Chapter 37 : Mencintaimu Dalam Doa - Hai, Assalamu'alaikum Readers

Senin, 24 Mei 2021

Chapter 37 : Mencintaimu Dalam Doa


 

Surakarta, Pukul 07.00 pagi. Sebulan kemudian.


Seperti menjadi rutinitasnya, Misha berjalan kaki untuk menuju tempat kerjanya yang baru. Sudah sebulan berlalu, setelah ia berhenti bekerja di kedai kopi Van Java milik Anita semata-mata agar menghindari Hamdan agar tidak mencari dirinya disana, Misha memutuskan bekerja disebuah laundry pakaian guna memenuhi kebutuhan ekonominya dirumah.


Kabar baiknya, Hamdan juga bekerja disebuah rumah sakit di kota Surakarta meskipun hanya sebagai office boy. Cuaca kali ini sangat cerah. Matahari mulai meninggi. Hawa udara pagi masih terasa sejuk di penciuman Misha.


Tint! Suara klakson mobil terdengar dan berhenti tepat disamping Misha. Misha pun menoleh ke samping bahkan terkejut begitu mengetahui si pemilik mobil. Dengan mempercepat langkah, Vita keluar dari mobilnya.


"Misha!"


Misha sendiri bingung harus bereaksi apa. Apalagi saat ini Vita memeluknya dengan erat.


"Kamu kemana selama ini? Kita satu kota loh, masa iya kayak LDR an lagi?"


"Aku, masih di sini, tidak kemana-mana."

"Kamu baik-baik, saja kan Mi? Kenapa tidak pernah merespon chatku? Bahkan nomor ponsel kamu tidak aktip. Kamu ganti nomor ya?"


Misha hanya bisa terdiam. Setelah secara diam-diam Vita memberi tahu hal-hal pribadi mengenai dirinya dengan Franklin apakah pantas wanita itu di katakan sahabat? Mungkin ia masih bisa memaklumi kalau wanita itu menyukai Franklin. Menyukai seseorang tidaklah salah, yang salah adalah mengapa Vita tega memberi tahu semua kebiasaan dirinya bahkan masalalunya? Pantas saja dengan mudahnya Franklin mengetahui semua tentang dirinya.


"Maaf beberapa hari ini aku sibuk, aku, pergi dulu, takut terlambat bekerja."


"Sebentar," Vita mencegah kepergian Misha dengan memegang lengannya. "Kamu sudah nggak kerja lagi di tempat Mbak Nita?"

"Tidak."


"Terus sekarang kerja dimana? Kemarin aku kerumahmu, tapi rumahmu di jual. Kok bisa? Kenapa kamu nggak cerita sama aku, Mi?"


Wajah Vita memelas. Tapi Misha berusaha menahan diri agar tidak kalah terhadap situasi. Ia pun memaksakan senyumnya.

"Sekarang aku bekerja di sekitar sini. Maaf Vita, aku tidak bisa lama-lama. Takut terlambat apalagi jika bosku sampai memotong uang gajiku."


Detik berikutnya Misha sudah pergi. Vita terdiam menatap kepergian Misha. Ia sadar, kalau sahabatnya itu menghindarinya. Ia sendiri juga bingung, ada apa dengan Misha? Apakah ia ada salah dengan sahabatnya itu?


💘💘💘💘


PT FR Food Jaya, Pukul 12.00 siang.
Surakarta.


"Jadi bagaimana kabar Misha sekarang?"


"Aku tidak tahu Kak."


"Kamu nggak mau usaha cari dia? Please Franklin, aku merasa Misha itu suka sama kamu. Apakah kamu tidak merasakan hal itu sama dia?"


Seketika Franklin terdiam. Benarkah Misha menyukainya? Jika benar, apakah ia pantas membalas perasaan wanita itu sementara Frankie dan Rex sudah mengancam agar wanita itu tidak mendekatinya?


Franklin juga sadar, terakhir ia melihat Misha, dari raut wajahnya saja wanita itu sudah ketakutan padanya. Rahasia waktu itu belum terungkap, sementara wanita itu sudah pergi ntah kemana.


"Aku masih tidak tahu harus apa."


"Dek, kamu itu ya, kalau kamu bingung, serahkan saja semuanya pada Allah, Tawakal. Jika kamu dan Misha di takdirkan bersama, Allah akan membuat itu terjadi. Tapi kamu juga harus berusaha. Cobalah untuk mendekatinya, cari tahu yang sebenarnya, selama kamu nggak mencari tahu tentang hati seorang wanita, kamu nggak bakal menemui cinta dari apalagi calon pasangan hidup."


"Aku masih memikirkan hal itu. Tapi aku tidak janji."


Suara helaan napas terdengar, Franklin sadar, Kakaknya itu mungkin sudah gemas sama dirinya. Begitupun kalian yang baca ini kenapa Franklin nggak bergerak-gerak sejak kemarin.


"Terserah. Tapi Aifa yakin, Franklin mungkin mulai suka dengan Misha. Cuma masih bingung gimana cara memulainya, iya kan? Franklin itu pria. Harus berani, salah satu diantara kalian harus ada yang tergerak berusaha saling bersama setelah berdoa pada Allah. Cintai dulu Allah, sebagaimana kewajiban kita, maka Allah akan mendatangkan yang terbaik buat Franklin."


"Terima kasih sarannya, Kak."


"Hm, iya, sama-sama. Pokoknya Aifa yakin seyakin-yakinnya, kalau tidak, mana mungkin kamu nggak kepikiran dia sampai sekarang. Aifa tutup ya, jangan lupa sholat Zuhur dan makan siang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Seketika Franklin terdiam. Tanpa sadar ucapan Aifa yang terakhir benar, akhir-akhir ini ia memang kepikiran Misha.


Franklin sudah mematikan ponselnya, ia tersenyum tipis. Tanpa Aifa bicara panjang kali lebar pun, ia sadar, baru-baru ini wanita itu memang berhasil melekat dihatinya.


Biarkan saja Kakaknya itu mendesaknya, sedikit banyaknya ia perlu belajar menemukan cinta dari Kakaknya yang sudah berpengalaman dimasalalu. Dan lagi, setidaknya ia juga merasa di perhatikan oleh Aifa yang ia sayangi. Hehehe.


💘💘💘💘


Laundy Amanah. Pukul 13.00 siang. Surakarta.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


لا تباغضوا ولا تنافسوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث

“Jangan kalian saling membenci, jangan saling bersaing (dalam masalah dunia), jangan saling dengki, jangan saling membelakangi, tapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya (karena dunia) lebih dari tiga hari.”



Seketika Misha terdiam. Sambil menyetrika kemeja putih milik konsumen, Misha melirik kearah Lcd tv yang kini menampilkan tayangan ceramah harian dari salah satu ustadz ternama.


Bagaimana dengan dirinya yang malah menghindari Vita selama sebulan? Hanya karena urusan dunia saja ia sudah bersikap egois bahkan tidak halal bagi seorang muslim untuknya. Daripada ia menyesal dan berdosa, Misha menundukan wajahnya.

"Astaghfirullah.. Astagfirullah.. Astaghfirullah.." dzikir Misha dengan lirih.


Hatinya terasa meremuk. Ia sadar ia sudah salah, manusia memang tempatnya salah, yang benar hanya Allah. Meskipun Vita salah, ia akan mencoba memaafkan dan mengikhlaskan Franklin untuk sahabatnya itu.


"Maafkan aku Ta, aku janji, setelah ini aku akan membuka nomor ponselmu yang sempat aku blokir dan langsung menghubungimu. Aku ikhlas kok, Kak Franklin sama kamu, bukankah cinta tidak harus saling memiliki?"


Misha mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia mencium bau gosong. Detik berikutnya ia syok, kemeja putih yang ia strika berubah warna menjadi hitam dan bolong. Misha panik.


"Ya Allah, Astaghfirullah.."


"Misha, itu orderan milik konsumen ini ya, tadi pagi cuma cuci kemeja, celana kain, dasi, kaus kaki, dan
jas formal. Jangan lupa di packing dengan rapi kedalam plastik. Oh iya, langsung antar hari ini juga. Ini paket cuci strika ekspres."


Suara bos Anita bernama Ibu Jum pun membuat Misha tersadar. Dengan cepat ia melipat kemejanya begitu saja untuk menutupi pekerjaannya yang membuatnya gugup. Misha pun menoleh kebelakang. Ibu Jum menghampirinya.


"Ini ya, alamatnya. Jangan lupa notanya masukan kedalam plastik.  Oke?"


Misha hanya mengangguk pasrah. Saat ini ia bingung harus bagaimana sementara ia baru saja bekerja di sana selama sebulan dan khawatir akan di pecat. Mau tidak mau, dengan lemas Misha menerima alamat dan nota tersebut hingga akhirnya Misha kembali tercengang dalam hati.

"Apa?!"


"Franklin Hamilton, Apartemen solo Residen. Lt 10 no 1. Surakarta."


Paket kilat Ekpress  3 jam :
Cuci kering + Strika + Parfum laundry Rp. 40.000,-


💘💘💘💘


Nah loh 😨


Kayaknya Kemejanya mahal, deh. Wkwkwkw 😂


Tetap stay di chapter ini sambil menanti si wanita penuh rahasia itu berhadapan dengan Franklin nantinya hhe.


Semoga terhibur ya, Selamat menunaikan ibadah puasa di hari kedua ini.. 


Jazzakallah Khairan ukhti sudah baca. Sehat selalu buat ukhti dan sekeluarga.


With Love 💋
LiaRezaVahlefi


Instagram : lia_rezaa_vahlefii


Akun Wattpad khusus fiksi remaja Lia_Reza_Vahlefi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar