Chapter 53 : Fikri ( Melepas Rindu ) - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Selasa, 21 Januari 2020

Chapter 53 : Fikri ( Melepas Rindu )



Jakarta Utara. Pukul 22.30 Malam.
Sudah setengah jam berlalu. Taksi blue bird yang aku naiki ini memang melaju cepat dari apartemenku. Tapi didepanku sedang macet. Aku duduk gelisah karena kepikiran Afrah.
"Maaf Pak. Apakah macetnya masih lama?" tanyaku padanya.
"Wah saya tidak tahu Mas. Saya juga tidak bisa buru-buru."
Aku memperhatikan jam di radio dasboard taksi ini. Pukul 22.30 malam. Sudah sangat larut untuk bisa mendatangi Afrah dirumah. Sekarang aku bingung aku harus bagaimana.
"Wah Mas, sepertinya didepan ada kecelakaan. Kayaknya bakalan macet panjang dan memakan waktu yang lama nih."
Aku berusaha untuk sabar. "Jadi gimana Pak?"
Suara petir menggelegar. Hujan rintik mulai turun. Tubuhku sedang sakit dan demam. Aku tidak mungkin berhujan-hujanan.
"Kalau sampean buru-buru bisa turun disini saja Mas. Tidak apa-apa. Saya tidak perlu dibayar."
Aku terkejut. "Apa? Tapi Pak-"
Lalu aku terdiam. Jika aku berkeras tetap disini sampai macet itu selesai, tentu saja akan memakan waktu yang lama. Kalau begitu kapan sampai ke alamat rumah Afrah?
Sedangkan saat ini, Ya Allah.. akibat buru-buru dan panik aku melupakan dompet dan ponselku. Kalau begini caranya bagaimana aku bisa membayar ongkos taksinya? Akhirnya aku mengalah.
"Yasudah Pak. Saya turun disini."
"Tapi diluar hujan Mas."
"Tidak apa-apa Pak."
"Kalau begitu saya minta maaf ya Mas. Aduh saya tidak enak sama sampean."
Aku tersenyum miris. "Tidak perlu khawatir Pak. Lagian kemacetan ini bukan kehendak kita kan? Saya pergi Pak. Terima kasih atas tumpangannya."
Tidak ada kata lagi yang aku ucapkan setelah aku keluar dari taksi ini dan menerobos hujan deras yang begitu dingin. Padahal aku sudah sakit. Tapi aku tidak perduli lagi karena aku merindukan Afrahku.
Afrah.. tunggu aku, aku akan pulang.
****
Perumahan Komplek Pelita Indah Blok A. Jakarta Utara. Pukul 00.00 dinihari.
Buruh waktu 90 menit kedua kakiku melangkah demi langkah menuju rumah Afrah. Bayangkan saja, ini pertama kalinya dalam hidupku aku berjalan kaki sebanyak ratusan kilo meter. Mirisnya lagi, dibawah guyuran hujan deras dengan angin yang dingin dimalam hari.
Selama berjalan, aku membayangkan wajah Afrahku yang aku rindukan sampai-sampai rasa lelah ditubuhku tidak terasa.
Aku terdiam sesaat sambil menatap diriku yang sudah basah kuyup. Wajahku pucat. Bibirku gemetar kecil karena kedinginan.
Kedua kakiku sudah berada diteras rumah Afrah. Aku mengulurkan tanganku untuk mengetuk pintunya. Namun hal itu tidak jadi aku lakukan. Aku ragu. Ragu dengan situasi yang terjadi selama 1 bulan ini. Terakhir aku kemari Ayah Afrah memukulku bahkan mengusirku.
Tiba-tiba aku menyipitkan kedua mataku. Aku syok. Aku melihat Afrah tidur sambil terduduk disofa.
Ya Allah.. dia.. dia nyata.
Bunda benar. Afrah baik-baik saja. Aku tidak mau menunda waktu lagi. Aku pun mengetuk pintunya sambil melirik kearah jendela. Afrah benar- pulas sampai tidak mendengar ketukan pintu dariku. Ntah dorongan darimana aku malah memegang kenop pintu dan membukanya.
Aku terkejut. Dalam hati aku beristighfar. Bisa-bisanya Afrah teledor tidak mengunci pintunya. Bagaimana jika ada orang jahat yang berniat masuk dan mencelakainya? Naudzubillah min dzalik.
Hujan diluar masih turun dengan deras. Dengan perasaan berkecamuk, deg-degan, takut, rindu, dan rasa penyesalan, aku memberanikan diri mendekatinya.
Tapi langkahku kembali terhenti. Aku menatap segelas susu diatas meja yang belum tersentuh sama sekali dan masih terisi penuh. Disebelah gelas itu, ada kemasan kotak susu dan termos mini bergambar pelangi.
Tanganku bergetar hanya untuk meraih kotak susu itu. Ntah kenapa, air mata menetes di pipiku begitu membaca kotak susu itu.
Susu ibu hamil
Ya Allah..
Afrahku. Afrahku hamil. Ya Allah, dia.. istriku sedang mengandung. Mengandung buah cintaku bersama Afrah. Ya Allah aku tidak menyangka. Secepat itu Allah memberi kami calon buah hati.
Tidak ada yang bisa aku lakukan ketika saat ini aku bersimpuh dihadapannya. Aku menangis di pangkuannya dengan rasa penyesalan dan dosa besar padanya. Afrah bergerak kecil. Aku tahu dia terbangun.
"Mas?"
Aku mendongakkan wajahku hanya menatapnya yang sedang kebingungan karena habis terbangun sambil mengusap kedua matanya.
"Astaghfirullah Mas!"
Tanpa diduga Afrah berdiri. Dia ikut bersimpuh bahkan memegang kedua pipiku.
"Mas, Ya Allah. Kenapa Mas basah? Kenapa Mas hujan-hujanan? Sudah Afrah bilang kan kalau kehujanan dijalan setidaknya berteduh dulu."
"Afrah-"
"Ya Allah, badan Mas demam. Sini Mas duduk."
"Afrah, aku-"
"Afrah paling tidak bisa lihat Mas sakit."
"Tapi Afrah-"
Afrah tidak menggubrisku. Dia malah membantuku duduk di atas sofa. Tanpa diduga Afrah masuk kedalam kamar. Aku hendak mencegahnya. Tapi dia begitu panik karena tidak ingin aku kenapa-kenapa.
Lalu dia kembali datang membawa pakaian dan handuk bersih. Kemudian dia masuk lagi kedalam dan membawa baskom air berisi air hangat dan handuk kecil.
Aku tidak bisa berkata-kata ketika tanpa diduga Afrah malah memegang kedua kakiku. Dengan perlahan dia membersihkan kedua telapak kakiku yang kotor dan dipenuhi butiran-butiran pasir jalanan.
Tak hanya itu, dengan perlahan Afrah juga menyuapkan sesendok teh hangat kearah bibirku yang sempat dia buat. Dalam hati rasanya aku ingin menangis dan menyesal karena sudah menyia-nyiakannya.
Aku terdiam. Hanya karena Afrah saja aku lupa memakai alas kaki begitu keluar dari apartemen setelah Bunda berkata bahwa Afrah baik-baik saja.
Dengan telaten dia membersihkan kakiku. Tak hanya itu, dia malah membantu membuka pakaian tidurku.
"Ayo Afrah antar ke kamar. Mas harus ganti baju. Nanti Mas sakit. Nanti Mas bisa masuk angin. Afrah tidak mau Mas sampai sa-"
Tidak ada kata yang terlontar. Aku malah menyentuh bibirnya menggunakan jari telunjukku. Lalu kami terdiam. Aku menatapnya hingga kami saling berpandangan satu sama lain. Saling melepas rasa rindu.
Dan air mata menetes di pipinya. Aku menghapusnya. Aku cium keningnya hingga kami saling memejamkan mata dan menempelkan dahi.
"Aku hancur tanpamu ketika aku mengira kamu sudah tiada waktu itu." bisikku pelan padanya.
"Afrah memang sudah tiada." bisiknya lagi.
Dengan perlahan Afrah berdiri. Dia menjauhiku dengan memunggungiku.
"Afrah memang bernyawa. Tapi hati Afrah serasa kosong dan sudah tiada setelah suami yang Afrah cintai membagi cintanya kepada wanita lain."
"Setiap hari, setiap detik bahkan setiap waktunya, Afrah selalu memikirkan Mas. Afrah memaksakan diri untuk berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi Afrah tidak bisa. Afrah.."
"Afrah adalah hamba Allah yang sudah rapuh dan terluka. Afrah sudah membuat banyak orang-orang didekat Afrah bersedih. Nenek Afrah dari Aceh datang berkunjung. Lalu beliau meninggal ketika syok akibat terkena serangan jantung begitu mengetahui yang semuanya."
"Afrah, tolong dengarkan aku. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku sadar aku salah."
"Afrah bisa saja bersikap tidak peduli sama Mas. Tapi Afrah sulit untuk melakukannya."
Aku tak banyak berkata ketika saat ini aku malah memeluknya dari belakang.
"Kumohon maafkan aku. Aku sudah dzolim padamu. Aku takut murka Allah datang menimpaku sebelum terlambat."
Aku membalikkan badannya. Aku memeluk erat pinggulnya. Tidak sedikitpun aku ingin berjauhan lagi dengannya.
"Setelah aku mengira kamu telah tiada. Aku benar-benar syok. Selama 30 hari aku merasa dihantui ketakutan dan rasa bersalah. Tapi begitu Bunda bilang ada berkomunikasi denganmu, aku langsung kemari. Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku setelah kepergianku ke Jepang?"
Dan lagi, Afrah menjauh diriku. Dia memundurkan langkahnya.
"Maaf. Ponsel Afrah hilang ketika Afrah pergi kepasar. Afrah tidak hapal nomor ponsel Mas. Saat ini Afrah tidak memegang ponsel."
"Kenapa Ayah dan Bunda tidak merespon Ayah Bundaku juga?"
"Mereka marah. Mereka sudah tidak menerima Mas lagi setelah mengetahuinya. Mereka ingin kita berpisah. Mas sudah dzolim padaku. Tapi-"
"Tapi putri saya itu begitu mencintaimu!"
Aku terkejut ketika Ayah mertuaku berdiri didepan pintu. Sepertinya Ayah baru saja pulang dari pengajian diluar kota bersama Bunda.
Ayah dan Bunda Afrah menatapku marah. Aku ingin menyalami Bunda, tapi mertuaku itu tidak sudi. Dia malah masuk kedalam kamar tanpa sepatah katapun. Ayah mendekatiku dan berdiri dihadapanku.
"Jika Afrah meminta cerai padamu, dia bisa melakukannya. Dia begitu baik padamu, tapi kamu mendzoliminya dan menyakitinya."
Kepalaku terasa pusing. Badanku yang sedang demam semakin terasa sakit.
"Ayah, maafkan aku." dengan perlahan aku meluruh kelantai. Aku menundukkan kepalaku. "Pernikahan itu batal. Aku tidak menikahi Fara."
"Kamu pikir saya percaya padamu? Tentu saja tidak!"
Tiba-tiba Afrah mendekati Ayah.
"Ayah, Afrah-"
"Lebih baik kamu diam saja Afrah!"
Aku semakin cemas."Kumohon maafkan aku Ayah. Percayalah padaku, aku-"
"Dari awal saja kamu sudah salah! Kamu menganggap pernikahan itu hanyalah mainan! Saya pikir kamu menikahi Afrah karena Allah dan karena ibadah. Tapi ternyata? Seorang pria sepertimu tidak pantas menjadi pendamping putri saya!"
"Ayah-"
"Kamu sudah menorehkan luka untuk keluarga kami. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini!"
Aku terkejut ketika Ayah malah menarik kerah bajuku kemudian mendorongku hingga ke teras rumah.
"Ayah, Afrah mohon jangan begitu. Mas sedang sakit."
"Biarkan saja dia! Bukankah dia memiliki istri yang bisa merawatnya?!"
"Tapi Ayah-"
"Kamu lupa kalau pelakor itu ada disebelah rumah kita Afrah?! Pria brengsek itu bisa saja kerumah sebelah mendatangi istri keduanya!"
"Ayah, Afrah tidak mau Mas kenapa-kenapa. Dia memang salah tapi-"
"TAPI APA?!"
Aku syok begitu melihat Ayah membentak Afrah dengan emosi. Aku ingin mencegahnya, tapi tubuhku sudah terlalu lemah.
"JADI ANAK PEREMPUAN JANGAN LEMAH TERHADAP PRIA PENIPU SEPERTI DIA AFRAH!"
"Ayah-"
"Kamu lupa kalau dia sudah melalaikan amanah Allah selama ini?! Tidak ada orang tua manapun yang rela putrinya di madu Afrah. KAMU HARUS INGAT ITU!"
Afrah ingin mendekatiku. Tapi Ayah mencegahnya. Semarah apapun Afrah padaku, tapi dia tidak bisa melihat keadaanku seperti ini. Afrah sudah menangis. Dia memeluk erat perutnya sendiri hingga membuatku teringat calon buah hatiku.
Aku langsung berdiri. Aku mendekati Afrah dan menarik pergelangan tangannya.
"Lepaskan dia!" ancam Ayah.
"Maafkan aku Ayah. Aku ingin membawa Afrah pulang ke apartemenku."
"Afrah! Cepat masuk kamarmu. Ini perintah!" kesal Ayah pada Afrah.
"Izinkan aku membawa Afrah malam ini Ayah. Aku ingin meminta hakku padanya. Sekeras apapun Ayah melarangku, apakah Ayah mau kalau malaikat bisa melaknat Afrah hingga subuh jika Afrah tidak memenuhi kewajibannya padaku sebagai seorang istri?"
Ayah terdiam seribu bahasa. Ayah menahan amarahnya. Tanpa diduga Ayah malah membalikan badan dengan mengepalkan kedua tangannya.
Aku sengaja mengatakan hal itu. Tidak ada cara lain. Lalu aku menatap Afrah yang masih sesenggukan. Aku mendekatinya dan hendak menghapus air mata di pipinya, tapi Afrah menjauh. Aku hanya bisa bersabar dan tersenyum miris.
"Ayo kita pulang. Pakai cadarmu dulu di kamar."
"Kenapa tidak meminta hak Mas pada Fara saja? Kalian sudah menikah."
"Apakah kamu tidak mempercayaiku Afrah? Aku tidak menikahinya."
Afrah menggeleng lemah. "Maaf, kepercayaan Afrah pada Mas sudah tidak ada lagi."
Aku tidak memerlukannya jawabannya. Aku malah mendekatinya dan menyentuh pipinya hingga mengusap bibirnya. Aku menatap intens dan tersenyum sedikit angkuh.
"Terserahmu. Tapi aku tidak akan pernah menyerah meminta maaf padamu agar kamu mempercayaiku lagi."
Aku mendekatkan wajahku padanya. Dia sudah merona merah.
"Aku memang sakit Afrah. Aku butuh kamu merawatku sampai sembuh. Bukan siapapun. Sekarang, cepat ganti pakaian dan pakai cadarmu. Minta ponselmu pada Ayah untuk memesan taksi online." bisikku pelan padanya.
"Dan penuhi kewajibanmu setelah tiba di apartemen nanti."
Tidak ada yang bisa Afrah lakukan selain hanya bisa diam dan menurut meskipun wajahnya terluka.
Ya aku tahu aku salah. Semarah apapun Afrah, tentu saja dia tidak mau melalaikan kewajibannya terhadap diriku ini.
Dan kalian yang baca ceritaku ini, asal kalian tahu, malam ini aku menang banyak.
Jadi simpan saja panci, kayu, besi dan barang-barang kalian jika ingin menabokku. Orang tampan mah bebas.
😏
****
Sombong banget kamu Fik. Pembacaa pada gemes pengen mutilasiii kamuuuu.
Wanita Solehah macam Afrah memang tidak bisa melalaikan kewajibannya sih ya, gak bs juga kita suruh dia pergi macam Aiza dkk 😂
Tunggu aja kamu Fik. Tunggu.. !!
Readers sudah siap pegang panci dan besi kok 😆
Oh iya, sebenarnya part ini akan ada Fara sesuai spoiler di snapgram author. Tapi kepanjangan. Insya Allah nanti akan di bagi 2 chapter ya ;)
Makasih sudah baca. Sehat selalu buat kalian.
With Love 💋
LiaRezaVahlefi
Instagram
lia_rezaa_vahlefii
Wattpad khusus Fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi
Lanjut Chapter 54. KLIK LINK DI BAWAH INI :

3 komentar:

  1. Sungguh ini cerita bikin sedihhh :(

    BalasHapus
  2. Sungguh ini cerita bikin sedihhh :(

    BalasHapus
  3. Kata terakhirnya nurun ke keponakan si raihan yg tingkat pd-nya akut.xixixi

    BalasHapus