semua ucapan Ayah mertuaku demi kebaikan Afrah dan kondisi kehamilannya.
"Iya Fikri ngerti. Fikri akan terus berusaha membujuk Ayah mertua Fikri untuk bisa membawa Afrah kembali pulang."
"Iya Nak saatnya kamu berjuang terhadap cintamu. Yasudah, Bunda tutup panggilan ini ya.  Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Lalu aku terdiam. Bunda benar, saatnya aku berjuang. Meskipun tidak mudah. Ayah mertuaku itu seperti sebuah rintangan yang harus aku hadapi demi bisa mengembalikan kepercayaannya padaku.
💙💙💙💙
D'Media Corp. Pukul 16.30 sore. Jakarta Utara.
Aku menatap seorang klien yang berasal dari kota Kalimantan Barat. Dia adalah salah satu owner pemilik stasiun televisi berbayar yang membisniskan usahanya di bidang siaran TV Kabel.
"Ini proposalnya Pak Novan. Silahkan di cek."
Dia mengangguk dan terlihat serius. Lembar demi lembar dia membacanya secara seksama. Sembari menunggu, aku memilih menatap kelain dan memikirkan Afrah. Sedang apa dia dan sudah makan atau belum.
"Ini semua biayanya ya Pak Fikri?"
Aku kembali menatap Pak Novan. 
"Iya Pak Novan. Pada dasarnya channel kami bisa di tangkap secara gratis oleh antena TV. Tapi karena stasiun anda merupakan penyedia layanan TV berbayar, maka saya pun meminta bagian bayaran dari penyiaran channel saya di layanan anda. Sebagai timbal baliknya, kami akan memberikan kualitas video beresolusi HD. Anda cukup membayar 500 juta perbulan."
"Baiklah saya setuju."
Lalu tatapanku beralih ke Rezki yang kini mengangguk patuh. Rezki memberikan surat perjanjian bermaterai untuk di tandatangani oleh Pak Novan. Akhirnya kerja sama kami terjalin dengan baik. Aku dan Pak Novan saling berjabat tangan.
"Terima kasih Pak Fikri. Senang berkerja sama dengan Anda."
"Terima Kasih. Sukses juga untuk Pak Novan."
"Aamiin. Permisi Pak, Asalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Lalu dia melenggang pergi. Aku mengecek jam dipergelangan tanganku. Saat nya jam pulang.
"Pak?"
"Ya?"
"Noh ada Mbak Fara."
Tatapanku beralih kearah pintu. Kenapa Fara kemari lagi? Tunggu..
Ya Allah, aku syok. Aku terkejut. Aku terkejut bukan karena Fara, tapi seorang pria yang ada di sampingnya.
Tanpa diduga keduanya masuk keruanganku. Keduanya terlihat berpegangan tangan dan terlihat dengan jelas cincin pernikahan tersemat di jari manis mereka.  Aku syok.
"Daniel?"
💙💙💙💙
Satu per satu semakin jelas...
Kepercayaan seseorang bila dihancurkan akan sulit untuk dikembalikan..
Petik hikmahnya dari chapter kemarin dan hari ini..
Makasih sudah baca dan menunggu Updatean ini.. 🤗
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
Lanjut Chapter 56, KLIK LINK DI BAWAH INI ;

1 komentar: